
Oma aku pamit, jaga kesehatan oma.
Aku akan baik-baik saja di sini.
Aku sayang oma.
Aku janji aku pasti akan kembali lagi.
Owh iya, aku juga minta maaf sama Karin dan Bang Araya.
Aku sayang kalian semua.
Raga yakin itu pasti tulisan Papou, ada sedikit harapan ketika Raga menemukan kertas itu di ruang kesenian. Raga benar-benar tidak mood untuk belajar saat ini jadi Raga memutuskan untuk menenangkan diri di sini.
“Pou lo ke mana sih? Gue kangen tau sama lo, gue janji nanti kalau lo pulang gue gak bakalan ganggu hidup lo lagi, jika benar gue parasit di hidup lo, gue rela jika harus pergi.”
Pertemuannya dengan Papou memang singkat, bahkan sangat singkat untuk saling mengenal kepribadian masing-masing. Walau pertemuan mereka selalu berakhir dengan kata-kata kasar nan bernada tinggi, percayalah Raga selalu nyaman dengan itu semua.
Raga pernah merasakan kecewa ketika dia bukan miliknya, rasanya sangat menyakitkan.
Raga membaringkan tubuhnya di atas sofa, Raga menghela nafas panjang, biasanya dia akan mengamati Papou yang sedang menggerutu karena Raga suruh ini itu dari sofa ini.
“Lo kenapa jadi ikutan mengilang sih Daga,” Raga kembali menggerutu, walaupun Raga sering bertengkar dengan Daga. Raga sangat menyayangi saudara kembarnya itu.
~SF.L~
“Lo benar-benar gak apa-apa kan Pou?” Daga menatap Papou dengan cemas, wajah Papou terlihat semakin pucat.
“Aku gak apa-apa kok kak,” Papou berusaha untuk meyakinkan Daga padahal sudah jelas, tangannya berdenyut sangat hebat di tambah lagi dengan pipinya yang juga terasa perih.
“Pokoknya apa pun yang lo rasian, lo harus cerita sama gue.”
Papou mengangguk dengan segaris senyum yang sengaja di paksakannya. Biasanya Daga dapat melihat apa yang terjadi dalam tubuh seseorang, tapi tidak di tempat ini Daga tidak bisa melihat apa yang sedang dilakukan oleh tubuh Papou.
“coba kita baca petunjuk berikutnya, Kak." Papou segera mengeluarkan buku bersampul biru dari dalam tasnya.
Daga membaca dengan teliti, kata per kata, tidak boleh ada satu pun kata yang boleh mereka lewatkan.
“Mereka suka dengan rasa amis darah milikmu. Tapi ... mereka juga bisa lenyap jika darah itu mengenai kulit mereka.”
Entah dari mana datangnya, api langsung menyambar kertas yang barusan mereka baca. Papou dan Daga saling bertatapan. Darah siapa yang di maksud di sini?
“Gue yakin pasti maksudnya darah lo Pou, mereka ngincer lo bukan gue dan tadi ada sosok makhluk berwujud anak kecil yang langsung lenyap gitu aja kayak asap setelah darah lo menetes ke dia,” Papou hanya mengangguk paham, setidaknya sekarang mereka punya senjata untuk melawan.
Yang Daga pikirkan sekarang adalah, bagaimana cara mengambil darah Papou, tidak mungkin Daga melukainya secara sengaja, itu akan sangat menyakitkan. Sama saja dengan membunuh Papou secara perlahan.
Jika memang begini, lebih baik Daga memilih pilihan pertama untuk membunuh Papou, Daga tidak perlu repot-repot datang ke sini. Jika akhirnya akan tetap membunuh Papou.
“Sekarang kakak potong tangan aku, ambil darah aku banyak-banyak dan buang ke arah mereka, kakak cukup bawah mayat aku pulang. Bi ... bi ... biar oma tauh kalau aku uda meninggal,” Papou merasakan pandangannya jadi buram, air matanya merosot jatuh.
__ADS_1
“kenapa nangis? jika memang itu ke inginan lo, jadi gak usah nangis,” Daga tak tau harus berkata apa, ada benturan keras di hatinya ketika dengan mudahnya Papou meminta untuk membawah mayatnya pulang, lalu tidak ada artinya kah perjuangan mereka selama ini di mata Papou.
“Aku ... aku ... aku takut,” suara Papou terdengar bergetar.
“Uda tauh takut kenapa minta mati?”
Papou mengangkat kepalanya menyeka air matanya. Papou benci keadaan seperti ini, keadaan ketika dirinya terlihat sangat rapuh.
“uda lah Pou, kalau mau nangis-nangis aja, nih kalau lo juga butuh sandaran, bahu gue gratis." Daga menepuk-nepuk bahunya, Papou hanya diam ia tidak berniat untuk menerima penawaran dari Daga.
“Jadi gimana cara buat ngambil darah aku?” Tanya Papou setelah di rasanya cukup tenang.
“Itu juga yang lagi gue pikirin, gue gak mau buat lo terluka dan jadi sakit,” Papu merasakan desiran aneh di jantungnya, mendengar kata-kata dari Daga.
“Gimana kalau kita baca petunjuk berikutnya kak?” Daga hanya mengangguk. Papou masih berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
Papou membuka buku berikutnya, kosong. Tidak ada apa-apa. Papou dan Daga saling bertatapan, mereka sama bingung.
“Ini maksudnya apaan yah Kak?”
“coba buka halaman berikutnya!” Papou mengangguk dam membalikkan buku itu.
