
“Apakah kita sudah sama dengan mereka?”
Sekarang suda malam lagi tapi Papou belum juga merasa lapar dan dari tadi mereka juga tidak buang air besar atau pun kecil. Dan anehnya tubuh mereka tidak merasakan apa pun, sekedar sakit perut pun tidak.
Daga menarik nafas panjang, ini adalah malam keduanya di sini, bukan lagi dinginnya padang pasir yang mereka hadapi tapi untuk malam ini dinginnya sebuah tempat seperti perkampungan yang menjadi teman.
“Kita masih manusia Pou, kita pasti pulang.” Papou sudah tidak yakin dengan kata-kata itu lagi. Semakin kesini harapannya untuk pulang semakin berkurang.
Daga mendengar suara tangis bayi, “tunggu di sini jangan kemana-kemana.” Daga langsung berdiri untuk mencari sumber suara, Papou hanya mengangguk, menyibukkan diri dengan mengamati bulan yang seorang diri malam ini.
Tidak lama kemudian Daga kembali, “ada apa?”
Daga hanya menggeleng ia tidak menemukan apa pun, Papou benci sifat Daga yang sok misterius.
Pandangan mata Daga tertuju pada rumah-rumah penduduk dan yang anehnya rumah itu memiliki lampu. “Rumah–rumah ini ada penghuni gak yah Pou?”
Papou mengamati rumah-rumah tu dengan saksama, seperti rumah manusia pada normalnya. “mungkin mereka yang menghuninya Kak.”
“Apa mereka punya keluarga?”
Papou menggeleng, ia tidak tauh. “Ayo kita lihat.” Papou langsung berdiri dari tempatnya, menepuk-nepuk roknya yang sudah sangat kotor. Sudah dua hari Papou tidak mandi, anehnya ia tidak merasa gerah sedikit pun.
“Ngapain?” Daga belum beranjak dari tempat duduknya.
“Liat, di dalam ada apa?”
“Gak usah cari masalah Pou.” Daga memutar bola matanya malas.
“Kak ... kita memang harus bunuh mereka kan, kalau kita cuma duduk di sini, kita gak bakalan bisa pulang. kalau kita gak mau cari masalah kenapa kita kesini.” Daga langsung berdiri dari tempatnya.
~SF.L~
Papou tercengang, baru kali ini Papou dapat melihat sosok lain di tempat ini. Selain Daga.
“Lo bisa liat mereka Pou?” Papou mengangguk pelan, Daga memicingkan matanya ada yang janggal di rumah ini. Dia memang bukan manusia tapi rupanya sama dengan manusia.
Daga dan Papou masih mematung berdiri di depan pintu, Papou sedikit merasa bersalah ketika masuk tanpa permisi.
Seorang wanita cantik yang di lihat dari perawakannya bukan ras Asia tapi melainkan Eropa. Di lihat dari wajahnya dia berumur 30 tahunan. Yang membuat Papou semakin tertegun adalah mata hijaunya. Seketika Papou langsung teringat akan Hanna.
__ADS_1
“Maaf ... kami salah rumah,” Daga segera menarik tangan Papou untuk segera pergi, tapi Papou tidak bergerak sedikit pun.
Hatinya menghangat ketika melihat mata hijau itu, kenapa?
“Kebetulan sekali kalian datang, yuk kita makan sama-sama.” Ucap wanita itu dengan senyum yang mengembang.
Daga menggeleng cepat, tempat ini bahaya, Papou tanpa perasaan curiga langsung menarik tangan Daga untuk masuk.
Firasat Daga bilang ini bukan tempat yang aman, apalagi Daga seperti mendengar suara yang mengatakan pergi-pergi.
“Maaf nyonya kami harus pergi, kamu harus melanjutkan perjalanan.” Daga terus menarik tangan Papou untuk segera pergi, tapi Papou tetap bersikeras untuk berada di sini.
Entah atas dasar apa, Papou suka di sini, hatinya merasa nyaman. “ Kalau Kakak mau pergi silakan, aku akan tetap di sini.”
Mendengar itu Daga langsung terperangah ke mana prinsip Papou yang kemarin-kemarin, baru beberapa jam yang lalu Papou bilang, mereka ke sini sama-sama berarti pulangnya juga harus sama-sama. Karakteristik remaja pada dasarnya labil.
“Pokoknya kita harus pergi,” Daga menarik tangan Papou dengan kuat, “apaan sih, Kak. Sakit tauh.” Papou tidak terima dirinya ditarik-tarik layaknya hewan ternak seperti saat ini.
Namun ketika mereka hendak keluar, pintu rumah langsung tertutup dengan sendirinya. Lantas itu membuat Daga dan Papou kaget, mereka sedikit mengambil jarak dari pintu dan menatap heran ke tuan rumah, seolah bertanya kenapa.
