
Gapura SMA Cendikia menyambut kedatangan Papou ia berangkat lebih awal, berusaha untuk menghindari interaksi lebih dengan orang-orang lain. Papou benci itu semua.
“Hei … kamu!” seseorang berteriak ke arah Papou. Papou hanya diam tak bergeming, ia tak peduli akan suara itu.
“Kamu budek yah!” Suara itu kembali terdengar, nada bicaranya naik satu oktaf. Papou menoleh dengan malas ke arah sumber suara tadi.
Orang itu menatap malas Papou dari atas sampai bawah. Hari ini adalah hari pertama MPS-nya. Bahkan untuk pagi ini Papou bangun lebih awal di bandingkan ayam.
“Siapa namamu?” tanya laki-lai itu dengan angkuh sambil melipat tangannya di dada.
“Syellifau Lidia,” jawab Papou singkat, seakan tak peduli dengan tatapan permusuhan yang diberikan oleh seniornya itu.
“Ikut saya.” Perintahnya sambil berjalan mendahului Papou. Papou hanya mengikut pasrah mengikuti langkah panjang laki-laki bertubuh jangkung dengan hidup mancung dan warna kulit sawo matang.
Laki-laki itu membawah Papou ke sebuah koridor yang sangat panjang. “Apa yang kamu lihat dari koridor ini.” Suaranya terdengar berat dan penuh wibawa.
Untuk sesaat Papou terlihat berpikir, matanya menjelajahi setiap sudut tempat ini. Yang pertama di perhatikan Papou adalah warna cat tapi itu hanya jawaban orang bodoh, Papou mengerti ke mana arah pertanyaan ini dan jawaban apa yang harus diberi.
“Banyak permen karet di lantainya.” Laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan, “anak pintar, gak salah lo di terima di sekolah ini.”
“karena ini masih terlalu pagi, jadi … silakan kamu bersihkan semua permen karet yang menempel di lantai.” Mendengar itu mata Papou langsung membelalak, yang benar saja. Koridor ini begitu luas.
“Maaf Kak, saya di suruh orang tua saya sekolah bukan untuk jadi babu. Saya bayar di sekolah ini.” Papou pergi begitu saja, ia tak peduli dengan tatapan orang itu, yang menatapnya dengan tatapan tidak suka.
“Berani kamu melawan saya?”
“Buat apa saya takut Kak, kita sama-sama manusia, kita sama-sama bayar di sini.” Laki-lai itu di buat kehabisan kata-kata oleh Papou, seumur-umur baru sekali ini ada junior yang berani melawannya.
“Ok … tunggu saja, saya pastikan kamu tidak akan tenang sekolah di sini.” Geramnya dengan kesal, urat-urat kemarahan terlihat jelas di kepalan tangan yang ia kepal kuat-kuat, berusaha menahan semua emosinya.
~SF.L~
“Kenapa lo?”
“Ada junior yang berani melawan gue?” Raga menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat duduk.
“Siapa?”
“Syellifau Lidia.”
“Ya ampun Ga, lo kesal cuma gara-gara hal itu.” Nades tertawa, melihat temannya itu memasang wajah kusut. “masalahnya itu, baru pertama kali ada yang berani ngelawan sama gue dan dia itu cewek.” Kesal Raga.
Mereka sekarang sedang duduk di ruang osis. Raga sedang berada dalam mood yang buruk, berbahaya jika dia dekat-dekat dengan juniornya. Raga itu temperamen gampang sekali marah, apa pun bisa jadi bahan amukannya.
“Sekarang lo maunya apa?” mendengar pertanyaan Nades, Raga sedikit berpikir. “Bawah dia kesini.”
Fitri langsung mengeluarkan ponselnya, “biar gue telefon Dinda, menyuruh dia bawah anak itu kesini.”
~SF.L~
“Yang namanya Syellifau Lidia silakan maju ke depan.”
Mendengar namanya di panggil Papou langsung melangkah ke depan, sekarang mereka sedang di bariskan di depan tiang bendera untuk mengikuti upacara pembukaan MPLS. Sementara di tempatnya berdiri Karin sudah gemetaran, ada firasat burut tentang sepupunya itu.
“Kamu ikut saya,” Papou hanya pasrah mengikuti langkah seniornya itu. Ia sudah tau masalah apa yang sedang menimpanya, ini pasti ulah senior yang ia bantah tadi pagi.
