Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
self injuring.


__ADS_3

Papou menimang-nimang ponsel yang ada ditangannya, Papou masih belum menggunakan ponsel itu. Jari-jari kecilnya mengetikan pesan singkat untuk seseorang.


~SF.L~


“Nana … please muncul, terserah lo mau muncul dalam wujud apa pun, gue mau bicara penting. Tentang adik lo.” Daga berteriak mumpung bunda dan ayahnya sedang tidak di rumah, Raga juga sedang tidak di rumah, jadi Daga bebas untuk melakukan apa pun.


Tidak ada yang terjadi, hanya jam dinding yang terdengar berdetak. “Gue yakin lo pasti dengar gue.” Daga kembali berteriak. Lagi-lagi tidak ada yang terjadi.


“Please .... Na, gue butuh informasi dari lo, gue mau masalah ini cepat selesai. Beri gue alasan kenapa gue harus lindungin adik lo dari hantu rumah sakit itu.”


“Jangan sembunyi, gue bisa merasakan aura lo Na.”


Nana duduk di kursi belajar Daga, dia datang dalam wujud manusia. Sama persis seperti waktu dalam mimpinya.


“Gue butuh alasan kenapa gue harus lindungin Papou.” Ada sedikit rasa takut didiri Daga, ia mengambil langkah mundur. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nantinya.


“Gak ada alasannya, yang jelas gue mau lo jaga dia.”


“Kenapa lo sepeduli itu sama dia, bukannya lo benci sama dia.”


Nana menundukkan kepalanya, bayangan hitam pekat menyelimuti Nana. “Gue sayang sama dia.”


Kenapa apa yang diceritakan oleh Nana berbanding terbalik dengan apa yang diceritakan oleh Papou. “Lo bohong, bahkan lo gak ngakuin Papou sebagai adik lo didepan teman-taman lo.” Entah kenapa Daga lebih percaya pada Papou.


“Itu gue lakuian karena gue gak mau ngeliat dia sedih karena selalu dibanding-bandingin sama gue oleh teman-teman gue, gue tau gue salah.” Daga dapat menangkap banyak nada kecewa dalam kata-kata Nana.


“Mungkin wajah kita mirip, tapi sebagai saudara kita memiliki sifat yang berbeda.” Daga belum mengenal Papou jauh, ia hanya tahu kehidupan luar cewek itu.


“Siapa Hanna dan seorang wanita dengan kepala yang hampir terbelah yang selalu ngikutin Papou atau gak Raga kembaran gue?”


Nana sedikit menyunggingkan senyum dan mengangkat kepalanya ke atas. “Gue dan Papou bukan saudara kandung.”


Fakta apalagi ini, kenapa kehidupan ini semakin rumit. Kenapa tuhan begitu hebat dalam membuat skenario takdir.


“Maksudnya?” Daga mengernyit alisnya saling bertautan.


“Nanti lo juga bakal tau.”


“Kenapa tangan lo kayak gores-gores gitu?” Pandangan Daga teralikan pada tangan Nana yang penuh dengan luka goresan.


“Gue … gue … gue self injuring.”


Keluarga yang sangat rumit, lagi-lagi Daga harus bersyukur memiliki keluarga yang sangat harmonis.


“Kenapa?”


“Lo gak perlu tau, yang penting jagain Papou. Kalau lo udah ngerasa gak sanggup bunuh aja dia, asal jangan mati ditangan mereka.”


Daga menelan salivanya, kenapa semudah itu bagi Nana untuk bicara bunuh saja dia, seakan nyawa tidak berharga.


“Gue pamit.” Nana langsung menghilang, kursi yang Nana duduki tadi langsung kusam, begitu yah barang-barang yang sudah disentuh mereka.


~SF.L~


Ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.


Ini aku kak, Papou.


Daga menarik garis senyum dan mengetikan pesan balasan.


Uda beli hp?


Tidak ada pesan balasan dari Papou, padahal baru beberapa detik yang lalu dia merasa seperti anak SMA yang sedang kasmaran.


Daga tidak memiliki rasa untuk Papou hubungannya hanya sebatas untuk menolong gadis remaja itu keluar dari lingkaran yang terus membuatnya berputar-putar. Lagi pula seperti yang dikatakannya kemarin dia menganggap Papou seperti adiknya sendiri.


“Kenapa lo senyum-senyum kayak orang gila?” Raga membalas ucapan Daga dengan tatapan sinis, “suka-suka gue dong.” Raga melempar tasnya ke atas meja belajar.


