Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
Lagi, lagi, dan lagi.


__ADS_3

Tangan Karin penuh keringat, keningnya mengernyit melihat soal-soal yang tak ia pahami sedikit pun semakin dibaca semakin membingungkan. Semakin dipahami semakin membuatnya pusing. Dasar soal, sama saja kayak doi, semakin dikejar semakin lari, semakin didekati semakin menjauh.


Karin meniup-niup pensil yang ia letakan di atas bibir yang sengaja ia menyunkan, berharap ada jawaban yang jatuh dari pensil itu. “Susah banget sih.” Gerutu Karin kesal sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


“Harus bisa … harus bisa …” kalimat itu terus berputar dalam kepala Karin, bagaikan sebuah mantra ajaib.


Satu persatu peserta tes mulai mengumpulkan lembar jawabannya, sedangkan Karin seperempat soal pun belum ia selesaikan, itu pun jawabannya tidak pasti betul semua.


Karin tersenyum kegirangan ketika melihat 20 soal terakhir adalah soal bahasa Indonesia yang sangat ia kuasai, “rezeki anak soleh,” gumam Karin dengan senyum yang tak pudar-pudar.


“huuu … selesai juga,” Karin mengumpulkan lembar jawabannya, yang ia pun tak yakin akan jawabannya sendiri. Kata-kata Araya terus terngiang dalam benak Karin. “tenang Rin, kalau kamu gagal di sini masih ada sekolah lain kok.” Semoga saja begitu, masih ada sekolah yang mau menerimanya dengan nilai yang tak seberapa.


Pandangannya terus menatap lantai yang ia pijak, menghitung kotak-kotak ubin. Jantungnya berpacu dua kali lebih cepat, sudah hampir setengah jam lebih ia menunggu hasil tes. Tak ada alasan yang jelas mengapa Karin begitu ingin sekali selalu berada di dekat Papou ....


“Sekuat apa pun aku mencoba, aku tak akan pernah berada di depanmu Pou. Jangankan untuk di depan, berjalan di sampingmu saja aku tak akan pernah bisa.” Ada setetes air yang ingin jatuh, secepat kilat punggung tangannya langsung mengusap air itu.


“Karin Arinda Arsyad …” mendengar namanya di panggil Karin langsung berdiri dari tempat duduknya.


Kepalanya terasa pusing, mau tak mau ia harus menerima kenyataan kalau dia tak akan di terima di sekolah para maestro ini. Harapan satu-satunya hannyalah pada dua puluh butir soal bahasa Indonesia, untuk selebihnya Karin tak percaya.


Sekuat apa pun ia belajar, kenapa otaknya tak mengingat apa pun. Sempat Karin berpikir, apakah otaknya punya lubang yang tak kasat mata sehingga apa yang ia baca dan lihat dapat dengan mudah dilupakannya. Bahkan jalan pulang ke rumahnya saja Karin lupa, makanya Karin tak pernah pergi kemana-kamana sendiri, kalau bukan bersama oma, bang Araya atau Papou.


“Karin Arinda Arsyad …”


“Iya saya,” sekarang jantung Karin benar-benar mau copot, ini adalah detik-detik penentuan masa depannya.


“Selamat yah, kamu di terima.”


Satu detik … dua detik … tiga detik …


“Haa?” Karin tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.


“Selamat yah … silakan lakukan pendaftaran ulang tanggal lima Juli.” Ucap guru dengan perawakan gemuk dengan keriput yang sudah terlihat jelas.


“Tapi maaf …., kamu hanya kami terima di jurusan bahasa indonesia, semua soal Bahasa Indonesia kamu jawab dengan benar bahkan jawabannya sangat sempurna. Tapi …” kalimat guru itu menggantung, untuk sesaat dia membolak-balik kertas tas Karin. “Tapi sayang semua soal IPA kamu jawab dengan salah dan untuk soal IPS kamu hanya betul 5.”


“Itu tidak masalah Bu, saya memang berniat untuk mengambil jurusan bahasa Indonesia.”


“bagus.” Guru itu menyodorkan selembar kertas yang berisi tanda bahwa ia di terima di SMA ini.


“Aku yakin, Papou pasti ambil IPA,” Karin membatin, tapi hal itu tak membuat kebahagiaannya berkurang sedikit pun.


