Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
kembali ke rumah.


__ADS_3

Jakarta, delapan belas Mai


dua ribu sembilan belas.


Selamat tinggal Jakarta.


~SF.L~


“Papou … I miss you …” teriak Karin dengan suara nyaring menyambut kedatangan sepupunya. Dari tadi ia sudah menunggu kedatangan Papou, semuanya telah ia persiapkan mulai dari membersihkan kamar untuk Papou sampai membuat agenda apa yang akan mereka lakukan untuk menghabiskan waktu bersama.


“Ya ampun … kamu pergi beberapa minggu saja aku kangen banget. Aku pikir kamu gak bakal balik lagi kesini,” racau Karin dengan senyum sumringah menghiasi wajah oval bersurai hitam pekat itu.


“Maaf Rin, aku capek.”


“Iya … aku paham kok, ya uda sana kamu istirahat saja dulu, kamar kamu udah aku bersih in.” Pandangan Karin mengarah pada barang bawaan Papou. “Sini barang bawaan kamu, aku yang bawah masuk.” Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah Karin.


“Gak usah Rin, aku bisa sendiri kok.” Tolak Papou dengan halus, “di tas aku yang itu ada oleh-oleh buat kamu.” Karin terlonjak senang. “Ahhh .... Papou aku senang banget … aku kira kamu gak ingat sama aku pas lagi di Jakarta.” Karin langsung merentangkan tangannya, bersiap untuk memeluk Papou dari belakang.


“Rin … please aku capek.”


Oma Sita hanya tersenyum melihat kelakuan kedua cucunya yang memiliki dua sifat yang berbeda, masa tuanya begitu menyenangkan dengan kehadiran cucu-cucunya dan jauh dari rasa kesepian.


“Sudah-sudah … Pou kamu capek kan? Oma sudah siapkan makanan untuk kamu.” Oma Sita mengusap pelan pucuk kepala cucunya itu, ada rasa iba ketika menatap wajah cucu-cucunya. “Iya Pou, tadi aku sama Oma yang masak.” Ucap Karin dengan bangga.


Syellifau Lidia, Karin Arinda Arsyad dan Araya Putra Arsyad ketiga nama itu selalu Oma Sita sebut dalam doanya, menjadi topik terindah pembicaraannya dengan Tuhan. Dulu oma Sita sempat protes pada tuhan kenapa nasib cucu-cucunya begitu tragis, tapi sekarang oma Sita malah bersyukur dengan begitu masa tuanya menjadi berwarna dan menyenangkan. Rencana Tuhan begitu indah, misteri takdir tak ada yang tahu akhirnya akan seperti apa.


~SF.L~


Papou menatap langit-langit kamarnya, air matanya jatuh begitu saja membasahi bantal, aroma kopi tercium dengan jelas, Papou memang menyukai aroma kopi sebagai pewangi ruangan. Begitu menenangkan pikirannya.


Segelas kopi menjadi teman dikala mata terkadang susah untuk menuntun ke alam mimpi. Papou menghela nafas panjang, menutup matanya berusaha meluapkan semua perasaannya, ada rasa sakit dalam hatinya. Rasa sakit yang tak bisa dijelaskan dengan kata dan tak mampu untuk diutarakan.


“Papou …” Papou mengepalkan tangannya dengan kesal, ingin sekali rasanya dia meninju wajah Karin yang terus memanggilnya dari tadi. Papou sudah bertekat untuk masuk SMA yang berbeda dengan sepupunya itu.


Dengan wajah tanpa dosa Karin berdiri di depan pintu kamar Papou. “jalan-jalan yuk Pou.”


“Rin … aku capek,” tolak Papou dengan wajah yang merah padam.


“Ayolah Pou, please …”


“Rin … aku tu capek. Bisa gak sih kamu sehari saja gak ganggu aku. Aku capek, aku lelah aku butuh sendiri.” Suara Popou melemah ketika melihat raut wajah Karin berubah menjadi mendung. Seketika bunyi pintu tertutup terdengar dengan nyaring.


“Aargghhh” Papou berteriak frustrasi, begitulah manusia selalu ingin dipahami, selalu ingin dimengerti tapi tak pernah mau memahami dan mengerti tentang perasaan orang lain.


~SF.L~


Pagi ini senyum ceria kembali menghiasi wajah Karin, terkadang Araya sering bertanya-tanya sendiri dalam hatinya apakah adiknya ini tak pernah punya masalah dalam hidupnya.


