Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
club kesenian.


__ADS_3

Daga harus terima dengan ikhlas wajah tampannya dihajar oleh Raga, tanpa alasan yang jelas. Sakit gak tuh, lo dipukul tapi gak tau alasannya kenapa, ibaratnya itu kayak lo di putisin, tapi alasannya gak jelas. Pulang-pulang Raga sudah mengamuk dan meninjunya.


“Pelan-pulan, Bunda,” ringis Daga, ketika bunda mengompres wajah Daga dengan air dingin.


“Kamu buat salah apa?”


Daga menggeleng ia tidak tau salahnya di mana.


“Coba pikir-pikir lagi deh, masa iya gak ada angin gak ada hujan Raga ngamuk kaya gitu.”


“Apa mungkin Raga cemburu, tadi soalnya pulang dari kampus aku jemput Papou.”


Langsung saja bunda menekan dengan keras handuk yang ia gunakan untuk mengompres wajah Daga ke arah luka memar itu, hal itu membuat Daga meringis kesakitan.


“Gebetan kembaran masih aja diembat, cari yang lain,” geram bunda dengan kesal.


“Kan cuma pendekatan sama calon saudara ipar bun.” Daga menyengir seperti orang tanpa salah.


Raga turun dari lantai dua rumahnya menggunakan celana jins selutut dan baju kaos berwarna putih favoritnya. “Ke mana Ga?”


Raga tak menghiraukan pertanyaan bunda, “Gue pinjam mobil lo.” Daga hanya mengangguk pelan, Raga seperti wanita yang sedang berada di fase PMS mood mempengaruhi segalanya.


~SF.L~


Kini Raga dan teman-temannya sedang duduk di sebuah warung kecil di jalan kecil menuju sekolahnya. Bau tembakau begitu menyengat dalam warung itu.


Dihisapnya dalam-dalam asap rokok itu lalu dikepulkannya di udara, “nafsu banget.” Raga tak mengerti maksud dari perkataan Nades.


“Lo kenapa?”


“Apanya yang kenapa?” Raga malah balik bertanya.


“Lo bego.” Nades benar-benar geram dengan temannya.


“Gue? Emangnya gue kenapa?” ucap Raga pura-pura tidak tau arah pembicaraan Nades.


Raga mendengus sebal, ada-ada saja yang mengganggu moodnya yang sudah berada dalam keadaan buruk saat ini, ada telefon dari Fitri. Sekretaris osisnya.


“Ada apa lagi sih?” ucap Raga dengan penuh emosi.


“Data yang lo minta kemaren udah selesai, lo mau bentuk softcopy atau hardcopy?”


“Kirim ke email gue filenya.” Tanpa mengucapkan salam Raga langsung memutuskan telefonnya secara sepihak.


Raga terperangah ketika melihat nama Papou ada di organisasi yang ia pimpin, selain sebagai ketua OSIS Raga juga menjadi ketua di club kesenian. Walaupun begini-begini Raga punya jiwa seni yang tinggi, ia adalah gitaris di band sekolah yang sekaligus merangkap sebagai ketua club kesenian.


Fitri keheranan kenapa Raga menelefonnya, bukannya tadi Raga habis marah-marah, Fitri malas mengangkatnya takut jika Raga menyambung marahnya. 10 kali Raga menelefon tapi tak sekalipun diangkat oleh Fitri.


“ANGKAT TELPON GUE, ATAU GAK LO GUE DEPAK DARI OSIS.”


Mendapat SMS begitu dari Raga, Fitri langsung mengangkat telepon dari Raga.


“kenapa lo gak angkat telepon gue?”


“Ya … yah maaf Ga, gue tadi ada panggilan alam.” Alibi Fitri.


“besok gue mau, lo kumpulin semua anak club kesenian dan calon anggota club kesenian yang baru, gak boleh ada satu pun yang pulang.”


Ingin sekali rasanya Fitri membunuh Raga, ketua OSIS yang sok ngatur-ngatur, “tapi ga … gue gak punya hak untuk ikut campur urusan anak kesenian, gue bukan anggota club kesenian.”


Memang benar apa yang dikatakan oleh Fitri, tapi Raga tak mau berurusan dengan Putra wakilnya, Putra tidak akan mau di atur-atur sedangkan Maya sekretarisnya di club kesenian menyukainya dan Raga tidak mau terlibat urusan dengan gadis manja itu.


“Gue gak mau tau, pokoknya lo harus urus itu semua.”


