
Pagi hari telah tiba. Seperti biasa Qila berangkat ke sekolah bersama papah, tetapi kali ini Qila sedikit terlambat.
Rey pun tiba di sekolah. Rey memarkirkan motornya lalu segera berjalan menuju kelas namun lagi-lagi.
"Dukkk!"
"Aaaaaaa!" teriak Hanna.
Dengan cepat Rey menahan tubuh Hanna yang hampir terjatuh akibat tersenggol oleh Rey dengan tidak sengaja. Rey berhasil menahan tubuh Hanna. Lalu Hanna pun menatap Rey dengan lama.
"Stop! Waktu yang pas banget," gumam Belia.
Belia pun mengambil ponsel. Lalu memfotonya Hanna yang sedang di peluk Rey.
"Cekrek!"
"Kamu hebat Belia. Tinggal kasih tau ke Qila deh," gumam Belia sambil berjalan.
"Aduh ... maaf Hanna lagi-lagi gue bikin lo jatuh terus. Gak apa-apakan?" ucap Rey.
"I-iya gak apa-apa kok. Gue duluan ya," ucap Hanna.
Tetapi Rey menarik tangan Hanna.
"Tunggu!" ucap Rey menggenggam tangan Hanna.
Qila pun tiba di sekolah.
"Dahhh Papah. Hati-hati ya," ucap Qila tersenyum.
Qila pun segera masuk ke gerbang lalu langkahnya terhenti. Setelah melihat Rey yang sedang mengenggam tangan Hanna. Membuat air mata Qila menetes.
"Brukkk!"
Buku yang dipegang oleh Qila pun terjatuh. Membuat Rey dan Hanna melihat ke arah Qila.
"Qila ..." ucap Rey dan Hanna.
Qila pun mengambil buku yang berjatuhan lalu dengan cepat berlari ke luar sekolahan. Qila pun duduk di sebuah kursi di dekat pohon. Yang tak jauh dari sekolah sambil menangis.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini dua kali aku melihat dengan mataku sendiri. Aku harus bagaimana walaupun Hanna sahabatku. Aku tetap cemburu melihat kejadian tadi. Seperti ada yang disembunyikan dari mereka," gumam Qila.
"Rey, kejar Qila" ucap Hanna.
"Iya-iya. Aku kejar Qila," ucap Rey.
Rey pun berlari mencari Qila.
"Itu Qila? Kok sendiri di situ," ucap Fery.
Fery pun menghampiri Qila. Lalu duduk di sebelah Qila.
Qila pun terkejut. Lalu segera menghapus air matanya.
"Ka-kamu mau ngapain lagi hah?!" ucap Qila menatap tajam ke arah Fery.
"Engga Qila. Maafin aku atas kelakuan aku kemarin ya, karena aku pengen balikan sama Qila," ucap Fery.
"Apa perlu dengan cara itu?" ucap Qila.
"Maafin aku, aku khilaf Qila," ucap Fery.
Qila pun hanya mendelikan matanya pada Fery.
"Qila kenapa nangis?" ucap Fery menatap Qila.
"Engga, aku gak apa-apa kok," ucap Qila sambil beranjak dari kursi.
Fery pun menarik tangan Qila, Qila pun melepaskan dengan kasar.
"Qila tunggu! Fery boleh minta tolong?" ucap Fery.
"Apa?" ucap Qila.
"Tolong bantu pasang dasi dong. Berantakan gini," ucap Fery.
Qila pun mengangguk.
"Aduh, Qila lari kemana sih? Mana udah mau masuk lagi kenapa gak lari ke kelas. Malah keluar sekolahan," ucap Rey sambil berjalan mencari Qila.
Akhirnya Rey pun menemukan Qila, tetapi langkah Rey terhenti setelah melihat Qila yang sedang memasangkan dasi pada Fery. Membuat Rey cemburu dan kesal pada Qila.
"Rey, ketemu gak?" ucap Hanna dengan napas yang tidak teratur.
"Aduhhh, cape banget," ucap Hanna sambil mengusap keringat di wajahnya.
"Rey, ketemu ga ..." ucap Hanna terhenti.