“Kenapa lo pulangnya malam banget? Emangnya sekolah masih buka?”


“Kan gue bilang, suka-suka gue.” Raga membuka kemeja sekolahnya, meletakannya ke dalam keranjang kain kotor.


“Gue gak suka sama Papou, lo tenang aja, gue gak bakal nikung saudara sendiri.” Daga menatap langit-langit kamarnya.


Raga yang sudah masuk dalam kamar mandi langsung keluar mendengar ucapan Daga. “Please ... jangan cemburu sama gue, gue cuma punya sedikit urusan sama dia.” Daga mengubah posisinya dia langsung duduk menatap manik hitam kembarannya.


“Urusan apaan?”


Daga terdiam ia tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi, ini terlalu sulit dijelaskan dengan kata-kata dan tidak akan bisa dicerna oleh logika.


“Cepatan bilang urusan apa? Ini mandi gue uda di pending buat dengar lo cerita apa?”


Daga menghela nafas, ia tidak yakin untuk menceritakan, “belum saatnya lo tau.”


Raga kembali masuk ke dalam kamar mandi, membanting kuat pintu kamar mandi. Raga tidak masalahnya jika seandainya Daga benar-benar menaruh rasa untuk Papou, dia bisa bersaing secara sehat. Raga optimis ia pasti akan menang.

__ADS_1


~SF.L~


Rumah benar-benar sepi tanpa oma, bang Araya dan suara cempreng Karin. Jam baru menunjukkan pukul 3 dini hari tapi Papou sudah terbangun, ia mimpi buruk. Sebenarnya bukan mimpi buruk, tapi bertemu dengan Hanna adalah mimpi buruk baginya.


“Kamu siapa sih?”


Hanna benar-benar membuat Papou penasaran, Papou merasa pernah bertemu anak itu. Ketika melihat bola mata hijaunya, Papou seperti dilempar kembali ke masa lalu. Apakah ada bagian dari masa lalu yang dilupakan Papou.


~SF.L~


“Apa-apaain sih, pagi-pagi uda ngerusu di rumah orang.” Papou menatap Raga kesal, sekarang Raga tahu ternyata Dilan emang gak bohong, rindu itu berat.


“Terserah gue dong mau ngapin,” Raga malah berkacak pinggang di depan motornya.


“Iya terserah kamu.” Papou mengalah ia malas berdebat dengan Raga sepagi ini.


“Berangkat bareng gue.”


“Gak mau.”


“Udah … yang paling benar itu nurut sama suami.” Raga langsung memasangkan helm ke kepala Papou. “Stop ngomong kayak gitu Ga, jijik tahu.”


“Iya Ma …,” kepala Raga langsung mendapat hadiah dari mulut kurang ajarnya.


“Mama belum juga sah, uda main KDRT.” Papou semakin membabi buta memukul kepala Raga dengan tangannya.


“Aku turun disini saja?” padahal mereka belum sampai disekolah.


“Kenapa, kan belum nyampe?”


“Gak mau diliatin murid lain.”


“Siapa juga yang datang sepagi ini, gue yakin pak satpam saja pasti belum datang.” Raga tidak membiarkan Papou turun, ia kembali menggas motornya.


“Pagi Mas .. Mbak.” Sapa pak satpam itu pada Raga dan Papou dengan ramah, satpam itu memang memanggil murid-murid dengan panggilan mas dan mbak.


“Pagi pak.” Balas Raga dengan senyum ramah.


“Berasa kayak tukang jamu tahu dipanggil Mbak,” gerutu Papou dengan kesal sambil membuka helmnya. “Cocok aja sih lo jadi tukang jamu.”


~SF.L~


“Makin hari, makin lengket aja Ga?” Nades menyerobot jus alpukat Raga. “Jus gue bego.” Raga kembali mengambil ahli jusnya.


“Astaga bahasa lo Ga.” Nades mengambil kerupuk yang ada di depannya.


“Bi … soto 2 mangkuk yah Bi.” Teriak Nades dari tempat duduknya, saat ini kantin sedang sepi, karena sedang jam pelajaran dan mereka sedang jam kosong.


Porsi makan Nades adalah 2 mangkuk soto, apa pun yang dipesannya tidak pernah satu. Semua selalu habis, tidak ada yang bersisa. “Uda sejau mana persiapan pameran lo?”