“kenapa, Dek?” Karin hanya menggeleng sambil terus melanjutkan aktivitasnya memasak.


“Papou mana?” Araya kembali bertanya sambil melihat setiap sudut ruangan berusaha mencari sosok yang dicarinya.


“Biasalah Bang, di halaman belakang.”


“kalau Oma mana?” Karin sedikit berpikir, pasalnya dari tadi pagi ia belum melihat oma. “gak tahu.”


~SF.L~


Gradasi warna menyatu membentuk perpaduan objek yang begitu indah. “Pagi, Pou.” Sapa oma dengan secangkir kopi ditangannya. “Pagi juga Oma.”


Oma meletakan secangkir kopi itu di atas meja di samping Papou melukis. “Kamu mau lanjut sekolah ke mana?” Tanya Oma membuka pembicaraan pagi ini.


“Yang pasti aku gak mau satu sekolahan sama Karin,” ucap Papou tanpa merasa bersalah dengan kalimatnya itu. “Oma sudah menduganya,” terdengar suara tawa yang sengaja dibuat-buat oleh oma, ada kilatan iba di netra hitam wanita tua itu.


“Oma menghargai keputusanmu,” Oma menjeda kalimatnya, berusaha menjaga kata-katanya untuk tetap menjaga hubungan di antara kedua cucunya. “Oma boleh minta tolong sesuatu?”

__ADS_1


“Apa?”


“Tolong jangan katakan hal itu pada Karin, itu akan membuat dia sangat sedih. Oma tidak mau dia membencimu. Kamu pahamkah maksud oma?”


Papou mengangguk, memaksakan seulas senyum di wajahnya. “Aku paham Oma.”


Apa pun permintaan wanita tua yang dipanggilnya Oma itu akan selalu berusaha ia kabulkan karena sekarang keluarga yang ia punya hanya Oma, Karin dan Bang Araya.


Bahkan orang tua yang melahirkannya, orang tua yang mengalirkan darahnya dalam tubuh Papou, telah membuangnya dalam kehidupan mereka. Jika bukan karena permintaan oma, Papou tak akan sedih untuk berkunjung ke rumah orang tuanya di Jakarta, hanya rasa sakit karena diabaikan yang ia dapatkan di sana. Orang tuanya terlalu sibuk mengurusi kakaknya yang sudah sekarat terbaring di ranjang rumah sakit. Aroma-aroma malaikat sudah tercium pekat di sekitar kakaknya itu, hanya perlu menunggu hari, tunggu saja tanggal mainnya.


Masih terngiang jelas dalam benak oma pembicaraannya beberapa hari yang lalu dengan Karin, ketika ia menanyakan pertanyaan yang sama dengan Papou dan dengan wajah cerianya Karin menjawab, “aku mau masuk sekolah yang ada Papounya, Oma.” Lagi-lagi oma harus siap melihat wajah kecewa Karin.


Saat-saat seperti inilah yang sulit, kepribadian antara dua cucunya terkadang membuat oma harus berada dalam situasi yang mengharuskannya memihak pada satu pihak.


Acap kali oma harus memihak ke Papou, bukan karena lebih menyayangi Papou atau apa pun. Kasih, sayang, dan cinta dari Oma untuk semua cucunya sama tidak ada istilah pilih kasih. Selama ini Papou begitu menderita, hidup bertahun-tahun dalam keluarga yang selalu mengabaikannya, membuatnya tumbuh menjadi gadis tangguh tanpa perasaan belas kasih.


“Pou …” Papou menghentikan aktivitas melukisnya.


“kenapa kamu tidak mau satu sekolahan dengan Karin?”


“Karin itu merepotkan Oma, dia selalu melibatkanku dalam masalah, dia selalu membuatku berada di antara orang-orang ramai yang membuatku merasa lelah. Aku tidak suka itu.” Lagi-lagi kalimat tanpa dosa itu meluncur begitu saja dari mulut Papou. Oma menghela nafas berat.


“Nilaimu bagus, bagaimana kalau kamu lanjutkan saja pendidikanmu di SMA Cendikia saja, nilai Karin tidak terlalu bagus. Oma rasa … dengan nilai yang begitu Karin tidak bisa diterima di sekolah itu.” Ada nada kecewa dalam nada bicara oma, Papou bisa menangkap itu. Tapi ia tak sanggup tiga tahun harus berhadapan terus menerus dengan Karin. Cukup masa SMP nya saja yang dirusak oleh Karin.


“Iya Oma …”


“Tolong kamu cari alasan yang tepat untuk mengatakan hal ini pada Karin.”


