
Dengan bersenandung ria Karin berjalan kegirangan, ia baru pulang dari mesjid. “Benar-benar minta di ruqia ini anak,” ucap Araya yang sedang duduk di teras rumah, semakin hari tingkah adiknya semakin aneh sepulang dari mesjid.
“Kalau diruqia sama Kak Adit aku mau kok Bang.” Sandal jepit yang di pakai Araya langsung melayang mengenai jidat Karin. “sakit tau,” Karin mengusap-usap kepalanya.
“Uda deh Dek, jangan mengkhayal terlalu tinggi. Adit itu gak bakalan suka sama kamu, kamu itu bukan tipe dia.” Mendengar itu Karin langsung cemberut lalu mengentak-entakkan kakinya dan masuk ke dalam rumah.
“Bang Araya mah gitu, selalu aja patah in semangat aku.” Kesal Karin dan langsung saja bunyi benturan pintu terdengar nyaring. karin membanting pintu dengan kuat.
“Nah ini satu lagi,” gumam Araya ketika melihat Papou baru sampai dengan wajah yang sama masamnya dengan wajah Karin. “Kenapa, Pou?”
“Capek, Bang.” Jawab Papou asal dan langsung masuk ke dalam rumah.
“Punya Adek dua. Tapi … sama-sama nyebelin, ngeselin.”
~SF.L~
Pikiran Papou masih berkelana pada kejadian tadi siang di sekolah, apakah itu mimpi atau nyata. Jika itu nyata harusnya ia bangun di ranjang UKS bukannya di kelas, jika itu hanya mimpi harusnya kerongkongannya tak terasa perih dan pahit. Tapi kenapa rasanya begitu nyata.
Kantung mata Papou terlihat menghitam semenjak bertemu anak itu masalah hidup Papou makin bertambah. Tidak bisakah hidup ini berakhir bahagia seperti dalam negeri dongeng.
Dulu sewaktu kecil Papou begitu menginginkan kehidupan seperti di dunia dongeng, kehidupan yang begitu indah tanpa celah. Tentu saja itu mustahil, tak akan pernah ada kehidupan yang seperti itu.
Melodi musik mengalun merdu
Menemani hati yang terluka
Tergores sakitnya kisah cinta
Ditikam tajamnya pengkhianatan
Lihatlah sang waktu bekerja
Mengobati luka hati
Menjawab pertanyaan yang kian tak berujung
Memperjelas semua yang tak ada kejelasan.
Papou menutup bukunya, selain hobi melukis Papou juga hebat dalam merangkai kata membuat bait-bait puisi.
Papou tak terbiasa dalam berbagi cerita, berbagi kisah bahkan berbagi rasa dengan orang lain. Lewat perpaduan gradasi warna dan bait-bait puisi semuanya ia tumpukan. Bersyukur sekali rasanya ketika tuhan menganugerahi kemampuan ini.
Tatapan elang Papou langsung mengarah pada jendela, seperti ada yang melempar jendela kamarnya dengan batu. Papou tak peduli itu, ia langsung menarik selimutnya dan mulai berusaha untuk tidur.
“Kakak … kakak …” Suara lembut anak kecil memanggil Papou dan terdengar suara-suara tawa di akhir kalimatnya. “Aku mencintaimu,” ucap anak kecil itu sambil memeluk pinggang Papou.
Papou terbangun dari tidurnya dengan nafas yang ngos-ngosan pelu dingin membasahi tubuhnya, membuat baju yang ia pakai menempel ke tubuh karena keringat.
~SF.L~
“Oma …” Papou langsung berlari memeluk wanita itu. “Kenapa?”
“Malam ini, Papaou ingin tidur dengan Oma.” Rengek Papou seperti anak kecil, oma hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
“Lampunya tidak usah dimatikan, biarkan saja begitu.” Papou langsung membaringkan tubuhnya di samping oma.
“Oma … Apa kita punya keluarga dengan bola mata berwarna hijau?” Tanya Papou, Tapi tidak ada jawaban dari oma, ia telah tertidur dalam buaian malam.
Lagi dan lagi bayangan anak itu kembali memenuhi kepala Papou. “Arghhhh …” Papou menggeram kesal dengan memegang erat kepalanya.
