Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
kenapa dan mengapa.


__ADS_3

Derap langkah berat, membuat Papou bangun dari tidurnya netra coklat Papou sibuk mencari sumber suara. Tidak ada apa pun, di luar sedeng hujan petir dan kilat saling menunjukkan eksistensinya.


“Siapa?” Papou bertanya dengan berteriak, suaranya bergetar karena takut.


Tiba-tiba derap langkah itu menghilang, suara itu tidak terdengar lagi.


~SF.L~


“aku senang banget bisa ketemu Papou lagi, huuu … aku bosan kalau gak bisa mengobrol sama Papou, gak berasa hidup sebelum dengar kata-kata Papou.”


Papou menyesali kenapa, kemarin-kemarin dia merindukan Karin, “kamu gak capek apa, bau sampai uda ngoceh panjang-panjang.”


Karin segera menggeleng cepat, ia sangat bahagia hari ini. “enggak.”


“Aku yang capek dengarnya,” Papou segera kembali ke kamarnya sebelumnya Papou telah mencium tangan malaikat tak bersayapnya siapa lagi kalau bukan oma.


“Aku mau ke mesjid dulu oma, mau Shalat magrib.”


“Di rumah saja, lagi hujan juga nanti kamu sakit,” oma merebahkan dirinya di sofa.


“Bilang aja, kamu mau lihat Adit.” Araya mencibir.


“Jangan jadi pelakor,” Araya kembali melanjutkan kalimatnya.


“kan belum nikah.” Karin nyengir yang jatuhnya seperti orang aneh.


“Terserah lu lah, Dek.” Araya benar-benar angkat tangan dengan tingkah adiknya yang makin hari semakin menjadi-jadi.


~SF.L~


Daga menatap kakinya yang terasa perih, Daga baru bermimpi Nana mencambuknya tanpa ampun namun ketika terbangun normalnya tidak terasa sakit tapi sekerang kakinya terasa sangat perih.


“Kaki gue kok sakit banget,” Daga memperhatikan kakinya dengan seksama, tidak ada luka.


“Itu bentuk hukuman dari gue, gue cuma di kasih waktu 14 hari di dunia, semakin berkurang waktu gue di dunia semakin gue rasain sakit. Lo ingat gak? Abu tangan gue yang ke bakar waktu pertama kali kita bertemu masuk ke dalam tubuh lo, kita bagi dua rasa sakitnya.”


Daga tertegun ketika ada yang berbisik di telinganya, Daga yakin itu Nana. “Apa-apaan ini, kenapa gue jadi kena sial gini.”


Bukannya tidak ikhlas membantu, tapi Daga juga manusia yang memiliki sisi kemanusiaan dia bukan malaikat yang memiliki hati selembut sutra dan seputih kapas.


Daga membuka kalender di hpnya ini adalah hari ke tujuh setelah kematian Nana, berarti waktu Daga untuk mengungkap siapa hantu itu tinggal 7 hari.


~SF.L~


Ini adalah hari pameran lukisan yang sudah lama di persiapkan lama oleh anak-anak club kesenian. Acara akan di mulai pukul 09.00 am WIB. Papou sudah berada di lokasi ini sejak pukul enam pagi tadi.


Sibuk sekali dan lelah sekali, Papou muak berada pada tempat ramai begini, di tengah-tengah acara Papou memilih untuk melarikan diri, kepalanya terasa pusing dengan orang-orang yang terus lalu lalang.


“Ihhh kok gambar aku sih,” lagi, lagi dan lagi suara anak itu kembali berputar-putar dalam pikiran Papou.


Papou mengangkat kepalanya sebentar dan kembali membenamkannya, Papou duduk dengan memeluk lututnya sendiri dan menenggelamkan kepalanya di sela-sela tangannya sendiri.


“sebenarnya kamu siapa?” suara Papou terdengar lirih, dia benar-benar capek.


Papou merasakan ada tangan dingin yang mengusap-usap kepalanya, Papou kembali mengangkat kepalanya tidak ada siapa-siapa, Papou yakin ini pasti ulah Hanna.


“Please … aku lagi capek, jangan ganggu.”


“Ihh … kakak gak asyik. Aku lagi pengen main.” Papou tertawa hambar mendengar suara Hanna yang terlihat tanpa beban.