Raga tersenyum penuh kemenangan, kenapa nasibnya seberuntung ini. Kenapa Papou memilih club kesenian, apa dia punya keahlian dibidang seni. kita lihat saja nanti.


“Lo goblok karena cinta, tadi marah-marah gak jelas sekarang ketawa-tawa gak jelas.”


“Siapa?”


Nades memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Raga, itu hanya akan membuang waktunya.


~SF.L~


Apa benar semua yang dikatakan oleh Daga, Papou terus memikirkan semua kata-kata Daga tadi. Entah kenapa ia merasa takut sendiri.


“Pou …”


“Apa?” jawab Papou dengan malas, sekarang Papou sedang tiduran di sofa sedangkan Karin di bawah meja seperti biasa.


“Aku lagi patah hati,” ucap Karin dengan nada lirih.


“kenapa?” sebenarnya ia tidak peduli dengan apa yang dirasakan oleh sepupunya itu, sekarang ia hanya sedang mencoba menjadi pendengar yang baik.


“Tadi pas aku jalan-jalan gak jelas di luar, terus gak sengaja aku dengar emak-emak gosip, katanya kak Adit lagi ta’aruf.” Karin menggeser posisinya agar bisa duduk, bibirnya manyun.


“Sama siapa?”


“Yang jelas bukan sama aku.” Entalah rasanya sekarang Karin ingin menangis, lebai sekali memang.

__ADS_1


“Cari yang lain Rin, banyak kali cowok ganteng di SMA Cendikia.”


“Tapi aku sukanya kak Adit, gimana dong.” Rengek Karin.


Araya datang dengan wajah lesu, Karin langsung berlari ke arah Araya dan bergelayut di lengan abangnya itu.


“Lo kenapa?”


“Kak Adit lagi taaruf.” Rengek Karin, air matanya hampir saja jatuh.


Terkadang Papou suka iri dengan Karin, gadis itu begitu mudah untuk bercerita pada siapa pun, tidak seperti dirinya. Bukannya malah kasihan, Araya rasanya ingin tertawa melihat tingkah adiknya ini.


“kamu beneran suka sama dia, Dek?” Tanya Araya dengan heran.


“Analisa aja sendiri.”


Araya menggerutu, “mentang-mentang anak bahasa, gayanya sok analisa.”


“Apa hubungannya,” Araya langsung menyentil kepala adiknya itu. “Abang capek, mau ganti baju terus tidur.”


Karin kembali masuk ke bawah meja, itu adalah tempat ternyaman untuknya.


“Kamu butuh tali gak?”


“Buat apa?” Karin balik bertanya heran.


“Siapa tau aja kamu bosan hidup dan pengen bunuh diri.”


Karin mendengus sebal, kenapa tidak ada yang mengerti dengan perasaannya saat ini. Patah hati membuatnya lapar, ini adalah akhir bulan uang bulanan yang diberikan oleh oma sudah hampir habis.


“Abang …” rengek Karin di depan pintu kamar Araya.


“Apalagi sih dek,” entah kenapa tingkah Karin begitu menyebalkan hari ini.


“Lapar.”


“Yah makanlah.”


“Gak peka banget sih jadi cowok, kalau cewek bilang lapar itu artinya dia mau diajak makan keluar.”


“sejak kapan kamu bisa main kode-kodean gini, jangan cepat dewasa yah Dek, tetap jadi Karin yang kayak bocah aja,” Araya mengusap pelan kepala Karin. Entah kenapa Karin merasa jadi salah tingkah, ia malu sendiri.


“Pergi makan yuk Bang,” Karin kembali merengek.


“dompet Abang lagi tipis, makan di rumah aja yah. Yuk kita masa bareng.” Karin langsung cemberut, menghentakan kakinya ke lantai.


“Bagus dong kalau jeleknya hilang jadi cantik.” Karin tersenyum dengan mata berbinar.


“Bukan … tapi makin jelek.”


Karin melempar Araya dengan sandal yang ia pakai, untung saja Araya sigap untuk menutup pintu kamarnya.


“BANG ARAYA ….”


Araya benar-benar puas mengerjai Karin yang sedang putus cinta.


~SF.L~


Papou benar-benar kesal setengah mati, bagaimana tidak kesal harusnya sekarang ia sudah tidur nyenyak di rumah. Sekarang ia malah berakhir di ruang kesenian. Sebenarnya Papou ingin kabur tapi tidak bisa, 5 menit sebelum bel pulang berbunyi ada kakak kelas yang menjemput semua anak club kesenian ke kelas.


