Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
Dunia gak butuh kakak kok.


__ADS_3

Kali ini Nana mendatangi Daga dalam wujud yang mengerikan, wajahnya hancur badannya penuh goresan luka yang masih mengeluarkan darah. Apakah hantu masih memiliki darah?


Takut. Tentu saja tidak, dari kecil Daga sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Daga tidak tahu kapan pastinya ia mulai bisa melihat makhluk aneh itu, Daga tidak pernah menceritakan ini semua pada Bundanya, ayahnya bahkan Raga sekalipun.


Nana duduk menjuntaikan kakinya dari atas meja belajar, banyak kecoak dan kelabang yang keluar dari luka itu. Daga memandang jijik, tapi sebisa mungkin untuk normal bersikap normal.


“E … enam hari lagi, bunuh dia atau lindungi dia.”


Lupa? Tentu saja tidak, bahkan Daga telah mengingat tanggal itu baik-baik.


“Mau berubah pikiran?” Tiba-tiba saja Nana sudah berada di samping Daga, Daga berusaha untuk menjaga jarak. Daga menggeleng dengan rasa takut yang teramat.


“Kamu tak akan bisa,” tiba-tiba saja vas bunga yang ada di meja menjadi pecah, Daga terlonjak kaget.


Daga hanya diam, ia tidak berani bertindak.


Tiba-tiba saja Daga mendengar suara tangis. Nana menangis? Apa iya? Apakah hantu punya rasa? Apakah hantu punya air mata.


Lagi-lagi Daga hanya diam, semua tidak terprediksi salah langkah nyawanya bisa jadi taruhan. Daga belum siap meninggal, dosanya masih banyak.


Daga mendengar suara lain, suara rintihan kesakitan, Daga memutar kepalanya melihat ke arah cermin, tidak ada bayangannya di situ. Tapi … Daga dapat melihat dengan jelas ada yang mencengkeram rahang Papou dan tunggu ada apa itu ....? dia memasukkan sesuatu dengan lendir yang menjijikkan seperti ingus dan beberapa kelabang yang masih bisa bergerak ke dalam mulut Papou. lendir itu sedikit bercampur dengan darah.


Melihat itu saja langsung membuat Daga merasa mual, ia ingin muntah. “Dia hampir mati.” Daga mendengar Nana berucap, dengan lirih.


“Bunuh dia,” Daga kembali mendengar Nana bersuara.


“Apa bedanya kalau Papou meninggal di tangan dia dan di tangan saya,” Daga tidak habis pikir dengan jalan pikir Nana, yang katanya ini pintar.


“Itu akan membuatnya semakin kuat,” ucap Nana lirih.


“Kenapa?” sungguh Daga tidak mengerti akan hal itu, masih terlalu tabuh baginya hal-hal seperti ini.


“Ka … karena saya telah menggadaikan jiwa Papou pada hantu itu.” Nana menyesali semua perbuatannya di masa lampau.


Daga butuh waktu beberapa menit untuk mencerna ini semua, “Maksudnya apa?”


Daga mencoba untuk bersikap tenang, walaupun jantungnya masih berdegup kencang.


“Ehh … sebelum cerita mending kamu, ubah bentuk wajah kamu ke bentuk kayak biasa.”


“Uda gak bisa, semakin hari bentukku akan semakin hancur dan kamu juga akan merasa sakit.”


Daga terdiam, benar juga badannya sering terasa sakit-sakitan sekarang, apa jangan-jangan sekarang Nana telah menggadaikannya juga.


“Ceritakan semua sama gue, apa pun jangan ada yang lo sembunyikan.”


“Gue anak indigo sama kayak lo …” Nana menjeda kalimatnya, mencoba mengingat kembali waktu ia masih hidup.


“Gue pintar, apa pun bisa gue ingat dengan mudah …”


“Gue gak peduli soal lo pintar atau pun bisa mengingat apa pun dengan mudah, cepetan cerita, gue mau kuliah.” Daga tidak tahu keberanian dari mana ia menatang Nana.


Asap hitam pekat menyelimuti Nana, membuat lukanya tak lagi terlihat. “Maaf … bercanda.”


“Alasan kenapa saya menggadaikan Papou adalah agar dia pintar, agar dia tidak selalu di hina mama. Setidaknya itu yang dijanjikan dia.”


