
"Loh, kamukan ..." ucap tante Liya.
"Kamu anak pak Wijayanto?" ucap tante Liya.
Qila pun terkejut. Karena tante Liya mengetahui papah.
"I-iya, tante kenal papah?" ucap Qila.
"Iya, sekarang papah kerja di kantor suami tante. Kenapa kamu mau kerja? Papah tau?" ucap tante Liya.
"Tan aku mohon. Tante jangan bilang ke papah kalo aku kerja di sini ya, Tan plisss ..." ucap Qila.
"Tante gak mau. Kalo nanti kamu gak dapet izin dari papah gimana?" ucap Liya.
"Aku mohon Tan. Aku pengen banget bantuin papah," ucap Qila.
"Iya Tante gak apa-apalah Qila butuh banget kasian loh. Apalagi Tante juga butuhkan buat jagain Khansa," ucap Fery.
"Maaf ya Qila, Tante gak bisa lebih baik kamu belajar dulu yang rajin ya, Tante masuk dulu ke dalam," ucap tante Liya.
Tante Liya pun masuk ke dalam Qila pun terdiam kecewa. Padahal Qila ingin sekali bisa bekerja agar Qila bisa membantu papah.
"Qila ..." ucap Fery.
Qila pun menatap Fery.
"Maaf ya, kayanya tante takut kalo nanti papah kamu marah. Kalo tau kamu bekerja," ucap Fery.
"Iya gak apa-apa kok," ucap Qila tersenyum.
"Aku antar pulang ya," ucap Fery.
Qila pun mengangguk. Lalu mereka pun segera pergi.
******
"Kakak! Main game yuk?" ucap Stevan.
"Diam kakak lagi pusing nih main aja sendiri," ucap Rey sambil berjalan menuju kamar.
"Kakak kenapa?" gumam Stevan.
Rey pun masuk ke dalam kamar. Lalu melemparkan tas pada tempat tidurnya. Rey pun duduk di tepi jendela sambil menatap ke arah luar.
"Mau Qila apasih sebenarnya? Kalo emang dia pengen pergi dari gue lebih baik sekarang aja. Hanna yang lebih ngerti perasaan gue daripada Qila," ucap Rey.
"Makin benci gue sama Qila!" ucap Rey.
Sesampainya Qila di rumah. Qila pun masuk ke dalam kamar duduk di tepi jendela sambil menatap ke arah luar.
"Hari ini hari di mana aku merasakan sakit luar biasa hari di mana penuh kelelahan. Lelah untuk merasakan cinta kini aku harus berpura-pura baik-baik saja. Berpura-pura tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya," ucap Qila.
"Aku harus lebih kuat dari hari sebelumnya kini cintaku terbagi bersama sahabatku, tetapi hanya dengan cara inilah aku bisa mempertahankan orang-orang yang aku sayang. Walaupun sakit rasanya, tapi aku yakin aku bisa menahan rasa sakit ini," ucap Qila sambil meneteskan air matanya.
"Qila sayang," ucap mamah.
Qila pun terkejut. Lalu segera menghapus air matanya.
"Loh, anak mamah kenapa nangis?" ucap mamah menghampiri Qila.
"Engga kok, Mah," ucap Qila tersenyum.
"Ada apa? Cerita dong sama mamah," ucap mamah.
Qila pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Karena Rey ya?" ucap mamah.
Qila pun membulatkan matanya menatap mamah dengan heran. Lalu Qila pun kembali menangis memeluk mamah.
"Mah, apa semua cinta itu menyakitkan? Atau hanya aku yang merasakan cinta itu sakit?" ucap Qila menangis.
"Ada orang yang bahagia karena cinta dan ada juga orang yang tersakiti karena cinta. Jangan pernah salahkan cinta ketika kita jatuh cinta. Maka dari itu kita harus siap dengan rasa sakitnya. Emang Qila kenapa sama Rey?" ucap mamah.
"Hanna suka sama Rey juga Mah. Entah karena terpaksa entah karena emang cinta Rey juga bilang ke Hanna. Kalo Rey suka juga sama Hanna. Hati aku sakit banget Mah, lihat kejadian tadi aku bingung harus gimanaaaa ..." ucap Qila menangis.
Mamah pun mengusap kepala Qila.
"Yang aku bisa hanya bersikap pura-pura tidak tau kejadian ini Mah. Agar Hanna dan Rey tidak pergi dari aku karna aku sayang sama mereka Mah. Walaupun Qila sakit harus seperti ini," ucap Qila.