Dalam hatinya Karin merasa bersalah karena telah membuat wanita tua itu bersedih, raut wajah sedih terlihat jelas dalam binar matanya. Sayang, ego seorang Syellifau Lidia terlalu tinggi untuk bisa sedikit melunak.


Oma berdiri dari tempat duduknya, melangkah pergi. Sementara perang batin tengah terjadi dalam benak Papou. Teringat ke tidak adilan ketika ia tinggal bersama orang tuanya, dengan senang hati Oma menawarkan pelukan penuh kehangatan, dengan senang hati Oma menawarkan cinta tanpa harap balas, dengan senang hati menawarkan rumah penuh tawa. Dengan senang hati oma menawarkan secangkir kopi yang siap ia seduh setiap pagi dan sore hari dengan senang hati oma membagi cerita tentang esok yang akan bahagia.


“Oma …” ucap Papou lirih, pandangan matanya menerawang jauh, menerobos hari-hari yang akan datang, membayangkan apa yang terjadi dengan dirinya jika satu sekolahan dengan Karin.


Bukan egoku yang tinggi


Bukannya aku tak peduli


Atau aku juga bukan manusia berhati batu


Tapi …


Keadaan memaksaku berbuat untuk tidak peduli


Didikan dunia yang membuatku seperti


Tak ada satu pun yang bisa dipercaya


Maaf …


Goresan kata-kata itu ia tulis dalam buku hariannya, berulang kali ia mengucapkan kata maaf. Tapi … ia juga tak bisa mengorbankan masa putih abu-abunya penuh tekanan oleh sepupunya itu.


Ketika berbagai perasaan tengah berkecamuk dalam benaknya, suara Karin memanggilnya dengan gelagapan Papou langsung menutup bukunya dan kembali memasang wajah datar andalannya. “Apa?”


“wahhh … gambarnya bagus banget, Papou hebat.” Puji Karin menatap lukisan itu penuh kagum.


“itu lukisan Karin bukan gambar,” geram Papou, sudah sering Papou mengatakan kalau itu lukisan bukan gambar. “Sama aja Pou.” Dengan lancangnya Karin langsung menyesap kopi Papou.


Baru beberapa menit ia berdekatan dengan Karin emosinya sudah sampai ke ubun-ubun, Papou tak bisa membayangkan masa SMA nya yang akan berantakan jika satu sekolahan dengan Karin. Ia sudah kapok dengan masa SMP nya ia tak mau itu terulang lagi, ketika Karin mengikuti ke mana pun ia pergi dan mengatakan pada satu sekolahan bahwa ia adalah sepupunya dari Jakarta, bahkan tanah dan tembok sekolahan pun tau itu.


“ehh … tiga hari lagi PPDB online udah di buka kan?” Papou hanya mengangguk.


“Papou rencananya mau masuk SMA mana?”


“SMA Cendikia.” Jantung Karin seperti merosot, “SMA Cendikia,” ulangnya.

__ADS_1


Papou mengangguk senang, tanpa peduli raut wajah Karin yang langsung berubah. “kenapa?” Tanya Karin dengan nada lirih.


“Karena aku ingin dan aku suka.” Jawab Papou acuh. Karin kurang puas dengan jawaban itu, di mata Karin semua hal terlihat mudah dan sepeleh bagi Papou apa pun dapat dengan mudah ia dapatkan. Tentu saja, ia pintar, cantik dan kaya. Bahkan jika ia mau dunia pun bisa berada dalam genggamannya.


Semakin kesini, hukum rimba semakin berkuasa. Siapa yang kuat, dia yang memegang kendali atas kehidupan bahkan kehidupan orang lain. Pilihannya hanya satu memangsa atau siap-siap dimangsa. Lucu bukan? Peradaban dunia seperti berputar kembali ke zaman primitif.


~SF.L~


Karin sudah tau hasil apa yang akan ia dapatkan, tapi otaknya terus memaksa untuk mencoba walau lagi-lagi hatinya harus mendapat satu goresan luka lagi. “Masih ada satu kesempatan. Satu lagi kesempatan,” otak Karin terus mencoba menyemangati tapi hatinya berbisik untuk berhenti berusaha, cukup sampai di sini.


Matahari telah menghilang tenggelam dalam garis cakrawala di sebelah barat. Sementara dari tadi pagi Karin terus berkutik dengan bukunya, memaksakan otaknya dengan IQ yang tak seberapa untuk terus berpikir. Masih ada kesempatan untuk bisa masuk SMA Cendikia yaitu dengan jalur tes.