“Uda 75% sih, pesan tempat udah, dana dari sekolah juga uda keluar. Tinggal ngumpulin lukisan sebanyak-banyaknya sekarang sudah ada 32 lukisan target kita sih 50 lukisan.”


“Banyak banget, Ga.”


“Gue yakin kita pasti bisa, makanya selesai sekolah kita langsung ke ruang lukisan buat ngelukis rame-rame, kemarin gue disekolah sampai jam setengah sepuluh malam.”


“Gak digerebek tu?”


“Ada Bu Diana.”


Nades hanya mengangguk, dua mangkok soto sudah ada di depannya. “Beli dua ada gratis satu kan Bi?”


“Bisa tutup warung saya.”


“Lah tiap malam warung Bibi tutup kan?”


“lo ngelawak.” Raga langsung menoyor kepala Nades.


~SF.L~


Papou bukan kutu buku yang hobi membaca, tapi ia bosan di kelas mendengar nyinyiran teman-teman sekelasnya tentang hubungan antara Raga dan dia. Apakah tembok disekolah ini bisa bicara?


Papou hanya duduk termenung, menatap buku yang terbuka di depannya dan sesekali membolak-balikkan halamannya, itu sebuah novel. Bagi Papou novel itu hanya kebohongan yang membuat pembaca merasa terperdaya.


“Kalau udah jodoh susah yah, buat mengelak.” Papou terlonjak kaget, tiba-tiba saja ada Raga disebelah-Nya, laki-laki itu tengah berpangku tangan menopang dagunya, menatap ke arah Papou, kenapa ia suka melihat netra coklat itu,


Papou hanya diam, ia pura-pura sibuk saja, Papou kembali membalik halaman novel itu dan mulai membacanya. Raga langsung merampas buku itu, “gue gak suka yah, dikacangin.”


“Apaan sih, balikin gak.” Papou mencoba mengambil buku itu kembali.


“Jangan berisik, ini perpustakaan.”


“Bodoh amat, balikin.” Papou berteriak yang langsung mendapat pelototan dari guru penjaga perpustakaan. Bukannya takut Papou malah membalas mempelototi guru itu, sama sekali Papou tidak merasa takut dengan pelototan mata guru itu.


“ Mata lo mau gue congkel,” Raga mengarahkan kedua jarinya didepan mata Papou. “Biasa aja dong.”

__ADS_1


Papou mungkin harus mempertimbangkan untuk belajar belah dari dari Araya, sesekali Raga harus merasakan pukulannya. “Pulang sekolah jangan pulang dulu, kita ada rapat di ruang club seni sama Bu Diana.”


Papou hanya mengangguk pasrah, ia tidak akan bisa mengelak, jika ia kabur hari ini maka besok ia akan di cari oleh Bu Diana si puyang maut SMA Cendikia.


“Iya … iya … udah tau juga.”


“Gitu dong sesekali nurut kayak gini.” Papou mendengus sebal.


~SF.L~


Papou termenung di depan kanvas putih dengan kuas ditangan kirinya, karena Papou adalah seorang kidal. Dengan usaha yang keras untuk membujuk Bu Diana mengizinkannya melukis diluar perkerangan sekolah.


“Melukis itu butuh inspirasi, tidak bisa di dalam ruangan tertutup seperti ini,” tidak sepenuhnya Papou berbohong, ia benar-benar suntuk berada dalam ruangan itu.


Entah ada apa dengan Hanna, Papou ingin melukis anak itu seingatnya, sorot mata hijau itu benar-benar membuat Papou seperti dilempar ke masa lalu.


Seorang anak kecil dengan mata hijau memegang setangkai bunga berwarna ungu, Papou tidak tahu bunga apa yang sedang dia lukiskan tapi yang jelas bunga itu berkelopak seperti mawar tapi berwarna ungu. Gadis itu berdiri di tengah langit yang sangat mendung.


Papou merasakan ponselnya bergetar, baru hari pertama membawah hp ke sekolah sudah menyusahkan. Hanya satu nomor yang ia simpan diponselnya siapa lagi kalau bukan Daga.


“Apa kak?”


“bisa ketemuan gak, ada yang mau gue bicarain.”


“Aku lagi di taman yang waktu itu Kak, datang aja.”


Hanya butuh waktu beberapa menit, Daga langsung muncul dengan tas di pundaknya, dia baru pulang kuliah mungkin.


