
Papou mengusap-usap kepalanya yang pusing Daga mengankatnya seperti membawah karung beras, “sorry, kepala lo pusing yah?”
“Banget,” Papou benar-benar kesal pada Daga, semenyebalkannya Raga ternyat Daga lebih menyebalkan, mereka sama saja.
“Tadi ada apa sih?” Tanya Papou, saat ini mereka masih ada di dalam lorong, sudah sedikit lebih terang dari yang tadi.
“Ada sosok anak kecil, kepalanya uda terbelah dia menyembunyikan pisau di balik baju dan itu bakalan digunakan untuk bunuh kita,” Daga berusaha mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan.
“Tauh dari mana?” Papou menyodorkan air mineral yang ada di dalam tasnya.
Daga langsung menerima air mineral itu, “gue bisa lihat mereka.”
“Maksud aku itu, tauh dari mana kalau dia mau bunuh kita?” Daga juga tidak tauh jawabannya, “hanya feeling,” jawab Daga acuh sambil mengembalikan botol minum Papou.
“kebiasaan suuzon sama orang lain,” cibir Papou.
Entah kenapa semakin kesini, Daga merasa Papou semakin banyak bicara, “lo kok makin berisik yah?”
Papou memutar bola matanya malas, “ini masih jauh?”
“Deket kok,” jawab Daga asal, padahal Daga juga tidak tauh harus seberapa jauh lagi perjalanan ini.
“Yang jelas kita pasti melakukan perjalanan waktu selama 5 hari.”
“Nah kan lu pintar, kalau uda tauh kenapa nanya?” Daga juga heran kenapa sekarang kata-katanya jadi judes, biasanya Daga jarang bersfat judes seperti ini. Emang anaknya sih yang minta dikasarin.
“Terima kasih.”
Keluar dari lorong itu mereka sampai di sebuah padang pasir yang sangat luas, tidak ada apa-apa di sini benar-benar hanya ada pasir. Papou tidak yakin ia bisa bertahan hidup di sini selama lima hari.
Langit malam begitu indah dengan bintang yang berkelap-kelip, “ah … sudah malam.” Terdengar helaan nafas dari Papou.
Daga menoleh ke arah Papou yang entah kenapa dimata Daga telihat sedang gelisah, “lo kenapa?”
“Kita duduk aja duluh, gue capek.” Daga langsung duduk diatas pasir yang terasa sangat dingin.
“Aku khawatir sama oma, Kak.” Papou juga ikut duduk di sebelah Daga, merasakan dinginnya hawa malam padang pasir menusuk ke dalam tulang.
Mungkin baru sekali ini Daga melihat Papou peduli pada orang lain, “kita harus bisa cepat-cepat selesaikan ini, biar kita bisa ngumpul bareng keluarga lagi.”
Papou hanya mengangguk, “kenapa kamu gak pilih buat bunuh aku aja kak?”
Jelas-jelas Papou tauh, Nana memberikan Daga dua pilihan. Pilihan pertama adalah membunuh Papou dan kedua jika Daga merasa sanggup Daga boleh memilih untuk melindungi Papou.
“Gue gak mau kalau disuruh buat bunuh orang.” Jujur Daga tidak mau berurusan nantinya dengan polisi.
“Dan Kakak mau mempertaruhkan nyawa Kakak demi aku?”
“Jangan geer duluh,” Papou berdecak sebal, siapa juga yang geer.
“Gue ngelakuin ini karena gue gak sanggup sama pilihan pertamanya, lagian mana tegah gue bunuh calon adik ipar gue dan hitung-hitung gue cari pahala.”
“Adik ipar, maksudnya?”
Daga menyentil kepela Papou, “lo itu pura-pura gak peka atau gak peka beneran?”
Papou benar-benar tidak mengerti maksud perkataan Daga, “maksudnya apa yah Kak?”
Daga menghela nafas pendek, Daga akan sedikit berbuat baik untuk saudara kembarnya. “Raga pernah bilang suka gak sama lo?”
Papou mencoba mengingat. Seingat Papou, Raga perna mengatakan suka kepadanya tapi dengan akhir mereka bertengkar.
“Pernah kan?” Daga kembali bertanya, Papou mengangguk pelan.