Sekarang Daga mengerti, waktu itu Nana masih anak-anak untuk mengerti pikiran Nana yang waktu itu masih SD adalah juga dengan berpikir cara anak SD.


“Tapi … sebagai gantinya dia menginginkan nyawa Papou.” Rasa sayangnya pada Papou yang membuat Nana memilih jalan singkat ini.


“Sekarang gue sadar, gue salah.”


“Baru sadarkan lo,” Daga benar-benar kesal dengan apa yang di lakukan oleh Nana.


“Gue mohon sama lo, tolong lindungi dia atau kalau lo uda ngerasa gak sanggup, gue ikhlas kalau dia meninggal.”


Daga hanya diam, jika di tanya keinginannya ia pun ingin melindunginya. Daga tidak tahu bagaimana caranya, mudah jika harus melawan manusia tapi beda ceritanya kalau ini melawan makhluk yang bisa menghilang dengan mudah.


Nana kembali melanjutkan ceritanya, “jika sampai hantu itu mendapatkan jiwa Papou, dia akan semakin kuat akan semakin mudah baginya untuk menipu anak-anak lainnya.”

__ADS_1


“Tunggu … tapi dulu lo bilang kalau hantu itu adalah mamanya Papou yang membenci Papou, tapi kenapa sekarang beda cerita lagi.” Daga kembali teringat cerita Nana beberapa hri yang lalu.


“Iya …” aura hitam pekat yang tadinya menyelimuti Nana sekarang mulai memudar.


“Dia memang mamanya Papou, gue gadaian jiwanya Papou pada mamanya sendiri.”


Nana kembali mengingat masa kecilnya, hari dimanah semua ini bermula.


Nana duduk dengan gelisah di tempat duduknya, entah kenapa hatinya merasa tidak tenang, tapi Nana tidak tahu penyebabnya apa.


Hari ini Nana sedang jalan-jalan dengan mamanya hanya berdua, ya … hanya berdua. Kata mama ini adalah hadiah karena Nana sudah belajar mati-matian untuk dapat peringkat satu.


Nana sudah biasa ketika melihat ‘mereka’ berkeliaran di sekitarnya. Tapi ini berbeda yang mendatangi Nana.


“Tante hantu ngapain kesini?” tanya Nana dengan polos.


Hantu itu hanya tersenyum dibalik rambut panjangnya berantakan penuh dengan darah yang menetes.


“Sendiri saja?” Nana langsung mengangguk ketika hantu itu bertanya.


“mama lagi beli makanan, Papou di rumah, enggak di ajak mama.” Ucap Nana setengah kesal, pasalnya Nana ingin pergi bersama dengan Papou. Menikmati waktu bersama adiknya adalah hal yang menyenangkan. Nana suka iri ketika teman-temannya menceritakan waktu liburan bersama adik mereka.


“Papou siapa?” hantu itu kembali bertanya. Nana memang tipe orang yang muda akrab entah itu dengan manusia ataupun hantu seperti saat ini, bahkan Nana mempunya teman dari kalangan ‘mereka’.


“Adik aku,” jawab Nana dengan senang hati, sambil menggoyang-goyangkan kaki pendeknya di kursi.


“Kenapa gak di ajak?”


“kata mama, Papou gak pintar jadi gak boleh di ajak,” Nana dengan keluguannya yang waktu itu hanya anak kelas 2 SD.


“Kok gak pintar?” Nana juga bingung, kenapa Papou tidak pintar, karena Papou tidak tahu jawabannya apa.


“gak tahu. Tante hantu bisa bantu aku gak?” Nana menatap bola mata merah menyala makhluk itu, tak ada rasa takut dalam hatinya sedikit pun ketika melihat mata merah menyala dan kepala yang terbelah mengeluarkan darah dengan bau anyir yang begitu menusuk.


“Bisa,” mendengar jawaban dari makhluk itu membuat mata bola Nana berbinar. “Caranya gimana tante hantu?”


“Kita buat kesepakatan, saya berikan Papou kepintaran tapi kamu berikan kehidupan Papou untuk saya.”


“Bodoh amat lah tente hantu, yang penting Papou pintar dan bisa jalan-jalan sama aku dan mama.”


Hantu itu tersenyum, “Good girl, kita sepakat.”


“Sepakat.” Jawab Nana dengan semangat.


