Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
'Dia'


__ADS_3

Papou menyesap kopi hitam pekatnya, pahitnya kopi adalah candu bagi remaja itu.


“Tadi pagi gue ketemu kakak lo, sebelum gue tau kalau dia meninggal.” Daga menghela nafas, meletakan sendok nasi gorengnya. “Dia minta gue bunuh lo.”


“Udah ketebak sih, Kak Nana kan benci banget sama aku, apalagi setelah aku masuk SD Kak Nana merasa tersaingi.”


Daga kesal sendiri dengan sifat sok tahu Papou, selalu mengambil kesimpulan dari apa yang ia lihat tidak mau melihat masalah dari persepsi lainnya. “Lo salah besar Pou.”


“Dia emang minta gue bunuh lo, karena dia gak relah kalau mereka yang sampai membunuh lo, katanya lagi kalau gue gak sanggup bunuh lo gue harus ngelindungin lo.”


Sejujurnya Papou tidak peduli mau ia mati ditangan siapa, toh jodoh, rezeki dan maut sudah ada yang ngatur. “Pertanyaan gue lo milih mati atau gue lindungin.” Daga tidak bisa mengambil keputusan ini sendiri, jika orang yang harus dia lindungi ingin mati, kenapa Daga harus repot-repot untuk melindunginya.


“Aku milih mati deh Kak, asal jangan sakit.” Daga menyentil kepala Papou. “Sakit Kak.”


“Ehhh … bego jangan dipelihara, yang namanya mati pasti sakit.”


Sebagai calon dokter muda tentu Daga tau soal bagaimana sakitnya kematian. “Lu di sekolah ngapain aja.”


Papou tidak menghiraukan pertanyaan Daga, tiba-tiba saja telinga berdengung , Papou menutup rapat kedua telinganya dan membenturkan kepalanya kepada meja makan yang terbuat dari jati. “Sakit …” jerit Papou tidak tertahan.


Daga panik, ia tidak tau apa yang terjadi, tiba-tiba saja raut wajah Papou memerah dia menutup kedua telinganya rapat dan membententurkan kepalnya ke meja makan.


“Bertahan aku mohon.”


Seperti ada yang berbisik di dalam telinganya disela-sela dengungan yang membuat kepalanya kian pusing. “Sakit …” Papou kembali berteriak.


Kenapa kata-kata bertahan terus berputar dalam otaknya, Daga menyadari ini bukan penyakit yang bisa ditemukan oleh canggihnya peralatan dunia medis, pasalnya Daga melihat bayangan hitam berputar-putar dikepala Papou. Seperti asap.


“Tenang Pou,” Daga berusaha untuk melepas tangan Papou yang membekap telinganya erat, “jangan sakiti diri lo sendiri, gue bilang berhenti Pou.” Daga geram sendiri dengan Papou yang terus menerus membenturkan kepalanya di meja, sampai membuat dahi Papou jadi lebam.


“Pou berhenti!” Daga membentak, sambil memegang kepala Papou yang terus dibenturkannya, “lo bisa terluka,” nada Daga terdengar melemah. Ia menarik gadis itu dalam pelukannya, tapi Papou terus memberontak, “berhenti gue mohon.”


Iris mata Papou berubah hijau memancarkan kilat kebencian, ke mana perginya netra coklat yang selalu Daga kagumi, ke mana indahnya mata bola itu. Papou kerasukan, Papou bukanlah Papaou untuk saat ini, Daga melepaskan pelukannya.


Papou melangkah mundur, merapatkan diri ke tembok. “Aku mau kamu lindungi dia, jangan turuti kemauannya.”


Daga berdiri mematung, otak cerdasnya masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Nana ….


Perasaan tadi Pagi, bola mata itu tidak berwarna hijau tapi coklat sama dengan milik Papou.


Hanna … apa dia Hanna. “Lindungi dia …” Papou yang sedang kerasukan itu terduduk lesu, memeluk lututnya sendiri dan memulai menangis. Daga tidak berani mendekat, ia tidak mau mengambil risiko lebih.


“Lindungi …


Bertahan …”


Papou terus meracau tidak jelas di sela isak tangisnya, “Aku gagal.” Papou yang sedang dikuasai makhluk lain itu berteriak frustrasi sambil menarik rambutnya dengan keras, beberapa helai rambut rontok dibuatnya.


“Siapa pun lo, tolong berhenti buat menyakiti fisik Papou.” Daga tidak tegah melihat dahi Papou yang sudah merah memar dan ditambah lagi rambut yang terus dicabutnya.


