Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
lagi-lagi Hanna.


__ADS_3

Ketika mengantarkan Papou pulang ada satu hal yang ingin ditanyakan Daga, apakah Papou itu bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata atau makhluk immortal seperti kemampuannya.


Apakah Papou tak merasa terganggu dengan kehadiran makhluk-makhluk yang sangat banyak itu di sekitarnya, Daga jadi penasaran dengan hubungan Papou dengan tuhan. Seberapa jauh anak ini dari sang pencipta, selama ini yang dilihat Daga adalah semakin jauh seseorang dari sang penciptanya semakin banyak makhluk tak kasat yang akan selalu mengikutinya.


“Emmm … kamu muslim?” Tanya Daga dengan ragu, Daga agak takut menanyakan itu karena bagi sebagian orang itu terlalu privasi. “iya ….”


Setelah itu mereka sama-sama diam, motor melaju dengan kecepatan sedang, sebenarnya banyak hal yang ingin ia tahu tentang Papou, tapi dilihat dari caranya bicara Papou bukanlah tipe orang yang dengan mudah untuk bersahabat.


“Di sini aja, kak.” Daga memberhentikan motornya, Daga agak bingung karena tidak ada rumah di sekitar sini. “Rumah kamu di mana?”


Tak peduli dengan pertanyaan Daga, Papou langsung turun begitu saja dan pergi berlalu meninggalkan Daga yang kebingungan. Mata Daga langsung memicing, meneliti dan berusaha untuk melihat lebih jelas, ia yakin ia tak salah liat itu adalah hantu yang di rumah sakit waktu itu, kenapa hantu itu juga mengikuti Papou. Setahu Daga selama ini tidak ada yang namanya hantu kembar.


“Syellifau …” teriak Daga, sambil sedikit menggas motornya untuk mengejar Papou yang sedikit jauh. “Saya ingin bicara sebenar, apa kamu punya waktu?”


“Maaf Kak, sudah sore.” Tolak Papou dengan halus.


“Tapi … ini tentang suatu hal yang sangat penting,” Papou langsung terhenti, seberapa penting kata penting yang dimaksud oleh Daga. “Tapi …” Papou sedikit berpikir, apakah ia percaya dengan apa yang dikatakan oleh Daga.


“Percaya sama gue, gue bukan Raga yang suka modusin cewek.” Dalam hati Papou, Daga dan Raga sama saja, sama-sama menyebalkan.


“Tapi … aku gak bisa sekarang Kak, takut Oma kawatir,” Papou tak berbohong ia memang khawatir pada oma, takut penyakit jantung oma kambuh, akhir-akhir ini Papou sering pulang terlambat itu tidak baik bagi kesehatan oma.


“Besok gue jemput di depan sekolah lo,” Raga langsung menggas motornya untuk pergi.


Seberapa penting kata penting yang dimaksud laki-laki itu, apa ini ada sangkut-pautnya dengan Hanna atau dengan kucing hitam yang selalu ia lihat.


~SF.L~


“Kamu uda baca mading?” Papou menggeleng sambil menerima susu coklat yang di berikan oleh Karin.


“Katanya kita siswa baru wajib ikut salah satu ekstrakurikuler,” ucap Karin dengan santai karena ia memang berencana untuk ikut salah satu ekstrakurikuler yaitu tim basket putri. Sementara tidak bagi Papou, bagai Papou ekstrakurikuler hanya akan menghabiskan waktu.


“Aku gak minat ikut apa pun.” Ucap Papou acuh.


“Dan katanya lagi nanti bakalan ada kakak kelas yang bakalan masuk ke kelas masing-masing untuk mendata.”


Jika benar apa yang dikatakan oleh Karin, setidaknya Papou harus mempersiapkan satu ekstrakurikuler, yang jelas itu bukan OSIS ia tak mau terlibat urusan dengan Raga.


“Aku minta daftar-daftar organisasi yang ada di SMA ini dong.”


Karin sedikit berpikir, mencoba mengingat-ngingat kembali masa-masa MPLS karena waktu itu ada demo ekskul yang di selenggarakan oleh kakak kelas.


Papou segera membuat daftar untuk mempertimbangkan, pro dan kontranya ia memilihi suatu organisasi.


OSIS silang


PASSUSBRA silang, karena menurut info dari Karin ini organisasi paling aktif di SMA Cendikia


Multimedia club silang, karena Papou agak buta teknologi


Silat silang, ia tak mau latihan capek-capek


PMR silang, Papou tidak mau berurusan dengan orang lain


Jurnalistik silang, Papou tak pernah peduli dengan berita apa pun disekolahnya


Pramuka silang, Papou tak menyukai organisasi ini.