Sebuah pintu berwarna coklat dengan terpampang jelas tulisan “RUANG OSIS” semua huruf ditulis dengan huruf Kapital. “Silakan masuk.”
Semua sorot mata mengarah pada Papou, tapi tak ada yang berani bicara. Pandangan mata Papou mengarah tajam pada seorang laki-laki yang ia temui tadi pagi. Dalam hatinya Papou yakin bahwa dialah yang menjadi penyebab dia dipanggil kesini.
“Ngapain kamu kesini?” Tanya seseorang yang tak Papou ketahui namanya. Dasar aneh.
“Yah udah … saya permisi keluar dulu kakak-kakak senior yang TERHORMAT,” Papou menekankan kata-katanya pada kata terhormat. Tanpa merasa bersalah Papou membuka knop pintu.
Melihat tingkah Papou semakin membuat emosi Raga membuncah. “Duduk,” perintah Arga dengan tegas.
“Tolong tinggalin gue berdua sama anak ini.” Mendengar perintah Raga, Nades dan Fitri langsung keluar ruangan.
~SF.L~
__ADS_1
“Kamu gak apa-apa kan, Pou? Tadi kamu diapain sama mereka? Aku kawatir banget tau sama kamu.” Ketika jam istirahat, Papou langsung dihujam oleh pertanyaan-pertanyaan dari Karin. “Aku gak apa-apa.” bukan jawaban seperti itu yang diharapkan oleh Karin.
“Alhamdulillah kalau gitu, aku kawatir banget sama kamu.” Karin mengelus-ngelus dadanya lalu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya. Terlihat jelas dari raut wajah Karin dia benar-benar kawatir.
“Kenapa kamu sepeduli itu sama aku Rin.” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Papou.
“Karena kita saudara.”
Untuk sesaat Papou menatap mata belo Karin, ada jawaban lain yang lebih bisa menjawab semua itu. “Aku rasa butuh alasan lebih dari sekedar saudara untuk sepeduli itu.” Papou langsung menutup keran air dan sedikit merapikan anak rambutnya yang berantakan lalu pergi begitu saja.
“Aku rasa itu lebih dari cukup, Pou.” Gumam Karin kesal, ia kembali menyalakan keran air itu dan membasuh mukanya, berusaha mendinginkan otaknya yang mulai terasa panas.
Papou duduk di bawah pohon besar di samping gudang, tempat ini sepi. Papou benci akan keramaian, menyenangkan sekali rasanya ketika kamu dapat menikmati waktu sendiri tanpa perlu berbagi. Sayangnya penghuni bumi bukan kamu seorang, jadi selalu siapkan sedikit ruang untuk berbagi.
Dalam sepi berteman imaji
Semuanya menjadi indah
Suara tawamu di ujung sana
Mengganggu kesendirianku
Aku bahagia dengan caraku
Biarkan saja ulat berubah memikat dengan caranya
Biarkan saja aku bahagia dengan caraku.
Tak butuh kata untuk menjelaskan
Cermin sudah memperjelas semuanya
siapa aku dan siapa kalian.
Terima kasih untuk kalian yang sudah berusaha memperjelas.
Terimakasih telah mengusik waktuku.
~SF.L~
Terasa damai dengan embusan angin yang bertiup sepoi-sepoi. Sekarang Papou sedang berada di taman kota, sepulang sekolah Papou sengaja menuju kesini hanya sekedar untuk melihat seberapa sibuknya kota dan menyecap sebuah es krim yang sangat legend.
Papou mengayun-ayunkan kakinya di bangku taman, burung-burung berterangan saling kejar-kejaran dari satu dahan ke dahan lainnya, bahagia sekali rasanya jadi burung itu.
Konon katanya manusia adalah makhluk paling sempurna dan anehnya sekarang Papou malah menyesali dirinya yang terlahir sebagai manusia.
Seketika hasrat senimannya keluar begitu saja ketika melihat langit yang merekah indah penuh keagungan, sayangnya sore ini Papou tidak membawah peralatan melukisnya. Jika waktu bisa dihentikan, mungkin Papou ingin sedikit berlama-lama di sore hari ini.
Seorang anak dengan bola mata hijau melintas di depan Papou, rambutnya ikal panjang bewarna hitam legam khas rambut Asia, rambut ikal itu berkibar tertiup angin memperlihat wajah bocah tujuh tahun yang sangat cantik. “Cantik sekali,” gumam Papou sambil terus menikmati es krimnya.
