
Hanya dalam waktu sepersekian hitungan detik semua musuh menghilang dalam kabut asap, hanya dengan satu tarikan pada sebuah trigger.
Papou semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Daga, saat ini mereka tengah di kelilingi oleh makhluk-makhluk aneh dengan wujud yang mengerikan. Papou hanya memejamkan matanya dan memegang erat baju bagian belakang Daga.
“Lo takut?” tanya Daga sambil menyeka keringat yang memenuhi dahi Papou. Papou benar-benar-benar takut untuk saat ini.
“mereka uda pada ilang, sekarang lo boleh buka mata.” Papou tidak percaya dengan kata-kata Daga, Papou tetap memejamkan matanya bahkan Papou lebih mengeratkan pegangannya pada baju Daga.
“Penakut banget sih,” Daga mencoba melepaskan tangan Papou yang mencengkeram erat bajunya.
Ketika Papou membuka matannya sosok lain muncul di depan matanya, dia tidak bisa lenyap oleh peluruh itu.
Daga mulai geram, Daga memukulkan senapan itu langsung ke arahnya, sosok itu menjilat tangannya yang penuh darah.
“Hahaha .... gak kena-kena,” sosok itu malah memeletkan lidahnya. Hal itu semakin membuat Dag kesal.
Sekali lagi Daga mencoba memukul anak itu dengan senapan yang ia pegang, percuma saja senapan itu lewat begitu saja di tubuhnya seolah-olah tidak ada apa pun di sana.
“Gak kena-kena, gak kena-kena. wlek ... wlek ....” Sosok itu semakin mencari amarah Daga.
Papou tetap menutup matanya, tapi ada suara aneh di telinganya, seperti suara nyanyian tapi dengan lirik yang tidak dipahami Papou, Papou menguasai 4 bahasa, pertama bahasa indonesia, bahasa inggris, bahasa jepang dan korea. Tapi nyanyiannya bukanlah salah satu dari bahasa itu.
Lambat laun Papou tidak lagi mendengarkan suara Daga. Papou sudah berpindah tempat sekarang, Daga tidak lagi ada bersamanya. Tempat ini di penuhi dengan cermin, Papou dapat melihat pantulan dirinya di cermin.
Sayup-sayup Papou mendengar suara anak yang merintih kesakitan dan meminta ampun dan Papou juga mendengarkan suara makian untuk anak itu. Di sela suara rintihan nan pilu itu dan makian Papou mendengar suara nyanyian yang sangat mendayu-dayu tapi merdu.
Papou terus melangka untuk mencari sumber suara itu, sampai kakinya sampai di ujung tempat ini, mereka tidak memiliki pantulan diri di cermin. Lalu apa artinya ini semua?
Hati Papou seperti dihantam oleh benda keras. Ketika kilatan mata hijaunya menangkap kehadiran Papou. Anak itu tersenyum ke arah Papou, ia diam, tapi kaki orang itu terus menendangnya.
“Hanna?” Papou bergumam pelan.
Hanna kembali berteriak ketika rambut hitamnya dijambak oleh wanita itu. Papou menahan gerakannya, air matanya berlinang. Papou tidak pernah peduli dengan orang lain, tapi kenapa sekarang hatinya seperti terpanggil untuk menolong.
Papou berlari ke arah Hanna, tapi kenapa semakin Papou berusaha untuk berlari, jarak antara dirinya dan Hanna semakin terbentang jauh. Suara nyanyian tadi semakin terdengar jelas di telinga Papou.
__ADS_1
Ruangan yang awalnya gelap langsung berubah terang ada awan-awan dan terangnya cahaya matahari layaknya siang pada kehidupan nyata.
Waktu seolah berjalan cepat, warna langit terus berubah dari siang sampai merah merekah kasnya si senja sampai gelapnya simalam terus berputar mempertontonkan penyiksaan yang dialami oleh si mata hijau yang selalu membaut Papou selalu terlempar ke masa lalu. Seperti sebuah ingatan yang sudah terlupakan atau memang sengaja di buat hilang.
~SF.L~
Daga benar-benar kesal dengan sosok itu, ia sibuk menjilati tangannya yang penuh dengan darah, menikmatinya seolah itu adalah sebuah makanan yang sangat enak.
“Lo siapa sih?” Daga memutar bola matanya jengah.
Bukannya malah menjawab pertanyaan Daga, anak itu malah tertawa darah yang ia jilat tadi berhamburan keluar bersamaan dengan air liurnya.
Daga mengusap jijik wajahnya yang penuh dengan darah itu.