“Setelah dia bilang suka ke lo, lo masih gak sadar kalau dia punya perasaan untuk lo?” kali ini Papou menggeleng, Papou pikir Raga hanya sekedar bercanda. Papou masih terlalu dini untuk mengenal yang namanya cinta dan suka-sukaan.
“Biar gue jelas in … lo ingat waktu pertama kali lo ketemu Raga?”
Papou mengangguk, Papou masih ingat betul waktu pertama kali mereka bertemu. Kesan yang buruk untuk pertemuan pertama.
“Lo ingat gak waktu dia nabrak lo?” lagi-lagi Papou kembali mengangguk, “apa itu karena dia suka aku?”
Daga kembali menyentil kepala Papou, “bukan Papou,” entah kenapa Daga jadi geram sendiri dengan Papou yang terkadang begonya ngalahin keledai.
“Terus?”
“Itu murni karena dia ngira lo hantu, Raga itu benar-benar takut sama yang namanya hantu, setan, pocong, jin dan apa pun yang sebangsa dengan mereka.”
“Raga pasti juga takut sama kucing kan?”
“Gak usah di potong kalau gue lagi cerita, dengerin dulu baik-baik,” Papou mengangguk sambil sedikit tersenyum, seperti orang tanpa dosa.
__ADS_1
“Kata Raga dia suka sama lo semenjak pertemuan pertama kalian di SMA Cendikia.”
“Bohong Kak, dia selalu ngajak perang kalau bicara sama aku pasti ngegas, kayak orang lagi PMS,” Papou tidak akan pernah lupa interaksi mereka berdua yang selalu mengikut sertakan urat dan emosi.
“Jangan di potong kalau gue lagi cerita Papou,” Daga mengacak gemas rambut Papou.
“Iya ... iya ... maaf.”
Daga kembali menarik nafas untuk kembali bercerita, “Raga itu memang play boy, semua cewek cantik pasti dia suka.” Entah kenapa sisi hati Papou tidak terima dengan kata-kata Daga barusan, selama di SMA Papou tidak pernah melihat Raga memiliki kedekatan dengan cewek.
“Tapi gak pernah satu pun dia cerita tentang cewek ke gue, selain lo.”
Papou tertegun, mencoba mencari letak kebohongan dalam cerita Daga, tapi Papou tidak menemukannya.
“Dia suka sama lo Pou,” tapi dilihat dari sikap Raga kepada Papou selama ini, seharusnya bukan begitu caranya, sikap Raga membuat Papou tidak yakin dengan cerita Daga.
“Tapi ...,” Daga langsung memotong kata-kata Papou, ia tauh maksud Papou.
“Pasti lo bingungkan sama sikapnya?” Papou langsung mengangguk.
“Raga itu gengsian, egonya tinggi. Dengan bilang suka ke lo, dia merasa harga dirinya jatuh.”
Papou benar-benar ingin mengakhiri topik ini secepatnya, “Uda malam Kak, aku uda ngantuk. Aku mau tidur.”
Daga melihat ke kiri dan Kanan, benar-benar tidak ada apa-apa hanya ada hamparan pasir yang luas dan lorong tadi hilang entah ke mana.
“Lo mau tidur di mana?” Papou pun sebenarnya heran, harus tidur di mana, tapi matanya benar-benar sudah mengantuk. Sial, biasanya ketika di rumah dipakai bergadang sampai jam tiga subuh pun matanya masih aman.
“Gue gak mau yah bahu gue lu jadiin tempat sandaran,” Papou menatap Daga heran, sedikit pun tak ada terlintas ide itu dalam benaknya.
Pilihan pertamanya adalah tidur di atas pasir mengalasinya dengan jaket almamater yang di pakainya dan yang ke dua adalah tidur dengan posisi memeluk lututnya sendiri.
“Idih .... geer banget, aku lebih sudi tidur di pasir dari pada harus menyender di bahu Kakak.”
“Kenapa gak jadi tidur di pasir?” Daga bertanya dengan nada menantang, Papou menatap Daga dengan tatapan tidak suka, Papou hanya sedang mempertimbangkan ke dua pilihannya tadi.
“Sibuk banget ngurusin orang lain.” Ok fix, Raga marah-marah kepada Papou bukan karena hanya faktor cinta di halangi faktor gengsi, tapi Papou sendiri yang minta di kasarin.