“Tunggu sebentar yah adik-adik, ketuanya lagi ada urusan sama guru bentar.” Papou mendengus sebal, menyesal ia memilih organisasi ini.


Papou membulatkan mata tidak percaya, kenapa ada Raga di sini jangan bilang Raga juga anak club kesenian, itu artinya sekarang ia sedang berada di kandang macan.


“Maaf saya telat, jadi begini kita club kesenian mau mengadakan acara pameran lukisan, mungkin memang terkesan mendadak bagi kalian tapi kami anggota club kesenian ini sudah merancang lama acara ini. Saya sebagai ketua club kesenian, ingin meminta kerja samanya.”


Saya sebagai ketua entah kenapa kata-kata itu terus terngiang di telinga Papou, bukan hanya masuk ke dalam kandang macam bahkan sekarang Papou sudah berada di depan mulut macan.


“Dalam rangka apa yah kak?” tanya seseorang gadis dengan rambut dikuncir kuda


“Dalam rangka kegiatan bulanan club kesenian. Hanya sekedar untuk kalian tauh, club kesenian akan mengadakan acara tiap bulannya, baik itu pameran lukisan, acara musik, teater dan lain-lain. Dan bulan ini kita akan mengadakan pameran lukisan.”


“Temanya apa?”


“Nanti kita bahas dalam rapat, sekarang silakan kalian Shalat Ashar dulu baru kita mulai rapat.”


Papou malah memilih untuk pergi ke rooftop, menikmati semilir angin sore, hubungannya dengan sang pencipta sedang tidak baik untuk saat ini. Kecewa, itulah yang Papou rasa sekarang.


Kilas kejadian di labor fisika kembali menghantuinya, sekolah sudah mewanti-wantinya untuk mengatakan kalau itu adalah kecelakaan ketika praktikum, padahal waktu itu mereka hanya disuruh mengukur menggunakan jangka sorong dan mikro meter sekrup.


Kenapa hidupnya semakin kesini semakin memberatkan. Sebentar lagi Papou akan ulang tahun, tinggal hitungan minggu umurnya akan menjadi 16 tahun.


Hanna siapa dia? Dia itu manusia atau hantu atau mungkin saja hantu yang menjelma dalam wujud manusia.


Mata hijau itu seperti familier, setiap menatap mata hijau anak itu Papou seolah merasa déjà vu, seolah terseret kembali ke masa lalu ada kepingan yang hilang dalam hidupnya.


“Hanna?” tiba-tiba Papou ingat sesuatu, tentang seseorang yang sangat ia benci. Kakaknya. Kata Hanna ada dalam nama kakaknya ‘Liana Hannatasya’ Papou hanya menghubung-hubungkan, tidak ada korelasi antara dua orang itu. Lagi pula kakaknya di panggil Nana.


“Hanna …

__ADS_1


Liana …


Hanna …


Liana …


Hanna …”


Papou terus mengulang-ulang nama itu.


Papou berusaha mengingat-ingat kebiasaan kakaknya itu dan cara bicaranya sama seperti Hanna, menyebalkan. Tapi bukankah setiap orang menyebalkan dimata Papou, tentunya kecuali oma.


Semua orang sudah mulai kembali berkumpul di ruang kesenian Papou memilih untuk menaiki lift untuk turun, ia capek harus menuruni tangga.


“Sebelum kita membahas tentang acara pameran lukisan, saya mau kita memilih struktur yang baru untuk club kesenian.” Raga memulai rapat, ia begitu berkarisma tampil di depan, jaket almamater berwarna krem sedikit ia gulung lengannya.


“Dengan ketua saya sendiri wakil tetap Putra di sini saya ingin memilih ketua pelaksana, sekretaris dan bendahara, mungkin ada yang bisa mengajukan diri.”


Semua diam tidak ada yang berani berbicara, “ok jika tidak ada yang mau bicara, saya tunjuk saja.”


“Kamu sekretaris,” Papou membulatkan mata tak percaya kenapa Raga memilihnya.


“Maaf kak, saya gak bisa dan gak berminat.”


“Jangan protes dong, terserah saya mau memilih siapa.” Raga tersenyum penuh kemenangan, ia punya sebuah rencana untuk membuatnya selalu dekat dengan Papou.


“Dasar modus.” Fitri tau niat terselubung temannya ini.