“Kamu siapa? Apa aku pernah buat salah, aku minta maaf. Tapi tolong pergi, aku benar-benar lelah.”


Papou kembali merasakan tangan dingin itu kembali mengusap-usap kepalanya, bukannya merasa takut Papou malah merasa nyaman.


“Aku … sayang kakak.” Papou kembali mendengar suara tanpa wujud itu, Papou menghela nafas panjang, meluruskan kakinya dan bersiap untuk berdiri.


“Aku gak tau siapa kamu, aku gak punya adik.” Papou berteriak frustrasi.


Hampir saja Papou jantungan, Hanna melompat dari pohon yang Papou jadikan sandaran. Papou mengelus dadanya berusaha menetralkan detak jantungnya.


“Ayo sini Surati,” anak kecil dengan rambut hitam lurus itu dan bola mata hijaunya memanggil kucing hitam yang selalu mengikutinya.


“Kak Pou, pelupa banget sih.” Hanna cemberut, membuat pipinya seperti akan meletus.


Papou hanya diam, memperhatikan lekat-lekat anak ini, kenapa otaknya sangat payah, kenapa ia tidak bisa mengingatnya.


“Duduk dulu yuk kak,” Hanna langsung duduk di tempat ia berdiri tadi.


Papou hanya menurut, rasa penasarannya tidak bisa ia sembunyikan.


“Main tebak-tebakan yuk kak.” Anak itu kembali bersuara sambil mengelus bulu hitam kucing yang selalu mengikutinya itu.

__ADS_1


“Boleh.” Papou hanya menurut, ia tidak peduli dengan risiko apa yang akan ia terima nanti.


“Siapa aku hayo ....?” Senyum tak henti-hentinya dari wajah Hanna, ternyata ada orang yang jauh lebih bahagia dari pada Karin. Hanna tertawa cekikikan.


Alis Papou saling bertautan seperti memikirkan suatu hal, “apa sebelumnya kita pernah bertemu?”


“ah payah, Kak Pou gak asyik.”


“Aku kasih clue deh, …” jari keci Hanna, mengetuk-ngetuk kepalanya pelan.


“Tapi gak jadi, wlee.” Hanna malah menjulurkan lidahnya dan berlari pergi, “ayo Surati kita pergi, Kak Pou uda mau ngamuk.” Seperti paham apa yang dikatakan oleh Hanna kucing itu langsung berlari pergi mengikuti langkah aneh.


~SF.L~


“Bagus yah lo, kita uda capek-capek buat acara ini dan lo malah pergi kelayapan gak jelas.” Papou sudah pasrah dirinya di omelin Raga seperti ini, karena tadi Papou benar-benar sudah tidak sanggup kepalanya terasa pusing, kata-kata Raga begitu tajam dan menusuk.


“Kamu gak bertanggung jawab banget sih,” Putra sebagai ketua pelaksana juga ikut-ikutan memarahi Papou.


“Gini nih, kalau biasa di manjahin.” Vika juga ikut bersuara.


“Diam kalian semua, Cuma gue yang bisa marahin Syellifau.”


Nades mendengus sebal dalam situasi genting seperti ini Raga masih sempat-sempatnya untuk bertindak seperti ini. Kekanak-kanakan sekali.


“Sekarang kalian bubar, gue gak mau acara ini berantakan.”


Raga juga ikut bubar bersama yang lain, apakah sekarang Raga benar-benar marah padanya. Bodoh amat, Papou tidak peduli.


~SF.L~


Ini untuk yang kedua kalinya Daga ke rumah ini, ia ingin bicara lebih juah tentang Papou, dengan siapa lagi kalau bukan dengan orang tua Papou. Percaya atau tidak percaya itu urusan nanti.


Saat itu Hendra sedang duduk di teras rumahnya, tidak ada yang ia lakukan hanya duduk bersantai, ketika ada anak mudah yang datang ke rumahnya.


“Selamat sore om,” sapa Daga dengan ramah, Hendra menyapa sapaan itu dengan ramah. Hendra seperti pernah bertemu, tapi ia lupa di mana.


“Kamu siapa yah, maaf saya lupa.”


Daga langsung memperkenalkan dirinya, “saya Daharga Sukma Muktar om, saya teman Papou yang waktu itu kesini.”


Hendra langsung mengangguk dan mempersilahkan Daga untuk duduk. Dan langsung mempertanyakan tujuan Daga kesini.


