Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
hantu rumah sakit?


__ADS_3

Sudah satu minggu lebih Papou selalu mengunjungi taman ini, menikmati matahari yang mulai menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat. Mendengarkan lantunan azan magrib di bawah temaram lampu taman.


Katika Papou mulai beranjak dari bangku taman, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. “Kakak … nyariin Hanna yah,” teriak anak itu kegirangan, lalu meloncat naik ke atas bangku taman, kaki pendeknya menggantung di atas bangku.


Mata hijau itu begitu indah dan penuh misteri banyak teka-teki tersimpan dalam kilauan hijaunya. “Kamu …” kalimat Papou terjeda, ia tak tahu harus memulai dari mana kata-katanya, terlalu banyak yang ingin ia tanyakan.


Seorang wanita yang hampir berumur setengah abad berlari tergopoh-gopoh ke arah mereka sambil memanggil nama Hanna.


“Bye Kak … Hanna pulang dulu, nanti mama marah.” Hanna langsung melompat turun dari bangku dan berlari ke arah wanita tadi.


“Besok Hanna ajak kakak ketemu mama, mama pasti kangen sama kakak.”


‘mama pasti kangen sama kakak’ waktu seolah berhenti, seketika gravitasi bumi seperti kehilangan arah rotasinya, kalimat itu begitu ambigu bahkan sangat ambigu. Apa maksud bocah itu mengatakan ‘mama pasti kangen sama kakak.’ Kata-kata itu seolah-olah menggambarkan kalau mereka sudah mengenal dari lama.


~SF.L~


Karin sedang tiduran di lantai, kepalanya ia sembunyikan di bawah meja. Aneh. Tapi itulah kebiasaan gadis berwajah oval itu. Sedangkan Araya sedang menonton pertandingan bola. Tiba-tiba ponsel oma berdering, ponsel itu di letakan oma di meja makan. Tapi karena bunyinya yang nyaring dering hp itu terdengar sampai ke ruang tamu


.


“Hp Oma bunyi, angkat gih.”


“Abang … capek,” rengek Karin, berguling-guling di bawah meja. Araya berdecak sebal, adiknya itu sungguh pemalas.


“eh, itu telepon dari Adit tau, kamu gak ingat malam ini Oma adain pengajian,” mendengar nama Adit, Karin langsung berlari untuk mengangkat telepon. Dahi Karin berkerut, itu bukan nomor Adit, ia hafal betul nomor Adit.


Karin kembali merebahkan separuh tubuhnya di bawah meja, “siapa dek?”


“Gak tau Bang.” Ucap karin acuh.


“Gak di angkat?” Tanya Araya kembali.


“Nggak.” Karin memejamkan matanya bersiap untuk tidur. Araya menginjak dengan sengaja kaki Karin, ketika ia kembali mendengar hp itu berdering untuk yang kesekian kalinya. “Sakit Abang.” Teriak Karin, sambil melemparkan sekotak tisu ke arah Araya.


Araya langsung kaget, untung saja bukan oma yang mengangkat telepon ini. “Oma mana Dek?” Araya berlari ke arah Karin yang sudah terpejam di bawah meja.


Rasanya hari ini Karin benar-benar malas untuk melakukan apa pun, untuk berbicara saja rasanya malas. Namun ia langsung terlonjak kaget, sampai-sampai kepalanya terbentur ke meja.


Oma duduk gelisah di samping Araya yang mengemudikan mobil, oma tak bicara apa pun ia hanya diam, bicara hanya akan membuat semua orang semakin panik. Karin sudah berlinangan air mata di jok penumpang, berbagai kemungkinan terburuk lalu-lalang dalam otaknya yang hanya sebesar biji kenari.


“Saya menabraknya Oma, maaf.” Aku seorang anak laki-laki dengan tubuh tinggi dan kulit sawo matang. Lagi-lagi oma hanya diam, ia tak bisa berkata apa-apa, sementara Araya sudah mengepalkan tangannya bersiap untuk meninju mulut lancang laki-laki ini , dengan entengnya dia minta maaf sedangkan adiknya di dalam ruangan sana sedang berteman malaikat maut.


“Bugh …” satu pukulan mendarat di hidung mancung laki-laki itu, sementara Karin hanya bisa diam dengan air mata yang terus berjatuhan. Ia mengenal laki-laki ini, dia Raga seseorang yang sangat ia kenal sejak hari pertama masuk SMA Cendikia.


