Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
Kak Nana


__ADS_3

Papou sudah muak dengan teror dari Raga yang terus mendatanginya hanya untuk menanyakan progress pameran yang akan diadakan oleh club kesenian.


Saat ini Papou sedang berdiri depan kamar Araya, Papou ingin meminta bantuan abangnya itu. Tapi … di satu sisi ia merasa tidak bisa, dirinya berusaha menolak.


“Bang Araya,” Papou bukanlah Karin yang sesuka hatinya bisa masuk ke dalam kamar orang tanpa mengetuk pintu. Tidak ada jawaban dari Araya, sudah hampir lima kali Papou memanggil Araya.


“Apa?”


Dengan refleks Papou memegang dadanya yang berdegup kencang, entah dari mana Araya sudah di belakang Papou, itu membuat Papou kaget. Papou menghembuskan nafas lega, “huu …”


“Kenapa?” Araya kembali bertanya.


“Aku … aku … aku mau.”


Araya gemas sendiri dengan kalimat Papou yang tidak berujung ini. Araya tau, Papou pasti ingin meminta sesuatu, terkadang Araya heran sendiri, kenapa begitu sulit bagi Papou mengatakan isi hatinya.


“Apa?”


Papou menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, kenapa sulit sekali untuk mengatakan ia ingin membeli ponsel, agar Raga tidak terus-terusan mendatanginya ke rumah.


“Gak jadi deh Bang, Pou pergi dulu.”


Araya langsung memegang kera baju Papou bagian belakang, “bilang dulu, Papou mau apa, baru Abang lepas.” Jika tidak dipaksa dengan begini Papou tidak akan pernah mengatakannya.


“Pou mau beli hp,” cicit Papou hampir tidak terdengar, susah sekali rasanya untuk meminta. Araya tersenyum jail, “Apa? Gak kedengaran Pou.”


Papou menarik nafas panjang, “mau beli hp.” Dengan susah payah akhirnya kalimat itu meluncur dari bibir remaja itu.


“Masih gak kedengaran, mau beli apa?”


Jiwa jail Araya muncul di waktu yang tidak tempat.


“Pou mau … ke kamar dulu.” Papou menyerah, ia sudah tidak sanggup lagi menahan malunya di sini.


“Etss tunggu ….” Araya menahan pergelangan tangan adiknya itu.


“Mau belinya kapan?”


“Sekarang,” Papou menatap petakan keramik yang ia pijak berwarna hijau lumut.


“Yah uda sana siap-siap, abang tunggu di bawah.” Araya mengajak gemas rambut Papou, dengan senyum yang ditahan Papou berlari ke kamarnya.


Tak perlu waktu lama untuk berdandan, Papou hanya mengikat rambutnya lalu mengenakan baju kaos berwarna hitam, celana jins yang juga warna hitam di padukan dengan sepatu berwarna putih. 15 menit semua itu selesai.


“Cepat amat, Pou?”


Papou tidak menjawab pertanyaan Araya yang lebih terlihat seperti pernyataan baginya.


~SF.L~


Papou mengambil buku catatan kecilnya, ada sesuatu yang ingin ia cari ada nomor Daga yang ia salin pada buku itu, nomor yang pernah Daga tulis ditangannya.


Ketika pulang cuaca sedang buruk saat itu, gerimis. Dengan susah payah Papou menyembunyikan tangan yang ia kepal kuat-kuat ke dalam kantong roknya, agar nomor itu tidak hilang. Ternyata cinta bisa membuat seseorang berhati batu menjadi bucin dalam sekejap.


Raga uda gak boleh datang kerumah ini titik.


Sebelum tidur Papou terus mengulang kata-kata itu dalam benaknya, ia muak melihat keakraban oma dengan Raga. Cemburu, tentu saja tidak. Papou pastikan oma jauh lebih menyayanginya dibanding menyayangi anak orang itu.


~SF.L~


Papou mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit, bagaimana tidak sakit. Raga baru saja melempar kepala Papou dengan spidol, “lo mau gue pecat jadi sekretaris.”


Papou menggeram kesal, ia bersumpah tidak akan pernah bekerja pada bos yang memiliki sifat seperti Raga. Raga jelas berbeda dengan Daga.


“Pecat saja, aku malah bersyukur.”


Raga menahan emosinya, entah kenapa setiap berbicara dengan Papou membuat emosinya naik, tapi membuat wajah cewek itu merah padam menjadi sebuah hobi tersendiri.


