Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
fakta baru.


__ADS_3

Daga melihat sekelilingnya, ini tempat asing baginya sebuah lorong panjang dengan air yang menetes membasahi rambut ikalnya. Daga merasa ada yang memegang tangannya, jarinya saling bertautan dengan anak itu. Daga baru menyadari itu bukan dirinya yang sekarang, tapi itu adalah potret dirinya di umur 7 tahun.


“Ikut aku …” anak perempuan itu menarik tangan Daga untuk berjalan mundur. “Ini di mana?” sungguh Daga tak pernah ke tempat ini, air yang menetes dan tanah yang becek.


Daga sedikit mengangkat kakinya, melihat lumpur yang melekat di sepatunya. “Iwww …” Daga mengernyit jijik.


Anak perempuan tadi menatap tidak suka, tapi dia tidak melepaskan tautan tangannya. “Jangan lepas in tanganku, nanti kamu hilang.”


Daga sadar ini mimpi, tidak akan ada masalah jika kau hilang dalam mimpimu sendiri. Nanti saat terbangun semua akan berjalan seperti biasa.


“Perhatikan baik-baik.” Anak perempuan itu berucap, sambil terus melangkah maju menelusuri lorong sunyi dengan rintik air yang terus membasahi.


“Aku Nana ….” Daga mengangguk, dari tadi ia sudah menduga tapi tidak yakin dengan jawabannya sendiri.


“Akan aku perlihatkan siapa aku dan Papou.”


Daga tertegun ketika melihat seorang bayi perempuan sedang duduk di teras rumah, rumah yang berbeda dengan waktu itu, rumah ini mini malis dengan taman bunga kecil di halamannya. “Di …a Papou?”


Nana mengangguk, lalu telunjuk mengacung diudara. “Dan dia ibunya,” Nana menunjuk seorang wanita cantik yang duduk di atas kursi melihat anaknya bermain.


Daga mengangkat sebelah alisnya, “Papou anak angkat di keluargamu?”


Nana menggeleng, ada raut kecewa dalam wajahnya, “Anak papa dari istri pertamanya …,” kalimat Nana terjeda, mencoba membuka luka lama kembali. Sakit, tentu saja. Anak mana yang akan ikhlas dan rela ayah mereka membagi kasih sayang dengan anak orang lain.


“Dia .... cacat, jadi papa nikah lagi sama mamaku setelah aku lahir, tante Laira hamil dan dia adalah Papou. Setelah mama tahu kalau papa itu poligami, mama marah dia datangin rumah tante Laira dia ngamuk …. Dan itu bikin tante Laira sakit, dia harus dirawat di rumah sakit.”


Daga hanya diam, mencoba memahami setiap kata-kata Nana. Nana melirik jam ditangannya, “seharusnya sebentar lagi mama datang kamu liat saja sendiri.”


Dan benar saja ada seorang wanita berjalan angku turun dari mobil mengkilapnya marah-marah, wanita yang duduk tenang di kursi tadi langsung kaget. Ia pingsan.


“Dia mama kamu?” Daga masih ingat kalau itu adalah wanita yang ia temui bebarapa hari kemarin.


“Apa hantu rumah sakit itu adalah mamanya Papou?”


Nana mengangguk, masih banyak pertanyaan belum terjawab dalam benaknya, “lalu kenapa dia ingin membunuh Papou?”


Nana menggeleng, “Nanti lo juga bakal tau. Sekarang kita ke rumah sakit.”


Tak perlu transportasi apa pun Daga langsung sampai di rumah sakit.


Selang-selang penopang kehidupan terpasang di seluruh tubuhnya, “emang dasarnya tante Laira itu penyakitan, jadi kaget dikit saja langsung kayak gitu.”


Beberapa kali Daga menghela nafas, ia resah, tiba-tiba dadanya menjadi sesak melihat ini semua. “Lo kenapa?” Nana menyadari apa yang terjadi dengan Daga.


“Gue pusing, nafas gue sesak.”


“Wajar aja sih, kita lagi melawan waktu, itu akan mengakibatkan manusia yang masih hidup akan pusing, sesak nafas bahkan bisa sampai muntah-muntah. Kita pulang.”


Daga ke tempat pertama tadi sebuah lorong dengan air yang menetes. “Selamat tinggal, tolong jaga Papou.” Nana melepaskan tautan tangan mereka.


