Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
mimpi.


__ADS_3

Beberapa kali Raga berusaha untuk menangkap cahaya dari luar, tapi kenapa hanya gelap yang bisa ia lihat, dadanya terasa sesak, kenapa ruangan ini seakan mengapitnya, tidak adakah oksigen di sini?


“Pou …”


Tidak salah lagi, wanita yang duduk disudut ruang gelap dengan baju rumah sakit itu adalah Papou. Daga mencoba mendekat, kembali memanggil nama itu. Tapi kenapa jarak yang terbentang antara dia dan Papou tidak berkurang, malahan terasa semakin jauh.


Gadis itu mengangkat kepalanya, pandangannya mengarah lurus ke arah Daga yang berdiri mematung. Tangan gadis itu menggantung diudara, memperlihatkan tangan penuh luka.


“Liana, panggil Nana saja.” Ucap gadis diujung ruang gelap itu dengan suara dingin. Kini kedua tangan gadis itu mengangkat ke udara. Daga tidak bersuara, ia hanya diam menyaksikan apa yang akan terjadi.


Tiba-tiba ada sosok bayangan yang muncul, gadis kecil dengan netra coklat mengkilap menggunakan seragam SD dan ditangannya ada sepatu yang ia jinjing. “Dia adik saya.”


Ah .. manis sekali anak kecil itu, tapi kenapa Daga merasa familier dengan seseorang. “Kenapa memangnya?”


Tidak ada suara, gadis dengan pakaian rumah sakit itu hanya diam begitu pun dengan Daga ia menunggu jawaban, entah kenapa dada Daga semakin sesak.


“Bunuh dia.”


Kata-katanya terdengar dingin, lagi-lagi Daga hanya diam ia tidak tahu harus bicara apa, mengenalnya pun Daga tidak.


“Saya … tidak akan rela jika dia meninggal karena dicelakai oleh mereka-mereka.”


Daga mengerti maksud dari kata ‘mereka-mereka’ adalah para makhluk tak kasat mata.


“Bantu saya.” Tangan hantu itu belum juga turun, entah apa maksudnya. “Lo lagi nunggu apa sih.” Daga membatin, Daga risi sendiri melihat tangan gadis itu mengangkat, memperlihatkan tangannya yang penuh dengan goresan luka yang sudah mengering.


“Maaf saya tidak mau membunuh.”


Sorot mata itu langsung berubah menjadi merah padam, Daga meneguk salivanya ketika melihat perubahan wajah gadis itu. “Jaga dia.”


satu tangan gadis itu turun dan berubah warna menjadi hitam legam lambat laun tangan itu menghilang.


“Maaf … sekarang kamu bisa berkomunikasi dengan kami.”


Cahaya terang langsung menerobos masuk. Daga terbangun dari tidurnya, “mimpi.”


“Lo kenapa sih?” walaupun sedang perang dingin dengan saudara kembaranya itu Raga tetap kawatir melihat wajah Daga yang pucat.


“Gue mimpi buruk.” Daga mengusap wajahnya dengan kasar, entah kenapa ia kawatir dengan Papou. Apakah ini ada kaitannya dengan Papou.


“Owh … gak usah dipirkan, mimpi itu cuma bunga tidur.”


Walaupun sudah pisah ranjang dengan Daga ritual wajib Raga sebelum berangkat sekolah adalah mengunjungi mantan kamarnya. Yang sekarang menjadi kamar Daga.


~SF.L~


Daga benar-benar tidak bisa tenang hari ini, ia relah bolos kuliah untuk menenangkan pikirannya setelah selesai sarapan Daga kembali ke kamarnya, masuk dalam selimut dan berusaha untuk tidur.


Daga merutuki kenapa Papou tidak mempunyai ponsel, rasanya sekarang ia ingin menanyakan kabar gadis bersurai hitam legam itu. Mungkin membelikan Papou ponsel bisa ia pertimbangkan nantinya.


Setelah melakukan perang batin, akhirnya Daga sampai di sekolah Papou SMA Cendikia, ia tidak peduli dengan hubungannya yang akan kembali merenggang dengan Raga.


“Pak, bisa tolong panggilkan Syellifau Lidia?”


“Kelas berapa yah, Mas?”


Daga menghela nafas kasar, ia tidak tahu Papou itu kelas apa, lagi pula ia bukan SMA ini jadi dia tidak tahu apa-apa mengenai SMA Cendikia.


“Itu masalahnya Pak, saya tidak tahu. Dia itu kelas 10.”


“Mas ini siapanya yah?”


“Saya Kakaknya, Pak. Saya ada perlu dengan dia?” Untung saja bakat berbohong Daga muncul di waktu yang tepat.