“Pou tunggu!”


Ketika siap rapat Papou langsung melarikan diri, sebelum Raga memberhentikan menyetopnya. Tapi sudah terlambat, Raga memang sudah berniat merusak masa SMA Papou.


“Apa?”


“Nanti sore kita cek tempatnya, uda selesai atau belum.”


“Ajak Kak Nades aja.”


Raga cemburu, tentu saja. Dengan mudahnya Papou menambah embel-embel kakak di belakang nama Nades, sedangkan berbicara dengannya Papou selalu pakai emosi.


“Gue gak suka yah, lo panggil Nades pakai embel-embel kak.” Raga seperti anak kecil yang merajuk. “Gak usah ngatur-ngatur.”


Papou memutar bola matanya jengah, kenapa tuhan menciptakan makhluk semenyebalkan ini. Tidak sengaja bola mata Raga menangkap bayangan Daga yang berdiri dekat pos satpam berdiri sambil sesekali menatap jam tangannya.


“Sialan.” Raga langsung menarik tangan Papou keras, sakit tentu saja. Papou yakin, ini pasti akan meninggalkan ruam kemerahan di tangannya.


“Sakit Ga ….” Protes Papou berusaha mengimbangi langkah Raga yang panjang yang masih mencengkeram tangannya dengan keras.


“Diam.” Entah kenapa ucapan Raga tadi dingin, jujur saja Papou lebih menyukai Raga yang menyebalkan dan suka ngatur-ngatur dari pada Raga yang seperti ini. Pandangan mata setajam elang yang selalu berhasil membuat Papou diam.

__ADS_1


Daga terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh dua bocah SMA itu, tapi … Daga lebih fokus pada hantu rumah sakit yang berada di sekitar mereka, ada yang berbeda warna merah menyeruak banyak dari hantu itu.


Daga mengernyit, alis Daga mengerut hantu itu balas menatapnya. Selama ini Daga tak pernah punya urusan dengan makhluk-makhluk itu. Daga tak tau kapan pastinya ia memiliki kemampuan special ini.


Apa jangan-jangan hantu itu pelindung Papou, banyak makhluk itu yang berada di sekitar Papou tapi tidak ada yang benar-benar dekat, umumnya mereka berjarak 1 meter lebih.


Daga berusaha untuk tidak peduli ia segera masuk ke dalam mobilnya, membawah mobil hitam mengkilap itu menjauh dari perkerangan sekolah.


Melihat kepergian Daga, Raga bersorak gembira dalam hatinya. “Mampus lo.”


“Kita liat tempat pamerannya sekarang saja,” Papou hanya mengangguk pasrah, percuma saja ia melawan. Papou memang keras kepala, tapi untuk saat ini Papou sedang tidak mood untuk berdebat.


Mata coklat itu, Raga menyukainya, rambut panjang hitam itu di kuncir kuda. Raga suka berlama-lama menatap mata kecokelatan, apalagi ketika mata coklat itu. “Pou?”


Papou menoleh menatap sekilas ke sumber suara. “Mulai sekarang selain jadi sekretaris gue lo, jadi pacar gue.” Keputusan Raga sudah mutlak tidak bisa di ganggu gugat.


“Gak mau, dikasih hati minta jantung.”


“Pokoknya harus. Harusnya itu kalau gue minta hati lo, harusnya lo ngasih cinta gue gak butuh jantung lo.”


Raga tertawa geli, sejak kapan ia sebucin ini. Yang jelas jawabannya semenjak bertemu seseorang bernama Syellifau Lidia. Keras kepala, angku dan tentunya memiliki ego selangit.


“Pokoknya aku gak mau.”


“Harus.”


“Gak mau.”


“Harus. Titik, pokoknya harus, kalau gue bilang harus yah harus.”


Papou menggeram kesal, ia tidak sudi dirinya dijadikan Raga sebagai mainan seperti ini, dikira hatinya apa. Yah … sebenci apa pun Papou dengan hidupnya, tapi ia tetep bermimpi untuk mempunyai keluarga nantinya, tentunya tidak dengan orang seperti Raga.


~SF.L~


Kamu kok belum pulang?


Ga … kamu dimana?


Langsung pulang kalau pulang sekolah, jangan kelayapan!


Raga PULANG!!


10 menit lagi gak nyampe rumah kamu Bunda buang.


Raga mengelus dadanya sabar, dengan semudah itu bunda ingin membuang anaknya sendiri.


Gak ada apa Bun, ancaman yang lebih keren.