“Jago ngelukis yah lo,” Papou tidak menghiraukan Daga, ia sibuk dengan lukisannya.


“Gimana masih sakit?”


“Apa?”


“Jidat lo lah,” Papou sedikit mengusap jidatnya, masih terasa sakit tapi tidak separah yang kemarin. “Uda mendingan sih, Kak. Kenapa emang?”


“Cuma mau nanya sih. Oma uda pulang?”


Papou menggeleng, ia sangat merindukan wanita itu. “Berarti sendiri dong di rumah?”


“Lo uda makan?” Daga kembali bertanya, lagi-lagi Papou hanya bisa menggeleng. Papou itu mageran, ia sangat malas untuk memasak di dapur jika, kalau membeli makanan jika keadaannya ramai orang-orang Papou akan kembali pulang atau mencari tempat lain.


“Pantesan kurus, gak makan-makan. Tunggu biar gue beliin makanan.”


Bolehkah Papou merasa luluh karena perhatian yang diberikan laki-laki itu, Papou merasakan hatinya menghangat, bolehkah ia jatuh cinta. Yah … walaupun masa terlalu awal untuk menyimpulkan.


“Uang buat beli makanan tadi habis berapa Kak? Biar aku ganti.” Papou langsung merogoh tasnya untuk mengambil uang di dalam tasnya.


“Gak usah besok kalau lo uda kerja, lo wajib traktir gue.”


“Aku gak bisa janji Kak, ini ambil aja.” Papou menyodorkan uang 50 ribu.


“Kan kemarin gue uda bilang, lo itu gue anggap kayak adik gue sendiri. Udalah gak usah.”


“Mau cerita tentang apa Kak?” Papou ingat tujuan awal Daga kemari adalah untuk membicarakan hal penting.


“Owh … tadi gue ketemu kakak lo, Kak Nana. Gue dapat fakta baru.”


“Apa?” Papou terlihat penasaran, matanya menatap Daga dengan serius.


“Dia sayang sama lo, lo gak mau maafin dia?”


Papou menghela nafas panjang, kenapa masa lalu yang susah payah lupakan kembali datang. Kembali dengan wujud yang semakin rumit. Tak bisakah semesta diam sejenak, membiarkannya istirahat menghirup udara segar untuk sebentar. Bernafas dalam tekanan takdir membuatnya sesak, ini semua terlalu mengekang.


“Aku udah maafin dia, cuman aku gak bisa ngerubah perasaanku untuk dia. Aku terlalu benci.”


“Itu artinya lo belum maafin dia sepuh hati.” Daga sedikit menyentil hidung Papou, sebenarnya ia ingin menyentil kepalanya tapi Daga tidak tiga melihat luka memar itu.


“Emang tadi dia bilang apa?”


Daga diam sejenak mengingat kembali pertemuannya dengan Nana kemarin malam. “Dia bilang … kalau dia itu gak ngakuin lo sebagai adiknya karena dia gak mau kalau semua orang tau kalau lo itu adiknya, pasti lo dibanding-bandingkan sama dia. Dia gak mau bikin lo sedih Pou.”


Papou masih belum bisa menerima hal itu, waktu itu Papou hanya bocah SD yang lugu dan polos. Walaupun sekarang Papou bukan lagi bocah SD ia masih belum bisa menerima alasan itu, terlalu klasik. Toh ia sudah biasa dibanding-bandingkan.


Untuk masalah Papou dan Nana bukan setali darah, Daga tidak bisa memberi tahunya ia tidak mau membuat hubungan gadis bernetra coklat itu dengan keluarganya semakin hancur.


“Terus Kak Nana bilang gak, apa hubungannya Hanna dan hantu yang kata kakak itu selalu ngikutin aku.”


Daga menggeleng, Nana memang tidak memberitahunya apa-apa. Nana memintanya untuk menunggu.


“Dan asal lo tahu, Nana itu self injury,” Daga menengadahkan kepalanya, melihat burung-burung yang saling kejar-kejaran dari satu dahan kedahan lainnya. Dasar burung bucin. Daga tidak bisa membayangkan seberapa hancur keluarga ini.


“Aku gak peduli,mau dia *self injur*ing atau mau bunuh. I don’t care.”


Apa mungkin Nana meninggal karena bunuh diri, diberbagai kasus orang-orang yang melakukan salf injury akan melakukan bunuh diri untuk mengakhiri hidup mereka.

__ADS_1


__ADS_2