"Anak mamah udah dewasa ya, dulu Qila menangis karna mamah tidak mengizinkan Qila makan coklat, tapi sekarang Qila menangis karena cinta," ucap mamah sambil memeluk Qila.
__ADS_1
Qila pun terus menangis di pelukan mamah.
"Dengerin mamah jika seseorang sudah tidak mencintai Qila lupakan orang itu. Masih banyak orang yang sayang sama Qila di luar sana," ucap mamah.
"Bagaimana bisa aku lupakan Rey?" gumam Qila.
"Mungkin kalo gue pergi dari Qila dia bakalan ngerti perasaan gue selama ini. Lagian ada Hanna yang lebih sayang sama gue," gumam Rey sambil mengusap kasar wajahnya.
"Apapun yang terjadi aku akan terus bertahan, bertahan untuk menyayangi Rey, dan bertahan untuk mencintai Rey," gumam Qila.
"Mamah ... sini deh," ucap papah.
"Qila mamah ke sana dulu ya, udah nangisnya ya, sayang kamu mandi sana," ucap mamah.
Qila pun mengangguk sambil menghapus air matanya. Mamah pun keluar dari kamar Qila.
Hanna pun duduk di tepi tempat tidurnya.
"Hari ini rasanya hari paling bahagia di hidup gue. Di mana gue bisa rasain kasih sayang dari orang yang gue cinta. Rey manis banget saat dia peluk gue," gumam Hanna.
"Keterlaluan Rey! Mau dia apasih gue deketin Qila gak boleh, tapi dianya nyakitin Qila gitu aja. Lihatin aja sebelum dendam gue terbalaskan gue bakalan terus celakai lo!" ucap Fery.
******
"Rey tolong beli mamah baso dong," ucap mamah.
"Iya Mah, mana?" ucap Rey.
Mamah pun memberikan uangnya. Rey pun segera pergi untuk membeli baso.
Saat Rey sedang memesan basonya Fery memperhatikan Rey dari jauh. Fery pun telah mempersiapkan niat jahat untuk mencelakai Rey.
Rey pun telah selesai membeli baso Rey pun kembali menyalakan motornya. Fery pun mengikuti Rey.
"Sepi banget jalannya. Mana gelap lagi ahh nyesel gue lewat sini," ucap Rey.
Fery pun menancapkan gasnya dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba Fery ada di hadapan Rey saat itu Rey tidak fokus. Lalu Rey pun tidak seimbang dan terjatuh dari motornya.
"Brughh!" Rey pun terjatuh.
"Arrhhhh!" teriak Rey.
Fery pun segera pergi dari tempat itu.
Rey pun tak sadarkan diri dan tergeletak di jalanan yang sepi. Untung saja Hitam melihat Rey.
"Ada orang yang tidur di jalan? Sama banget kaya kucing senang tidur dijalanan. Wahh ... hebat manusia itu," ucap Hitam.
"Itukan pacarnya Qila? Astaga! Hitam harus lapor Qila," ucap Hitam.
Hitam pun segera menghilang dari tempat itu.
Qila pun berbaring sambil memejamkan matanya, tetapi Qila terbangun kembali.
"Brughh!"
"Prakkkk!"
Qila pun terkejut mendengar barang yang berjatuhan. Lalu melihat ke arah Hitam.
"Buaghhh!"
Bantal pun dilemparkan. Tepat mengenai si Hitam.
"Meowwww!"
"Kurang kerjaan dasar kucing gendut! Beresin gak mau tau nyebelin banget sih!" ucap Qila menatap tajam ke arah Hitam.
"Aduh maafin Hitam. Gawat Qila gawat!" ucap Hitam.
"Ada apasih?" ucap Qila.
"Rey Qila Rey ... Rey pingsan di tepi jalan," ucap Hitam.
"Apa?!" ucap Qila.
Qila pun segera beranjak dari tempat tidur.
"Tunjukkin di mana?" ucap Qila.
Qila dan Hitam pun berjalan menuju lokasi Rey.
__ADS_1
"Arrhhh! Sakit banget kaki gue tolongggg ..." ucap Rey.
"Tolongggg ... arrhhh!" ucap Rey.
"Reyy ..." ucap Qila.
Qila pun menghampiri Rey. Lalu memeluk Rey.