“Maaf anak mudah, rumah ini punya nyawa dan perasaan jika ada tamu yang datang maka mereka harus ikut makan dulu, baru nanti pintu itu akan terbuka dengan sendirinya.” Ucap wanita tadi dengan senyuman yang tak henti-hentinya.
“Sialan, pasti pintu ini bisa di buka.” Daga menendang pintu itu dengan kuat, mencoba mendobraknya sekuat tenaga, tapi kenapa pintu ini tidak mau di buka.
"Tidak," jawab wanita itu dengan entengnya tanpa merasa tersinggung sedikit pun.
Daga kembali berusaha untuk membuka pintu itu, menendangnya, meninjunya dan mendobraknya. Terserah badannya yang akan terasa sakit yang jelas pintu ini harus terbuka.
“Percuma saja, itu hanya akan membuatmu lelah.” Wanita si tuan rumah kembali berucap.
Papou merasa jengah dengan apa yang di lakukan oleh Daga, Papou menarik tangan Daga untuk duduk di sebuah meja makan dengan bentuk bulat dan terdapat 12 kusir yang melingkarinya. Papou yakin penghuni rumah ini pasti banyak.
“Ingat kata Kak Nana, kita ikutin aturan mainnya makan kita akan selamat,” Papou berkata lembut yang akhirnya mampu membuat Daga akhirnya berhenti memukul pintu lain.
“Apa di sini tidak ada pintu lain,” Daga berdecak sebal yang akhirnya ia juga duduk di meja makan. Belum ada hidangan apa pun di atas meja ini.
“Tunggu sebentar yah, biar saya panggil yang lain dulu.” Wanita itu langsung naik ke lantai atas, yah rumah ini bertingkat tapi terbuat dari kayu bukan tembok. Peralatan di dalamnya pun tak nampak benda elektronik satu pun.
Bahkan Papou dapat melihat peralatan berburu yang berjejer di sepanjang dinding. Papou tau, mereka sedang berjalan ke masa lalu. Karena Papou yakin, masa depan tak akan se kuno ini.
__ADS_1
“Apa mereka manusia?” Papou berbisik ke Daga yang sudah tampak kesal.
Daga menatap tajam ke arah Papou, “mereka itu bukan manusia Pou.” Daga benar-benar muak berada di sini, hatinya gelisah di sini, apa lagi ketika ada suara yang terdengar di telinga Daga terus membisikan untuk pergi.
Dugaan Papou memang benar, rumah ini memiliki banyak penghuni. “Anak-anak yang lucu,” puji Papou ketika melihat anak-anak itu berlari untuk berebut kursi.
Daga menatap Papou dengan heran, lucu dari mananya lihat saja kepala yang hampir terbelah dan bahkan ada di antara mereka yang memiliki kepala bintang.
Si kepala **** bertanya dengan muka sinisnya, “mereka siapa?”
“Tamu mama kali,” jawab si kepala monyet.
Ini mungkin kali pertama Daga melihat **** dan monyet saling bercakap-cakap.
“makanannya mana?” dia dengan ekor monyet bertanya.
“masih di dapur, biar aku ambil,” ujar anak dengan kepala yang mengeluarkan kecoak dengan binatang-binatang kecil lainnya, lalat beterbangan di kepalanya. Daga menatap jijik kepala anak itu, Daga dapat membayangkan seberapa kotornya makanannya nanti.
Daga semakin heran ketika melihat Papou yang menatap anak-anak itu dengan mata berbinar seperti kagum bukannya jijik melihat itu semua.
“Lo kenapa Pou?”
“mereka itu lucu-lucu banget Kak, pengen bawah pulang satu.” Daga langsung menyentil kepala Papou.
“Lo sehat?” tanya Daga seperti orang tidak bersalah.
“mata lo rusak gak?” Daga kembali bertanya dengan wajah yang sudah merah padam menahan amarah. Jika bukan karena ajakan dari Papou mereka tidak akan masuk dan terjebak dalam rumah ini.
“Maaf yah, saya lama.” Ucap wanita tadi dengan ramah.
“Iya gak apa-apa,” ucap Papou dengan semangat.
“Biar saya bantu menyiapkan makanannya,” ujar Papou sambil berdiri dari tempat duduknya.
“Kamu duduk saja dulu, kalian itu adalah tamu dan tamu adalah raja, jadi kalian akan kami perlakukan seperti raja.”
Daga jadi heran sendiri, sejak kapan Papou punya sikap seramah ini. Ke mana perginya kata-kata sarkasme dan sifat yang tidak mudah percaya pada orang lain.
“Sadar Pou, kita lagi di sarang hantu.” Daga benar-benar geram di sini.
__ADS_1
Papou meletakan jari telunjuknya di bibir Daga, mengisyaratkan untuk diam, “Sstt.”
“kita ikuti aja jalan mainnya, maka kita akan selamat. Ingatkan kata-kata Kak Nana, sebelum kita pergi memutuskan untuk melakukan perjalanan ini.” Daga hanya mengangguk.