Daga terbangun dari tidurnya, kepalanya benar-benar pusing, perutnya mual. Daga langsung berlari ke toilet untuk memuntahkan seluruh isi perutnya.


“Lo kenapa?” Walaupun sedang kesal dengan Daga, tapi Raga tetap kasihan dengan kembarannya itu.


Tidak mungkin kan, Daga menjawab kalau dia baru saja pergi ke masa lalu Papou. Daga hanya menggeleng dan berjalan lemah menuju tempat tidurnya. Membaringkan tubuhnya.


“Lo hamil?”


Bantal guling melayang ke kepala Raga. “Sakit, bego.” Raga mengusap-usap kepalanya.


“Lo yang bego.” Daga menggeram kesal.


~SF.L~


Untuk pertama kalinya Papou tidak menikmati momen melukisnya, beberapa kali Papou menghela nafas dan duduk tidak tenang di kursinya.


Sesekali terdengar bunyi kursi yang berdenyit, untuk yang pertama kalinya Papou merindukan kehadiran Raga. Ia ingin diganggu, ia ingin mendengar suara itu memerintahnya.


Papou bangkit dari kursinya, ia tertarik dengan gitar akustik coklat tua yang ada di dalam lemari.


“Uda lama , gak pegang gitar,” jari-jari Papou mulai bergerak, memetik senar gitar.


Papou tidak sadar ada seseorang yang berdiri di depan, Papou langsung terlonjak kaget ketika suara tepuk tangan menggema di dalam ruangan itu.


“Bagus yah lo, disuruh buat nyiapin pegelaran malah enak-enakan main gitar.” Papou memutar malas matanya, kembali ia letakan gitar yang dipangkunya tadi.


“Suka-sukalah,” balas Papou tak kalah sengitnya. Papou merutuki kebodohannya karena tadi sempat merindukan manusia keras kepala yang sedang berkacak pinggang di depannya.


“Lo pikir ini sekolah bapak lo,” Raga menyentil kepala Papou, Papou benci orang yang dengan kurang ajar memegang kepalanya.


Asap-asap gaib mulai beterbangan di sekitar kepala Papou. Papou kembali mengambil gitar tadi, lalu dipukulkannya ke kepala Raga.


“Sakitkan.”

__ADS_1


“Ehh … keledai, cuma orang bego yang bakalan nanya kalau dipukul pake gitar itu sakit atau enggak.” Raga mengusap-usap kepalanya, sebenarnya Raga lebih kasian kepada gitar itu dibanding dengan kepalanya.


“Ga …”


“Gak usah manggil-manggil.”


“mau dipukul lagi pake gitar,” Raga agak bergidik ngerih, walaupun Raga cowok tetap sakit kalau dipukul pakai gitar.


“Lukisan ini kapan mau dianterin ke tempat pameran?”


“Dua hari sebelum pameran.”


Papou hanya mengangguk, entah kenapa ia merasa sangat senang akan pameran ini. Yah … walaupun lukisannya hanya 5 buah, tapi itu tak masalah tidak mudah menyelesaikan lukisan dalam waktu yang kurang satu bulan.


Papou jadi ingin mengajak Pak Soleh, laki-laki itu pasti senang.


“Kenapa lo senyum-senyum sendiri.” Raga mengernyit heran, tumben sekali Papou senyum-senyum seperti ini.


Papou langsung menggeleng, “Daga hari ini sibuk gak?”


Apa yang istimewa dari Daga, Raga tidak suka ketika Papou menyebut-nyabut nama kembarannya itu. “Kenapa? Lo suka sama dia?”


Papou menggeleng cepat, jatuh cinta adalah suatu hal yang sudah ia black list dalam hidupnnya. “Gak.”


“Ngaku lo?” Raga terus mendesak Papou.


“Apasih Ga, aku gak suka sama dia.”


“Kenapa? Daga ganteng walau masih gantengan gue sih, Daga pinter. For your information aja nih yah, Daga itu SMA sama SMP cuma 2 tahun.”


Papou memutar bola matanya malas, ia sudah tauh itu dari Daga. “Uda tau,” jawab Papou ketus.


Raga merebahkan tubuhnya di sofa, ia melarikan diri kesini ia malas belajar biologi di kelas pelajaran biologi adalah pelajaran yang paling Raga benci.


Papou kembali menyibukkan diri dengan lukisannya, kenapa suasananya mendadak canggung, Papou dan Raga sama-sama diam.


“Pou?”


Papou menoleh ke sumber suara, Raga yang tiduran di sofa dengan mata yang terpejam.


