
Papou mengernyit, perlahan cahaya menusuk masuk dalam retina matanya.
“Papou ...” teriak Karin kegirangan ketika melihat mata Papou bergerak, hari ini Karin memutuskan untuk tidak masuk sekolah dengan alasan untuk menjaga Papou di rumah sakit. Oma langsung berdiri dari sofa berjalan dengan bantuan tongkat ke arah ranjang Papou.
Entah kenapa semenjak semalam kaki oma terasa sakit, jadi mau tidak mau akhirnya oma menggunakan tongkat. “Alhamdulillah …,” segaris senyum melengkung di wajah oma, wajah penuh garis kerutan itu kembali temukan cahayanya.
“Oma …” ucap Papou lirih, suaranya serak dan terdengar lemah. Oma benar-benar tak bisa membendung air matanya, ketika mendengar suara Papou, senang sekali rasanya. Oma langsung mengelus kepala Papou.
Lama Papou melihat tongkat yang digunakan oma, biasanya oma tak mau menggunakan tongkat jika kakinya tak benar-benar sakit. Lalu pandangannya melihat setiap sudut ruangan, ia jadi ingat ketika ada benda keras yang menghantam punggungnya sekarang Papou tau alasannya kenapa ia berada di sini.
Papou menyentuh pipi sebelah kirinya, terasa dingin seperti ada yang menyentuh. “Kenapa …? Pipih Papou sakit yah?” Tanya Karin heran yang melihat Papou menyentuh pipihnya dalam waktu yang cukup lama.
Tidak ada apa-apa, tapi kenapa seperti ada tangan yang mengelus pipihnya. “Kenapa Pou?” Oma juga ikut bertanya.
“Biar Karin panggil dokter dulu Oma.” Karin langsung berlari keluar.
~SF.L~
“Kenapa lo?” Nades mengejutkan Raga yang sibuk dengan pikirannya.
“Gue habis nabrak orang dan hampir bunuh dia.” Nades langsung membulatkan matanya seolah tidak percaya, tapi dari nada bicaranya Raga terdengar bercanda di telinga Nades. “Serius demi apa?”
“bodoh amat kalau lo gak percaya,” Raga menyibukkan dirinya dengan mencatat catatan biologi. “Sejak kapan lo rajin?” Nades menutup baku Raga dengan sengaja.
“Gue lagi gak mau bercanda, Des.” Nada suara Raga terdengar dingin, tapi Nades tak peduli itu. Melihat Raga marah merupakan suatu hiburan bagi Nades.
“Kok dari tadi gue gak liat Syellifau yah,” gumam Nades pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Raga.
“yah iyalah lo gak liat, orang dia lagi dirawat dirumah sakit.” Nades kembali membulatkan matanya tak percaya. “kok bisa?”
“Habis gue tabrak kemaren.” Nades menggeleng tak percaya. “Gue gak percaya.”
Raga menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya disandaran kursi mengambil posisi duduk senyaman mungkin, susah payah ia menahan emosinya. “Kalau gak percaya, coba lo cek ke ke kelasnya.” Raga kembali melanjutkan catatannya.
Nades langsung pergi ke ke kelas Papou, antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan temannya. Lagi-lagi Nades hanya bisa tercengang tadi kata teman sekelasnya, Papou tidak masuk, tapi tidak ada alasan yang di dapatkannya kenapa Papou tidak sekolah.
Nades langsung teringat akan Karin, gadis berwajah oval bersurai hitam legam yang sangat ceriah itu pasti tau kenapa Papou tidak masuk sekolah, merekakan saudra. Begitu yang ada dalam benak Nades.
Susah payah Nades mencari tau di mana kelas Karin, ternyata dia anak bahasa. Dan ternyata Karin juga tidak sekolah hari ini.
“Gimana?” Tanya Raga ketika Nades kembali duduk di sampingnya.
“Dia gak sekolah.” Ucap Nades dengan lesu, sementara Raga tersnyum penuh kemenangan.
“kenapa bisa lo nabrak dia, apa jangan-jangan karena lo kesal waktu dia ngelempar lo pakai sendok.” Nades mengarahkan telunjuknya ke arah wajah Raga dengan nada menuduh, Raga langsung menepis tangan itu. “Gue gak sebodoh itu.”