Papou berdecak sebal ketika melihat pentulan dirinya di cermin, begitu kacau dan sangat berantakan. Kantung mata yang sangat-sangat menghitam, begitu menjadi fokus utama Papou begitu bercermin.
~SF.L~
Jam 06 : 05 a.m
__ADS_1
Papou sudah berangkat dari rumah menuju sekolah. Ia ingin hari-hari yang di laluinya berjalan cepat, jika pun bisa Papou ingin segera menjamu malaikat maut untuk mencabut nyawanya dengan senang hati akan ia berikan.
Sempat berpikir untuk mengakhiri ini semua, tapi Papou tak bisa membayangkan betapa sedihnya oma nanti. Oma menjadi satu-satunya alasan kenapa dirinya masih bisa bertahan sampai sekarang.
Raga berteriak histeris ketika ia melihat ada bayangan dengan seragam putih abu-abu melintas di depan rumahnya rambutnya panjang. “Lo kenapa?”
“A … a … ada ha … hantu.” Jawab Raga tergagap.
“Makanya Shalat biar gak penakut,” ejek Daga kembaran Raga. Daga kembali menyantap sarapannya.
Sisi lain dari kehidupan seorang Raga yang pemarah dan egois adalah dia anak yang sangat-sangat penakut, sampai sekarang ia tidur satu kamar dengan Daga saudara kembarnya.
Setelah lengkap dengan seragamnya Raga kembali bergabung dengan Daga dan Bundanya. “Da … lo percaya gak sama hantu?”
“Kenapa lagi? Kamu liat apa lagi,” tanya Bunda setengah kesal, pasalnya anaknya itu begitu penakut.
Daga langsung tertawa terbahak-bahak, “tampang aja keren lo, tapi penakut. Gue gak bisa ngebayangin anak-anak SMA Cendikia tauh kalau ketua OSIS mereka yang begitu beribawah ini takut sama hantu.” Tawa Daga semakin pecah, ia tertawa terbahak-bahak sambil memukul-mukul meja.
“Awas aja sampai lo kasih tau.” Ancam Raga lalu menggigit roti yang ia makan dengan kesal.
“Gue gak sejahat itu juga kali.”
~SF.L~
Begitu sampai di depan gerbang SMA Cendikia, kepala Papou terasa pusing. Ia merasa seakan-akan sekolah ini berputar-putar. “Ada apa ini?” Papou memaksakan dirinya untuk masuk ke dalam sekolah.
“sakit yah Neng, kalau sakit jangan di paksa in buat sekolah.” Ucap satpam yang melihat Papou berjalan sempoyongan dan memegang kepalanya. Papou tak peduli dengan pertanyaan itu, ia terus berjalan masuk dan anehnya kakinya terasa berat untuk melangkah. Semakin jauh Papou dari gerbang kakinya semakin berat untuk melangkah.
“Dasar … otaknya saja yang pintar-pintar tapi etiknya pada kurang semua.” Dumel pak satpam ketika pertanyaannya di abaikan oleh Papou.
“Ini nih satu lagi,” ucap pak satpam ketika melihat mobil Raga dari jauh.
~SF.L~
Papou duduk di kursi paling depan, tepat sekali di depan papan tulis. Satu minggu sekolah di sini semua pelajaran tak terasa memberatkan Papou paham dengan semua materi yang di berikan oleh guru.
“Ada yang bisa mengerjakan soal ini,” saat Papou melihat soal itu, sedikit garis senyum terangkat dari sudut bibirnya. Papou langsung mengangkat tangan, bukan hanya Papou yang mengangkat tangan tapi seorang anak perempuan di belakangnya juga ikut mengangkat tangan.
“Silakan kamu yang di depan kerjakan soal ini.” Papou tersenyum penuh kemenangan, tanpa fikir panjang ia langsung mengambil spidol yang di sodorkan oleh guru itu.
“Nama kamu siapa?”
“Syellifau Lidia, Buk.” Guru itu langsung mengaguk pelan dan membuka buku nilainya. “Saya tida menulai betul salahnya, tapi saya menilai keberanian untuk maju ke depan. Jika jawabannya benar tentu ada nilai bonus.”
Anak perempuan tadi yang ikut mengangkat tangan menatap Syellifau dengan tatapan kesal, “kebetulan aja tuhan lagi baik sama dia.” Sindir anak itu, ketika Papou akan duduk kembali di tempat duduknya.