“Udah lah Dek, masih banyak SMA lain, jangan memaksakan dari seperti ini, nanti ujung-ujungnya pasti sakit. Kalau gak sakit fisik karena kecapean yah sakit hati karena gak diterima,” ucap Araya berusaha untuk sedikit menghibur sang adik, mendengar kalimat itu jatuhnya bukan jadi semangat tapi malah bikin tambah sakit hati.


“Sakit hati udah makanan sehari- hari, Bang. Jadi, Karin udah kebal kok.” Araya menghela nafas panjang, kenapa adiknya masih bisa tersenyum saat-saat seperti ini. Araya mengacak-acak rambut adiknya.


“Abang …” teriak Karin kesal, sambil melemparkan spidol ke arah Araya yang berlari keluar kamar Karin.


“Awas yah …” Karin berlari mengejar Abangnya.


“Auhhh ..” Araya mengusap-usap kepalanya yang terbentur ke lemari. Karin langsung tertawa terpingkal-pingkal melihat abangnya kesakitan. “Mampus.”


“Dasar adik durhaka,” kesal Araya berjalan pergi.


Sementara dari kamarnya Papou tertawa hambar. Kenapa hubungan dengan kakaknya tidak pernah baik. Kenapa hanya ada permusuhan dan persaingan yang terjalin antara dia dan kakaknya.


“Kenapa Ar,” tanya oma bingung ketika melihat Araya mengusap-usap kepalanya.


“ke jedot pintu Oma.” Jawab Araya dengan wajah yang cemberut.


“kok bisa?”


“yah … karena dia bego Oma.” Teriak Karin dari sudut pintu.


Araya langsung melemparkan tatapan mautnya, seakan-akan ingin memakan habis Karin.


“kenapa liat-liat, biasa aja dong.” Ucap Karin tak kalah sengitnya menatap Araya dengan tatapan yang sama.


“Idihh … gr banget, orang lagi liat in jam.”


“sok sibuk banget liat in jam mulu, orang situ kerjaannya cuma tidur. Dasar jomblo karatan, jomblo lumutan, jomblo abadi.” Karin tertawa terbahak-bahak, bahagia sekali rasanya menghina abangnya ini.


“ehh .. nggak deh. Gak jadi jomblo abadi, karena jomblo itu pasti akan berakhir kalau gak di pelaminan yang di kuburan.”


“huss .. gak boleh kayak gitu Rin,” Oma meletakan tangannya di bibir, oma tak pernah marah jika cucu-cucunya saling ledek seperti tadi.


“marah in Oma, masa iya sama Abang sendiri ngomong kayak gitu.” Araya memasang puppy eyes ke arah oma.


“kamu … udah kuliah masih aja kayak anak kecil.” Mendengar penuturan oma kembali membuat Karin tertawa. Ok, untuk hari ini oma sedang berada dalam kubu Karin.


~SF.L~


“Mau ke mana Rin?” Papou terlihat heran melihat Karin yang sangat rapi dengan baju muslim dan tas mukena di tangan kanannya.


“Mau di Sholatin calon imam.” Jawab Karin dengan bangga.


“Calon imam?” Ucap Araya dan Papou bersamaan.


“Iya. Kamu tau kak Adit kan Pou, nah pas Shalat asar tadi aku ke mesjid tapi bukan mau Shalat cuma mau cari angin saja, terus aku dengar suara imamnya itu merdu banget. Ehh … pas aku liat ternyata kak Adit yang jadi imam, jadi makin cinta aku tuh.” Jelas Karin dengan semangat 45.


“aneh … orang ke mesjid cari pahala, lah kamu ke mesjid cari angin,” ejek Araya sambil menuangkan air putih.


“Gak bakalan dapat pahala kalau niatnya kayak gitu Rin.”


“bodoh amat, yang penting di Sholatin calon imam.” Karin langsung melangkah pergi, ia tak peduli dengan komentar Papou dan Araya.

__ADS_1


“Awas … yah lu pacaran, gue gantung di pohon mangga Pak Mamat.” Teriak Araya ketika Karin sudah menghilang dari pintu.


“Kamu juga gak boleh pacaran yah Pou, awas saja berani pacaran, Abang gantung di puncak Monas?” Papou hanya terlihat tak peduli, lagian ia juga tak berniat pacaran jangankan untuk pacaran punya teman saja ia tak berniat.


__ADS_2