“Lo siapa?” Tanya Daga dengan ragu, ini pengalaman pertamanya terlibat pertengkaran dengan hantu.


“Aku …” hantu itu menunjuk dirinya sendiri, sedikit mengangkat kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak.


‘Dasar hantu sinting.’ Daga membatin.


“Aku …” dia kembali menarik rambut Papou, lagi-lagi helaian rambut bersurai hitam legam itu tercabut dari tempatnya.


“Maaf Pou,” Daga langsung menampar kuat Papou. “Sadar Pou, sadar.” Daga menampar Papou berulang kali, jejak tangannya tergambar jelas di pipi Papou. Daga tidak tau apa yang dilakukannya benar atau salah, yang jelas ia ingin segera hantu itu keluar dari tubuh Papou, ia ingin netra coklat Papou kembali bukan bola hijau yang ingin ia lihat.


Papou tergeletak, lagi-lagi Daga bingung apa yang harus diperbuatnya ini bukanlah rumahnya. Kenapa tidak ada yang datang mendengar keributan yang ditimbulkan oleh Daga dan Papou tidak adakah yang sadar.


Betapa hebatnya bunda, kucing jatuhin piring aja di dapur bisa kedengaran sampai kamar. Atau rumah ini kedap suara.


~SF.L~


Papou terbaring lemah dikamarnya, kepalanya terasa pusing ditambah lagi dengan pipinya yang terasa perih. Ketika ia terbangun tidak ada siapa-siapa. Kamar ini … kamar yang sangat ia hafal, masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan tidak ada yang berubah.


Jelas sekali tidak ada yang masuk dalam kamar ini, lihatlah lukisan-lukisannya sudah berdebu disudut sana. “Pou uda bangun?” Hendra tersenyum ke arah anak bungsunya itu, yang sekarang menjadi anak tunggul.

__ADS_1


Papou mencoba bangkit dari tempat tidurnya, “tidur aja sayang.” Papou menurut saja, ia juga tidak bisa bangkit dari ranjang.


“Kenapa Papa kemari?”


Papou tetaplah Papou dengan mulut sarkasnya. “Mau liat anak Papa.”


“Pantesan mau liat aku, anak papa kan tinggal aku doang.” Hendra tersenyum kecut, sebegitu hinakah dirinya, sampai anaknya sendiri membencinya.


“Papa kangen ditemin kamu ngopi-ngopi, papa kangen mainin gitar waktu kamu ngelukis, kamu kan setiap ngelukis selalu minta ditemin papa yang main gitar. Kamu ada-ada aja Pou, orang main gitar sambil nyanyi lah kamu minta dimainin gitar waktu ngelukis.”


Hendra mengingat-ingat kembali masa kecil putri bungsunya yang memiliki banyak kesamaan dengan dirinya, “sore ini kamu mau ketaman kota gak, kamu ngelukis Papa yang main gitar sambil kita ngopi-ngopi.” Entah kenapa Hendra begitu berharap Papou tidak menolak permintaannya.


“Kenapa Papa kangen masa kecil aku?”


“Karena Papa merindukanmu, Nak,” Hendra mengelus pelan kepala putri itu, penuh kasih sayang, namun sayang hati Papou telah membatu, sudah tidak bisa merasakan cinta.


“Kak Nana gak mau yah diajak ngopi-ngopi?”


Mendengar pertanyaan Papou yang lebih terlihat kearah pernyataan itu membuat dada Hendra seperti dihantam benda keras. Andaikan waktu bisa diulang, Hendra tidak akan pernah membiarkan putri kecilnya ini berdiri dikegelapan sendirian lagi. Mereka terlalu membeda-bedakan, mereka terlalu menyayangi Nana.


“Kak Nanakan sakit-sakitan, bisa cepat mati kalau minum kopi. Ehh udah mati yah dia?” Rasanya Hendra ingin menampar mulut Papou, tapi harus ia tahan ia tidak mau membuat hubungannya semakin renggang.


“Papa keluar aja, Pou mau lanjut tidur,” Hendra hanya menurut saja, Papou menenggelamkan kepalanya dalam selimut.


Ketika bunyi pintu terdengar tertutup, Papou mengeluarkan kepalanya dari selimut. “Padahal aku mau Papa tetap di sini?”