Selalu bersyukur dengan apa yang kita punya, selalu bahagia dengan pencapaian yang kita raih dan jangan mau patah hanya karena kata orang . lihatlah tanah, bukankah ia selalu di injak-injak dan berada pada tempat yang paling bawah ketika manusia masih hidup. Dan ketika nyawa tidak lagi mengisi raga. Apa yang terjadi? Yang terjadi adalah manusia berada pada posisi yang paling rendah di bandingkan tanah.


Ingat kawan, dunia berputar. Tak akan selamanya kamu berada di atas. Ada masanya kamu berada di bawah, jika bukan sekarang pasti nanti tunggu saja takdir bekerja dan saksikan betapa hebatnya tuhan membuat skenario hidupmu.


Selagi masih bisa tertawa, tertawalah, lepaskan semua masalah yang mengikatmu. Tertawalah sebelum dunia menertawakanmu. Itulah prinsip yang selalu di pakai Karin dalam hidupnya, itulah alasan mengapa hidup yang di jalaninya terlihat mudah dan menyenangkan.


~SF.L~


“Oma …


Abang …


Papou .”


Teriak Karin menggelegar, mengusik semua penghuni rumah. Papou hanya mendengus sebal sambil bangkit dari tempat tidurnya. Tak bisakah sehari saja ia bebas dari suara cempreng manusia yang bernama Karin Arianda Arsyad yang sialnya adalah sepupunya dan yang lebih sialnya lagi mereka tinggal satu atap.


Dengan tergopoh-gopoh oma berlari menuju pintu, ia sedang berkebun di belakang. “kenapa?” tanya oma dengan cemas.

__ADS_1


“kemasukan setan di mana?” tanya Araya yang berdiri di depan pintu kamarnya.


Sementara dengan wajah datarnya Papou turun dari lantai dua. “huaaa Papou …” Karin merentangkan tangannya bersiap untuk memeluk Papou. Namun dengan cepat Papou berlari ke arah oma. “Jangan peluk-peluk, kamu itu keringatan, Rin. Banyak kumannya.” Karin hanya tersenyum kikuk.


“Sini oma yang peluk.” Oma melangkah maju ke tempat Karin.


“Tapi aku keringatan Oma, banyak kumannya lagi,” ucap Karin sambil mengundus-ngendus bau badannya.


“Gak apa-apa Rin, nanti oma kan bisa mandi.” Karin langsung berlari ke dalam pelukan omanya. Bahagia sekali rasanya ketika kamu mempunyai seseorang untuk berbagi rasa dan keluh kesah dalam suka maupun duka.


“Aku sayang Oma,” ucap Karin penuh tulus.


“Oma juga menyayangi kalian.”


“sekarang cerita sama oma, kamu kenapa? Bahagia sekali rasanya Oma lihat.”


“owh iya Oma, aku sampai lupa.” Karin langsung mengeluarkan kertas yang ia dapat tadi dan langsung memberikannya kepada Oma.


Senyum oma mengembang, “selamat yah sayang.” Pandangan oma langsung mengarah pada Papou yang terlihat biasa saja, ada sedikit rasa bersalah dalam hati kecil wanita tua itu, ia telah membuat kedua cucunya berada dalam keadaan yang sukar.


“Coba liat,” oma langsung menyodorkan kertas itu ke Papou. “Selamat yah.” Nada bicara Papou terdengar dingin.


“Lah ini gurunya pasti salah, kok kamu bisa di terima?” Karin langsung mencubit lengan Araya karena telah meremahkan kemampuannya. “ aku dulu waktu mau masuk SMA itu les tiga bulan penuh, uda berasa masuk perguruan tinggi. Lah kamu belajar juga enggak, kok bisa?” Dahi Araya mengernyit mengingat perjuangannya untuk bisa sekolah di sana begitu sulit.


“Namanya juga rezeki anak soliha Bang.”


“Soleha apaan? Shalat juga baru mulai kemarin, itu pun karena yang jadi imamnya Adit. Bagusnya cewek itu Shalat di rumah.” Karin gelagapan sendiri, dengan beraninya Araya berkata seperti itu di depan oma.


“Adit siapa?” Tanya oma bingung.


“itu lho Oma, yang jadi imam di mesjid yang di depan kompleks. Teman kuliah Araya itu, satu fakultas sama Araya.” Jelas Araya sedangkan Karin semakin mati kutu, harus bagaimana ia menjelaskannya pada oma.