“Boleh gue minta satu hal?” Suara Daga terdengar memohon. Ini serius Papou tau itu.


“Gak mau, pasti kamu mintanya yang bikin aku repot.”


Raga menghembuskan nafas kasar, merubah posisinya menjadi duduk, “lo bawaannya suuzon terus sama gue.”


“Sekali ini aja, plis percaya sama gue.” Papou menatap netra coklat Papou, selalu saja begini. Ada kekuatan magis dalam netra coklat itu, netra coklat itu mampuh membuat jantung Raga bekerja dua kali lipat lebih cepat dari biasa.


“Apa?” Papou melipat kedua tangan di depan dadanya, kepalanya terangkat dengan angkuh.


“Gue suka sama lo, tapi gue gak minta buat lo juga suka sama gue. Gue cuma minta … jangan bahas Daga kalau sama gue. Ngertikan?”


Raga juga tidak mengerti kenapa ia bisa bicara seyakin ini, selama ini Raga pikir ia hanya sekedar kagum. Papou cantik, pintar, kaya apalagi yang kurang dari seorang Syellifau Lidia, hanya sifatnya yang kurang bersahabat. Bagi Raga itu tak masalah.


Papou hanya bisa diam di tempat duduknya, ia tak pernah membayangkan hal seperti ini terjadi. Apa barusan Raga sedang menyatakan cintanya? Sial, Papou tidak paham.


“Jujur gue cemburu.” Raga kembali melanjutkan kalimatnya.


“Ra .. Raga barusan nembak aku?”


Segaris senyum mengembang di wajah Raga, lihatlah seberapa lugunya Papou.


“Bukan, gue cuma bilang suka. Lo ngarap gue tembak?”


Menyebalkan. Kenapa Papou jadi malu sendiri dengan pertanyaan konyolnya.


“Lo ngarap gue tembak? Raga kembali mengulang pertanyaannya.


“Gak.” Jawab Papou cepat.


“Good … jangan ngarap gue tembak, gue juga gak bakalan nembak lo, lo itu bukan tipe gue. Heran juga sih sama hati kenapa bisa suka sama lo.” Raga merutuki dirinya yang tidak bisa jujur, lagi dan lagi selalu begini, apa yang ia katakana tak pernah sejalan dengan apa yang dirasakannya.


“Syukur deh, aku juga gak mau pacaran sama orang kayak kamu, nyebelin.” Papou menghela nafas legah, ia benar-benar tidak mau terjebak dalam perasan yang tidak jelas. Tapi kenapa hatinya sedikit kecewa dengan kata-kata terakhir Raga.


Raga kembali merebahkan tubuhnya, sekesal apa pun ia pada Papou, sehebat apa pun mereka bertengkar berada di dekat Papou tetaplah tempat ternyaman.


“Apa liat-liat,” Papou risi sendiri dengan Raga yang terus menatapnya dari tadi, Papou tidak fokus untuk menyelesaikan lukisannya.


“Idihhh geer banget, orang gue lagi mikir juga,” alibi Raga.


“Bohong.” Papou tidak semudah itu untuk bisa percaya dengan Raga, jelas-jelas tadi memperhatikannya. Papou sangat yakin itu.


“Kalau gue liatin lo emangnya salah, ada yang salah? Mata-mata gue, jadi gak usah berisik.”

__ADS_1


Bunuh orang yang menyebalkan dosa gak yah?


Rasanya Papou ingin menjahit mulut Raga yang sangat menyebalkan ini, Papou jadi heran kenapa Raga bisa jadi ketua osis dan club kesenian. Papou tau, Raga pasti menjalankan politik uang.


“Kan yang kamu liatin aku, jadi ngerih tau gak sih.” Papou bergidik ngerih, Papou segera membereskan peralatan lukisnya, ia harus segera pergi dari sini. Papou harus segera balik ke kelas.


“Aku ke kelas duluan yah Ga, ada ulangan soalnya.”


Raga hanya mengangguk pelan, Papou menghilang dibalik pintu kayu berwarna coklat itu, Raga masih menatap pintu itu. “Gue kenapa sih kayak orang gila.” Raga membatin.


~SF.L~


Daga sedang duduk di kantin, ia tidak meminum jus alpukatnya dari tadi Daga hanya sibuk mengaduk-ngaduk nya menggunakan sedotan.