“Tapi aku seperti pernah melihatnya,” seperti familier tapi terlalu asing dalam ingatan. Papou kembali bertanya-tanya dalam hatinya, rasa-rasanya ia belum pernah bertemu dengan seseorang bermata hijau dan anehnya Papou seperti mengenal anak itu. Seperti déjà vu.
“Kakak …” anak itu menyapa Papou yang sibuk dengan pikirannya. “Haa??” Papou terlihat bingung ia tak yakin anak itu menyapanya.
“Kakak kenapa bermenung?” Papou melihat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan apa anak ini benar-benar sedang bicara padanya.
“Aku Hanna,” anak itu mengulurkan tangannya ke arah Papou. “Aku Papou ..”
Anak itu tersenyum, mata hijau benar-benar indah. Seorang perempuan paruh bayah memanggil Hanna dengan lincahnya Hanna langsung meloncat dari kursi taman yang cukup tinggi.
“Masih ingat aku kan kak?” mendengar kata-kata Hanna, Papou langsung membulatkan mata tidak percaya, artinya mereka pernah bertemu tapi kapan dan dimanah atau waktu dia masih tinggal di Jakarta.
Kata-kata anak yang temui tadi sore begitu mengusik tidur Papou ketika matanya baru akan terpejam bayangan wajah Hanna dengan bola mata hijau itu langsung melintas dalam benaknya. Bahkan Papou merasa sudah seperti orang yang sedang jatuh cinta.
‘masih ingat aku kan kak?’ kata-kata itu terus terngiang dalam benak Papou ‘masih … masih … dan masih …’ artinya sebelumnya mereka pernah bertemu. Kapan dan dimanah?
Jam menunjukkan pukul tiga dini hari, Papou sudah terbangun dari tidurnya karena bermimpi buruk tentang anak itu. Papou segera bangkit dari tempat tidurnya.
Sekarang ia sedang duduk manis depan kertas berwarna putih, hanya dengan melukis Papou merasa lebih baik. Tapi untuk sekarang sepertinya melukis tidak membantu sama sekali tapi malah memperparah keadaan, fokus matanya tak bisa di ahlikan dari warna hijau.
__ADS_1
~SF.L~
Papou duduk di depan kaca kelasnya, menatap tetesan demi tetesan air hujan, melihat betapa pasrahnya bumi di hujam oleh ribuan butir air.
“kamu …”
Papou menatap seluruh sudut ruangan tidak ada siapa-siapa, benar-benar sendiri. Hanya ada seekor kucing yang duduk di tepi jendela. Bulu hitam kucing itu mengkilat di tambah dengan bola mata hijaunya, begitu jerni dan ….
Papou langsung tertegun, seketika ia ingat akan mata anak itu. “Kenapa mirip?” Papou membatin. “Mungkin kah aku merasa familier dengan mata anak itu karena matanya mirip kucing.” Papou menduga-duga sendiri, dia memang penyuka kucing. Papou begitu menyayangi hewan berbulu yang menggemaskan itu.
Papou kembali fokus melihat tetesan air hujan yang jatuh, ia sudah tak peduli dengan kucing hitam itu.
“Kakak …”
Seperti ada suara aneh yang terus-menerus berputar dalam benak Papou, memanggilnya dengan sebutan kakak. “Si … sia … siapa?” Tanya Papou ragu, pandangan matanya mengarah pada kucing itu.
“Siapa hayooo …?” Dia tertawa remeh, tapi mengerikan.
‘hantu sialan.’ Geram Papou kesal, apa pun jenis makhluk yang terus mengusik ketenangannya itu sedang berusaha mempermainkan Papou.
“Saya sedang serius, jangan bercanda.” Teriak Papou dengan kesal, tangannya ia kepalkan, urat nadinya terlihat keluar.
Hening …
Tidak ada jawaban lagi dari makhluk itu, tapi tiba-tiba ada cairan berwarna hijau pekat dengan aroma yang begitu busuk keluar dari dinding-dinding kelas. “Apa lagi ini.” Kepalanya mulai terasa pening sementara perutnya ingin memuntahkan sesuatu, aromanya benar-benar busuk seperti bangkai. Papou benar-benar tidak tahan, ia langsung memuntahkan seluruh isi perutnya tapi anehnya yang ia muntahkan berwarna hitam pekat. “Apa ini …” Suaranya hampir tak terdengar lagi.
Papou langsung berlari keluar kelas, tapi seketika pintu langsung tertutup rapat. “sial.” Papou menendang pintu dengan penuh emosi.