“Udah Bang, ini gak bakalan menyelesaikan masalah.” Karin memegang tangan abangnya, tapi tenaganya tidak cukup kuat. Lagi-lagi pukulan kembali diterima oleh Raga.


“Cukup Ar, jangan tambah masalah.” Ucap oma lembut terlihat jelas sekali kesedihan di sana.


“Bawah orang tua kamu kesini, dia harus tau kondisi cucu saya.” Raga menelan salivanya dengan susah paya, apa yang akan di katakan oleh bunda dan ayahnya nanti, apakah ia akan berakhir di rumah sakit.


“Saya akan tanggung jawab Oma, saya akan bayar seluruh biaya pengobatan Syellifau. Tapi … tolong jangan libatkan orang tua saya.” Ucap Raga memohon.


Dengan cepat oma menggeleng tanpa suara, “kami bukan berasal dari keluarga miskin, bahkan untuk membeli rumah sakit ini keluarga saya sangat mampu.” Araya naik pitam, mulut bocah SMA ini sangat kurang ajar.


Mau tidak mau akhirnya Raga menelepon Bunda dan Ayahnya. Kilatan emosi terlihat jelas dari manik mata Muktar ayahnya. “Apa lagi yang kamu perbuat?” Tanya Muktar dengan emosi yang membuncah.


“Ra … Raga gak sengaja menabrak dia Ayah.” Jawab Raga dengan tergagap, kepalanya menunduk.

__ADS_1


“Jangan marah dulu Pak, kita dengarkan dulu penjelasannya.” Araya dan Karin langsung membulatkan mata tak percaya, kenapa omanya begitu baik bukankah jelas-jelas tadi dia telah mengakui kesalahannya. “Silakan kamu ceritakan kronologinya.”


“Tadi saya baru pulang dari café dan ketika jalan pulang saya melihat ada seorang perempuan dengan rambut panjang, jongkok di tengah jalan. Sa … saya kira hantu, makanya saya tabrak saja.” Antara ingin tertawa dan kesal dengan tingkah anaknya ini, Bunda menatap tajam ke arah anaknya yang sudah gemetaran karena takut.


“Kamu Pikir kita lagi bercanda.” Raga benar-benar menguji kesabaran Araya. Buku tangan Araya memutih, mengepal tangannya dengan penuh emosi.


Raga berdiri dengan kaki yang gemetaran, ia tak mau berakhir dalam jeruji besi. “Maafkan saya.”


Oma menarik napas dalam-dalam mencoba menenangkan hati dan pikirannya, oma segera berjalan mundur untuk mencari tempat duduk. Ia tak boleh sakit, kehidupan ketiga orang cucunya juga berada dalam kehidupannya.


“Biar saya bantu.” Bunda menolong oma untuk duduk. Oma sudah tidak tahan lagi, air mata yang susah payah ia tahan akhirnya jatuh. Dinding pertahanan yang susah payah ia bangun, lenyap begitu saja.


Sedangkan Araya mondar-mandir di depan pintu kamar tempat Papou dirawat, dari tadi dokter tak kunjung keluar, ada apa sebenarnya.


Karena terlalu panik tidak ada yang sadar dengan kehadiran seekor kucing hitam yang tidur dengan tenang sambil menjilati bulu hitam mengkilapnya di balik tong sampah.


~SF.L~


Di bawah temaramnya lampu jalanan, Papou berjalan pulang dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus menghantuinya. Tanpa sengaja, ujung mata Papou melihat seekor kucing dengan bola mata hijau dan bulu berwarna hitam, di bawah lampu jalan.


Kucing itu sama persis dengan kucing waktu itu, kucing yang ia lihat ketika dinding sekolahnya mengeluarkan cairan yang menjijikkan itu.


Kucing itu berjalan mendekat ke arah Papou, Papou sedikit berjalan mundur hanya sekedar untuk jaga-jaga. Tidak terjadi apa-apa, kucing itu malah berputar-putar di kaki Papou. Papou berjongkok untuk menyentuh kucing itu, tapi seketika telinganya seperti berdengung hebat, itu membuat kepalanya pusing.


Ada benda keras yang menghantamnya dari belakang, Papou terpelanting jauh ke sudut jalanan, lidahnya mengecap rasa asin bercampur amisnya darah, sekitar penglihatannya menghitam dan semua menjadi gelap, ia tak tau lagi apa yang terjadi.