SISPALA silang, jangankan untuk mencintai alam peduli pun ia tidak


Basket Putri silang, ia tak berbakat dalam bidang olahraga


Club Bahasa, Silang sudah Papou pastikan Karin pasti memilih organisasi ini, apalagi dia anak bahasa.


Rohis silang, tidak tertarik


Club seni bisa dipertimbangkan, dari sekian banyak organisasi yang ada di SMA Cendikia akhirnya pilihannya jatuh di Club seni.


Dan benar saja ada kakak yang masuk ke dalam kelas untuk mendata siswa, organisasi apa yang akan mereka ikuti. Papou benar-benar telah menjatuhkan keputusan yang salah dengan bersekolah di SMA ini, pertama ia tetap satu sekolahan dengan Karin, kedua ia bertemu dengan Raga yang super nyebelin dan ini satu lagi ia harus mengikuti satu ekskul yang sangat tidak ia minati.


Ketika jam pelajaran berlangsung di kelas, Papou mendengar bunyi langkah kaki yang Diiringi dengan bunyi lonceng yang seirama. Fokus Papou terganggu oleh bunyi derap langkah itu, seperti makin dekat dan makin dekat. Papou terlonjak kaget dari kursinya, ia seperti melihat bayangan Hanna, seisi kelas langsung menatap Papou dengan tanda tanya, itu akibat bunyi yang timbul dari pergerakan kursi yang menggores keramik.


“Syellifau Lidia …” tegur sang guru dengan suara basnya, Papou tercekat berusaha menelan salivanya ketika melihat anak duduk di jendela, dari mana anak itu bisa masuk. Sekarang Papou sedang berada di labor fisika di lantai tiga.

__ADS_1


“Syellifau Lidia!” suara bas itu naik satu oktaf.


Sadar dirinya sedang menjadi pusat perhatian, Papou langsung menundukkan kepalanya, ia paling benci ditatap dengan cara seperti ini.


“Sudah merasa pintar?” Papou sedikit mengangkat kepalanya untuk mengangguk.


“Lalu kenapa Anda seperti tidak tertarik dengan penjelasan saya,” guru itu berjalan ke arah meja praktikum Papou, teman-teman satu kelompoknya juga terlihat panik. Sementara Papou hanya diam.


“Sudah sejauh mana pekerjaan kelompok Anda,” guru itu mengamati kertas yang berada di depan Papou, seketika Papou mendengar suara tawa Hanna. ‘bocah sialan’ geram Papou dengan keras, tatapan penuh amarah ia lemparkan ke arah jendela di mana Hanna sedang menjuntaikan kaki kecilnya.


Suara geprakan meja menggema, semua terdiam. “Apa yang kamu lihat? Siapa yang kamu katakan bocah sialan.”Tanya guru bertumbuh gempal itu penuh emosi.


Jari telunjuk Papou mengacung diudara, lalu menunjuk ke arah jendela, “melihat dia, Pak?”


Seisi kelas langsung menatap horor ke arah Papou, tidak ada apa-apa di jendela hanya ada angin yang membuat gorden sedikit bergoyang-goyang. “Kamu mau mengerjai saya!” Teriak guru itu tidak terima.


Apa yang salah, kenapa dunia seperti selalu menyudutkannya. Mata siapa yang sebenarnya rusak, mereka atau malah Papou.


“Jangan bercanda Pou, gak lucu tau.” Seorang siswi menggunakan hijab sedikit terlihat takut, ia sedikit menjauh karena posisi gadis itu yang paling dekat dengan jendela yang dimaksud Papou, kalau tidak salah namanya Aluna.


Mata Papou langsung membulat ketika cairan berwarna hijau kental keluar dari dinding, kaki Papou langsung gemetaran hidungnya mencium bau bangkai yang sangat busuk. Papou berjongkok memeluk lututnya sendiri, telinganya mendengar suara aneh.


Seisi kelas kebingungan, begitu pun dengan sang guru, apa yang sedang dilihat oleh murid kesayangannya. Yah … Papou memang murid kesayangannya, Papou selalu paham dengan apa yang dijelaskannya makanya tadi guru itu sangat marah pada Papou.


Seisi kelas berteriak histeris, mereka saling bertabrakan untuk berebut keluar kelas. Tanpa sebab semua jendela pecah, bahkan ada pecahan kaca yang mengenai murid. Papou tak juga berdiri dari Posisinya, ia menangis yah .. menangis dalam diam. Ia ikhlas jika ia harus mati sekarang juga.