Daga hanya bisa terperangah mendengar cerita Nana, dengan begitu mudahnya Nana mengorbankan nyawa adiknya sendiri.


~SF.L~


Seperti biasa Karin sedang tiduran di bawah meja sedangkan Araya tiduran di atas sofa sambil memainkan hpnya, hari ini Papou sudah boleh pulang.


Tidak ada yang bersuara semua hanya sama-sama diam, Papou tidak tahu harus bicara apa. Hanya sekedar untuk berkata maaf lidahnya terasa keluh, sulit untuk di gerakan. Ke mana perginya suara berisik Karin, Papou merindukannya.


“Ba … ng Araya?”


Papou mencoba untuk bicara, tidak ada salahnya kan menyapa terlebih dulu.


“Iya … apa?” ucap Araya tanpa mengalihkan fokusnya dari hp yang ia pegang sedari tadi.


“Maaf kemarin aku uda buat Bang Araya marah,” ucap Papou sambil menundukkan kepalanya.


Jarang-jarang sekali Papou berkata seperti ini. Araya langsung bangkit dari posisi tidurnya dan merubahnya menjadi duduk, Araya menepuk-nepuk sofa di sampingnya, “yuk duduk, kita ngobrol dulu.”


Papou hanya menurut, dia duduk di samping Araya. “Kamu … kenapa kabur?”


Papou hanya diam, Papou rasa tanpa ia jawab pun Araya tua jawabannya. Hakikatnya laki-laki adalah seorang pemimpin dan Araya adalah satu-satunya laki-laki di rumah ini, jadi Araya adalah pemimpin di rumah ini.


“Abang tahu … kamu pasti kecewa, apa salahnya jika kamu bukan setalah darah dengan Nana, toh dia juga sudah meninggal. Tidak ada yang akan berubah, oma, aku dan Karin tetap akan menyayangi kamu.”


Jari-jari Papou saling bertautan, menyesal telah membuat oma khawatir. “Sekarang aku uda boleh ngomong sama Papou.’ Tiba-tiba saja Karin muncul dari balik meja.

__ADS_1


“Boleh,” Araya mengaguk.


“Huaa … Papou, kangen tau gak. Bang Araya larang aku buat nengokkin kamu di rumah sakit.” Karin langsung merentangkan tangannya bersiap untuk memeluk Papou, kali ini Papou hanya pasrah di peluk oleh Karin, biasanya Papou akan berusaha untuk menghindar.


~SF.L~


Daga telah menceritakan semuanya pada Papou, tentang kenapa hantu rumah sakit itu selalu mengikutinya, ya … walaupun hanya lewat telepon karena Daga ada urusan di kampus sampai malam, Daga tidak mau di hukum oleh bundanya lagi.


Yang membuat Daga kesal adalah, susah payah dia melindungi Papou, tapi Papou malah lebih memilih untuk di bunuh saja.


Papou mengambil sebuah pisau yang biasa ia gunakan untuk membuka buah, tidak terlalu tajam, tapi jika di gunakan untuk melukai diri sendiri cukup tajam bisalah di gunakan untuk membuat nyawanya melayang.


Papou terus menatap pisau itu tajam, kata-kata Hanna waktu itu kembali terngiang dalam telinganya, “dunia gak butuh kakak.”


“Dunia memang tidak membutuhkanku,” Papou semakin yakin untuk keputusannya, lihat saja hidupnya hanya membuat orang lain menderita.


Pisau itu langsung terlempar dari tangan Papou ketika Papou melihat kucing hitam di dekat kakinya, manis sekali. Papou ingat betul itu kucing Hanna, tapi di mana anak itu. Papou sibuk melihat kiri dan kanan, tapi Papou tidak melihat ada Hanna di sini.


Kucing itu hanya diam tanpa suara, menjilati bulu hitamnya. Papou kembali mengambil pisau yang sempat terjatuh tadi.


“Cilub … cilubah …” lagi-lagi Papou di kagetkan oleh kedatangan Hanna yang tiba-tiba dari balik jendela kamarnya, padahal kamar Papou ada di lantai dua, dari mana anak ini bisa naik. Lupakan saja, Hanna itu bukan manusia, wajar saja jika dia bisa melakukan itu.


“Ayoo … kakak mau ngapain,” Hanna menunjuk-nunjuk Papou.


Papou mendengus sebal, kenapa anak ini datang di waktu yang tidak tepat seperti ini.