~SF.L~


Hanna. Gadis kecil itu berjalan kegirangan, sambil memegang boneka berbentuk tikus. Seperti tidak ada lelahnya, Hanna terus berjalan ke sana-kemari mengitari rumahnya yang sangat besar.


“Ya Allah Non, Bibi capek mengejar Non Hanna dari tadi. Tidur siang yuk cantik.” Ajak Santi, pengasuh anak itu. “Gak mau.” Tolak Hanna dengan kembali berlari, kali ini Hanna berlari ke arah dapur.


“Allahu Akbar ….” Teriak Santi histeris, sambil memegang kepalanya ketika Hanna berlari dengan membawah pisau tajam itu. “Ya ampun Non, mainan Non Hanna kan banyak, jangan main pisau yah cantik,” Santi terus membujuk Hanna. Hanna tetaplah Hanna yang keras kepala.


Hanna tersenyum iblis, lalu mengangkat pisaunya tinggi dan ia lemparkan ke kaca lemari yang berisi koleksi piring-piring antik milik sang tuan rumah, seketika kaca itu langsung pecah berhamburan ke lantai. Santi langsung berlari ke arah anak itu, memeriksa apakah ada luka atau ada yang lecet. Untunglah tidak ada luka sedikit pun.


Hanna memegang kepalanya erat, lalu berjongkok. Setiap kali melakukan kesalahan itulah yang dilakukan Hanna. Santi yakin, anak majikannya ini pasti punya kelainan. Hanna mulai bernyanyi tidak jelas, ritual ini bisa ia lakukan sampai satu jam lebih.


Santi menghela napas pelan, memprihatinkan sekali nasib anak majikannya ini, orang tuanya terlalu sibuk sehingga tidak tahu perkembangan anak mereka.


~SF.L~


Raga duduk termenung di balkon kamarnya, menatap langit yang penuh taburan bintang. Malam ini ia tak bisa tidur, dalam pikirannya terus berputar-putar wajah Papou. Mulai dari pertama mereka bertemu di sekolah sampai wajah pusat pasi gadis itu, ketika terbaring lemah di rumah sakit.


“Gak tidur …” tiba-tiba Daga, menepuk pelan punggung kembarannya itu. Raga hanya menggeleng pelan, bibirnya terlalu berat untuk bicara.


“Kenapa?”


“Gue ke pikiran sama dia, gimana seandainya kalau dia meninggal.” Suara Raga terdengar bergetar, ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. “Jangan mikir yang macam-macam, ini semua sudah rencana tuhan.”


“Lo kenal sama dia?” Tanya Daga kembali setalah beberapa menit yang lalu mereka sama-sama diam.


“Bahkan gue tertarik sama dia.” Aku Raga pandangannya menerawang waktu yang berlalu, mengingat waktu pertama kali dia melihat wajah dingin gadis itu. Daga tak bisa berkata apa-apa.


“Lo mau ngelakuin sesuatu?”


Raga mengangkat sebelah alis matanya seolah bertanya apa, “Kita ke rumah sakit sekarang, biar pikiran lo lebih tenang.” Raga langsung mengangguk setuju, mereka turun ke garasi dengan mengendap-ngendap jika ketahuan bunda mereka berdua bisa habis di marahi semalaman.

__ADS_1


“Biar gue yang menyetir,” Raga hanya mengangguk, lagi pula ia masih trauma untuk menyetir.


11 : 42 p.m


Araya sedang tertidur di sofa, Raga tak melihat Karin dan oma mungkin mereka pulang, Daga berdiri di dekat pintu, untuk berjaga-jaga jika ada yang datang sedangkan Raga menatap Papou dengan perasaan yang berkecamuk dalam benaknya.


Mata Daga waswas melihat ke sekitar, seketika hidungnya mencium bau amis darah yang begitu kental, rasanya ia ingin muntah jika bukan untuk membantu manusia yang satu rahim dengannya ia tak akan mau.


Ada hantu yang bergelayut di kaki Daga, tangan hantu itu penuh dengan darah Daga menatap jijik rasanya ia segera ingin pergi dari tempat ini. Tapi … ketika sudut matanya menatap Raga, ia mengurungkan niatnya.


