
Papou memegang erat tangan Daga, ia benar-benar takut sekarang tempat ini jauh lebih gelap di bandingkan dengan lorong tadi.
Daga merasakan ada aura lain di sini, Daga mengeratkan pegangan tangan Papou. Jangan sampai Papou hilang itu akan menambah masalah.
“Ada apa Kak?” Papou merasa ada yang tidak beres, Papou dapat merasakan tangan Daga yang berubah menjadi dingin.
“Apa pun yang terjadi jangan pernah lepasin tangan gue,” Papou hanya mengangguk, Papou tauh pasti akan ada hal buruk yang akan terjadi.
Papou langsung menjerit ketika lengan kanannya tergores perih sekali. Papou yakin tangannya pasti mengeluarkan dara. “Lo kenapa?”
“Tangan aku kayak ada yang menggores, perih banget kak.” Papou ingin sekali mengusap lengannya yang terluka tapi tangan kirinya menggenggam erat tangan Daga, apa pun yang terjadi Papou tidak boleh melepaskan pegangannya pada Daga.
“Sakit banget yah?” telinga Daga sedang waswas sekarang, Daga merasakan aura kebencian yang sangat kuat, menyedihkan sekali meninggal dengan membawa kebencian.
Papou merasakan tangannya seperti mati rasa, tangan kanannya sudah tidak merasakan apa pun. Papou tidak berani untuk memberi tauh itu kepada Daga, genggaman tangan Daga yang semakin dingin sudah cukup memberitahu pada Papou apa yang tengah di rasakan oleh.
“Rasakan apa yang bisa kalian rasakan.”
Kalimat petunjuk itu terus Daga ulang-ulang, tapi berpikir dalam tekanan seperti ini sulit.
Daga mencoba untuk memejamkan matanya, Daga membiarkan aura kebencian itu memasuk tubuhnya, Daga ingin tau kenapa dia bisa sebenci ini. Apakahh nanti jika Papou meninggal juga akan membawah kebencian sehebat ini.
~SF.L~
Hanna?
Anak dengan bola mata hijau itu adalah Hanna, Daga tidak salah lagi. Setauh Daga hanya 2% penduduk dunia dengan bola mata hijau.
Gadis kecil itu berlari ke sana kemarinya dengan asik, seorang wanita paru bayah sibuk mengejarnya dengan piring yang berisi banyak makanan. Seperti tidak mengenal lela Hanna terus berlari ke mari, Daga jadi heran dari mana datanganya aura kebencian itu, liat saja hidup Hanna terlihat menyenangkan tidak ada masalah.
Persepsi Daga langsung di patahkan oleh kehidupan Hanna yang telihat menyenangkan, “kenapa? Apakah aura kebencian tadi benar-benar berasal dari Hanna.
“Itu Hanna?” Papou menoleh ke arah Daga yang sibuk menatap Hanna.
Daga hanya mengangguk, “tangan lo masih sakit?”
Jangankan untuk merasakan rasa sakit bahkan tangan Papou sudah mati rasa, “sakit sih enggak, tapi uda mati rasa.”
Mendengar ucapan Papou yang terdengar acuh dan tidak peduli, seakan semua itu tidak masalah.
“Maksud lo apaan Pou?” Daga terlihat panik, Daga mencubit dengan kuat tangan Papou, tapi tidak ada reaksi apa pun dari Papou.
Terdapat luka goresan panjang namun tak dalam, terdapat darah yang telah mengering di tepi-tepi luka goresan itu, “selain tangan lo yang sakit, apa lagi yang sakit?” Daga benar-benar panik untuk saat ini.
“Kakak kok panik?”
Daga terdiam ketika mendengar pertanyaan Papou yang hanya akan di pertanyaan oleh orang-orang bodoh, “lo gak pernah yah dikhawatarkan orang lain.” Daga melihat dalam netra coklat Papou.
Papou menggeleng pelan. “pernah oma … Karin … dan bang Araya.”
Papou mengangkat kepalanya, berusaha untuk melihat dengan jelas wajah Daga, “mereka peduli karena ada tali darah yang mengikat, kata Karin karena kita keluarga. Jika kita bukan keluarga mungkin mereka gak akan peduli.”
Daga menghela nafas panjang, “gue kasih tauh sama lo di dunia ini gak ada yang namanya orang yang benar-benar baik, entah itu ayah ibu lo atau bahkan oma lo sekalipun, yang ada hanya orang yang berusaha untuk baik. Semua orang punya dua sisi kepribadian.”