“itu lho oma …” Araya menaik-turunkan alisnya ke arah Karin.


“Pacar kamu?” kini pandangan mata oma mengarah pada Karin, meminta jawaban.


Mendengar pertanyaan oma, Karin langsung gelagapan, bagaimana cara menjelaskannya, sementara dalam hatinya Araya bersorak kegirangan, jarang-jarang Araya dapat melihat Karin seperti ini.


“Nggak … nggak … kok Oma, cuma …”


“Cuma apa?”


“Cuma calon imamnya aku oma?” Jawab Karin kegirangan dan langsung berlari pergi. Oma langsung membulatkan matanya, sedangkan Araya tak percaya dengan apa yang di ucapkan adik gesreknya itu. Kalimat absurd itu meluncur begitu saja dari mulut Karin tanpa dosa.


~SF.L~


Papou berdiri di depan pintu kamar Oma ada satu hal yang ingin ia katakana, bukannya ia tak bahagia dengan pencapaian sepupunya, tapi andaikan itu tak menyangkut hidupnya maka Papou akan ikut merasa bahagia bahkan sangat bahagia.


“Ayo duduk …” ucap oma dengan lembut sangat lah lembut. Dulu Papou pernah membayangkan andaikan mamanya juga seperti oma, bukannya berkata lembut tapi malah menghardik. Bukannya memberikan kasih dan cinta tapi malah menuntut untuk jadi yang terbaik dan sempurna, sikap ini lah yang membuat Papou dan kakaknya tak pernah akur. Jiwa kompetitif yang di bangun sang mama begitu kuat untuk menghancurkan hubungan setali darah.


“Jangan lupa tutup pintunya.” Papou mengangguk dan langsung menutup pintu.


“Maafkan … Oma.” Ucap oma lirih, ada rasa bersalah yang terbesit dalam hatinya. Sekarang hidupnya seperti dua ujung panah. Disisi tumpul anak panah sengaja di rancang agar tak melukai pengguna sedangkan pada sisi tajam anak panah sengaja di gunakan untuk membunuh musuh, jika tidak hati-hati maka si empunya lah yang akan terluka.


“Maafkan … Oma,” ulang oma, air mata mulai membasahi wajah tua itu, tak terhitung lagi garis kerutan di wajahnya.


Untuk pertama kalinya Papou melihat mata yang penuh kasih dan cinta itu menguraikan air mata. Papou membeku di tempat, tak tau apa yang harus di perbuatnya.


“Tidak masalah Oma, Oma jangan menangis, Pou merasa bersalah.” Papou mengelus pelan pundak wanita renta berhati malaikat itu.

__ADS_1


“Oma ingin menangis hari ini, ini bukan salahmu, sayang.” Oma menatap mata bola Papou, begitu indah dengan netra coklatnya.


“Siapa bilang menangis itu tanda bahwa kita sedang bersedih,” Oma memaksakan seulas senyum terukir indah.


“kan memang begitu Oma,” jawab Papou polos, seperti seorang gadis lugu yang tak tau apa-apa, tak tau perihal liciknya dunia dalam bermain kartu yang namanya takdir.


“Jika kamu bersedih menangislah jika menangis membuatmu merasa lebih baik, keluarkan saja agar luka di hatimu cepat mengering. Ibarat sebuah luka jika terus menerus di tutup dengan kain rapat-rapat, itu malah membuat luka semakin parah. Tapi, … jika luka di beri sedikit celah agar udara bisa masuk, maka lambat-laun luka itu akan mengering.


… Jika Karin membuatmu merasa kesal atau marah, menangislah katakan semuanya pada Oma, Oma siap mendengarkan semua keluh kesahmu. Oma tidak bisa memilih salah satu, Oma sama-sama menyayangi kalian. Dimata Oma kalian sama.”


Mereka sama-sama diam, mendengar kata-kata oma, ego Papou sedikit melunak. Sebisa mungkin ia akan mencoba untuk menerima kehadiran Karin. “Iya, Oma.”


~SF.L~


Dalam rangka merayakan Karin di terima di SMA Cendikia, ia mentraktir Papou dan Araya di salah satu rumah makan padang. “Aku bahagia banget,” girang Karin sambil terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


“Lebai amat sih, Dek,” cibir Araya pasalnya ia sudah muak terus-menerus mendengar kata-kata itu. “Namanya juga orang yang lagi bahagia, Bang.”