“Ayo ngaku kakak pasti mau bunuh dirikan?” Hanna kembali menunjuk-nunjuk Papou sambil berjalan mengikati Papou.


“Ayo Kak mati, nanti kita main bareng di neraka,” Hanna tertawa cekikikan dilanjutkan dengan dia yang bertepuk tangan dan berucap. “MATI … MATI … MATI,” harusnya itu menjadi kata yang menakutkan bagi sebagian orang, tapi bagi Hanna itu adalah hal yang lucu, anak itu tertawa terbahak-bahak sambil berputar-putar mengelingi Papou.


Papou hanya diam ditempatnya, tangannya masih memegang pisau itu, tapi entah kenapa Papou mengurungkan niatnya untuk bunuh diri sekarang ia sedang berada dalam mood yang buruk itu semua gara-gara Hanna.


“ Yah … kenapa gak jadi mati sih kak Pou, padahal aku mau minum darah Kak Pou.” Nada bicara Hanna terdengar kecewa. Apa jangan-jangan Hanna vampir. Suka darah?


“Ka … kamu … minum darah?” Tanya Papou dengan ragu.


“Aku suka semuanya, mulai dari darah aku suka, bangkai aku suka apalagi yang baunya udah busuk banget aku suka, daging segar manusia aku juga suka. Tapi … mama selalu larang buat makanan daging segar manusia, paling sering sih makan kelabang.”


Mendengar penjelasan Hanna Papou langsung bergidik ngeri. Hanna membuka mulutnya lebar-lebar, lalu tangan kanannya masuk ke dalam seperti mencoba mengeluarkan sesuatu. Harusnya itu tidak bisa dilakukan oleh manusia normal.


“Kakak mau?” Hanna menawarkan apa yang barusan di keluarkannya, entah apa itu yang jelas itu penuh lendir dan menjijikkan. Papou benar-benar ingin muntah sekarang.


“Kakak mau?” Hanna kembali mengulang pertanyaannya karena tidak mendapatkan jawaban dari Papou. Dengan cepat Papou menggeleng, menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


“Enak lo Kak, ini tadi aku makan ular.” Apa yang ada dalam tangan Hanna itu mulai berjatuhan ke lantai. Kucing hitam tadi langsung menjilatinya.


“Lihat saja, Surati suka. Enakkan Surati?” seperti dengan bahasa manusia kucing itu langsung mengeong, lidahnya terus menjilati lendir-lendir yang terjatuh dari tangan Hanna.


Semakin Hanna berjalan maju, Papou semakin berjalan mundur. “Sebenarnya kamu siapa sih?”


Hanna berhenti melangkah maju dengan wajah yang cemberut, “benaran gak mau nih?” Hanna kembali menawarkannya. Dengan cepat Papou langsung menggeleng.


Hanna kembali memakan itu berbentuk daging yang talah di hancurkan terdapat lendir yang saling mengikatnya, itu sangat menjijikkan. Papou benar-benar membuat Papou merasa mual.


Setelah semua makanan menjijikkan itu ditelan oleh Hanna, dia kembali bersuara.


“Kata mama aku bangkai hidup, kata mama aku baru bisa meninggal kalau Kak Pou uda meninggal, makanya Kak Pou harus cepat-cepat mati biar kita bisa main bareng di neraka. Kata mama lagi di neraka itu banyak apinya jadi kita bisa main masak-masakkan.”


Papou hanya bisa melongo mendengar penuturan Hanna yang begitu lugunya, Papou tidak habis piki bagaimana jalan pikiran anak ini sebenarnya.


“Makanya Kak Pou harus cepat mati,” Hanna mengambil pisau yang sempat dijatuhkan oleh Hanna tadi.


“kak Pou mau mati sendiri, tapi mau aku bantuin matinya?.” Kenapa enteng sekali bagi Hanna untuk bicara seperti itu.


“Kamu siapa?” Papou kembali bertanya.


“Ihh … benar kata mama Kak Pou itu bodoh, bodoh, bodoh, bodoh dan bodoh.”


Mama siapa yang di maksud Hanna, apakah mamanya atau mama yang lain.

__ADS_1


“Pokoknya Kak Pou harus mati.” Hanna berlari maju, mencoba untuk menusukkan pisau itu ke tubuh Papou.


__ADS_2