Hanna pun melihat Qila yang sedang memasangkan dasi pada Fery. Hanna pun menatap ke arah Rey dari situlah Hanna pun mengerti. Lalu segera berjalan menghampiri Qila.
"Qila ..." ucap Hanna.
Qila pun menatap ke arah Hanna.
"Ayo masuk udah bel loh. Nanti kita bisa dihukum kalo terlambat," ucap Hanna sambil menarik tangan Qila.
Qila pun terdiam ada rasa kesal pada hati Qila terhadap Hanna, tetapi Qila berpikir bahwa Hanna adalah sahabatnya. Tidak mungkin jika Qila harus marah pada Hanna. Apalagi tadi bisa saja kejadiannya tidak sengaja.
Qila pun mengangguk. Lalu mengikuti Hanna.
"Ayo Rey! Ngapain diam kaya patung gitu sih. Buruann!" ucap Hanna sambil berjalan.
Tetapi Rey malah menghampiri Fery dan melayangkan pukulan pada Fery.
"Buaghhh!" Rey pun memukul Fery.
__ADS_1
Qila dan Hanna pun melihat ke arah belakang.
"Rey!" ucap Qila dan Hanna.
Qila pun berlari menghampiri Rey dan Fery.
"Udah stop!" bentak Qila.
"Aku udah bilang sama kamu Rey. Jangan berantem!" ucap Qila sambil menatap ke arah Rey.
Rey pun hanya menatap Qila. Lalu Rey berjalan meninggalkan Qila tanpa bicara.
"Ayo!" ucap Hanna pada Qila.
Mereka pun kembali ke sekolah untung saja di depan gerbang belum ada guru yang menjaga jadi, mereka bisa langsung masuk ke dalam kelas. Tidak seperti biasanya Rey cuek terhadap Qila membuat Qila heran dan bertanya-tanya.
******
"Wijayanto, untuk gaji bulan sekarang maaf sekali gajinya hanya sedikit. Karena saya lihat kamu kurang baik dalam bekerja semoga bulan berikutnya kamu bisa lebih baik," ucap Pak Andra.
Pak Andra adalah pemilik perusahaan tempat papah bekerja sekarang.
"Tidak apa-apa Pak saya sangat bersyukur mendapatkan gaji segini juga. Terima kasih Pak," ucap pak Wijayanto
"Kalo begitu saya permisi," ucap pak Wijayanto.
Pak Wijayanto pun keluar dari ruangan tersebut. Walaupun hati papah sangat sedih mendapatkan gaji yang sedikit, tetapi pak Wijayanto tetap tersenyum dan bersyukur.
"Sepertinya harus selalu menghemat dengan uang segini," ucap pak Wijayanto.
"Stok bahan makanan dan bumbu sudah mulai habis. Sekarang papah mendapatkan gaji berapa ya," ucap mamah.
"Biasanya stok makanan dan bumbu gak pernah habis seperti ini," ucap mamah.
"Anak-anak pelajaran hari ini sampai di sini dulu ya, sekarang kalian boleh Pulang," ucap Pak Hery.
"Yeeeeee," ucap seluruh murid.
Qila pun membereskan alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Kamu ekskul ya?" ucap Hanna.
"Iya, tapi males banget," ucap Qila cemberut.
"Ayo dong semangat sayang," ucap Hanna.
Qila pun tersenyum. Lalu pandangannya teralihkan Qila pun melihat Rey yang akan keluar kelas.
"Rey tunggu!" ucap Qila.
Namun Rey tetap berjalan. Tanpa mendengarkan Qila.
"Ihh kenapa sih? Hhhmm ... Hanna aku duluan ya bayyy," ucap Qila sambil berlari keluar kelas mengejar Rey.
"Kayanya Rey marah sama Qila. Gara-gara Fery tadi," gumam Hanna.
Hanna pun segera pulang.
"Rey tunggu! Aduhhh," ucap Qila berlari.
"Rey! Tunggu dong," ucap Qila sambil terus berlari.
Tetapi Rey terus berjalan mungkin Rey kesal terhadap Qila. Sehingga Rey mengabaikan Qila.
Qila berusaha dengan cepat mengejar Rey. Tanpa sadar di depan Qila ada sebuah tangga. Sehingga Qila terjatuh.
