
Papou benar-benar tidak terbiasa dengan mata ini, banyak makhluk aneh yang di lihatnya dari tadi. Tenggorokannya terasa kering karena keseringan berteriak ketakutan.
“Aku benar-benar gak bisa kayak gini Kak, lebih baik aku buta,” belum sampai sehari Papou dengan mata ini ia sudah tidak bisa, mata ini tidak baik untuk jantungnya.
“kamu cantik, apalagi kalau dengan mata hijau ini,” katakanlah sekarang kalau Daga sedang menggombal, tapi itu ia lakukan bukan untuk modus tapi ada maksud dan tujuan lain, apalagi kalau bukan untuk membuat Papou menerima matanya itu.
“Uda tauh,” Papou memutar bola matanya malas.
Sekilas Daga memperhatikan wajah Papou yang cemberut, “ok gini aja deh, siniin almamater lo!”
“buat apa?”
“sini in aja,” Papou hanya menurut saja, Papou langsung membuka almamater yang ia ikatkan pada pinggangnya.
Daga kembali merobek almamater itu seperti waktu itu, dikira itu gratis kali ya, makanya main robek sembarangan.
“Buat apa sih Kak?” Papou kembali mengulang pertanyaannya, karena tadi Daga tidak menjawabnya.
Daga membentuk kain itu menjadi robekan kain berbentuk persegi panjang, Papou memasukkan almamaternya yang sudah tidak berbentuk lagi ke dalam tas.
Papou langsung kaget dengan apa yang di lakukan oleh Daga, ternyata Daga menggunakan kain itu untuk menatap mata Papou.
“Nah dengan begini lo gak bakal bisa lihat mereka.”
“Ihhh jadi gelap kak,” Papou berusaha untuk melepaskan ikatan itu.
“Lah tadi katanya gak mau lihat mereka.”
“Tapi gak gini juga kali Kak, kalau kayak gini aku gak bisa ngeliat.”
“kan lo bilang gak mau liat mereka, gimana sih.”
“Kalau kayak gini aku gak bisa jalan, soalnya gelap.” Papou menggerutu sebal.
__ADS_1
“Ribet banget sih,” kenapa sekarang malah Daga yang marah-marah tidak jelas, bukankah seharusnya Papou yang marah. Daga kembali membuka penutup mata itu.
“makanya lo harus terbiasa dengan mata itu, jangan mengeluh terus.” Papou menghela nafas pendek, kadang-kadang Daga itu seperti seorang ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya, sangat bawel.
Sekarang Papou dan Daga sudah seperti bukan manusia biasa lagi. Bayangkan saja sudah hampir tiga hari mereka di sini, Papou dan Daga tidak makan apa pun. Dan dalam dunia normal, Papou pasti sudah akan kesakitan jika matanya di congkel seperti tadi, tapi yang malah terjadi adalah Papou tenang-tenang saja dan tidak terjadi reaksi apa pun.
Setelah membawah senapan yang dia ambil di rumah wanita itu, Daga telah mengolesi peluru tersebut dengan darah Papou, darah yang sudah hampir mengering dari mata Papou tadi. Mudah-mudahan masih bisa berfungsi dengan baik.
Papou merasakan ada awan hitam yang mengikuti mereka, tapi ketika Papou melihat ke belakang tidak ada apa-apa.
“Kak, kok aku kayak ngerasa ada yang ngikutin kita yah.”
“coba kamu tutup mata kamu, biarkan bayang-bayang itu masuk dalam pikiran lo.”
Papou mencoba apa yang di suruh oleh Daga. Tangan Papou langsung gemetaran, peluh berjatuhan dati dahi Papou sebesar-besar biji jagung.
Papou langsung membuka matanya, nafas Papou saling memburu, Papou seperti orang yang baru saja berlari jauh.
Daga tauh apa yang di lihat oleh Papou. Rasa sakit dari orang-orang yang telah meninggal, itulah yang dilihat oleh Papou sekarang.
“Sekarang lo tauh kan? Sisi baik dari seorang anak indigo, lo bisa menghindari itu semua dengan cara lo lebih dekat dengan sang pencipta.”
Papou hanya diam, Papou benar-benar tersiksa dengan ini semua, apalagi Papou mendengar suara samar-samar seperti kaset rusak ditelinganya.
Apakah ini yang di rasakan Daga selama ini, Papou tidak bisa membayangkan sulitnya menjadi Daga.