Daga menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi berusaha mengumpulkan keberanian untuk bercerita, Daga juga tidak tau harus dari mana bercerita, Daga tidak yakin Papa Papou akan percaya dengan apa yang akan di ceritakannya nanti.


“Jadi …?”


“Jadi saya di datangi hantu Nana, anak om.” Hendra terkejud, tentu saja. Untuk sesaat Daga menatap netra mata Hendra, coklat sama persis seperti Papou.


“Apa kata anak saya?” Hendra menatap Daga dengan raut penasaran.


“Maaf yah om, apa benar Papou bukan anak kandung om dengan tante Mayang?”


Hendra hanya diam, matanya menerawang ke masa lalu. “Iya …” Hendra mengangguk pelan.


“Kalau boleh tau, istri pertama om meninggal karena apa?”


Daga merasa tidak sopan menanyakan hal ini, tapi menuntaskan masalah ini ia harus berani untuk bertanya.


“Karena sakit yang di deritanya, dia … sangat membenci Papou, dia merasa … karena dengan adanya Papou membuat hidupnya menjadi hancur, apalagi karena saya dan Papou mirip.”


“Apakah mama kandung Papou punya anak lain?” Daga sempat berfikir kalau Hanna adalah adik Papou.


Hendra menggeleng, seingatnya Lira tidak punya anak lain selain Papou, “saya rasa tidak.”


“Apakah om kenal dengan seorang anak dengan bola mata hijua?”


Hendra mengernyit, alisnya saling bertautan seingatnya ia tidak pernah mengenal anak dengan bola mata hijau, “saya rasa saya tidak mengenal seorang pun dengan bola mata hijau.”


“Apakah saya boleh memberitahu Papou saol ini,” Daga bertanya dengan hati-hati, percayalah berada dalam posisinya sekarang serba salah. Ia tidak mungkin mengorbankan dirinya untuk menutupi semua rahasia keluarga ini.


Daga memang bisa melihat mereka yang tak terlihat, tapi Daga tak bisa membaca pikiran seseorang, Daga tidak tau bagaimana seseorang memandang esok yang akan datang, semua tidak bisa disamakan, tidak bisa dipukul rata.


Hendra hanya mengangguk pelan, ia pasrah. Apa pun yang terjadi sudah kehendak tuhan, ini semua sudah takdir. Lagi pulah, tidak ada harapan hubungannya bisa membaik dengan anak sulungnya itu, semua sudah terlanjur kacau.


“Katakan saja, lagi pula Papou sudah dewasa, dia bisa memahami apa yang terjadi.”


~SF.L~


Papou hanya diam, kecewa? Tidak juga. Papou sudah menduga ini sebelumnya, tapi kenapa rasanya tetap sakit. Daga sudah pulang dari tadi, Papou memilih untuk tetap di sini.


apakah dunia selalu butuh alasan kenapa dan mengapa?

__ADS_1


Apakah setiap tanda tanya butuh jawaban?


Aku satu dari sekian pertanyaan yang tak terjawab


Aku satu dari mereka yang tersisihkan


Aku satu dari mereka yang terabaikan


Aku satu dari sekian banyak korban permainan takdir


Aku menyerah ….


Aku mengalah …


Biarkan aku pergi …


Diksi mu takdir, sunggu indah menyembunyikan semua luka


Selamat tinggal.


Lonceng yang berada di pintu café berbunyi, Papou tidak peduli dari tadi ia hanya diam dengan jus alpukat yang Papou aduk-aduk.


“Ayo pulang,” ada suara lembut yang tertangkap oleh indra mustamik Papou, suara yang sangat ia kenal. Papou menengadah melihat ke sumber suara.


Seorang wanita tua dengan kulit yang telah keriput memperjelas perjalanan waktu yang telah lama di laluinya, wanita itu tersenyum benar-benar tersenyum. Mengulurkan tangannya ke depan Papou.


“Ayo pulang,” ulangnya.


Papou menatap wanita itu dengan lekat-lekat, “oma …” ucap Papou lirih.


“Ayo kita pulang,” wanita itu kembali mengulang kata-katanya, membantu Papou untuk berdiri. Entah kenapa Papou enggan untuk menerima uluran tangan oma, Papou kecewa, kenapa hal ini di tutupi darinya.