"Aaaaaa!" teriak Qila.
"Brughh!"
"Qila!" ucap murid yang ada di sekitar tangga.
Mereka pun segera membantu Qila untung saja Qila tidak mengalami luka yang serius. Hanya saja lututnya sedikit berdarah Qila pun dibawa ke UKS untuk diberi obat.
"Kamu kenapa Qila?" ucap bu Yati.
"Aku gak hati-hati Bu," ucap Qila.
"Astaga ya, sudah kamu pulang saja. Gak usah ekskul dulu ya," ucap bu Yati.
Qila pun mengangguk. Lalu segera memesan taksi online dan di antar oleh bu Yati sampai gerbang.
Dengan cepat Rey menjalankan motonya baru kali ini Rey merasa kesal pada Qila. Rey pikir Qila tidak akan seperti itu, tapi kali ini Qila telah membuat Rey begitu kecewa atas kejadian tadi.
"Arggghhh! Gak Belia, gak Qila kenapa sih semuanya nyakitin gue mulu!" gumam Rey.
"Gue kesal banget, gue kecewa sama Qila! udah tau Fery kemarin mau merusak dia, tapi kenapa masih dideketin heran gue," gumam Rey.
Dari arah yang berlawanan Fery menancapkan gas. Untuk membuat Rey celaka, tetapi untungnya Rey tersadar sehingga dia mengerem dengan kuat.
"Astaga!" ucap Rey.
"Keterlaluan banget tu orang. Dia pikir ini jalan milik neneknya apa?!" ucap Rey.
"Ahh! Sial gagal gue bikin Rey celaka!!" ucap Fery.
Sesampainya Qila di rumah.
"Mah ..." ucap Qila.
"Ehh kamu udah pulang. Gak ekskul? Atau kamu lupa lagi hari ini ekskul," ucap mamah.
"Engga Mah, aku disuruh pulang karna tadi aku jatuh di tangga," ucap Qila.
"Astaga! Kamu gak apa-apakan? Gak ada luka serius? Kenapa bisa sih kamu jalan lihat-lihat dong," ucap mamah.
__ADS_1
"Engga kok aku cuma luka di lututnya aja lagian cuma sedikit," ucap Qila.
Mamah pun memeluk Qila sambil mengelus kepala Qila.
"Krukkkk ...."
Qila pun tersenyum menatap mamah.
"Kamu laper? Makan dulu sana," ucap mamah.
Qila pun mengangguk. Lalu berjalan menuju ruang makan.
Qila pun menyuapkan nasinya lalu Qila melamun memikirkan Rey. Qila bingung sebenarnya Rey kenapa sampai cuek begitu sama Qila.
"Apa yang salah? Sehingga Rey mengabaikan aku tadi gak kaya biasanya," gumam Qila.
Mamah pun terus memperhatikan Qila yang sedang melamun.
"Malam ini aku harus ke rumah Rey. Aku gak mau kalo Rey marah terus sama aku," ucap Qila.
"Qila kenapa?" ucap mamah.
"E-engga Mah," ucap Qila.
Mamah pun hanya menggelengkan kepalanya. Lalu Qila pun segera menghabiskan makanannya setelah itu Qila masuk ke kamar segera mandi.
Setelah selesai mandi. Qila pun duduk di tepi tempat tidur.
"Tapi gimana caranya aku keluar malam? Dari kecil sampai sekarang aku gak boleh keluar malam sendirian, tapi aku coba sembunyi-sembunyi aja deh," ucap Qila.
Terdengar suara papah. Qila pun berjalan akan menghampiri papah, tetapi Qila berhenti setelah mendengar percakapan mamah dan papah.
"Pah, stok makanan sama bumbu sudah habis. Sekarang Mamah mau belanja," ucap mamah.
"Mah, maaf ya gaji Papah hanya sedikit jadi, sepertinya kita harus menghemat dengan uang ini. Jadi, mamah gak usah belanja bulanan terlalu banyak ya, seperlunya aja," ucap papah.
Qila pun mendengarkan di balik pintu kamarnya. Lalu Qila pun duduk di tepi kasur kembali.