“Andaikan Mama masih ada yah, Bang. Ingin sekali rasanya menceritakan hal ini kepada Mama.” Mendengar ucapan adiknya membuat Araya tersedak, seperti ada yang mengganjal di kerongkongannya. Walaupun oma memberikan kasih sayang yang begitu luar biasa, tapi itu belum bisa menghapuskan sosok seorang mama dalam ingatannya masing-masing.


“Papa apa kabar yah?” sambung Karin, matanya menerawang jauh. Setelah mamanya meninggal papa menitipkan kedua anaknya kepada orang tuanya, yaitu oma Sita. “Apa … Papa udah nikah lagi yah, Bang?” Araya benar-benar di buat kehabisan kata-kata oleh adiknya ini. Araya benci topik pembicaraan mengenai orang tua mereka, bagi Araya, oma, Karin dan Papou lebih dari segalahnya.


“Lanjut makan saja Rin, kita kesinikan untuk having fun.” Lagi-lagi Araya hanya bisa melongoh mendengar penuturan Papou, ini momen langkah jarang sekali Papou bersikap seperti itu.


“Tapi … Papou sama Abang ngerasa gak, kalau rumah oma seperti panti asuhan.” Terdengar tawa sumbang di ujung kalimat Karin. “Gak boleh ngomong kayak gitu, oma itu … menyayangi kita lebih dari orang tua kita.” Araya mendekatkan kursinya ke arah Karin, membawahnya ke dalam pelukan.


“Pertama-pertama, Papa titipkan Abang terus setelah mau masuk sekolah dasar Papa juga titipkan aku dan beberapa tahun kemudian Om Hendra titipkan Papou.” Araya mulai kesal sendiri dengan kata-kata adiknya yang ngelantur. “Sekali lagi ngomong, gue tinggalin lo di sini.” Walaupun yang mengajak untuk pergi makan adalah Karin tapi yang membayarnya tetaplah Araya.


“iya-iya maaf.” Karin kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Sementara Papou hanya diam melihat tingkah kakak beradik yang sama-sama aneh. Kalau dipikir ulang kata-kata Papou tadi memang benar. Tapi ada sedikit rasa syukur yang tertanam dalam hati remaja itu, di tempat ini ia merasakan kasih sayang tanpa batas dan tanpa balas.


“Habis ini kita ke tempat pemancingan yuk,” ajak Karin dengan bola mata berbinar.


“capek.”


“bosan.”


`Mendengar penolakan dari kedua saudaranya Karin langsung memasang wajah cemberut, membuat pipinya mengembang. “jangan cemberut dong, nanti jeleknya hilang.”


“bagus dong, nantikan jadinya cantik kalau jeleknya hilang.” Ucap Karin semangat.


“Bukan … tapi, tambah jelek,” ledekan Araya langsung di hadiahi sepotong rendang yang melayang dan tepat mendarat di wajah Araya.


~SF.L~


Setelah acara makan-makan yang penuh drama, karena akibat lemparan rendang tadi membuat mata Araya terasa perih hal itu membuat Karin panik. Seorang pelayanan rumah makan menyarankan untuk mencuci jempul kaki sebelah kanan karena mata yang perih adalah sebelah kiri. Dasar penduduk +62. Jiwa nenek moyangnya kental sekali.


“Kenapa?” Tanya oma heran melihat wajah kusut Araya. Mereka yang ditanya hanya diam dan saling pandang, hal itu semakin membuat oma bingung.


“Matanya, Bang Araya kena rendang oma.” Jelas Papou.


“Kok bisa?”


“Maklum oma … orang susah jarang makan-makanan enak, makanya kayak gitu.” Ledek Karin dan langsung berlari ke kamarnya.


“Awas lu yah.” Teriak Araya tak terima.


Oma hanya diam, ia sudah tau apa yang terjadi antara cucu-cucunya ini. “sudah-sudah, udah mau magrib, ambil wudu kita shalat berjamaah.”

__ADS_1


“Aku gak mau diimamin Bang Araya, aku mau sholat ke mesjid aja, di shalatin calon imam.” Teriak Karin dari kamarnya.


__ADS_2