Kaca langsung berserakan, papou melemparnya dengan gunting yang ia temukan di rak literasi langsung saja ia meloncat dari kaca itu untuk keluar, ia sudah tidak tahan dengan bau busuk itu.
Dengan sisa kekuatan yang ada Papou berlari ke toilet perempuan, perutnya kembali mual ia ingin muntah. Semua pasang mata melihat ke arahnya tapi Papou tidak peduli.
“Uweekk …” cairan hitam pekat kembali ia keluarkan.
“Apa ini?” tangan Papou mencolek sedikit cairan itu dan mencium baunya, tidak ada bau apa-apa cairan itu bertekstur agak kenyal.
Bau obat begitu menyengat dan didominasi oleh warna putih, sekarang Papou sedang berada di UKS ia butuh istirahat bukan hanya fisiknya yang butuh istirahat, tapi otaknya juga butuh istirahat.
Matematika, fisika ataupun kimia dapat dengan mudah Papou selesaikan. Tapi … tidak dengan hal ini, terlalu rumit jika harus di pahami dengan logika dan terlalu mustahil jika harus dipahami dengan perasaan.
Ketika terbangun dari tidurnya, bukannya di UKS tapi malah di kelas dengan bertumpuh pada meja dan almamater yang di jadikan sebagai bantal. “Apakah tadi mimpi?” Papou langsung berlari kelapangan dan ternyata tanah tidak basah. Bukankah setelah hujan harusnya tanah menjadi basah atau setidaknya lembab sedikit. Dan kaca yang ia pecahkan tadi tidak terjadi apa-apa, harusnya kaca itu pecah sekarang.
~SF.L~
“Apa lagi ini yah Allah …” Papou memberhentikan langkahnya ketika ada orang yang memanggilnya, siapa lagi kalau bukan si Raga.
“Bisa ikut saya sebentar.”
“Maaf Kak, saya sedang sibuk. Permisi.” Setelah mengucapkan itu, Papou langsung melangkah pergi, ia tak peduli dengan teriakan Raga yang menyuruhnya untuk berhenti.
Hampir semua isi kebun binatang keluar dari mulut Raga, apa pun yang ada di depannya ia jadikan pelampiasan emosi. Ia benar-benar benci penolakan, entah kenapa setiap berurusan dengan cewek itu, emosi Raga jadi cepat berubah.
“Lo kenapa lagi si, Ga?” Tanya Nades tapi tak ada jawaban dari Raga. “Masih gara-gara dia?” Nades kembali bertanya, Raga hanya mengaguk pelan. ‘Dia’ yang dimaksud disini adalah Papou.
“Emangnya dia ngapain lagi?” Lagi-lagi tak ada jawaban dari Raga, Nades sudah biasa dikacanging oleh sahabat sekaligus ketua OSIS-nya itu.
“Kalau suka sama cewek, mainnya jangan pemaksaan dong pake cara halus.” Raga berdecak sebal, “siapa juga yang suka sama cewek kasar kayak gitu.”
“Kan gue ngomongnya pakai kata ‘kalau’ maksud gue itu … seumpamanya lo suka sama dia, kalau nggak juga nggak apa-apa.”
“Apaan sih, gue gak bakalan suka sama dia.”
“Dia cantik lho.” Nades manaik turunkan alisnya dengan senyum yang tak bisa di artikan. Raga langsung masuk ke dalam mobilnya dan membanting keras pintu mobilnya.
“ehh … gue numpang dong.” Nades segera masuk ke dalam mobil Raga. Raga memberikan tatapan datarnya sedangkan Nades hanya tersenyum kikuk. Ia tidak peduli, yang penting ia sampai rumah tanpa mengeluarkan biaya sedikit pun. Prinsip ekonomilah yang selalu di pakai oleh laki-laki berambut ikal itu. Memperoleh hasil semaksimal mungkin dengan melakukan pengorbanan sedikit mungkin.
~SF.L~
Azan telah berkumandang mengetuk jiwa insan yang masih memiliki iman di dadanya, sayangnya semenjak takdir terlalu mempermainkan kehidupannya. Papou memilih untuk tidak peduli dan menjauh dari sang rabb. Tapi secara tidak sadar, itulah hal terbodoh yang ia lakukan dalam hidupnya.
__ADS_1
Pandangan matanya tajam, melihat setiap orang yang lalu-lalang di depannya, sudah hampir tiga jam lebih ia di sini, tapi Papou belum juga menemukan Hanna. “ke mana anak itu?”