Seorang guru dengan tampang sangar masuk ke dalam kelas, yah walaupun dia seorang guru seni budaya pelajaran yang mudah bagi sebagian orang. Meskipun jiwa seni Raga cukup banyak, tapi entah kenapa ketika belajar dengan guru ini terasa membosankan dan membuat jantung bekerja dua kali lipat. Kata-kata legend dari guru ini adalah ‘ongok-ongok sepen kau’ entah bahasa dari daerah mana itu, yang jelas itu kata-kata itu keluar ketika ada murid yang tidak paham dengan pelajarannya.
Raga sangat bosan dengan pelajaran hari ini, semua orang terpaku dengan presentasi sang guru dan sesekali mencatat apa yang disampaikannya.
‘Syellifau Lidia’ secara tidak sadar Raga menulis nama itu di buku tulisnya, kenapa sekarang otaknya di penuhi oleh gadis itu.
Egonya terlalu tinggi untuk sekedar melihat keadaan Papou, seakan-akan hal itu seperti membuatnya menjadi manusia paling rendah sedunia. Raga menarik tirai pemisah antara ranjangnya dengan ranjang Daga.Tirai itu permintaan Daga. Bersiap untuk tidur, Raga memejamkan matanya, lagi-lagi wajah gadis itu yang melintas di benaknya.
“Arghhh” Raga menggeram frustrasi lalu melemparkan botol minum yang selalu tersedia di nakas, Raga itu sangat penakut, jika ia merasa haus di tengah malam maka lebih baik ia menahan haus dari pada harus pergi ke dapur untuk mengambil minum.
__ADS_1
“RAGA …” Teriak Bunda dari bawah, lagi-lagi Raga menggeram kesal. Kenapa makhluk yang berjenis kelamin perempuan itu sangat berisik maupun itu bundanya ataupun teman-teman disekolahnya sama saja.
“Iya Bunda ….”
“Temani bunda ke rumah sakit.”
Raga langsung bangun dari ranjangnya, setidaknya ia punya alasan kenapa harus kerumah sakit dengan alasannya adalah bunda . “iya Bun …
”
Raga langsung menyambar kunci mobil Daga yang terletak di atas meja, “kita naik Go-Car aja.” Raga langsung meletakan kunci itu kembali.
“Ngapain Bunda ngajak aku, kalau bukan buat jadi sopir.” Bunda hanya diam, ia tak mau berdebat dengan anaknya ini, hanya buang-buang tenaga.
"Bunda takut disopirin kamu."
~SF.L~
Raga langsung melangkah mundur, berjalan di belakang bunda pasalnya ia melihat seekor kucing tengah menjilat-jilat bulu hitamnya di bawah ranjang Papou. Bunda yang mengetahuinya langsung menarik tangan Raga untuk berjalan dahulu.
Raga terpaksa harus berjalan tenang demi nama baiknya di depan Papou dan Karin. Walupun waktu kejadian di bawah pohon waktu itu, ada kucing yang melompat dari atas pohon, Raga langsung menghindar. “Kakak takut kucing?” Tanya Karin ragu-ragu, terlihat jelas di mata Karin kalau laki-laki itu menghindar dari kucing yang berada di kaki ranjang Papou.
“Kucing?” Karin mengangguk.
“Mana?” Tanya Papou lagi.
Karin langsung mengarahkan telunjuk ke arah kucing yang tengah menjilati bulunya, Papou langsung terlonjak kaget. Kucing itu lagi, ada apa sebenarnya dengan kucing itu. Apakah kucing itu selamat ketika kecelakaan terjadi.
“Kenapa Pou?” Karin bingung kenapa Papou seterkejud itu dengan kucing itu.
“Harusnya kucing itu sudah meninggal, dia terlibat dalam kecelakaan malam itu.” Masih tergambar jelas dalam ingatan Papou, kucing itu juga ikut terpelanting bersamanya.
“Papou uda makan, ini bunda bawah makanan.” Ucap Bunda dengan sangat ramah, Papou hanya menggeleng pelan lalu membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Bunda hanya tersenyum, terlihat jelas raut wajah kecewa. “yah sudah … kalau Papou mau istirahat dulu, makanannya bunda letakan di meja ini.” Papou tak peduli dengan apa yang dikatakan wanita itu.
“Karin kalau mau juga boleh ambil kok.” Karin langsung tersenyum senang. “Wahh … terima kasih banyak tante, tau-tau aja kalau Karin lapar.” Karin langsung menyambar makanan yang di bawah oleh bunda Raga.
~SF.L~
Sudah tiga hari Papou tidak masuk sekolah, bosan sekali rasanya. Kali ini Papou di antar oleh Araya menggunakan mobil tua peninggalan sang kakek, deru mesin terdengar sedikit berisik. Aroma besi tua menggambarkan perjuangan dimasa lampau di hidung Araya itu adalah alasan kenapa ia tak mau membeli mobil baru dan memilih untuk memakai mobil ini.