Tapi Raga lagi sama Papou, lagi persiapan acara sekolah.


Setelah selesai mengetikan balasan untuk bundanya, Raga langsung mematikan ponselnya, agar bunda tidak terus menghubunginya.


“Siapa?”


Tanpa sadar pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Papou, pandangannya tetap fokus pada jalanan, sambil sesekali menendang kerikil kecil di jalan. Yah … Papou lebih suka berjalan kaki dari pada harus naik kendaraan.


“Ciee cemburu, aku gak bakalan selingku kok. Itu tadi ada chat dari bunda.”


Rasanya Papou ingin memuntahkan seluruh isi perutnya mendengar kata aku yang digunakan Raga. “Gak usah sok manis.”


“Gak ada larangan kan buat bersikap manis sama pacar sendiri.”


“Oma selalu mengajari gue buat gak kasar sama orang lain, selama ini gue salalu nahan diri buat diam, tapi kali ini gue gak bakalan diam.”


“Bisa ngomong pakai kata ‘gue’ juga ternyata.” Raga tersenyum miring, seperti meremehkan Papou.


“Tapi gue lebih suka kalau lo ngomong kayak biasa aja, gue suka.”


“peduli amat.” Papou mempercepat langkahnya, berada di dekat Raga tidak baik bagi kesehatannya, karena berada dalam radius yang dapat di jangkau oleh pria jangkung ini membuat emosinya selalu berada di atas rata-rata.


“Cewek pendek kalau marah lucu yah.”


Papou menendang tulang kering Raga dengan ujung sepatunya yang keras, biarkan saja dia kesakitan. Papou tidak peduli.


Untuk


“Kak Pao jahat, aku gak suka.”


Kenapa tiba-tiba suara Hanna melintas dalam kepalanya, Papou mematung di tempat. Papou sibuk melihat ke kiri dan kanan tapi tidak ada sosok yang dicarinya, dengan cepat Papou menggeleng kepalanya. “Kenapa Pou, ngaku lo lagi pikiran apa?”


Raga menusuk-nusuk pipi Papou, yang langsung dihempas oleh Papou. “Jangan berani sentuh gue.”


Semakin Papou marah, entah kenapa Raga semakin menyukainya, wanita ini semakin terlihat lucu dan sedikit imut di matanya.


“Malam ini kencan yuk.”


“Kencan aja sana sama siapa yang mau sama lo.” Papou sengaja menekankan kata-katanya pada kata ‘Lo’ ia sudah muak dengan manusia satu ini.


“Tapi gue maunya sama lo.”

__ADS_1


“Urus aja hidup lu Raga, gak usah ganggu-ganggu gue.”


Nada Papou terdengar frustrasi, tapi seketika ada ide gila yang melintas di benak Papou.


“Ada syaratnya tapi …”


“Apa?” mata Raga penuh binar, manik matanya bercahaya.


“Jam 8 datang saja ke rumah aku.”


~SF.L~


Dengan penampilan paling ok Raga datang ke rumah Papou, huu … ada sedikit rasa gugup, ia tidak peduli dengan syarat apa yang akan diberikan oleh Papou yang jelas saat ini hatinya sangat senang sekali.


“Malam Oma mertua,” sapa Raga dengan ramah sambil menyalami tangan wanita tua itu.


“Oma makin hari makin cantik aja.”


“kamu bisa aja, dasar anak mudah.”


“Papounya ada Oma?” Setelah selesai basa-basinya, Raga langsung menanyakan keberadaan Papou.


“Ada, mau ke mana kalian?”


“Mau malam jumatan Oma,” jawab Raga terkekeh, yah … karena ini memang malam Jumat.


“Orang itu malam mingguan bukan malam jumatan.”


“Kita bikin terobosan baru oma.”


Oma hanya tersenyum, Raga adalah teman pertama Papou yang datang ke rumah, oma kira Papou tidak akan memiliki teman, yah walaupun memiliki paras yang cantik tapi sikapnya membuat orang enggan untuk bersahabat.


“Tunggu sebentar biar oma panggil dulu.”


~SF.L~


Rusak sudah rencana yang susah payah dibuat oleh Raga. Papou benar-benar kesal malam ini.


“Lo disogok pakai apa sama Papou?”


“Gak disogok pakai apa-apa.” Cuma ditraktir sebulan penuh.


Raga menatap Karin penuh selidik, “Bohong.”