“Mereka peduli, mereka sayang sama lo, cuman caranya aja yang beda. Tuhan sayang sama lo, tapi tuhan punya caranya. Tuhan ngelarang lo ini itu bukan buat ngerebut kebahagian dan kebebasan lo, tapi buat ngejaga lo dari hal-hal yang berbahaya .....
Jangan cuma terpaku sama satu hal tapi coba lihat dari sudut pandang lain.”
Mau dari sudut mana pun Papou melihatnya dunia memang tak pernah menganggapnya ada, tidak ada orang yang benar-benar khawatir dan menyayanginya.
__ADS_1
“Gue peduli sama lo tanpa ada embel-embel keluarga, kalau gue gak peduli gua gak bakalan mau ada di sini,” Papou terdiam, benarkah apa yang dikatakan oleh Daga.
“coba lihat tangan lo,” sedikit banyak Daga tauh apa yang harus dilakukan ketika tangan terluka.
“Buat apa coba, gak usah Kak, uda baikkan kok.”
Daga mendengus sebal, “lo gak tau kalau gue ini mahasiswa kedokteran, gue lolos lewat jalur SNMPTN, masih meragukan kepintaran gue.”
Ok, Papou mengalah, Papou menyerah membiarkan Daga melakukan sesuatu kepada tangannya.
Sudah hampir satu jam lebih Papou dan Daga mengamati Hanna tidak ada yang tejadi hanya kehidupan anak kecil pada normalnya berlari kesana kemari. Sampai Daga menyadari Hanna punya kelainan, Hanna terlihat seperti seorang psikopat.
Pertama-tama Hanna hanya melihat ikan-ikan yang menari-nari di dalam air, saling kejar-kejaran dalam petakan akuarium penuh warna itu. Mata hijau Hanna berbinar ketika melihat ikan itu, bukan rasa senang layaknya anak-anak biasa.
Tapi mata hijau itu berbinar dengan caranya sendiri, tangan Hanna langsung masuk ke dalam akuarium, Hanna mengeluarkan satu ikan.
Gadis kecil itu menggenggam erat ikan dengan erat mencekiknya membuat bola mata ikan itu terjadi di lantai bukannya ngerih Hanna malah tertawa cekikikan melakukan itu.
“Dia psikopat,” suara Papou terdengar bergetar, walaupun Papou terlahir dai keluarga yang kurang kasih sayang tapi tidak pernah sekalipun Papou melihat adegan kekerasan fisik di keluarganya.
“Dia bukan lagi manusia?” Daga dapat melihat ada yang berbeda dari Hanna, bukan karena mata hijaunya yang berbeda tapi separuh tubuhnya telah dikuasai mereka.
“Coba deh lo samperin?”
“Ngapain?”
“Dia kenal kita atau nggak.” Papou hanya mengangguk, kaki pendeknya membawah Papou ke dekat Hanna yang sibuk mencopot satu persatu sisik ikan.
“Hay Dek,” Sapa Papou seramah mungkin, sungguh itu jauh sekali dari kehidupannya sehari-hari.
Tak ayal kehadiran Papou membuat Hanna kaget, kenapa kakak ini bisa masuk ke dalam rumahnya, “Kakak siapa?”
Hanna mengernyit alisnya saling bertautan, Hanna mengetuk-ngetukan jari tulunjuknya ke dagu, “kakak bohong,” tuduh Hanna dengan cepat.
Papou di buat tidak bisa bicara, Papou adalah pembohong yang buruk, “beneran ….”
“Masuk lewat mana?”
“Lewat pintu lah.”
“Siapa yang bukain pintu?”
Ok, Papou tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Papou menyerah, apakah Papou harus mengarang sebuah cerita.
“Kalau aku cerita kamu bakalan percaya?”
Hanna terlihat penasaran layaknya anak kecil seumurannya yang selalu penasaran dengan apa pun.
Papou agak takut melihat ikan yang sudah sekarat ditangan Hanna, “mending ikannya dibuang duluh deh.”
“Gak mau,” Papou menghela nafas panjang Hanna tetaplah Hanna walau mereka entah berada di bagian mana kehidupan ini.
~SF.L~
“Lo teman Papou kan?” Ucap Raga masih berusaha untuk mengatur nafasnya yang saling memburu, Raga baru saja berlari dari lantai tiga.
Aluna hanya mengangguk keheranan, “bisa bicara sebentar?”