Sesampainya di gerbang SMA Cendikia Papou langsung disambut dengan senyuman oleh sang satpam, tapi Papou tak peduli itu, ia terus melangkah masuk. Karin lah yang membalas senyum sang satpam, “gak boleh kaya gitu Puo,” Nasihat Karin tapi Papou tak peduli itu.
Ketika memasuki kelas, entah kenapa Papou merasa asing, ini bukan kelasnya. Bersikeras pun ia mengatakan kalau ini bukan kelasnya, semua fakta mengatakan kalau ini adalah kelas X MIPA 1. hanya tiga hari Papou di rumah sakit, kenapa ia sudah merasa asing dengan kelas ini.
Ketika Papou sedang asyik membaca buku, tiba-tiba Raga dan Nades datang menghampiri Papou. “Ada titipan dari Bunda , sebagai permintaan maaf katanya.” Lama Papou melihat paper bag itu, Papou tak tau isinya apa.
“Bilangin sama Bunda, aku gak mau terima ini.” Mendengar penolakan Papou yang begitu sarkasme membuat Raga tak bisa berkata-kata, emosinya mulai merambat naik. Entah kenapa setiap berurusan dengan Papou membuat emosinya naik.
“Gak boleh nolak rezeki,” Nades kembali menyodorkan Paper bag itu.
“Dibilang gak mau yah gak mau.” Papou langsung melemparkan paper bag itu ke wajah Raga, meluapkan semua rasa bencinya pada laki-laki ini.
Raga menggenggam kuat papar bag itu, membuatnya remuk. “Sifat lo sebelas dua belas sama binatang.” Raga langsung berlalu pergi.
Ketika jam pelajaran berlangsung entah kenapa kata-kata Raga yang mengatainya memiliki sifat yang sama dengan binatang terus terngiang dalam benak Papou, bukankah selama ini ia tak pernah peduli dengan kata-kata orang lain. Mendadak semunya berubah.
__ADS_1
~SF.L~
Sepulang sekolah Papou memberanikan diri untuk menemui Raga di kelasnya, Papou menunggu di samping kelas Raga, ia ingin bertanya sesuatu, bukan meminta maaf tapi tentang kecelakaan beberapa hari lalu, ia ingin memastikan bahwa kucing yang selalu mengikutinya selama ini adalah kucing yang sama dengan kecelakaan waktu itu.
Mereka duduk disalah satu toko roti, sebenarnya Papou kurang menyukai tempat ini tapi Raga memaksa jika tidak di sini ia tidak mau menjawab pertanyaan Papou.
“Pertama-tama lo harus minta maaf dulu sama Bunda soal kejadian tadi,” Papou melongoh, otaknya butuh waktu sepersekian detik untuk mencerna kata-kata itu. “Gak mau.” Tolak Papou sambil terus mengisi mulutnya dengan roti yang begitu empuk dilidah.
“Yah udah kalau lo gak mau, gue gak bakalan mau jawab pertanyaan lo.” Papou berdecak sebal, terpaksa untuk saat ini Papou harus menurunkan sedikit egonya.
“Iya-iya ….” Jawab Papou dengan nada malas.
“Sekarang ikut gue,” Raga langsung menarik tangan Papou untuk pergi, padahal Papou sedang menikmati rotinya. “kemana?” Raga tak menjawab pertanyaan Papou.
“Bunda …!”
Teriak Raga ketika sampai di rumahnya, Papou hanya menelan salivanya, apa yang akan dilakukan oleh Raga. Lagi-lagi Papo dibuat tercengang dengan kehadiran seseorang yang mirip dengan Raga, tapi dia terlihat lebih dewasa. Siapa dia? Apakah Raga anak kembar, tapi mengapa Papou tak pernah melihat orang ini di sekolah.
“Dia ini kembaran gue, cuma karena dia kelewat pintar sekarang dia udah kuliah sedangkan gue masih pakai seragam SMA.” Penjelasan Raga cukup untuk menjawab semua pertanyaan yang tadi mengusik otaknya.
“Daharga Sukma Muktar,” Daga menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Papou, ada sesuatu yang ingin ia tauh tentang anak ini, ada sesuatu yang berbeda dengan aura Papou mengapa begitu banyak makhluk immortal yang mengikutinya mulai dari vampire yang terus mengendus-ngendus di samping Papou dan … seekor binatang tak kasat mata yang terus mengiringi langkahnya.