“Urusan apa?”


Sabar Daga, sabar. Kenapa satpam ini sekepo ini, “ada urusan pribadi Pak.”


Setelah berdebat cukup panjang akhirnya satpam itu mau memanggilkan Papou ke kelasnya, “Apa benar Mas ini kakaknya?” lagi-lagi satpam itu bertanya, setelah sempat pergi untuk mencari Papou.


“Iya Pak.”


“Adiknya tidak masuk sekolah kok gak tahu sih.”


~SF.L~


“Iya … hari ini kakak aku meninggal, Kak Nana.”

__ADS_1


Sekarang Daga hampir menemukan benang merah dari mimpinya tadi pagi, jadi yang mendatanginya tadi pagi adalah kakak Papou,.


“Sekarang ikut gue, kita ke Jakarta.”


“Ngapain?” jujur saja Papou tidak peduli dengan kakaknya itu, malahan Papou bersyukur kakaknya itu berhenti menghabiskan uang papa mama untuk biaya pengobatannya.


“Ikut gue, kalau lo mau tahu siapa Hanna dan hantu rumah sakit itu.”


~SF.L~


“Kenapa tiba-tiba kamu mau ke pemakaman Kak Nana?” tentu saja Karin heran, sejak kapan sepupunya ini peduli akan kakaknya itu.


“Gak ada salahnya buat terakhir kali ngeliat wajah anak kesayangan mama.” Papou memejamkan matanya, entah kenapa memori masa kecilnya tiba-tiba muncul.


“selamat yah … anak Papa.”


Masih ditempat yang sama, disudut ruangan itu Papou tersenyum getir, menahan air mata yang memberontak keluar.


“Sini Puo, liat kakak kamu menang debat bahasa inggris, pintar yah Nana.”Papou hanya pasrah ketika mamanya memanggil dan mengelus-ngelus kepala putri kebanggaan mereka.


Papou menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya, sebuah gambar yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari untuk menyambut kepulangan mama dan kakaknya dari Bali. Debat yang dimenangkan kakaknya itu diadakan di Bali.


“Iya Ma …” Papou memaksakan garis senyum di wajahnya, tapi hanya sebentar.


“Kamu kapan bisa seperti Kak Nana, menang lomba inilah lomba itulah. Aduh … bangga banget mama sama kamu Na.” hati Papou serasa diremas-remas, bukannya ia tidak senang dengan kemenangan kakaknya itu, tapi ada rasa iri dihatinya karena mama dan papa selalu memuja Nana.


Papou hanya bisa diam, sakit sekali rasanya. Sekuat apa pun ia berusaha, Papou tidak akan pernah bisa menyemai langkah kakaknya itu. Nana terlalu jauh berada di depan Papou.


“Semua orang tepuk tangan tahu Pa, waktu Nana selesai bicara.”


“Nanti kalau Pou uda besar kayak Kak Nana, Pou akan menang debat bahasa inggris juga mah.” Kata-kata itu diucapkan Papou dengan penuh pengharapan.


“Mana bisa kamu kayak Kak Nana … Pou. Ngomong pakai bahasa Indonesia saja masih berlepotan.” Rasanya itu seperti ketika kamu terjatuh dan berusaha untuk berdiri sendiri dan tiba-tiba ada yang menendangmu dari belakang. Sakit sekali.


“Jangan salah-salah Ma, Papou ini nantinya akan jadi seniman terkenal.” Mendengar ucapan papanya Papou kembali tersenyum.


“seniman itu hidupnya gak jelas … yang penting itu sekarang kecerdasan dan kemampuan berbicara, yah … seperti Nana ini nantinya yang akan jadi orang sukses.”


Tanpa disadarinya, ada air mata yang jatuh hal itu tidak luput dari penglihatan Daga yang sedang menyetir. Yap … untuk saat ini ia sedang menjadi sopir untuk Papou dan Karin yang duduk di jok belakang.


“Butuh tisu gak?” tawar Daga dengan Ragu-ragu.


Karin belum pernah ke rumah Papou sebelumnya, entah kenapa ia merasa deg-degan sekaligus penasaran dengan kehidupan Papou di Jakarta.


“Rin …”


“Yah … Kak?”


“Nanti saja deh.” Daga membatalkan niatnya untuk bertanya, ia harus bicara empat mata dengan Karin.


Kak Nana kok bisa pintar?


Seorang gadis kecil dengan netra coklat menatap kakaknya itu dengan jawaban penuh harap. “Kakak juga gak tahu dek, mungkin uda takdir tuhan.” Gadis kecil itu menghela nafas kecewa, bukan jawaban itu yang ingin dia dengar.