“Lo ...” Daga berusaha menahan emosinya percuma saja ia memukul sosok itu, sosok yang hadir dalam wujud manusia normal dalam bentuk anak-anak dengan wajah yang sangat menggemaskan, tapi sangat menjijikkan di mata Daga.
Saking kesalnya dengan anak itu membuat Daga tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi dengan Papou.
~SF.L~
Papou tertegun ketika ada yang memegang kakinya, tangan itu terasa dingin. Sentuhan pada kakinya membaut Papou ingat akan tangan dingin di pipinya waktu di rumah sakit.
Papou melihat ke arah kakinya ada Hanna di sana, gadis itu tersenyum dengan luka di sekujur tubuhnya dan darah merembes dari kulit putihnya.
Papou melihat sekelilingnya, mencari-cari wanita yang menyiksa Hanna tadi. Papou tak melihatnya lagi.
Terlepas dari apa yang terjadi antara Papou dan Hanna, Papou segera jongkok menyamakan posisinya dengan gadis kecil itu.
Yang semakin membuat Papou terenyuh adalah ketika Hanna tersenyum ke arahnya. Sekarang Papou benar-benar sudah melupakan masalahnya dengan Hanna.
“Kak Pou,” ujar anak itu dengan nada lirih.
Papou membalasnya dengan senyuman, Papou mengusap pelan kepala Hanna dan mencoba membantu Hanna untuk duduk.
Papou segera mengeluarkan almamater yang sudah tak berbentuk lagi dari dalam tasnya. Papou merobeknya, menggunakannya untuk membersihkan luka-luka Hanna. Papou memang tidak terlalu paham dengan cara membersihkan luka yang baik dan benar.
__ADS_1
“Kamu kenapa bisa kayak gini? Yang tadi siapa?” tanya Papou di sela-sela tangannya yang sibuk membersihkan luka-luka di tubuh Hanna.
“Tadi mami ....” suara Hanna terdengar sendu, tapi segaris senyum tetap mengukir wajah gadis indo itu.
“orang tua kamu?” Papou masih belum yakin kalau itu adalah orang tau Hanna, orang tua mana yang tegah menyakiti anaknya sampai seperti ini. Ya ... walaupun harus Papou akui Hanna itu menyebalkan.
“Iya .... mami jahat suka mukul aku, suka marah-marah apalagi kalau lihat mata hijau aku, emang aku salah ya kalau punya mata hijau?” Hanna menggerutu sebal, anak itu tetap ceria dengan luka yang begitu banyaknya di tubuh.
Papou juga merasakan apa yang dirasakan oleh Hanna. Menyakitkan, bahkan sangat menyakitkan, tangan Papou masih sibuk membersihkan luka Hanna, mengelap darah-darah itu.
“Tapi mama baik sama aku kak, aku sayang sama mama, walaupun mama .... jelek.” Kata-kata Hanna memelan menyebut kata jelek, Papou tauh konteks jelek dari seorang anak -anak belum tentu benar-benar jelek.
Dahi Papou mengernyit, alisnya saling bertautan mendengar kata mama, “mama siapa?”
Hanna meletakan tangannya di kepalanya seolah-olah sedang berpikir, “Kakak gak tauh?”
Papou menggeleng, ia benar-benar tidak tauh, ribuan orang di dunia ini di panggil mama dan Papou tidak akan kenal semua orang itu.
“masa sih,” Hanna tanpa kesal. Papou mendengus sebal, Hanna sudah balik lagi ke dalam mode menyebalkannya.
“Siapa?” Papou mencoba kembali bertanya, Papou masih berusa untuk sabar.
“Beneran gak tau?” Papou benar-benar ingin meninju wajah polos nan lugu Hanna.
“Siapa Hanna?” Papou masih berusaha untuk sabar, rasa simpatik Papou mulai berkurang sedikit demi sedikit untuk Hanna.
“Itu lho mama hantu, dia selalu bantu aku. Muka hancur, kepalanya uda hampir terbelah, banyak darah yang keluar dari kepalanya. Katanya dia juga mama kakak lho.”
Papou terperangah, apa yang di maksud Hanna adalah hantu rumah sakit.
“Apa jaminannya, sampai dia mau membantu kamu?” Papou bertanya dengan nada panik.
“Katanya sidiakan saja ragaku unguk menampung anak-anak mama yang lain,” Papou langsung menganga sedangkan Hanna tidak merasa apa-apa.
Papou mengepalkan tangnya kuat, kenapa hantu rumah sakit itu selalu mengincar anak-anak kecil, tentu saja targetnya anak kecil, anak kecil mudah di bohongi.
__ADS_1