Daga dan Papou sama-sama diam sibuk dengan pikiran masing-masing, menikmati dinginnya malam di padang pasir.
“Kak ....”
“Pou ....”
“Apa yang harus kita lakukan di sini.” Papou benar-benar bingung, yang Daga beritahu hanya mereka di sini untuk menyelamatkan nyawa Papou, sudah itu saja tidak ada yang lain. Papou tidak apa yang harus di lakukannya di sini.
“Jujur gue juga bingung harus apa di sini.” Daga menghela nafas pendek. Tiba-tiba Daga merasakan guncangan hebat di tubuhnya, ini berarti sedang jam 00:00.
Papou menggenggam erat buku yang di berikan oleh Nana tadi, “mungkin di sini ada petunjuk,” Papou membuka halaman pertama.
~SF.L~
Hei ....
Apa kabar? Aku harap kamu baca ini setelah aku meninggal agar kamu tidak menuntut jawaban pada ku.
Maaf ....
Maaf sekali lagi karena telah membuatmu hari-harimu melelahkan.
Itu tulisan di halaman pertamanya, Papou kembali membukan halaman berikutnya.
Selasa terakhir di Desember.
Ini semacam buku harian, mungkin saja ini buku harian milik Nana.
Papou terus membaliknya sampai ia menemukan, sebuah halaman dengan kertas berwarna hitam dan tinta putih.
“Perhatikan baik-baik, ketika mulai membaca kata-katanya maka tulisannya akan mulai menghilang.”
Papou menarik lengan baju Daga, “Apa?”
“Kita baca ini bareng-bareng,” Daga hanya mengangguk, ternyata buku itu adalah buku petunjuk. Apakah Nana telah mempersiapkan semua ini terjadi?
“kapan Nana menulis ini?” Tanya Daga dengan raut serius, Papou hanya menggeleng. Hubungannya dengan Nana tidak pernah membaik mereka memang tinggal satu atap tapi juga saling memberikan tatapan permusuhan.
~SF.L~
“Rasakan apa yang bisa kalian rasakan?”
Petunjuk jenis apa itu, hanya satu kalimat saja dan itu pun bermakna ambigu. Tiba-tiba kertas dengan tulisan itu langsung terbakar.
__ADS_1
“Apa yang rasakan sekarang?” Daga bertanya ke Papou yang masih kaget dengan buku kertas yang tiba-tiba terbakar, hanya kertas dengan tulisan itu, tidak dengan kertas lainnya.
“Ha?” Papou benar-benar tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Daga tadi.
“Apa yang lo rasian sekarang?” Daga mengulang pertanyaan lagi.
Yang jelas Papou rasakan sekarang adalah dingin, cuaca malam gurun pasir sangatlah dingin.
“Secara fisik yang aku rasain sekarang dingin, tapi kalau soal hati aku gak tauh apa yang aku rasian. Aku khawatir sama oma,” Daga dapat melihat raut khawatir Papou terhadap omanya.
“Sayang banget yah lho sama ona?” Selama ini Daga hanya melihat Papou dengan kata-kata sarkasmenya dan sikap acuhnya. Tapi malam ini menjadi berbeda.
“Samalah Kak, kayak Kakak sayang sama bunda.”
Papou tidak mau terlalu lama berlarut-larut dalam topik ini berlarut-larut. Apa pun tentang oma adalah topik sensitif bagi Papou, Apa pun yang membuat Papou ingat akan oma akan membuat air matanya Keluar.
“Kalau Kakak, apa yang Kakak rasakan sekarang,” Papou balik bertanya.
Daga menekuk lututnya, memeluk lututnya sendiri, melihat langit yang di hiasi bintang yang berkelap-kelip, “Gue takut, gue takut nafas gue habis di tempat ini, sama kayak lo gue takut klo sekarang bunda lagi cemas dan berujung dengan dia yang menjadi sakit, itu bakalan akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidup gue.”
Papou tidak bersuara, Papou mencoba mengalikan pikirannya pada bintang yang berterang indah di atas sana.
Daga dan Papou langsung terlonjak, ketika tubuhnya merosot ke dalam pasir. Pasir-pasir itu seperti menarik mereka ke bawah.