“Bisa kak, tapi gak sekarang, nanti aja jam istirahat.” Raga sedikit menggeser tubuhnya ke samping memberikan sedikit jalan untuk Aluna lewat.
__ADS_1
Raga tidak belajar dengan tenang, move on itu bukan masalah berat seharusnya bagi seorang Raharga Sukma Muktar tapi bukan tinggal seperti ini, Raga memang belum pernah di tinggal mati.
Sekarang Raga sudah menunggu Aluna di kantin, Raga mendapatkan nomor Aluna dari Nades, entah dari mana Nades mendapatkannya, Raga tidak peduli.
“Maaf Kak, aku telat.” Aluna duduk di depan Raga, berdekatan dengan Raga membuat Aluna merasa menjadi pusat perahatin.
“Gue mau nanya sesuatu, waktu itu gue liahat lo ngobrol sama Papou, gue mau tauh lo ngomongin apa?”
“Gak ngomongin apa-apa kak cuman Syelli bilang dia mau belajar lebih dekat sama Allah Swt, Syelli bilang hidupnya terlalu banyak masalah.”
“Ada yang lain?” Aluna mengangguk seingatnya tidak ada pembicaran lain.
“Gue mohon jangan ada yang di sembunyiin dar gue, gue belum yakin Papou benar-benar meninggal begitu juga dengan suara kembar gue, Daga.” Raut wajah Raga beubah menjadi sendu. Siapa yang tidak akan terluka ditinggal dua orang terkasih sekaligus.
Aluna menautkan jar-jari tangannya, Aluna terlihat gelisah Raga tauh penyebabnya tatapan dari orang-orang d sektar mereka ang membuat Aluna seperti itu.
“Santai aja, anggap mereka gak ada.”
“iya Kak,” Aluna tersenyum kikuk.
Setelah sedikit santai Aluna kembali berbicara, “Waktu itu Papou kesurupan Kak, di gudang sekolah.”
Raga membulatkan matanya tidak percaya entah kenapa Raga merasa ada hawa-hawa yang berbeda, bulu kuduk Raga menjadi merinding.
“Terus?” Raga harus berani melawan rasa takutnya, ia harus tauh apa yang terjadi dengan saudara kembarnya dan Papou.
“Pas aku datang aku liat Syelli kayak teriak-teriak kesakitan gitu, bahkan dia sampai muntah-muntah. Aku cuman bisa liat dari celah-celah pintu, aku gak tauh harus berbuat apa, aku cuma bisa bacain surat kursi dan gak beberapa lama kemudian Syelli langsung tergeletak lemas di lantai.”
Mendengar cerita dari Aluna semakin membuat Raga yakin, Daga dan Papou belum benar-benar meninggal mereka hanya sedang terdampar di tempat lain.
“Makasih infonya, Aluna.” Aluna mengangguk pelan dan tersenyum.
“Kalau gitu aku ke kelas dulu kak,” Aluna langsung bangkit dari tempat duduknya, Aluna tidak nyaman dengan tatapan orang-orang di dalam kantin ini. Memangnya kenapa, jika Aluna duduk satu meja Raga.
~SF.L~
Papou pernah bilang kalau dia bukan wanita alim yang taat dengan agama, tapi Papou tau batasan dalam kehidupan.
"Kakak siapa?" Hanna kembali bertanya, karena dari tadi Papou tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Kita kenalan dulu, aku Sye ... aku Papou."
Hanna memicingkan matanya, "kakak bohong, kok ngomongnya gelapan gitu?"
Hanna adalah anak yang cerdas, mungkin saja karena memiliki gen luar. "Nama lengkap Kakak Syellifau Lidia, tapi kamu manggilnya Kak Pou aja."
kali ini alis Hanna saling bertautan, "kok gak nyambung sih."
Papou harus mengulus dadanya beberapa kali, Papou tidak biasa berhadapan dengan anak kecil, tidak ada bocah di rumahnya. Jika boleh jujur Papou membenci anak kecil.
"Nama kamu siapa?" Papou mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku Hanna Kak," ucap Hanna dengan senyum mengembang di pipinya.
"Nama lengkapnya?"
Hanna mengeleng, Hanna tidak tau siapa nama lengkapnya, "Gak tau kak, Bi Santi manggil aku Non Hanna, apa Non Hanna nama lengkapku yah?"
sepintar apa pun anak kecil dia tetaplah anak kecil dengan keluguannya.
__ADS_1
"kakak mau cerita apa tadi?"