Belum ada teman yang dia dapat, dua musuh sudah Papou peroleh. Yang pertama itu ada Raga dan yang kedua adalah anak perempuan itu, Papou tak tau namanya siapa. Lagi pula Papou sudah terbiasa hidup dengan dikelilingi para haters yang menyayanginya.
~SF.L~
Karin berdiri di depan pintu kelas Papou dengan senyum lebar dan kotak bekal di tangan kanan dan kirinya. karin melangkahkan menuju meja Papou, “ini ada bekal dari Oma, Papou kenapa sih, perginya selalu kepagian kita kan jadi ga bisa berangkat bareng.” Kesal Karin dengan cemberut.
“Siapanya tu?”
“Babunya kali.”
“Kasian banget nasibnya.”
Terdengar berbagai cemoohan dari belakang. Karin menatap Papou ibah, terkadang Karin heran sendiri, kenapa begitu banyak musuh yang dimiliki oleh sepupunya itu, rasa-rasanya itu Papou bukanlah orang yang ingin ikut campur urusan orang lain tapi kenapa orang lain selalu mencampuri urusan orang lain. Papou juga bukan orang jahat.
“Kita makan di kantin aja yuk, Pou.” Ajak Karin, tapi Papou hanya diam dia fokus dengan buku yang di bacanya. “Ayukk Pou.” Rengek Karin berusaha menarik tangan Papou pergi, karena di tempat ini telinganya mulai terasa panas. Dengan cepat Papou menghempas tangan Papou.
“Pergi Rin, aku gak mau diganggu.” Kata-kata Papou terdengar dingin. Karin terdiam dan memaksakan kurva melengkung terukir di bibir pinknya yang terlihat sedikiit memucat karena bentakan Papou.
“Sok banget tu anak.” Terdengar suara sumbang dari belakang.
__ADS_1
“please Pou …” Pandangan Karin mulai buram ada butiran air yang ingin jatuh membasahi pipi seorang gadis periang tak pernah ada dendam di hatinya. Ia bukanlah gadis cengeng yang akan menangis cuma karena dibentak oleh Papou. Kata-kata kasar dan bentakan Papou sudah seperti vitamin dalam hidupnya. Telinganya terasa panas oleh kata-kata yang begitu memojokkan Papou.
“Aku gak mau, Rin.” Walau sudah ditolak oleh Papou, Karin tetap berdiri di depan meja sepupunya itu. Melihat butiran air mata yang mulai akan turun, Papou segera berdiri dari tempatnya ia tak mau terlibat drama yang di buat oleh Karin.
~SF.L~
“Enak banget kan Pou,” ucap Karin terus sambil menyantap nasi gorengnya. Sementara Papou hanya diam.
“Rin …”
Mendengar namanya dipanggil Karin sedikit mengangkat kepalanya menatap Papou untuk sesaat. “Apa?”
“Kenapa kamu selalu baik sama aku,” tanya Papou, ia begitu menginginkan jawaban yang lebih bisa diterima oleh logika.
“Pou … harus berapa kali sih aku bilang, kita itu saudara. Sesama saudarakan emang harus saling tolong-menolong.” Papou mendengus sebal, lagi-lagi jawaban itu yang ia dapat padahal ia menginginkan jawaban lain yang lebih dari sekedar saudara.
“Jadi … kalau kita bukan saudara kamu gak akan se-care ini sama aku?”
“maybe.” Karin kembali menyuap nasi goreng itu dengan lahap.
“Jangan kamu habiskan masa remajamu dengan mengurusi aku yang jelas-jelas tak menyukai kehadiranmu. Di luar sana, banyak sekali yang ingin berteman dengan kamu.” Untuk sesaat Karin terdiam mencerna kata-kata Papou, tapi kembali ia bersikap acuh dengan terus menyantap nasi gorengnya.
“Aku gak pernah merasa mengurusi kamu. Kadang aku suka bingung sendiri, heran juga sih kenapa aku tahan banget dengar kata-kata sarkasme dari Papou. Tapi … kalau belum dengar kata-kata sarkasme dari Papou ngerasa kayak gak hidup aja.”
Mendengar penuturan Papou yang aneh bin ngaur Papou hanya diam, tak ada gunanya membantah karena percuma.
