
Kedua bola mata Papou terjatuh dilantai.
Daga semakin meronta-ronta melihat bola mata coklat Papou jatuh tepat di depan kakinya. Sial, tali ini semakin kuat mengikatnya.
“Sadar Pou! Lo harus sadar! Papou!” Daga terus berusaha untuk menyadarkan Papou yang terlihat tenang-tenang saja matanya di congkel seperti itu. Tenggerokan Daga terasa kering, Daga terus berteriak untuk membangunkan Papou yang terlihat tenang-tenang saja.
Wanita itu menatap Daga dengan seringai iblisnya.
“Awas tangan lo dari teman gue!” bola mata Daga di penuhi dengan kilatan kemarahan.
“ssttt ...!”
“Temanmu akan tetap baik-baik saja.”
Daga berdecak sebal, baik-baik dari mananya. lihat saja mata Papou sudah mengeluarkan darah yang sangat banyak.
~SF.L~
Ketika ikatan yang mengikat itu terlepas, wanita tadi langsung lenyap di dalam kepulan asap yang menghitam.
Daga mengelap darah yang menetes di pipi Papou.
“Pou sadar Pou!” Daga menggoyang-goyangkan tubuh Daga, berusaha untuk membangunkan Papou.
Daga sudah hampir merasa putus asa, dari tadi Papou tak kunjung bangun.
“Pou please bangun ...” suara Daga terdengar lirih, matanya mulai berkaca-kaca. Daga memang cengeng, bahkan sangat cengeng. Waktu kecil Raga selalu mengatai Daga sebagai anak perempuan bunda.
“Pou jangan becanda,” Daga tauh ini serius, dilihat dari darah yang keluar banyak Papou semakin memperkuat keyakinan Daga kalau Papou telah tiada.
Kenapa Daga baru sadar sekarang. Ketika Daga merasakan embusan nafas Papou, Daga dapat bernafas lega. Hembusan nafas itu membuktikan kalau Papou masih punya harapan untuk melanjutkan hidup.
Mata Papou terbuka, netra coklat Papou berubah warna menjadi hijau. Bagi Daga itu tak masalah yang jelas Papou masih hidup.
“Kakak kenapa nangis?” Daga langsung menyentil kepala Papou kesal. “Dasar bodoh, lo masih nanya kenapa gue nangis,” ujar Daga setengah kesal.
“Memang aku gak tauh kenapa nangis.” Papou benar-benar bingung sekarang, Papou butuh penjelasan saat ini.
Papou menyentuh pipinya, Papou mencium aroma tidak sedap, seperti bau anyir darah.
“Ini kenapa?” Tanya Papou bingung ketika benar dugaannya ada darah di pipinya.
__ADS_1
“mata lo sakit gak?” Papou menggeleng karena memang ia tidak merasakan apa pun. Hanya saja Papou seperti melihat ada bayangan yang lalu lalang di sekitarnya. Sebuah tempat sibuk tapi hanya sekedar bayangan, Papou merasa pusing dengan kondisi seperti ini, ia belum terbiasa.
“lo gak ingat apa-apa?” Daga kembali bertanya.
Papou mencoba mengingat apa yang terjadi, hal terakhir yang ia ingat adalah ketika Daga meninggalnya sendiri dan Papou sibuk melihat bulan yang seorang diri digelapnya langit malam.
“Aku ingatnya pas kakak ninggalin aku sendiri tadi,” ucap Papou dengan wajah yang benar-benar bingung apa yang sebenarnya terjadi.
Daga menghela nafas panjang, Daga mengeluarkan sebuah benda pipi dari dalam kantong celananya.
Papou langsung terlonjak kaget ketika mendapati matanya telah berubah menjadi hijau, walaupun mata hijaunya terlihat samar-samar dari hitamnya layar ponsel Daga yang telah mati.
“Ke ... ke ... kena .... kenapa jadi begini?” Papou terus mengamati pantulan dirinya.
“Ada sesuatu yang terjadi dan lupa itu.” Daga berusaha untuk menenangkan Papou yang terlihat sangat panik.
Papou memang menyukai warna hijau, Papou memang mengagumi pemilik mata hijau. Tapi tidak harua begini juga.
“Mata lo sakit? Atau ada bagian lain yang sakit?” Daga kembali bertanya dengan suara lembutnya.
Papou kembali menggeleng dalam bingungnya.
“Kenapa mata aku jadi begini Kak?” Papou mengulang pertanyaannya lagi.
“Gak penting kenapa mata kamu jadi begini, tapi yang terpenting kamu sehat,” ucap Daga sambil terus mengusap rambut Papou.
