Dia Bahagia

Dia Bahagia
Bab 18


__ADS_3

"Buaghhh!"


Tanpa aba-aba Rey pun membalas pukulan Fery. Terjadilah pertengkaran antara Rey dan Fery.


"Wah ada yang berantem seru nih. Nonton di sini ah," ucap Bimo sambil duduk di motornya.


"Ehh bentar-bentar ... kok kaya kenal ya?" ucap Bimo.


"Rey! Astaga sayangkuuuu ... ehh sahabat gueeeeee!" ucap Bimo sambil berlari.


"Woi! Berhentiii!" ucap Bimo.


Rey dan Fery pun melihat ke arah Bimo. lalu mereka pun berhenti.


"Kalian ngapain berantem hah? Kaya yang punya nyawa 9 aja!" ucap Bimo.


"Lo siapa hah?! Gak usah ikut campur urusan gue sama Rey!" ucap Fery.


"Gue sahabat Rey! Mau apa lo hah?!" ucap Bimo.


"Berani sama gue!" ucap Bimo.


Bimo pun melayangkan pukulan pada Fery.


"Buaghhh!"


Bimo pun memukul Fery.


"Stop Bim! Cabut dari sini ayo," ucap Rey.


"Nasehatin jangan berantem. Sendirinya malah ikutan heran Bimo," gumam Rey.


"Urusan gue belum selesai ya, lihat aja nanti!" ucap Fery.


Rey dan Bimo pun segera pergi dari tempat itu.


******


Qila pun keluar dari kamarnya. Lalu duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.


"Loh, Qila udah sembuh?" ucap mamah sambil mengusap kepala Qila.


"Udah Mah," ucap Qila tersenyum.


"Alhamdulillah," ucap mamah.


Qila pun memeluk mamah. Sambil cemberut.


"Ehh, kenapa sayang?" ucap mamah.


"Tok ... tok ... tok ...."


Fery pun datang ke rumah Qila.


"Sebentar ya, siapa sih?" ucap mamah berjalan ke arah pintu.


Mamah pun membuka pintu lalu melihat ke arah Fery. Fery pun mengulurkan tangan untuk salam, tetapi mamah hanya terdiam menatap tajam ke arah Fery.


"Tan ..." ucap Fery mengulurkan tangannya.


"Pergi kamu dari sini!" ucap mamah.


Fery pun terdiam menatap mamah.


"Ngapain diam? Saya bilang pergi dari sini sekarang juga! Mau apa kamu ke sini hah?" ucap mamah.


"Siapa Mah?" ucap Qila menghampiri mamah.


Qila pun terdiam di samping mamah. Sambil menatap ke arah Fery.


"Apa yang mau kamu lakuin ke anak saya?!" ucap mamah.


Papah pun turun dari mobil. Lalu melihat keributan.


"Ada apa ini?" ucap papah.


"Fery Pah, yang udah bikin Qila sakit kaya gini," ucap mamah.


"Saya minta maaf Om, Tante," ucap Fery.


"Hanya kata maaf? Keterlaluan kamu!" ucap papah sambil melayangkan pukulan pada Fery.


Namun Qila menahan papah. Agar tidak memukul Fery.


"Jangan Pah, udah Pah biarin aja," ucap Qila.


"Jangan pernah kamu datang lagi atau ganggu Qila lagi!" ucap papah.


Qila, mamah, dan papah pun masuk ke dalam rumah.


"Arrghhhh! Udah kaya gini gue gak bisa deketin lagi Qila. Ini semua gara-gara Rey lihat aja gue bakalan habisin Rey!" ucap Fery.


"Ada masalah apa lo sama orang tadi?" ucap Bimo.


"Biasa Qila," ucap Rey sambil memegang luka di bagian pipinya.


"Udahlah ngapain sih sampe kaya gini," ucap Bimo.

__ADS_1


"Kalo Qila tau lo sampe berantem kaya gini. Pasti Qila marah," ucap Bimo.


"Udahlah-udahlah. Lo juga tadi ngapain ikutan?" ucap Rey sambil mendelikan matanya.


"Gue cuma kesal aja sama tuh orang," ucap Bimo.


"Gue mau ke rumah Qila sekarang ya," ucap Rey.


"Ya udah bro hati-hati," ucap Bimo.


Rey pun mengangguk. Lalu segera menjalankan motonya.


"Brrmm ... brrmmm ...."