Harus Papou akui, jiwa seniman sudah mengalir didirinya dari sang Papa, tapi … untuk mengasah bakat dan kemampuanya, bukan sang papalah yang mengajarinya. Namanya Soleh, dia seorang seniman jalanan, melukis ditaman-taman kota. Semenjak tinggal bersama neneknya, Papou sudah tidak bertemu dengan pernah Soleh yang biasa ia panggil ayah.


Karena anaknya yang seorang pengamen memanggil Soleh dengan panggilan Ayah, Papou hanya ikut-ikutan, isteri Soleh berjualan minuman di taman kota. Taman kota adalah ladang rezeki bagi mereka.


“Sore ini aku ingin bertemu mereka,” Papou kembali menarik selimutnya menutup kepalanya sepenuhnya.


~SF.L~


Papou tidak betah lama-lama di sini, ditambah lagi dengan Daga yang tidak mau pulang ke Bandung tampanya.


Bunyi radio menemani perjalanan mereka. Sedikit hati Papou merasa berat untuk meninggalkan Jakarta, apalagi ia belum sempat bertemu Soleh sang guru lukisnya dia pria yang baik. Setiap balik dari Jakarta hatinya terasa sakit, sakit sekali rasanya salalu saja air matanya akan mudah jatuh mengingat sang ibukota. Lihat saja moodnya akan hancur minggu ini, hanya karena kunjungannya ke Jakarta.


Tentang apa pun aku mendengarkan


Jangan pernah kau merasa sendiri


Tengoklah aku yang tak pernah pergi


Bagiku kau tetap yang terbaik


Entah beratmu turun atau naik


Kadang kalah tak mengapa untuk tak baik-baik saja


Kita hannyalah manusia


Wajar jika tak sempurna


Saat kau merasa gundah


Lihat hatimu percayalah


Segala sesuatu yang pelik bisa diringankan dengan peluk


Kau berkata dunia sedang tak ramah


Ya bukan berarti kau mesti berubah


Jadi seseorang yang tak kau ingin


Yang menatapmu asing dari cermin.


Papou tertegun mendengar lagu fiersa Besari, apakah ia punya orang yang bisa mendengarkan lelahnya, Papou rasa tidak.

__ADS_1


“Pou ….” Daga memanggil Papou pelan memperhatikan jalanan ibukota sekarang mereka masih di Jakarta, Papou tidak menyahut ia masih menatap jalanan.


Pikirannya terlempar saat pertama kali ia meninggalkan kota ini, sepanjang perjalanan ia hanya menangis sampai ia tertidur. Papou ingat, pertama kali ia meninggalkan Jakarta waktu dia tamat SD. Papou membenci Papou kecil yang mudah sekali terpengaruh bujuk rayu orang tuanya, sampai ia akhirnya tinggal bersama oma. Padahal Papou punya banyak cara untuk memperok-porandakan hidup mama papanya di Jakarta.


“Lagu tadi buat ngewakilin perasaan gue ke lo.”


Papou masih diam, lagu itu telah habis diputar sekarang hanya tinggal suara penyiar radio yang berbicara tidak jelas.


“Kalau lo lelah, lo butuh sandaran gue selalu ada buat lo. Lo dengar sendirikan lagu tadi, kadang kala tak mengapa untuk tidak baik-baik saja, kita cuma manusia biasa Pou.”


Papou lagi-lagi hanya diam, ia tidak bisa bicara apa-apa untuk saat ini. “Gue suka Papou yang sarkas sama kata-katanya, lo boleh anggap gue kayak abang lo sendiri, lagi pula gue gak punya saudara perempuan.”


Kenapa suasananya menjadi seperti ini, jujur Papou lebih suka Daga yang menyebalkan dari pada yang sok baik begini.


“Aku uda punya abang, Bang Araya jauh lebih baik dari pada kakak.”


Daga menarik kurva melengkung, tangannya bergerak mengacak-acak rambut Papou. “Gue suka Papou yang kayak gini, dari pada Papou yang diam-diam kayak tadi.”


Karin masih di Jakarta, nantinya ia akan pulang bersama Bang Araya dan oma sebenarnya oma tidak mau melepas Papou dan Daga pulang berdua, tapi berkat bantuan Araya yang meyakinkan oma mereka akan baik-baik saja, akhirnya oma memberi izin.


Izin dari orang tuanya jangan ditanya, untuk pamit saja Papou tidak, Papou muak melihat Mamanya terus-terusan bermain drama, menangisi anak kesayangannya yang mungkin sudah habis di makan cacing.


“Boleh gue nanya sesuatu?”