Daga tau ketika Papou hendak membantah, Daga langsung memotong, “nanti kita cerita-cerita mata lo kenapa, sekarang yang terpenting lo sehat, lo selamat dan itu cukup buat gue bahagia saat ini.”
“Tapi aku terganggu dengan mata ini, aku seperti melihat bayangan hitam yang terus lalu lalang, aku seperti melihat sebuah pasar di depan mataku.”
Daga paham apa yang terjadi dengan mata Papou, Daga juga mengalami itu.
Daga menghela nafas pendek, “gue yakin setelah ini lo pasti bisa melihat apa yang selama ini gak bisa lo lihat, jangan kaget.”
Papou tercengang, Papou merasa takut sekarang.
“Aku gak mau melihat mereka.”
Selama hidupnya Papou tidak pernah bermimpi untuk bisa melihat itu semua, “anggap itu anugerah buat lo, gak semua orang bisa melihat mereka, lo itu manusia terpilih dari sekian banyak manusai. Syukuri. Dulu gue waktu pertama kali bisa melihat mereka, gue merasa takut tapi sekarang gue malah bersyukur, gue jauh lebih taat beribadah dan gue kemampuan ini buat gue dekat sama Allah.”
Daga tersenyum berusaha untuk meyakinkan, tidak ada yang salah dengan menjadi anak indigo.
__ADS_1
“Tapi aku belum siap.”
Daga hanya diam, tangannya terus mengusap kepala Papou. Daga tauh, Papou bukan tipe orang yang bisa di beri nasihat semakin di beri nasihat Papou akan semakin keras kepala, itulah yang Daga lihat selama ini dari Papou.
“Lo itu istimewa Pou, lo tetap cantik bahkan lo lebih cantik dengan mata hijau ini.” Daga berkata jujur dan tulus dari hatinya, itulah yang Daga lihat sekarang. Papou terlihat cantik dengan mata hijaunya. Papou seperti hadir dalam sosok dengan mata hijaunya.
~SF.L~
Karin mengelus-elus bulu ayamnya, Pini, Pidi dan Pici. Karin jadi ingat perdebatan terakhirnya dengan Papou adalah karena ayam-ayam ini.
“Yam ... Aku kangen Papou.”
“Apa benar Papou telah meninggal?”
“Gak mungkin juga kan, Papou kan masih sehat, sehat banget malahan. Lagian mayat Papou belum di temukan. Tapi kenapa, pak polisi itu bilang Papou uda meninggal.” Karin bermonolog sendiri.
Karin mencurahkan seluruh isinya kepada anak-anak ayam warna-warninya pemberian Nades, seakan anak ayam itu mengerti dengan apa yang di katakan oleh Papou.
Cit ... cit ... cit. Anak ayam itu sibuk mencari makanan yang sudah Karin berikan tadinya.
“Apa yam?” Karin bertindak seolah-olah ayam itu mengatakan sesuatu.
“Owh iya ya yam, kalian belum aku beri aku minum. Tunggu bentar aku ambil minum dulu, jangan berantem ya.” Karin kembali tersenyum sambil berdiri dari tempat duduknya.
Araya terus memperhatikan apa yang di lakukan oleh adiknya dari jauh, “makin hari makin aneh aja lu dek.” Daga membatin.
Karin benar-benar terlihat aneh akhir-akhir ini semenjak polisi datang ke rumah mengabarkan Papou telah meninggal, itu membuat Karin histeris.
Sejujurnya Araya juga kurang percaya kalau Papou telah meninggal, pasalnya mayat Papou belum ditemukan.
~SF.L~
Oma sedang duduk termenung di teras rumahnya. Oma benar-benar terpukul dengan berita kematian Papou.
Raga sudah berdiri di sini hampir setengah jam, Raga tidak berani untuk menyapa oma. Raga hanya memperhatikan apa yang di lakukan oleh wanita renta itu. Raga tauh seberapa dalam Raga menyayangi omanya dan begitu juga omanya menyayangi Papou.
Ketika bersama Papou, oma tidak akan pernah luput menjadi topik pembicaraannya.
“Astagfirullah ... maaf. Duduk dulu,” oma langsung menyeka air matanya.
“maaf oma kalau saya mengganggu,” Raga merasa bersalah bertamu ke rumah Papou, waktunya tidak tepat untuk bertamu.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Nak, ayok duduk dulu, biar Oma ambil minuman dulu,” oma segera bangkit dari tempat duduknya, “gak usah oma, saya cuma mau bicara sebentar.”
Tujuan Raga kesini adalah untuk memberikan surat yang Raga temukan di ruang kesenian.