******


"Rasa cinta gue semakin menjadi. Gue gak bisa terus kaya gini gue pengen jujur. Kalo gue sayang dan cinta sama Rey, tapi Qila gimana ya," gumam Hanna.


"Stop Hanna! Sahabat lebih penting daripada pacar. Qila yang selalu ada buat lo dan belum tentu Rey bakalan selalu ada buat lo," ucap Hanna.


"Gue pasti bisa! Hilangin rasa ini," ucap Hanna.


Qila pun duduk di kursi bersama papah dan mamah. Terlihat raut wajah papah yang begitu kesal.


"Tok ... tok ... tok ...."


Papah pun melihat ke arah pintu. Lalu beranjak dari kursi dan membuka pintu.


"Krietttt ...."


"Apa lagi sih! Masih kurang saya bilang. Pergi dari sini dan gak usah ganggu anak saya! Paham?!" bentak papah.


Rey pun terdiam karena terkejut. Lalu Qila menghampiri papah dan melihat ke arah Rey.


"Pah ..." ucap Qila menatap ke arah papah.


"Fery ini siapa kamu sih! Masih berani-beraninya ke si ..." ucap papah.l terhenti.


Lalu papah pun tersadar bahwa itu bukan Fery, tetapi Rey.


"Om ..." ucap Rey tersenyum.


"Ehh Rey ... maafin Om kirain Fery lagi yang datang ke sini. Maaf ya, Om lagi emosi tadi," ucap papah.


"Iya, Om gak apa-apa," ucap Rey tersenyum.


"Ya sudah Om masuk dulu ya," ucap papah.


Papah pun masuk ke dalam rumah. Lalu Qila menghampiri ke arah Rey dengan tatapan heran.


"Rey kenapa?" ucap Qila sambil memegang pipi Rey.


"Rey berantem ya sama Fery?!" ucap Qila bernada tinggi.


Rey pun mengangguk.


"Ihh ngapain sih! Ngapain berantem mulu? Emangnya gak bisa apa selesain masalah dengan ucapan jangan dengan Fisik!" ucap Qila.


"Ehh ada Rey ... Qila kenapa gak disuruh masuk Reynya?" ucap mamah.


"Dahlah males. Mamah aja yang suruh Rey masuk Qila mau ke kamar!" bentak Qila sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Mamah pun hanya melihat ke arah Qila. Sambil menggelengkan kepala.


"Rey ayo masuk," ucap mamah sambil menatap Rey.


"Loh, kamu kenapa? Berantem ya?" ucap mamah.


"Iya tante, Rey kesal banget sama Fery," ucap Rey.


"Ya sudah. Ayo masuk nanti Tante bawa obat buat lukanya," ucap Mamah.


Rey pun mengangguk. Sambil mengikuti langkah mamah dari belakang.


"Ini Rey obatnya," ucap mamah sambil memberikan kotak obatnya.


"Makasih Tante," ucap Rey sambil menerima kotak obatnya.


"Tante ke dapur dulu ya," ucap mamah.


Rey pun mengangguk. Saat Rey akan menghampiri Qila, tetapi papah memanggil Rey.


"Rey, Om mau bicara," ucap papah.


Rey pun menghampiri papah. Lalu duduk di samping papah. Ternyata Qila memperhatikan papah dan Rey di balik pintu kamarnya.


"Om mau titip Qila ya, takutnya Fery itu gangguin lagi jadi, Om pengen Rey selalu jagain Qila. Kalo bisa setiap Qila pergi Rey temenin ya, jangan sampai Qila sendiri," ucap papah.


"Siap Om, Rey bisa kok jagain Qila serahin aja ke Rey," ucap Rey tersenyum.


Qila pun tersenyum di balik pintu kamarnya.


"Aaaaaaa! Seneng banget rasanya. Papah percaya sama Rey," gumam Qila.


"Brughhh!"


Qila pun terkejut. Melihat Hitam yang menjatuhkan buku-buku di atas meja.

__ADS_1


"Ihhh Hitam! Aduh jadi berantakan dong bukunya. Jalan gak lihat-lihat dasar gendut!" ucap Qila.


Rey dan papah pun melihat ke arah Qila.


"Ada apa?" ucap papah.


"Hitam Pah. Nyebelin banget sih," ucap Qila.


"Hitam siapa?" ucap papah.


"******! Keceplosan, kan cuma aku yang tau Hitam," gumam Qila.