~SF.L~
Oma terus memegang kertas yang di berikan oleh Raga, itu tulisan Papou. Oma sangat yakin itu pasti tulisan Papou.
Setelah menerima kertas itu Araya jadi yakin adiknya itu sedang melakukan sesuatu, tapi kenapa harus memalsukan identitasnya sendiri dengan mengalami kecelakaan. Tapi Araya yakin pasti ada orang lain yang terlibat dalam kejadian ini. Adiknya yang satu itu terus membuat Araya pusing dengan tingkah-tingkah anehnya.
Sore itu Araya sedang mencuci mobil tuanya, Araya sayang menayangi mobil itu, Araya tidak malu sama sekali ketika memarkirkan mobilnya di parkir kampus bersanding dengan mobil-mobil mengkilap dan keluaran terbaru teman-temannya.
__ADS_1
“Ini sudah sore Ar, kenapa adik kamu belum pulang yah?” dari tadi oma terus mondar-mandir dari teras ke gerbang rumah dan duduk sebentar dan kembali mondar-mandir seperti tadi.
“Siapa Oma?” Masalahnya dari tadi Araya tidak melihat Karin ataupun Papou.
“Papou,” jawab oma dengan wajah yang sangat khawatir.
“Mungkin ada kesibukan di sekolahnya oma,” bagi Araya Papou pulang telat adalah hal yang sudah biasa bahkan Papou sudah biasa pulang malam.
“Tadi Oma sudah telepon Bu Diana, tapi dia bilang hari ini klub kesenian tidak ada acara,” mendengar jawaban dari Bu Diana sebagai guru pembimbing club kesenian semakin membaut Oma cemas saja.
Araya meletakan spon dan selang yang ia pegang tadi, “sekarang Oma tenang dulu, kalau seumpamanya sampai besok Papou gak pulang juga, kita lapor polisi. Oma harus jaga kesehatan Oma.” Araya membantu oma untuk masuk, terlihat dari luar oma memang sehat tapi jauh di dalamnya tubuh tua itu sudah sakit-sakitan.
~SF.L~
Kehadiran Daga di sekolahnya benar-benar merusak mood Raga, lihatlah sekarang Raga tidak tauh apa yang akan di lakukannya sekarang, padahal sekarang Raga rapat osis, dari tadi Raga hanya mondar-mandir sepanjang koridor.
Semua hewan yang ada di kebun binatang di absen satu persatu oleh Raga, tidak terliwat satu pun. Mulai dari semut yang kecil sampai unta yang ada di arab sana.
Ketika Raga sampai di ruang kesenian ia tidak lagi menemukan Daga di situ, “sialan lo Ga, katanya gak suka sama Papou. Tapi ... kenapa masih lo samperin.” Raga benar-benar kesal saat ini, Raga pastikan jika ada yang menyapanya saat ini, orang itu akan menjadi bahan amukannya.
~SF.L~
“Daga mana Bun?” Tanya Raga ketika sesampainya di rumah, Raga ingin segera meminta perhitungan dengan Daga.
Bunda hanya menggeleng acuh, bunda sedang menonton sinetron favoritnya jika dalam situasi seperti ini, bunda akan mendadak menjadi bisu dan buta akan lingkungan kecuali jika ayah pulang.
“Owh iya katanya ayah hari ini pulang,” mendengar ucapan Raga bunda langsung berdiri dari tempat duduknya.
“Kok ayah gak bilang bunda,” Raga langsung berdecak sebal.
“Emang ayah gak pulang,” ucap Raga langsung berlari ke kamarnya sebelumnya Raga sudah mengambil ancang-ancang.
“RAGA ...!!!” Bunda langsung berteriak keras, ia benar-benar kesal sekarang oleh ulah anak itu.
__ADS_1
Semenjak kejadian itu Daga tak kunjung pulang, bahkan Bunda telah melaporkan kasus ini ke polisi dan kata polisi Daga mengalami kecelakaan mobilnya ditemukan menabrak tiang listrik tapi Daga tidak ditemukan di tempat kejadian, sampai Raga menemukan kertas ini membaut Raga yakin ini pasti ada sangkut pautnya dengan Nana kakak Papou.
Apakah Raga harus melakukan komunikasi dengan mereka, caranya bagaimana dan Raga rasa dia juga tidak akan berani.