“Kamu kenapa jago ngelukis?” Sang kakak kembali bertanya, jujur ia sangat menyangi adiknya.


“Pou gak tau.” Papou sedikit berpikir, tapi sungguh ia tidak menemukan jawaban yang tepat.


Nana menekan-nekan pipi cabby adiknya itu, “nah itu dia jawabannya Dek.”


Tapi sayang otak kecilnya tidak mampu mencerna ucapan kakaknya itu. “Pao sayang Kak Nana.”


Itu jauh sebelum Papou masuk ke dalam dunia pendidikan, tapi … entah kenapa semakin lama kakaknya semakin jahat padanya mulai tidak mengakuinya di sekolah sebagai adik , membanding-bandingkan nilainya.


Sampai …


Nana masuk rumah sakit dan menjadikan rumah sakit sebagai rumah kedua membuat sorot kebencian semakin terpancar dari mata kakaknya itu. Bukannya mau mengambil keuntungan dari musibah yang menimpa kakaknya, tapi … Papou berharap mama dan papanya lebih memberikan kasih sayang pada dirinya.


Tapi apa? Papou malah diasingkan ke rumah neneknya.


~SF.L~


Papou menatap malas pada mamanya yang menangis kejar-kejar di sofa, drama sekali. “Uda deh Ma, gak usah kayak nasib orang-orang disinetron kejar tayang.” Papou mendengus sebal.


Daga hanya terdiam, seberani itukah Papou pada mamanya, Daga tidak masalah apa yang sedang terjadi di dalam keluarga ini. Satu hal yang bisa dia tangkap Papou membenci orang tuanya.


Sesampainya Daga, Karin dan Papou di Jakarta mayat Nana sudah dimakamkan. Daga terpaku melihat rumah mewah ini, banyak sekali foto-foto berjejer di sepanjang dinding. Tapi kenapa tidak ada foto yang memperlihatkan Papou dan Nana dalam satu bingkai foto yang sama.

__ADS_1


“Kok …” belum selesai Daga bertanya, Papou memotongnya. “Kak Nana itu anak kesayangan, anak membanggakan dia berprestasi sedangkan aku enggak, makanya gak pernah diajak foto bareng. Yah gak Pa?” Papou mengucapkannya dengan enteng, menyembunyikan sakit dihatinya. Hendra menatap anak sulungnya dengan binar kemarahan. Tapi bersusah payah ia menahan agar tidak meledak saat ini.


Lagi-lagi Daga hanya terdiam, ia belum pernah bertengkar dengan bunda ataupun ayahnya, bunda dan ayahnya juga tidak membandingkan dirinya dengan Raga. Yah … walaupun dibandingkan Daga jauh lebih unggul.


Papa Papou menatap anaknya itu dengan tatapan penuh kemarahan, “Papao sayang … mau yah tinggal sama mama papa lagi?” Mayang menyeka air matanya.


“Maaf ma … aku lebih nyaman tinggal sama oma.” Sedikit pun dalam hatinya ia tidak merasa kasihan dengan mamanya yang sangat merasa kehilangan, ego dan hatinya terlalu dingin dan terluka untuk bisa kembali membuka hatinya untuk kedua orang tuanya.


“Aku mau ke makam kakak dulu Ma ….” Papou bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan Daga, kakaknya di makamkan di belakang rumahnya.


Hantu rumah sakit itu lagi, dia berdiri di depan makam yang itu. Hantu itu menatap Daga dengan mata merahnya. “Hai ….”


Daga tertegun, apakah hantu tadi sedang menyapanya selama ini Daga tidak bisa berkomunikasi dengan mereka Daga hanya bisa merasakan kehadirannya dan melihat kamu.


“Kamu …” tangannya menunjuk Daga, ada darah yang menetes dari tangan itu.


“Bunuh dia.” Kini telunjuk hantu itu mengarah pada Papou, Papou tidak mengetahui itu.


Daga tertegun, apa ini yang dimaksud oleh seseorang yang menemuinya dimimpi tadi pagi. ‘Bunuh atau lindungi’ lebih baik Daga memilih pilihan kedua untuk melindungi Papou.


Syellifau Lidia, hanya seorang gadis lemah yang terlihat sangat kuat dibalik sifat cuek, sarkasme dan kata-kata yang menusuk.


Hanya satu pertanyaan Papou, kenapa hantu itu tidak pernah mendekati Papou, kenapa hantu itu selalu ada dalam jarak yang cukup jauh. “Bunuh saja sendiri.” Lida Daga rasanya gatal ingin menantang hantu itu.