"E-engga ini Pah. A-ada semut hitam jadi, aku gak sengaja jatuhin bukunya," ucap Qila tersenyum.


"Pah ... ini ada telpon," ucap mamah.


Papah pun menghampiri mamah.


"Qila?" ucap Rey menghampiri Qila yang sedang berdiri di pintu kamar.


"Apa?!" bentak Qila.


"Dih galak banget sihh. Rey kesakitan nih obatin dong," ucap Rey.


"Salah sendiri. Obatin sendiri" ucap Qila.


"Ehh, minta obatin Hanna aja sana," ucap Qila mendelikan matanya.


Rey pun mengerutkan dahinya menatap Qila.


"Kok Hanna sih?" ucap Rey.


"Tadi Rey sama Hanna berdua. Terus yang kemarin emang aku gak liat hah?!" ucap Qila.


"Cemburu nihhhh hahaha ..." ucap Rey tertawa.


Qila pun kesal. Lalu menutup pintu kamar dengan keras.


"Blughh!"


"Astaga! Maafin Rey dong Qila, Qila kenapa? Pengen apa dari Rey nanti Rey beliin," ucap Rey.


"Aku cuma gak mau Rey dekat-dekat sama cewe lain di saat aku gak ada di deket Rey. Hanya itu yang aku mau sekarang aku takut nanti Hanna punya rasa sama Rey. Dan pastinya kalo itu terjadi aku bingung harus pilih antara sahabat atau cinta. Aku gak mau," gumam Qila sambil bersandar pada pintu.


"Qila udah dong marahnya. Qila gak rindu apa sama aku?" ucap Rey.


"Engga! Udah pulang aja sana. Sebel banget deh," ucap Qila.


Qila pikir Rey akan terus membujuk Qila untuk tidak marah, tetapi Rey menjawab iya.


"Ya udah kalo Qila pengen Rey pulang. Rey pulang dulu ya, jangan lupa makan terus minum obatnya biar Qila cepet sembuh. Bayyy sayang," ucap Rey.


"Duhh, beneran pergi," gumam Qila.


Qila pun segera membuka pintu. Lalu memeluk Rey dari belakang.


"Emm ... kok beneran pergi sih," ucap Qila cemberut.


"Pusing gue sama cewe. Tadi nyuruh pulang sekarang malah bilang 'kok beneran pergi sih' terus aku harus apa ya tuhan ..." gumam Rey.


"Ya udah Rey gak pulang, tapi Qilanya jangan marah dong," ucap Rey menatap Qila.


Qila pun mengangguk sambil tersenyum.


"Rasanya aku gak bisa marah sama Rey. Setiap aku mau marah aku selalu ingat sama janji aku. Buat bikin Rey tersenyum bahagia," gumam Qila.


"Qila udah mendingan loh. Besok juga Qila sekolah," ucap Qila tersenyum.


Rey pun tersenyum. Sambil mencubit gemas pipi Qila.


"Seneng banget ..." ucap Rey tersenyum.


"Udah mau malam Qila. Masa Rey tidur di sini Rey pulang ya?" ucap Rey.


"Ya udah deh hati-hati ya, pulangnya jangan berantem lagi," ucap Qila.


"Siap mamah, papah pulang dulu ya, bye i love you baby," ucap Rey mencubit pipi Qila.


"Dihh! Apaansih jijik banget. I love you too Rey," ucap Qila tersenyum.


"Mamah, papah mana? Rey mau pamit," ucap Rey.


"Entah," ucap Qila.


"Ya udah bilangin Rey pulang ya, nanti Rey main lagi ke sini sambil bawa cincin," ucap Rey tersenyum.


Qila pun tersenyum.


"Jangan marah lagi ya, bayyy," ucap Rey.


"Bayy," ucap Qila sambil melambaikan tangannya.


Qila pun segera masuk ke kamar dan beristirahat.


******


"Gue bakalan hancurin persahabatan Qila sama Hanna. Dengan cara gue kasih tau Qila kalo Hanna dekat sama Rey. Hahaha seru banget kayanya," gumam Belia.

__ADS_1


"Udah gitu tinggal gue pisahin Qila sama Rey lalu akhirnya gue bisa deketin Rey lagi, tapi sayangnya Fery gak mau kerja sama bareng gue, tapi gak apa-apa Belia lo bisa sendiri," gumam Belia.


__ADS_2