~SF.L~
“Kak, Kakak liat Kak Raga gak?” Nades mendengus sebal, kenapa semua orang mencari Raga, entah apa pula pesona Raga yang bisa meluluhkan hati semua cewek SMA Cendikia
“Buat apa?” Dengan terang -terangan Nades memperlihatkan ketidak sukaannya.
“Maaf Kak, saya cuma di suruh Bu Diana untuk meminta kunci ruang kesenian,” Aluna menunduk sambil memilin tepi roknya.
Nades merasa bersalah telah salah sangka pada Aluna, “bentar biar gue panggilin Raga, dia lagi di dalam.” Nades langsung berlari ke dalam kelas, memanggil Raga yang sedang berada argumen dengan Tania.
“Ga ...” merasa namanya dipanggil Raga langsung menoleh.
“Ada yang nyariin.”
“Siapa?”
“Aluna.”
“Siapa?”
“Aluna.”
“Iya ... siapa?”
Nades menggeram kesal, jika terus-terusan begini tidak akan pernah selesai bahkan sampai spongobob berubah warna jadi ungu.
“Gue bilang, Aluna bego.”
“Makasud gue dia siapa? Gue gak kenal cewek yang namanya Aluna.”
Aluna menelan salivanya, ketika mendengar perdebatan antara Raga dan Nades, rasanya sekarang ia ingin segera pergi dari tempat ini, tapi jika Aluna kembali ke kelas tanpa kunci yang di minta oleh Bu Diana iya bisa abis dimarahi oleh puyang maut SMA Cendikia itu.
“Kalau gak penting usir aja,” Nades langsung melemparkan penghapus papan tulis ke kepala Raga yang sialnya malah mengenai kepala Rubeka.
“Maaf Ka ... gue gak sengaja, itu harusnya mendarat di kepala Raga tapi mungkin karena lo cantik gue jadi fokusnya ke lo, jadi salah sasaran deh.”
Rubeka yang mendengar gombalan receh Nades langsung tersipu malu, Nades tauh Rubeka itu memiliki rasanya untuknya dari kelas 10.
“Iya gak apa-apa kok, lagian gak sakit. Ini harusnya di lempar ke siapa?” Nada suara Rubeka terdengar menjijikkan di telinga Nades karena suara sol manis yang dibuat-buat.
“Buat Ra .....” Belum selesai Nades berucap Rubeka langsung melemparkan penghapus papan tulis tadi ke kepala Raga yang duduk di depannya.
Lagi-lagi Aluna menelan ludahnya gusar, kelas ini penuh drama untung saja kelasnya tidak seperti ini, palingan juga kelas Aluna berisik karena perdebatan antara Bintang dan Diva yang tak pernah akur atau nyinyiran Diva untuk Papou.
“Woi Raga!” Nades kembali meneriaki Raga yang sedang adu mulut dengan Rubeka dan Tania.
Raga berdecak tidak suka, “berisik.”
“Bu Diana minjem kunci ruang kesenian, ini Aluna uda nunggu lama.” Mendengar orang-orang yang saling berteriak, Aluna tidak biasa dengan kondisi seperti ini.
“Ni ... balikin lagi sama gue, jangan sampai hilang. “ Aluna langsung mengangguk senang akhirnya ia bisa cepat pergi dari tempat ini.
Raga seperti pernah melihat Aluna, tapi di mana dan kapan, “Gue kayak pernah liat dia deh.” Gumam Raga berbisik, tapi masih bisa di dengar oleh Nades
“Ya iya lah, lo pernah liat orang kita satu sekolahan.” Nades berjalan pergi untuk masuk ke dalam kelas, Nades belum menyelesaikan pr matematika.
“Gue sontek pr matematika lo yah Ga,” Raga hanya mengangguk, Raga masih sibuk memikirkan tentang di mana ia pernah bertemu dengan Aluna.
__ADS_1
“Iya .. gue ingat,” Raga langsung berlari menyelusuri tangga, sial kelasnya ada di lantai tiga tanpa lift, bayangkan saja capeknya harus naik turun tiap hari, apalagi tidak ada kantin di gedung ini.
Raga ingat, Raga pernah melihat Papou mengobrol dengannya, Raga ingin menanyakan sesuatu. Raga tidak percaya dengan berita kematian Daga dan Papou, ini pasti ada hubungannya dengan apa yang di ceritakan oleh Daga tentang Nana.