Yah … Papou menyuruh Karin untuk pergi bersama Raga, tentu saja Karin akan pergi dengan senang hati dengan diiming-imingi makanan gratis.


“Lo suka yah sama Papou?” kini giliran Karin yang penuh selidik.


“Gak juga sih,” terlalu gengsi untuk mengakui perasaan, Raga berdecak sebal lalu mengeluarkan ponselnya, mencari kontak Nades.


“Lo lagi ada acara gak malam ini?”


Asal kalian tau, Nades itu seperti anak gadis oleh mamanya yang susah sekali untuk keluar malam, pulang sekolah yah dikamar doang. Namun semenjak SMA dan mengenal yang namanya Raga, jiwa berandal Nades sedikit muncul ke permukaan.


“Kenapa?”


“Cepetan kesini, ke jalan patimura.”


~SF.L~


Pagi ini rasanya badan Papou sakit semua, badannya menggeliat tulang-tulangnya terasa remuk, Papou merasakan suhu badannya agak panas. Serba salah jadinya pakai selimut kepanasan, gak pakai selimut kedinginan.


Ketika Papou ingin bangkit dari ranjang, kepalanya pusing sekali. Papou kembali membaringkan tubuhnya.


Papou melirik jam di atas nakasnya, sudah jam setengah tujuh tapi kenapa dari tadi oma tidak berteriak untuk membangunkannya. “Oma ke mana?”


Ada hubungan batin yang kuat antara Papou dengan oma, biasanya jika wanita itu sedang tidak sehat maka Papou juga akan ikut merasakannya.


Dengan susah payah Papou mencari oma, menahan sakit dikepalanya. “Oma mana Rin?”


“Oma pergi sama Bang Araya, kak Nana meninggal,” ada raut wajah kecewa di wajah Karin, wanita itu mudah sekali untuk iba hanya satu ketakutan Papou, Karin akan dimanfaatkan oleh orang lain karena kebaikannya.


“Owh …” Papou tidak peduli, bahkan ia bersyukur akhirnya kakaknya itu meninggal. “Selamat tinggal, kakak Puo tercinta.” Ada nada mengejek dalam nada bicaranya, hari ini rencananya Papou ingin bolos sekolah, bukan karena malas tapi … karena kepalanya yang memang terasa sakit.


“Rin … aku pusing, hari ini aku gak masuk sekolah.”


Bukan Karin namanya jika semua tidak dilakukan secara berlebihan. “Papou sakit? Sakit apa? Pou uda makan obat? Yah udah hari ini aku juga gak masuk sekolah, mau jaga Pou soalnya kan gak ada oma.”


Papou menghela nafas berat, merepotkan itulah satu kata yang bisa menggambarkan Karin dalam hidupnya. “Gak usah Rin, aku baik-baik aja kok, cuma lagi pusing aja kayaknya masuk angin deh soalnya malam tadi aku lupa mati in AC sama kipas anginnya.” Itu hanya alibi Papou.


“Yah uda Papou istirahat aja dulu dikamar, biar aku bawa in makanan.” Tapi baru beberapa langkah, Karin memutar badannya, “ehh istirahatnya dikamar aku aja, dikamar Papou kan airnya lagi mati nanti kalau mau ke kamar mandi kan jadinya repot, harus jalan jauh.”


Papou hanya menurut saja, ia tidak mau terlibat debat dengan Karin, tapi memang benar apa yang dikatakan oleh Karin, rasa-rasanya perutnya ingin muntah, akan repot jadinya jika ia harus berlari dari kamarnya ke kamar tamu atau kamar Karin yang terdekat, untuk memuntahkan isi perutnya.


“Kak Nana ….”


Entah kenapa sosok itu tiba-tiba melintas dalam benak Papou. “Gak nyangka aku Kak, akhirnya kamu meninggal juga, udah capek ngabisin uang mama papa.” Papou tertawa miris diakhir kalimatnya, lalu entah kenapa air matanya keluar begitu saja ada rintihan pilu diakhir tawanya.


“Kenapa Kakak gak ngajak aku, aku sakit … aku sakit gara-gara Kakak, setelah kakak lelah kakak ninggalin aku sendiri.”

__ADS_1


Papou menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya berusaha meredam tangisnya, walaupun ia tidak punya kenangan manis bersama kakaknya itu, tapi tetap saja ada sebagian dari hati Papou yang merasakan duka atas kepergian kakaknya itu.


“Aku benci sama kak …” ucap Papou disellah tangisnya.


__ADS_2