“Apa?”


“Jawab jujur yah,” mendengar nada bicara Daga yang mulai serius, Papou mengalihkan pandangannya dari jalanan menatap pria dengan rambut ikal berhidung mancung yang tangannya memegang setir mobil.


“Perasaan lo sama Nana gimana? Terlepas dari sikap orang tua kalian yang pilih kasih?”


Untuk sesaat Papou terdiam, mengingat kembali masa kecilnya yang memberinya tamparan satu persatu.


Seorang anak dengan seragam merah putih sedang duduk depan kelasnya, mereka sedang bermain ABC, tapi anak itu tidak, dia hanya diam, sedikit menjauh dari anak-anak lainnya.


“Kak Nana …”anak itu berteriak ketika melihat kakaknya keluar kelas.


Awalnya Nana tersenyum, tapi sedetik kemudian senyum itu menghilang. “Adik kamu Na?”


Sebelum menjawab pertanyaan temannya, Nana memperhatikan adiknya itu. “Bukan, anak tetangga.”


“Owh … emang gak mirip sih, kamu cantik sedangkan dia biasa saja, kamu pintar dan dia aku rasa biasa saja.” Lalu mereka berdua pergi.


Papou termenung berdiri ditempatnya, memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah memang terlihat tidak rapi karena dia melakukannya sendiri, mulai dari mengikat rambut, memakai seragam sendiri, memasukkan bekal dan mengikat sepatu. Semuanya dilakukan sendiri.


Sedangkan Nana semuanya dibantu mama, kata mama “Kak Nana itu sakit, gak boleh kerja yang capek-capek. Papou kan sehat, kerjakan sendiri belajar mandiri.”


“Aku benci banget sama Kak Nana.” Sebenarnya Daga sudah menduga jawaban ini.


“Kenapa?”


Papou tidak bisa menjelaskan kenapa dia bisa benci dengan kakaknya itu, hanya ketika di sekolah saja sikap kakaknya dingin tapi ketika di rumah dia adalah kakak yang baik.


“Wahh … lukisan kamu bagus banget, Dek?” Puji Nana sambil duduk di sebelah Papou. Papou hanya diam, ia terlanjur sakit hati dengan kata-kata kakaknya di sekolah.


“Bukankah kita cuma tetangga Kak, jadi gak usah muji-muji lukisan aku.”


Nana menghela nafas panjang, “Maafin Kakak.”


“Kamu lapar gak, tadi mama masak sup ceker yang enak banget.” Nana tersenyum, binar matanya penuh harap. “Mama gak ngajak aku makan.” Papou seolah tidak peduli, ia terus melukis.


Daga kembali bertanya dengan ragu, ketika Papou hanya diam. “Ke … kenapa?”


“Kak Nana yang benci sama aku, waktu SD di depan teman-temannya dia gak mau ngakuin aku sebagai adiknya, dia bilang kita cuma tetangga. Kak Nana malu ngakuin aku sebagai adiknya karena waktu SD aku dekil banget.” Papou tertawa hambar untuk menutupi lukanya.


Daga tidak bermaksud mengungkit-ngungkit masa lalu Papou, membuat gadis bernetra coklat itu terluka untuk yang kedua kalianya. Daga hanya ingin masalah ini cepat selesai, siapa itu hantu rumah sakit yang terus-terusan mengikuti mereka, Hanna dan perjanjian konyol yang Daga buat dengan hantu Nana.


“Gue tau, jauh di lubuk hati lo yang paling dalam pasti ada sedikit rasa sayang buat Nana, walau bagaimanapun kalian saudara. Sama kayak aku dan Raga, segimana pun kita berantem pasti nanti juga bakalan akur.”


Papou tersenyum kecil jangankan untuk punya rasa sayang hatinya bahkan sudah mati rasa, hatinya sudah tidak mengenal yang namanya cinta, kasih dan sayang dari saudara.

__ADS_1


“Jangankan buat cinta sama dia, Kak. Bahkan hati aku udah mati buat dia. Lagian kakak punya Bunda yang salalu bantu Kakak sama Raga buat damai, sedangkan aku … mama gak peduli mau kita berantem kek atau bahkan saling bunuhan mama juga gak bakal peduli.”


Sebegitu hancurkah masa kecil Papou. Papou memang benar, bunda punya peran besar dalam kehidupannya. Ahh … rasanya Daga ingin cepat bertemu bunda dan memeluk wanita itu.


__ADS_2