Setelah selesai memilih struktur club kesenian yang baru, mereka langsung saja membahas persiapan pameran. “Pameran akan di adakan 3 minggu lagi, jadi saya harap kerja sama dari rekan-rekan semua.” Tutup Raga di akhir rapat.


~SF.L~


Langit sudah menggelap, Papou terpaksa berjalan kaki padahal saat ini ia sedang malas untuk berjalan, tidak ada lagi bus yang lewat.


Raga berjalan pelan di belakang mengikuti tubuh mungil itu berjalan seorang diri, hari ini Raga sedang tidak membawah kendaraan sebenarnya ia bisa menumpang pulang dengan Nades atau dengan teman-teman yang lain.


“Mengikuti aku yah?” Papou merasa risi sendiri dengan Raga yang seperti mengikutinya.


“Idihh geer banget.” Raga menyamakan langkahnya dengan Papou.


“Kok lo pulang jalan kaki sih?”


“Kenapa?” Tanya Papou balik.


“kenapa gak naik bus atau angkot gitu.” Raga menendang-nendang kerikil kecil di trotoar.


“Bus uda lewat,” jawab Papou malas.


“Jangan kek orang susah deh, kan lo bisa mesan go-jek atau atau gak go-car.”


‘lah situ sendiri kenapa jalan kaki’ Papou membatin, ia muak jika harus terus berbicara dan berdebat dengan Raga.


Entah kenapa Papou merasa aneh berjalan berdua dengan Raga di bawah lampu jalan, seperti semua mata menyorotinya.


“kok lo jalannya kaya menghindar gitu dari gue,” itu seakan-akan membuat harga diri Raga jatuh, selama ini tidak ada cewek yang menolaknya. Bahkan cewek itu sendiri yang menyatakan cintanya pada Raga.


“Suka-suka dong.” Jawab Papou sarkasme.


“ehh minta nomor hp lo dong, nanti biar gue gak ribet kalau mau menghubungi SKRETARIS baru gue,” Raga sengaja menekankan kata-katanya pada kata sekretaris.


“aku mau resign jadi sekretaris kamu.”


“enak aja lo, kerja aja belum.”


Rasanya ingin sekali Papou menjambak rambut Raga dan menyuruhnya diam. “kamu bisa diam gak.” Emosi Papou benar-benar sudah berada di puncaknya.


“Gak … tuhan ngasih gue mulut buat ngomong, kalau gue berhenti ngomong artinya gue gak memanfaatkan fitur yang tuhan beri buat gue.”


“Terserah deh.” Papou benar-benar pasrah, ia harus menulikan telinganya, menyabarkan hati dan mendinginkan kepalanya. Agar ia tak meledak, karena kepanasan mendengarkan semua ocehan unfaedah dari Raga.


Andaikan cinta bisa memilih, memilih pada siapa ia harus berlabuh. Mungkin Papou bukan orang yang akan dipilih Raga, jelas sifat Papou jauh berbeda dari sifat wanita idamannya, tapi entah kenapa hatinya terus merasa nyaman dan bahagia di dekat Papou, walaupun kata-kata yang keluar dari mulut Papou selalu sarkasme.


“Minta nomor hp lo dong,” untuk saat ini Raga benar-benar telah melupakan gengsinya. Tapi entahlah untuk besok.


“Aku gak punya hp.”


“Gue gak percaya di zaman sekarang masih ada orang yang gak punya hp. Emangnya lo miskin banget yah?” Raga mengamati penampilan Papou dari atas sampai bawah, tidak mencerminkan kalau Papou dari keluar kurang berada.


Dilihat dari sepatu bermerek, tas yang di kenakan Papou pun Raga yakin harganya pasti di atas satu jutaan ia tahu mana barang kw dan mana barang asli matanya tak pernah salah dalam menilai. Seketika pandangan Raga tertuju pada jam tangan yang dikenakan Papou, Raga tau harganya itu bukan jam murahan.


“Boong kalau lo bilang lo miskin, jam tangan aja branded”


“Aku kan gak bilang, kalau aku miskin.” Benar juga, kan Raga sendiri yang menerkah-nerkah.


“Cepat nomor hp lo mana?” Raga mulai kehabisan kesabaran.


“Bye Ga, aku mau masuk rumah dulu.” Papou langsung berlari masuk ke dalam rumah, rumah yang cukup megah dengan halaman yang luas


“Gue gak tau nomor hp lo, tapi gue tahu rumah lo.” Bahkan Raga mendapatkan lebih dari pada yang ia mau.

__ADS_1


__ADS_2