“Ngomong sama siapa kak?” Papou memutar kepalanya ke kiri dan kanan tidak ada satu orang pun.


“Sama hantu.” Jawaban Daga seakan tak peduli, Papou sendiri sudah tahu akan kemampuan khusus Daga.


Papou menatap batu nisan kakaknya, tenggorokan terasa kering matanya mulai berkaca-kaca. Kenapa dia semudah ini menangis hanya dengan melihat tanah merah dan bunga segar yang bertaburan di sana, padahal itu adalah salah satu orang yang sangat-sangat-sangat dia benci.


Daga mengusap-usap pelan pundak Papou, “nangis aja Pou, keluarin semuanya … jangan ditahan.”


“Apaan sih,” Papou menghempas tangan Daga dari pundaknya, Papou kembali pada mode sok tegarnya.


“Siapa juga yang nangis.”


“Kelihatan kali Pou, mata lo uda merah.” Daga membatin, ia tidak berani bicara langsung. “Iyain aja, terserah Nyai aja.”


Papou merasa enggan untuk pergi, tatapannya kosong ada luka dalam hatinya. Hantu rumah sakit itu telah pergi. Daga tak melihatnya lagi.


“Apa hubungannya kematian Kak Nana sama Hanna?”


“Nanti saja Pou, kita cari tempat yang enak buat ngobrol.”


Papou hanya mengikut saja, hatinya sedang kacau satu persatu kenangan masa lalunya datang untuk menamparnya. “Seandainya lo dikasih pilhan saat ini tetap hidup atau meninggal.”


“Aku lebih memilih meninggal, tapi syaratnya jangan sakit aja,” jawab Papou asal seolah itu meninggal bukanlah hal yang menakutkan.


“Apa sih hal yang paling lo takutin didunia?”


Papou menghela nafas berat, kenapa pertanyaan Daga seolah menyeretnya kembali ke masa lalu.


“Hal pertama yang aku takutin kehilangan kepercayaan dari mama papa aku udah kehilangan itu dan rasanya sakit banget. Kakak tau sakitnya ketika mereka tertawa bersama-sama, Mama, Papa dan Kak Nana, sedangkan aku hanya diam ketika aku mulai bicara mereka diam. Merasa asing di keluarga sendiri. Rasanya gak enak banget” Papou tertawa garing, itu ia rasakan ketika liburan kemarin, demi memenuhi permintaan omanya Papou pergi berkunjung ke rumahnya sendiri.


“Ternyata rasanya itu gak sesakit yang aku bayangin,” Papou menangis, ia benar-benar menangis kenapa hatinya lemah sekali untuk saat ini.


“Hari ulang tahunku sama Kak Nana cuma berjarak 6 hari, kak Nana 23 September aku 29 Desember. Tapi apa yang aku dapat, waktu ulang tahun Kak Nana mama sibuk beli inilah beli itulah, tapi waktu ulang tahunku mereka sibuk sekali.” Papou berusaha menyeka air matanya yang tidak bisa diajak kerja sama.


“Kedua … aku takut kehilangan Oma,” untuk yang satu ini Papou benar-benar tidak siap, oma adalah segalanya dalam hidup remaja itu. “Aku sayang banget sama oma.”


Daga bisa merasakan apa yang diceritakan oleh Papou. Daga sangat bersyukur terlahir dari keluarga yang berkecukupan secara materi dan kasih sayang, bunda sangat menyayangi Daga dan Raga, bunda tidak pernah membeda-bedakan, bunda tidak pernah membanding-bandingkan.


“Bersyukur banget gue punya Bunda.” Ucap Daga tidak sadar akan ucapannya sendiri.


“Bunda itu … penyayang banget yah kak, aku iri liat keluarga kakak.” Kata-kata itu jujur di ucapkan oleh Papou, waktu pertama kali datang ke kediaman Daga Papou langsung disambut hangat oleh bunda, wanita itu …. Jika bisa memilih Papou ingin dilahirkan oleh wanita seperti Bunda.


“Lo mau gak, bunda jadi bunda lo juga?”


“Caranya?” walaupun disekolah Papou adalah murid yang cerdas, tapi karena sedang berada dalam mode berduka otaknya tidak bisa berfungsi dengan baik.


“Nikah duluh sama gue.”


Papou langsung menjewer telinga Daga yang jauh lebih tinggi darinya, “sakit Pou, lepasin dong Nyai, ntar kadar kegantengan gue berkurang lagi.”


“Kok lama-lama kakak mirip sama Raga.”


“Uda dari rahim kita sama-sama muluh, ya iya sama lah.”

__ADS_1


“Sama-sama ngeselin.”


__ADS_2