“Bunuh mereka semua jangan ada satu pun yang kalian lewatkan, cari jalan keluar secepatnya.”
Api langsung menyambar buku itu, bukan hanya kertas seperti biasa tapi sekarang bukunya yang terbakar.
Ini tempat yang indah sekali seperti sebuah negeri dongeng saja? Ada burung-burung merpati yang saling beterbangan bukan burung gereja seperti yang Papou lihat biasanya tapi burung merpati dengan bulu putih indah.
“Aku mau di sini,” segaris senyum menghiasi wajah Papou melihat ini semua.
Daga segera tersadar, mereka sedang tersihir. “Kita harus segera pergi dari sini,” Daga menarik tangan Papou untuk segera pergi.
Tapi Papou menahannya, ini adalah negeri impian, sebuah negeri yang sering ia lukiskan. Akan sangat menyenangkan jika Papou dapat melukis di sini, menikmati nyanyian alam dan tarian para burung.
“Ini hanya halusinasi Pou, ingat kita ada di padang pasir. Ingat waktu kita pertama kali datang. Ini fatamorgana,” Daga berteriak, Daga harus benar-benar segera membawah Papou pergi dari sini.
“Aku gak mau pergi Kak,” Papou tetap bersikeras pada pendiriaannya.
Daga geram dengan sifat Papou yang sangat keras kepala, Daga melayangkan tangannya, sedikit tamparan mungkin akan menyadarkan Papou.
“Sadar Pou!”
Papou hanya diam ketika Daga menamparnya, sakit tentu saja.
“Maaf ... kita harus pergi dari sini,” Daga menarik tangan Papou untuk pergi. Suara Daga terdengar melembut
Ternyata sebuah tamparan tidak bisa untuk menyadarkan Papou, “Aku mau di sini Kak.”
Daga menghela nafas panjang, Papou adalah tipe orang yang semakin di keraskan akan semakin mengeras.
__ADS_1
“Banyak hal yang gak bisa lo lihat, Pou. Dan gue bisa lihat banyak hal yang gak baik di sini.”
Jika sudah seperti ini Papou tidak bisa bicara lagi, Papu hanya bisa menurut.
~SF.L~
Papou merasakan ada yang aneh yang menjalar di tangannya, seperti merayap di dalam tulangnya Papou.
Daga melihat sosok seperti manusia tapi sangat tinggi, 3 kali lipat lebih tinggi dari pada manusia normal.
“Pou kita harus lari ...,” Daga segera menarik tangan Papou.
“Ada apa lagi?” tanya Papou panik.
“Dia mengejar kita,” jelas Daga masih sambil berlari.
“Kak sampai kapan, kita harus terus menghindar. Kita harus melawannya.”
Daga tidak setuju dengan cara membunuh mereka, bukan perihal mereka yang akan mati membuat Daga tidak setuju, tapi tentang darah Papou yang di ambil untuk membunuh mereka.
“Gue gak setuju.” Tegas Daga.
“Dia nyuruh kita buat bunuh mereka, bukan lari dari mereka. Kalau kayak gini terus kita gak bakalan pernah bisa buat pulang. Setetes darah gak bakalan buat aku mati.”
Daga hanya diam, hatinya mulai setuju tapi logikanya masih belum bisa untuk menerima itu. “Memang benar, setetes darah gak bakalan buat kamu meninggal. Tapi itu akan menyakitkan Pou.”
“Aku dari kecil uda bersahabat sama yang namanya rasa sakit, aku uda kebal sama yang namanya rasa sakit.”
Papou langsung menggigit tangannya, sakit. Tentu saja. Tapi Papou berusaha untuk bersikap biasa saja. Jangan sampai Daga berubah pikiran.
Setelah tangannya itu mengeluarkan darah, “arahin tangan aku ke dia Kak. Aku gak bisa ngeliat dia.”
Daga hanya menurut, Papou tauh seberapa perihnya tangan Papou.
Seketika sosok itu langsung berubah menjadi asap dan menghilang.
“Buka jaket almamater lo,” perintah Daga dengan tagas. Papou tidak bertanya untuk apa.
Daga merobeknya, menjadikannya bagian kecil yang di gunakan Daga untuk membalut luka bekas gigitan Papou tadi.
Setika pandangan mata Daga tertuju pada lengan yang waktu itu tergores. Lukanya menghijau.
“Pou .... ini sakit?” Ucap Daga dengan raut wajah yang sangat cemas.
Kenapa jadi begini, kenapa Papou merasa sangat senang ketika Daga memperhatikannya seperti saat ini. pasti ada yang salah.
“Kayak ada yang menjalar gitu, jadi rasanya agak gatal,” Daga tidak membawah peralatan medisnya sekarang. Jangankan peralatan medis, pisau pun mereka tak ada.
“Apa pun yang lo rasain lo harus cerita sama gue, kita harus saling jujur. Sekarang gue paham maksud dari petunjuk yang pertama itu adalah kita harus saling jujur untuk bisa keluar dari sini.”
__ADS_1
Papou hanya mengangguk, sebisa mungkin Papou harus melakukannya. Papou tidak mau lagi mati di sini, Papou tidak mau lagi nantinya pulang hanya tinggal nama. Papou ingin hidup, Papou ingin pulang, Papou ingin memeluk oma, mendengarkan semua ocehan Karin, Papou ingin mendengar nasehat Araya yang terkadang terdengar sok bijak, Papou ingin mendengar pertengkaran Karin dan Araya. Masih banyak hal yang ingin Papou lakukan.