“kenapa Oma bisa ada di sini?” Papou sibuk melihat ke kiri dan kanan tidak ada apa pun, tapi ketika melihat ke luar Papou melihat ada mobil Araya di luar.


“Sama Bang Araya?” Oma mengangguk.


Papou kembali diam, rasa kecewanya tidak bisa di sembunyikan oleh Papou. Lucu sekali, pantas saja Papou merasakan perbedaan kasih sayang dari mamanya ternyata karena mereka memang berbeda.


“kenapa oma enggak pernah cerita,” tangan Papou bergetar begitu juga dengan bahunya, berusaha untuk menahan isak tangis.


Oma mengusap pelan pundak Papou, membiarkan dia tenang terlebih dahulu. Oma pikir hal ini dapat di sembunyikan sampai kapan pun, tapi nyatanya tidak. Ada-ada saja caranya.


“Oma menyayangimu, Nak.” Ucap oma lirih.


“Aku kecewa oma, kenapa aku baru tau sekarang setelah berharap lebih, jika aku tauh hal ini dari dulu-dulu aku tidak akan pernah berharap lebih dari kalian. Kenapa aku tauh hal seperti ini dari orang lain, orang asing dalam keluarga kita.”


Papou menunduk lesu. “Maaf Oma, aku terlalu kecewa, jangan cari aku. Pou pergi.” Papou mengambil tasnya dan berlari pergi, untuk semua makanan dan minumannya sudah Papou bayar terlebih dahulu.


~SF.L~


Araya hanya diam, melihat apa yang dilakukan oleh Papou, bukannya tidak mau mengejar. Araya tahu betul bagaimana Papou, dia sangat keras kepala, percuma saja dia mengejar Papou akan tetap memilih untuk pergi. Lagi pula ke mana Papou akan pergi malam-malam begini, nanti kalau capek dia juga bakal pulang sendiri.


Araya menjemput oma yang masih berdiri mematung di tempat tadi, “ayo Oma kita pulang.”


Oma menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca, tenggorokannya terasa kering, “cari adikmu, bawah pulang.” Suara oma melemah.


Araya menghela nafas pendek, “biar Araya antar oma pulang dulu, setelah itu baru Araya cari Papou.”


Oma kembali menggeleng, “oma bisa pulang sendiri, tapi adikmu bisa hilang atau diculik orang, dia perempuan.”


“Biar Araya pastikan dulu oma pulang dengan selamat, baru Araya cari Papou.”


Sekarang Araya tauh dari mana datangnya sifat keras kepala Papou, ternyata oma sama-sama keras kepalanya dengan Papou. Setelah memesan taksi online untuk oma. Sekarang Araya sedang mencari Papou. Araya tidak tahu ke mana Papou akan pergi, setahu Araya gadis itu tak punya teman.


~SF.L~


“kak Pou lagi kabur yah?”


Papou membekap telinganya, untuk saat ini Papou tidak ingin mendengar suara apa pun, entah itu suara oma, suara Karin, Araya atau apalagi suara Hanna, yang selalu membuat hidupnya menjadi kacau. Tak bisakah untuk malam ini.


Papou merasakan tangan dingin tanpa wujud, melepaskan dekapan tangan Papou dari telinganya, berusaha mematikan fungsi indra mustamiknya.


“Hahaha …” Suara itu tertawa, Papou tau, suara tawa untuk mengejek dirinya.


“Kak Pou lucu ih, percuma juga Kak Pou tutup telinga, Kak Pou tetap bakalan bisa dengar suara aku bahkan sampai Kak Pou motong telinga, Kak Pou tetap bakalan bisa dengar suara aku.”


Suara tanpa wujud itu kembali tertawa, Papou menyerah. Papou melepaskan tangannya bebas terjuntai ke bawah.


Papou hanya diam di bawah temaram lampu jalan, suara tanpa wujud tadi juga diam. Papou menghela nafas panjang, membiarkan dinginnya udara malam menusuk dalam ke dalam tulangnya.


“Hanna?” Ucap Papou pelan, Papou ingin menatap dalam bola mata hijau itu.

__ADS_1


Papou merasakan ada tangan kecil yang memeluknya. Hanna. Papou sedikit tersenyum, Papou menatap dalam bola mata hijau itu, membiarkan dirinya merasakan sensasi aneh. Bola mata hijau yang selalu membuatnya terlempar ke masa lalu.


__ADS_2