Wajah Hanna mengeluarkan darah, ada kaca yang tertancap di wajahnya. “Kakak kenapa gak lari,” ucap Hanna pelan sambil mengusap kepala Papou dengan tangan penuh darah, Papou tak peduli ia tak bergerak sedikit pun dari posisi semula.


Hanna langsung memeluk Papou, “aku sayang kakak, aku sengaja buat semua kaca ini pecah, aku benci sama mereka yang menatap kakak dengan tatapan tidak suka, biar mereka rasa.” Kilatan emosi terpancar jelas dalam netra hijau itu.


Papou sedikit mengangkat kepalanya, mata hijau itu benar-benar membuatnya penasaran. “Kamu siapa?”


Hanna langsung melepaskan pelukannya, ia sedikit mengambil jarak dari Papou.


“Kasih tau gak yah ...” Hanna memainkan jarinya di kepala, seolah-olah sedang berfikir.


“dasar bocah tengil,” Papou membatin, Hanna langsung mengembungkan pipinya. “Aku dengar lo kakak ngomong apa.”


Hanna menghentakan kakinya tidak suka, sedangkan darah masih terus mengalir dari luka-luka di tubuh anak itu. Papou sudah tak tahan lagi di ruangan ini sangat busuk.


“Kakak nyebelin,” Hanna langsung memanjat ke arah jendela lalu menghilang, Papou tidak mengedipkan matanya dengan apa yang barusan ia lihat. Ia tidak bisa terlalu mendekat kearah tembok, ia tak mau terkena cairan hijau yang menjijikan itu.


~SF.L~


“Gue ganteng gak sih sebenarnya?” ucap Raga sambil menatap pantulan wajahnya dari spion motornya.


Nades hanya mengangguk malas, dari tadi Raga hanya bertanya seputar kegantengannya yang berkurang atau bertambah.


“Lo ganteng Raga, udah gak usah nanya lagi, gue capek dengar lo ngomong kayak gitu terus.” Kesal Nades, sambil meremuk botol mineral yang dipegangnya.


Tanpa sengaja Raga melihat Papou sedang berdiri di depan gerbang seperti sedang menunggu seseorang, Nades mengikuti arah mata Raga. “Owh … ada Dek Syellifau, ehh apa yah panggilan lucunya.”


“Papou,” gumam Raga tanpa sadar. Nades langsung memukul pundak Raga, “sukakan lo sama Papou?”


“Iya kenapa emang, masalah buat lo,” ucap Raga dengan nada kesalnya.


“Udah ketebak.”


“Samperin sana, anterin pulang.” Raga hanya menggeleng pelan, entah kenapa ia merasa sangat gengsi untuk mendekati Papou.


“Diambil orang baru tau rasa.”


Raga dan Nades langsung membulatkan mata ketika yang menjeput Papou adalah Daga, yang tak lain adalah kembaran Raga. “ehh … itu kembaran lo kan? Mampus ditikung saudara sendiri.”


Entah kenapa Raga merasa kesal dengan kedekatan Papou dengan Daga, ternyata ucapan Daga yang kemarin bukan main-main.


Raga menendang apa pun yang ada di depannya. Mulutnya tak henti-hentinya mengabsen satu persatu nama-nama hewan.


“Awas lo Daga, gue gak bakalan ikhlas kalau lo sampai nikung gue.” Gerutu Raga dengan emosi, buku tangannya terlihat memutih menahan emosi.


“Papou itu udah gue booking buat jadi istri gue di masa depan nanti dan lo berusaha buat merebut dia dari gue. Mimpi lo.”


Nades hanya tertawa melihat temannya itu berbicara sendiri. Ternyata Raga mode bucin lebih aneh dari pada orang gila, “lo kira Papou tiket pesawat, bisa di booking.”

__ADS_1


“Pokoknya Papou itu calon istri gue titik.”


“Cinta itu dikejar, jangan cuma diliatin bego. Percuma lo marah-marah di sini sedangkan dia di sana lagi senang-senang sama kembaran lo sendiri.”


Mendengar ucapan Nades membuat telinga Raga terasa memanas. “Diam lo.”


~SF.L~


“Maaf udah ganggu waktu lo.”


“to the point aja kak” Daga menarik nafas pendek, ternyata cewek ini tidak bisa di ajak basa-basi.


“Sabar dong,” Daga sedang bersusah payah untuk menyusun kata-kata, harus dari mana ia mulai cerita, pandangan mata Daga tertuju pada sosok hantu yang bertupang dagu disamping Papou. “Dasar setan kepo.” Daga membatin.