“Pergi …” Daga menendang hantu itu, sedangkan hantu itu semakin mengeratkan pegangannya pada kaki Daga. “Tolong …” Daga berdecak sebal, ia sudah muak mendengar suara hantu yang terus berbisik minta tolong.


“Cepetan Ga, gue gak mau nambah masalah,” Daga sudah tak tahan lagi.


“Maaf ….” Setelah mengucapkan itu Raga langsung berbalik kearah Daga. Padangan mata Raga langsung mengarah pada kaki celana Daga sebelah kanan yang terlihat sangat kusam.


“Kaki celana lo yang sebelah kana kok kusam banget sih.” Daga langsung tergagap, itu pasti ulah hantu tadi.


“Tau nih, bunda nyucinya kurang bersih.” Untung saja bakat berbohongnya muncul di waktu yang tepat.


“Masa sih, bunda biasanya kalau nyuci selalu bersih. Lu aja yang lesek.”


Daga bersungut sebal, “dasar saudara yang gak tau untung, udah gue bantuin juga.”


“Owh … sekarang lu hitung-hitungan sama kembaran sendiri.” Mereka sama-sama tertawa, saling mengejek dalam jenaka.


~SF.L~


Malam ini mata oma tak terpejam bak sedetik pun, susah sekali rasanya menikmati malam yang panjang, pikirannya terus memikirkan keadaan Papou. Araya tak membiarkan oma untuk menginap di rumah sakit, pasalnya hanya ada sofa itu tak akan nyaman jika oma menggunkannya untuk tidur.


“Apa sebaiknya orang tua Papou ditelepon oma?” Oma menggeleng ketika Karin bertanya. “Mereka pasti sibuk.”


“Nanti kalau terjadi sesuatu .... agar oma tidak disalahkan.” Oma hanya bisa diam, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Karin. Tapi ia tak siap menelan pahitnya kekecewaan, oma yakin anaknya tidak akan datang untuk melihat keadaan anak mereka.


“Biarkan saja mereka menyalahkan oma.” Oma segera menarik selimut, menutup semua tubuhnya dan hanya menyisakan kepalanya. Oma itu keras kepala.


~SF.L~


Ketika di dalam mobil, Daga menggerutu sebal dalam hatinya karena telah menawarkan Raga untuk pergi ke rumah sakit, tempat kedua yang selalu berusaha dihindarinya setelah kuburan.


Hantu tadi terus mengikuti mereka, kepalanya hampir terbelah baju putih yang ia pakai sudah lusuh dan penuh dengan darah.


“Lo ngerasa aneh gak,” tanya Raga tiba-tiba yang membuat Daga mengerem mobil secara mendadak.


“Lo kenapa?” Tanya Raga kembali.


“owh … tadi gue ngelihat kucing di tengah jalan, makanya gue ngerem mendadak.” Alibi Daga, Raga percaya saja.


“Lo ngerasa ada yang aneh gak?” Raga kembali bertanya, kali ini Daga dapat terlihat lebih tenang. Ujung mata Daga melirik kearah samping, terdapat sedikit celah antara tempat duduknya dan Raga, disitulah sang hantu duduk dengan darah yang mengeluarkan bauh busuk.


“Biasa aja sih,” jawab Daga dengan cuek.


Raga sedikit mengendus-ngendus kearah samping, Daga mengernyit jijik ketika hidung Raga tepat berada di samping kepala si hantu yang mengeluarkan bauh busuk. Sekita perut Raga terasa mual, ia hampir saja memuntahkan seluruh isi perutnya.


“Mobil lo kek bau banget sih.” Raga langsung membuka kaca jendela mobil, untuk membiarkan angin segar masuk.


“Kemarin itu ada teman gue yang numpang, dia itu gak biasa naik mobil jadinya dia muntah di mobil gue, belum sempat gue bersihin sih … tapi kayaknya udah kering.” Jelas Daga, Raga yang dibohongi Daga percaya saja.

__ADS_1


“ehh … kalau dia muntah di sini harusnya ada bekas muntahnya dong, tapi ini kok mobil lo bersih sih.” Raga terlihat kebingungan sambil berusaha melewati tempat yang ia yakini mengeluarkan bau busuk tadi.


Daga hanya mengangkat sebelah bahunya, bersikap seolah tak peduli. Membiarkan Raga sibuk dengan pikirannya.


__ADS_2