"Kasian papah gajinya hanya sedikit, tapi papah selalu bersyukur dan tersenyum. Pengen banget bantu papah tapi gimana ya, aku harus kerja apa?" gumam Qila.
"Sepertinya sekarang aku coba cari kerja aja. Sekalian ke rumah Rey siapa tau ada yang bisa terima aku kerja," ucap Qila.
"Iya gak apa-apa Pah, kita harus bersyukur walaupun hanya segini. Mamah akan coba menghemat ya, Pah," ucap mamah tersenyum.
Papah pun tersenyum sambil memeluk mamah.
Malam hari telah tiba Qila pun bersiap-siap untuk keluar rumah. Sebelum itu Qila memastikan tidak ada mamah dan papah.
"Sepi nih," ucap Qila sambil berjalan perlahan menuju pintu.
Akhirnya Qila berhasil keluar rumah. Tanpa sepengetahuan mamah dan papah.
"Kalo aku takut aku tinggal panggil Hitam aja" ucap Qila sambil mengeluarkan loncengnya.
Qila pun berjalansebelum menuju rumah Rey. Qila mampir ke setiap toko untuk menanyakan pekerjaan, tetapi tidak ada yang menerimanya sebab usia Qila belum cukup.
"Aduhh ... gak ada terima aku kerja," ucap Qila.
"Zrashhhh!"
Hujan pun turun. Membasahi tubuh Qila, tetapi Qila terus memaksakan untuk ke rumah Rey.
Setibanya di rumah Rey.
Rey pun sedang duduk di luar sambil memainkan ponselnya.
"Rey ..." ucap Qila.
Pakaian Qila pun sangat basah, tetapi demi Rey tidak marah Qila rela hujan-hujanan menuju rumah Rey, tetapi bukannya Rey menghampiri Qila atau mengkhawatirkan Qila karna Qila kehujanan, tetapi Rey malah menanya dengan nada tinggi.
"Ngapain kamu ke sini?!" ucap Rey.
"Re-rey marah sama aku? Sebab apa? Apa salah aku sampai Rey cuek ke aku kaya gini," ucap Qila sambil menggigil kedinginan.
"Dahlah! Qila pulang aja gak usah so peduli sama Rey urus aja Fery," ucap Rey.
"Rey marah karna aku pasang dasi Fery, kan? Maaf aku cuma bantu Fery tanpa maksud apa-apa," ucap Qila sambil mengusap wajahnya yang basah.
"Zrashhhh!"
Hujan pun semakin lebat, tapi Rey membiarkan Qila kehujanan tanpa merasa kasihan ataupun khawatir.
"Udahlah Rey malas sama Qila, Rey selalu berusaha ngertiin Qila tapi apa? Qila gak pernah ngertiin Rey dan gak pernah ngehargain perasaan Rey. Sekarang kita putus aja," ucap Rey.
"Deg!"
Qila pun terdiam Qila kembali merasakan sakit pada hatinya, tetapi ini lebih sakit yang Qila rasakan.
"Engga-engga! Aku gak mau putus sama Rey, aku sayang sama Rey," ucap Qila sambil memegang lengan tangan Rey.
Namun Rey melepaskan tangan Qila.
"Rey kecewa banget sama Qila, Qila gak pernah hargain perasaan Rey!" ucap Rey.
"Maafin aku Rey maafinnnnn sekarang aku harus gimana? Rey mau apa biar Rey maafin aku dan gak putusin hubungan iniii!" ucap Qila sambil menangis.
Tetapi tetap saja Rey ingin mengakhiri hubungan ini.
"Udahlah, gak ada yang Rey mau dari Qila, Rey cuma pengen kita putus aja!" ucap Rey sambil berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan Qila di luar.
"Aku gak mau Rey aku gak mau! Aku mohonnn aku sayang sama kamu Rey" ucap Qila sambil menangis.
"Aku gak akan pulang sebelum Rey maafin aku!" ucap Qila sambil menangis.
Qila terus menangis hujan pun semakin lebat membasahi tubuh Qila. Membuat Qila menggigil kedinginan, tetapi tetap saja Qila diam di situ walaupun Qila sudah merasakan dingin yang luar biasa.
__ADS_1