“Jadi gini … terserah lo mau percaya atau nggak.”


“langsung aja ke intinya kak, aku buru-buru.”


Daga mendengus kesal, “jangan potong gue kalau lagi cerita.”


“Gue indigo.”


Papou betuh waktu beberapa detik untuk mencerna semua kata-kata itu. “Trus ….”


Ingin sekali rasanya Daga menjitak kepala anak ini. “Gue ngerasa aura negatif lo terlalu banyak, banyak banget hantu yang ngikutin lo bahkan sekarang di samping lo ada hantu yang duduk dengan bertopang dagu,” Daga menunjuk ke arah hantu yang di maksudnya.


“Owh …” Papou mengagguk.


“Buktinya apaan? Bisa aja kan kakak ngarang cerita, nakut-nakutin aku.” Daga hanya bisa mengelus dada sambil membaca istigfar, Papou benar-benar menguji kesabarannya.


Daga sedikit bingung, harus dengan cara apa ia harus membuktikan semua ucapannya. “Lo gak ngerasa aneh gitu.” Papou menggeleng.


Tiba-tiba Daga ingat kejadian waktu di mobil, ketika tanpa sengaja Daga mencium luka di kepala hantu yang mengikuti mereka dari rumah sakit waktu itu.


“coba lo berdiri di sudut sana,” tunjuk Daga ke arah sang hantu rumah sakit berdiri.


“Ngapain?”


“udah ikutin aja, biar lo percaya kalau gue gak bohong.” Papou langsung berdiri dari tempat duduknya, dan melangkah kearah tempat yang ditunjuk oleh Daga.


“please nyonya hantu lo tetap stay di situ.” Daga membatin.


“Nah sekarang coba lo endus-endus baunya, pasti kayak ada bau bangkai gitu.”


Papou langsung mendengus sebal, awas saja kalau sampai Daga mengerjainya. Papou pastikan balasannya lebih parah dari ini, semua orang menatap Papou dengan tatapan seolah-olah bertanya sedang apa anak itu.


Memang benar ada bauh aneh, seperti bangkai yang bercampur amis darah. “gimana?” Tanya daga ketika Papou sudah kembali menghampirinya.


“Tapi bagi aku itu bukan bukti yang kuat, bisa ajakan kakak udah ngatur semua ini.” Daga mengusap wajahnya frustasi, suuzon sekali anak ini.


“Bukannya lo yang nentuin tempat ini, buat kita ngobrol.”


“iya juga sih.”


“Jadi … apa tujuan kakak buat ngasih tau soal ini,” Papou kembali serius, ia segera membuang fikiran buruknya tentang Daga.


“Gak ada tujuan yang jelas sih cuma, semenjak gue jenguk lo dari rumah sakit, gue ketemu seorang hantu dengan wajah yang hampir hancur dan kepala yang selalu mengeluarkan darah. Dan hantu itu selalu ngikutin lo atau gak Raga. Gue gak tau hubungan hantu itu sama kalian.”


Papou tertegun, memang benar semenjak keluar dari rumah sakit setelah kecelakaan itu Papou selalu gelisah. Ia semakin susah tidur.


“Dan bauh busuk yang lo endus-endus tadi dari dia.” Papou langsung terlonjak kaget, entah kenapa buluh romahnya langsung berdiri, mendadak ia langsung merasa takut.


Hantu itu sekarang berada di belakang Papou, memiring kepalanya dan membuat seragam putih abu-abu yang dikenakan Papou terkena darah itu. Menjijikkan sekali, hanya Daga yang bisa melihat itu semua.


“ehh … baju aku kok mendadak kusam yah kak?” Papou keheranan dengan baju putihnya yang mendadak kusam.


“Darah tu hantu, tumpah ke baju lo.” Papou langsung meloncat ketakutan ke arah Daga, entah kenapa jiwa jahil Daga terpanggil. Tidak ada salahnya untuk mengerjai anak songong ini.


“Kata hantunya dia merasa nyaman dekat-dekat sama lo, bajunya jangan sampai dicuci, kalau lo cuci lo bisa diamuk sama hantunya.” Papou memegang erat tangan Daga itu refleks ia lakukan. “Masa iya?” Suara Papou terdengar lirih betcampur takut.


“Benaran …?”


“Benaran boong,” Daga langsung tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan wajah Papou langsung berubah menjadi merah padam, berusaha menahan emosinya

__ADS_1


__ADS_2