~SF.L~
“Cewek lu tu lagi makan bareng sama temannya,” Raga berdecak sebal, karena dari tadi Nades terus menyebut Papou sebagai ceweknya. “telinga lo tuli atau apa, dia bukan cewek gue.” Ucap Raga setengah kesal, emosinya sudah mulai memuncak dan telinganya juga mulai terasa panas oleh ocehan-ocehan Nades.
“Iya masih belum jadi cewek lu, makanya gerak cepat dong.” Nades tertawa cekikikan, sedangkan Raga langsung melemparkan tatapan elangnya.
Dengan tanpa malu Nades langsung menarik tangan Raga menuju ke tempat Papou dan Karin. Sedangkan wajah raga berubah warna menjadi merah padam, binar amarah terlihat jelas dari tatapannya .
“Ehh kita boleh gabung gak nih.”
“Bo .. boleh Kak.” Setelah mendapat persetujuan dari Karin, Nades langsung mendaratkan pantatnya di tanah. “Wahh pada bawah bekal yah,” ucap Nades ketika melihat tuppeware yang dipegang oleh Karin atau Papou.
“Iya Kak, buatan Oma enak banget.” Ucap Karin dengan bangga.
“boleh dong, kapan-kapan bawa in kita makanan buatan Oma kamu.” Tak butuh waktu lama, Karin dan Nades terlibat pembicaraan yang asyik karena sifat yang mereka sama-sama terbuka dan bersahabat.
“Boleh banget dong Kak, nanti kita bilangin Oma kan, Pou?” Karin sedikit menyenggol bahu Papou, sementara Papou hanya mengangguk lesu.
“Oma kita?” Nades sakit bingung dengan maksud kata ‘oma kita’ terlalu ambigu untuk dipahami.
Karin langsung mengangguk. “Maksudnya?”
“Iya … Oma Papou itu juga Oma aku, kita saudara sepupu.” Sekarang Nades baru paham. Perut Raga sedikit tergelitik ketika mendengar nama panggilan seseorang yang selama ini ia kenal dengan nama Syellifau Lidia, ternyata di panggil Papou.
Cewek yang selama ini ia kenal kasar itu mempunyai nama panggilan yang begitu imut.
Seketika tawa Raga langsung pecah, ia sudah tak sanggup lagi menahan tawanya, “Mulut aja yang kasar tapi panggilannya Papou. Lo tau kan Des, game yang biasa dimainin anak kecil itu, nama lo sama kayak gitu.” Papou langsung melemparkan sendok yang ia gunakan makan tadi ke wajah Raga, ia tak peduli jika cowok itu marah.
“Lo …” Raga menggenggam sendok itu dengan emosi, lalu mengusap wajahnya yang sedikit basah. “Apa?”
“Awas …!!!”
teriak Karin ketika melihat ada kucing yang melompat ke arah mereka. Raga langsung terlonjak kaget. Raga sangat geli dengan hewan berbulu itu, sedangkan Papou sedikit menggeser tempat duduknya ke belakang.
Kucing itu, matanya hijau jernih sama persis seperti kucing waktu itu. “Hanna …” ucap Papou pelan, suaranya hampir tak terdengar. Raga masih berupaya menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang setiap kali berhadapan dengan makhluk yang dianggap sebagian besar orang lucu, tapi tidak bagi seorang Raharga Sukma Muktar.
Kucing itu meloncat dari atas pohon tepat di mana mereka duduk berempat, lalu menghilang entah ke mana. Begitu banyak pertanyaan yang mengusik benak Papou sekarang. “Siapa Hanna? Ada apa dengan kucing itu.” Kehidupannya seperti terus dipermainkan dalam sebuah labirin yang berkelok-kelok, susah sekali mencari jalan keluarnya.
Sebisa mungkin Raga bersikap tanang, betapa malunya dia. Meloncat-loncat ketakutan di depan Papou orang yang ia cap sebagai musuh. Papou melemparkan senyum iblis ke arah Raga, seketika bulu kuduknya langsung merinding.
__ADS_1
“Ada apa dengan gadis ini?”
Entahlah Raga seperti merasa ingin tau lebih tentang Papou, seperti ada sesuatu yang terus menarik Raga untuk mencari tau tentang siapa dia. Dan senyum iblisnya benar-benar bisa membuat orang lain merasa terintimidasi dan terpojokkan