“Syellifau,” jawab Papou singkat, tangan Daga ia biarkan saja menggantung di udara. Daga menarik kembali tangannya, mencoba meneliti setiap aura aneh yang berada di sekitar Papou.
Apa anak ini juga anak indigo, Daga bertanya-tanya dalam hati. Karena dalam penglihatannya Papou terlihat biasa saja dengan makhluk itu, seperti sudah biasa, tapi jika memang Papou Indigo harusnya Papou menyadari kehadiran semua makhluk itu, tapi mengapa Papou terlihat tidak peduli.
“Kenapa?” Tanya Papou ketika merasa bahwa Daga memperhatikannya terlalu berlebihan.
“Kamu ngerasa aneh gak?” Papou menggeleng, ia tidak merasa aneh sedikit pun malahan ia merasa aneh dengan orang yang sedang berbicara bersamanya ini.
“Wahh ada Papou.” Sambut Bunda yang baru turun dari lantai dua. Papou memaksakan garis senyum di wajah cubbynya. Raga tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Bunda berjalan ke arah Papou, sedangkan tatapan permusuhan dilemparkan Papapu untuk Raga.
“Katanya tadi ada yang mau minta maaf.” Ucap Raga dengan suara lantang, Papou langsung tertegun ternyata ini maksud Raga membawahnya ke rumah ini, untuk mempermainkannya. “Siapa?”
“Maaf tante … tadi Papou gak sengaja ngerusak paper bag, yang tante titipin ke Raga.” Bukannya marah bunda malah tersenyum, “itu isinya kue, kuenya masih ada kok di dapur, kamu duduk dulu biar bunda ambilin.” Raga tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Papou yang susah payah menahan kesal.
“Taraahhh …” ucap bunda dengan membawah piring berisi kue coklat yang terlihat sangat nikmat. Tapi sesegera mungkin rasanya ia ingin segera keluar dari tempat. Begitu menyesakkan rasanya berada di tempat ini.
Papou merasa semakin tidak nyaman dengan cara Daga menatapnya, tiba-tiba dia tersenyum dan tiba-tiba mengernyit seperti sedang berpikir berat. “Lo kenapa?” Raga juga merasa aneh dengan sikap Daga, jika boleh jujur ia merasa cemburu.
“Apanya yang kenapa?” Daga balik bertanya.
“Cara lo ngeliat Papou itu aneh.” Jujur Raga mewakilkan pertanyaan Papou.
“Kenapa? Lo cemburu.” Pernyataan Daga membuat Raga terlonjak kaget, Daga tau bahwa Raga menyukai Papou. Malam itu Raga pernah mengaku kalau dia menyukai Papou. Raga menyesali itu.
“Nggak.” Jawab Raga dengan tergagap. Sebuah ide jail muncul di benak Daga, lucu juga kalau dia mengerjai saudara kembarnya.
“Bunda … setuju gak, kalau Papou jadi pacar Daga,” Raga langsung membulatkan matanya tak percaya begitu juga dengan Papou, ingin sekali rasanya Raga menyumpal mulut Daga.
Bunda tersenyum, ia tauh Daga pasti sedang menjaili saudaranya. “Boleh dong, malahan Bunda senang.” Entah kenapa telinga Raga terasa panas mendengar ucapan bundanya, kenapa bundanya jadi ikut-ikutan menyebalkan seperti Daga.
Daga ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Raga jika ia terus memanas-manasi hati saudaranya itu yang memang agak mempunya sifat playboy.
“Sekarang Papou kelas X kan?” Papou yang ditanya bunda hanya mengangguk pasrah berada di dalam lingkungan yang membuatnya kehabisan energi. “Pas banget berarti nanti pas Papou tamat SMA, Daga tamat kuliah bisa langsung nikah.” Raga langsung tersendat kue yang dimakannya, entah kenapa hatinya tak bisa menerima ucapan bunda barusan. Sedangkan Daga tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
“Maaf Bunda …, kak …., saya pamit pulang duluh sudah sore, takut oma khawatir.” Tanpa menerima persetujuan dari sang tuan rumah, Papou langsung berdiri dari tempatnya.
“Biar aku anterin,” Daga langsung berlari kekamarnya untuk mengambil jaket niatnya Daga ingin mengantar Papou dengan motor, hal ini ia lakukan untuk membuat Raga merasa panas. Kalau suka bilang, jangan cuma diam. Kalau cinta perjuangin jangan cuma diliatin. Dasar BEGO.