"Astaga Rey kenapa? Kok bisa gini sih?" ucap Qila.
"Qila ... kaki Rey. Motornya tolong angkat," ucap Rey.
Qila pun mencoba mengangkat motornya yang menimpa kaki Rey, tetapi Qila tidak kuat untung saja Hitam dengan cepat membantu Qila.
Rey pun duduk dengan lemas. Menatap ke arah Qila.
"Qila kok bisa tau gue di sini sih," gumam Rey.
"Tapi gue lagi kesel sama Qila," gumam Rey.
"Rey kenapa? Kok bisa gini sih pasti Rey gak hati-hatikan. Aduhh untung aja gak terlalu parah itu kakinya sakit ya, harus dipijat Rey biar gak sakit," ucap Qila dengan cemas.
Rey pun mencoba berdiri.
"Rey ... Rey mau kemana? Itu kakinya masih sakit loh," ucap Qila sambil memegang lengan Rey.
Namun Rey melepaskan tangan Qila dengan kuat sehingga Qila terjatuh.
"Aaaaa!" teriak Qila.
"Brughh!"
Qila pun terjatuh ke tanah dengan posisi duduk.
"Qila!" ucap Hitam.
"Ahh! Rey kenapa sih? Kok gitu sama aku," ucap Qila menatap Rey.
"Gak usah so peduli!" ucap Rey berjalan ke arah motornya.
Qila pun segera bangun. Lalu berjalan menghampiri Rey.
"Rey tunggu!" ucap Qila.
"Apalagi sih?! Udah ya, jauhin Rey dari sekarang juga!" ucap Rey.
"Loh kenapa? Aku salah apa sama Rey," ucap Qila.
"Masih nanya salah apa? Qila yang gak pernah ngertiin perasaan Rey! Sama sekali gak pernah. Berapa kali Rey harus bilang jangan dekat-dekat sama Fery, tapi apa tadi Qila pulang barengkan sama Fery," ucap Rey.
"Aku pulang bareng sama Fery karena Fery bantuin aku buat cari kerja.Tadi tante Fery ada kerjaan buat aku. Makanya aku pulang sama Fery aku punya alasan yang jelas pulang sama Fery tapi Rey tadi ..." ucap Qila terhenti.
"Jangan Qila tahan kamu harus pura-pura tidak tau," gumam Qila.
"Oke, maafin aku tadi karena aku butuh banget pekerjaan itu buat bantuin papah, tapi tante Fery kenal papah dan gak ngizinin aku buat kerja. Oke, aku janji gak akan lagi deket sama Fery," ucap Qila sambil meneteskan air mata.
"Sekarang kamu bilang kaya gitu, tapi nanti Qila bakalan lakuin yang sama. Rey minta sama Qila lebih baik kita temenan aja Rey udah cape," ucap Rey.
"Deg!"
"Engga-enggaa! Rey engga aku gak mau aku bakalan janji buat jauhin Fery iya, aku janji Rey aku mohonnnn!" ucap Qila sambil menangis.
Namun kali ini Rey tidak memperdulikan Qila lagi mungkin kesabaran Rey telah habis. Entah Rey berpikir ada Hanna yang lebih sayang. Rey pun segera menjalankan motornya. Lalu pergi meninggalkan Qila.
"Brrmmm ... brrmm ... brrmmm ...."
"Reyyyyy!" teriak Qila sambil menangis.
"Banyak manusia yang tidak paham dengan perasaan orang lain. Kasihan Qila Hitam jadi sedih lihatnya tapi kalo Hitam hibur yang ada Qila ngamuk bukannya ketawa. Hitam harus apa?" gumam Hitam.
"Aku hanya pulang sama Fery karena aku butuh pekerjaan, tapi Rey pulang sama Hanna karena dia ingin membagi waktunya bersama Hanna, tapi aku selalu sabar mau marah pun aku gak bisa. Mungkin saatnya aku mencintai Rey secara diam," gumam Qila.
Qila pun berjalan menyusuri jalan yang sepi. Dengan langkah yang penuh lelah dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Hitam pun mengikuti langkah Qila menjaga agar Qila baik-baik saja, tetapi Qila berjalan dengan pikiran yang kosong. Qila tidak fokus dengan apa yang ada di depannya.
"Awas! Qila ada trukk ..." ucap Hitam.
Qila pun tersadar ada truk di hadapannya.
"Aaaaaaa!" teriak Qila.
"Brugghhh!"
__ADS_1