“Apa gue harus bilang ke Papou, kalau dia itu bukan saudara kandung dengan Nana, tapi gimana kalau Papou semakin membenci keluarganya itu?” Daga bermonolog sendiri sambil terus memainkan sedotannya.


“Tapi … kalau gue cuma diam ini semua gak bakalan pernah selesai.” Daga menggeram frustrasi kenapa menyesal menjadi orang baik membuatnya lelah.


“Apa pun yang terjadi gue harus jujur.” Ucap Daga dengan mantap, sambil mengambil ponselnya dari dalam tasnya.


Pou, nanti pulang sekolah ada waktu sebentar gak? Gue mau bicara penting!


Hanya centang satu, mungkin Papou sedang belajar. 30 menit kemudian, Daga mendapat pesan balasan dari Papou.


Gak tau juga Kak, aku lagi nyiapin acara pegelaran. Raga pasti gak ngizinin.


Ok. Malam gue ke rumah lo.


Jangan … di taman aja, di rumah gak ada orang. Oma belum pulang.


Gak lagi belajar?


Daga tau, Papou tidak akan membalas pesannya jika tidak berhubungan dengan hal-hal penting. Buktinya sekarang pesannya hanya dibaca. Daga heran sendiri kenapa tangannya segatal ini ingin mengirimi Papou pesan singkat lagi.


Jam 8 gue tunggu di taman, jangan sampai telat!


Soal waktu nanti aku pasti in kak, gak bisa sekarang.


Kenapa?


Gak usah kepo.


Daga tertawa, Papou tetaplah Papou yang keras kepala dan kata-kata yang menusuk tajam.


Iya-iya …


Daga langsung mematikan ponselnya, memasukkan kembali ke dalam tasnya Daga harus segera pergi ada urusan yang harus ia selesaikan.


~SF.L~


Apa-apaan ini, kenapa Raga menambah daftar acara, Papou harus membuat proposal baru lagi.


“Kenapa gak bilang dari dulu sih?” kesal Papou tak terima, tentu saja ia tidak terima.


“Baru dapat idenya tadi, Pou,” jawab Raga acuh sambil terus mengotak-atik ponselnya.


“Buat aja proposal barunya sendiri, aku mau pulang.” Papou langsung menyambar tasnya yang ia letakan di atas meja.


“Jangan gitulah Pou, kita udah capek-capek nyiapin acara ini masa batal cuma gara-gara kamu gak mau bikin ulang proposalnya.” Bujuk seorang perempuan yang tidak Papou tau namanya.


“Kakak pikir buat proposal gampang, iya kalau cuma buat proposal itu gampang yang susah itu minta tanda tangan sana sini.” Papou tidak mau disudutkan, mereka pikir mereka siapa.


“Kita bikin sama-sama yah, dek. Usul Raga itu gue setuju banget, lumayan buat ngenalin kegiatan club kita ke khalayak ramai.” Siapa lagi ini, yang jelas dia ada di kubu Raga.


Papou masih diam di pintu, banyak hal yang ia pikirkan. “Ayolah … kalau ramai-ramai pasti kita bisa.” Danis ikut bersuara.


“Gak usah di bujuk lagi, biarin aja dia pergi. Percuma lo semua bujuk dia, dia itu gak bakalan peduli dan gak punya perasaan, gak bakalan mau juga.”


Kenapa mulut Raga semenyebalkan itu, ingatkan Papou untuk menambar mulut itu nanti. “Aku mau, yuk kita buat.” Ucap Papou antara ikhlas dan tidak ikhlas


Raga tersenyum penuh kemenangan, Raga tahu Papou benci diremehkan, cara termudah untuk membuat perempuan itu mau bekerja yang dengan cara meremehkannya.


“Tumben banget peduli,” cibir Raga dengan berkacak pinggang, Papou membalasnya dengan tatapan permusuhan.


Papou membukan laptopnya mencari file proposal lamanya, hanya perlu diedit sedikit. Maka semua akan selesai. Mungkin selesai acara ini Papou akan membuat surat pengunduran diri jadi sekretaris.


“Pou ….” Raga yang duduk di samping Papou dari tadi sibuk, menarik bulu-bulu halus di tas Papou yang memiliki telinga kucing sambil sesekali memanggil nama Papou, yang tak dipedulikan oleh Papou.


“Apasih Ga …..” Papou kesal sendiri dengan tingkah Raga.


“please jangan temuin Daga, nanti.”


Tau dari mana? Apakah Raga adalah titisan cenayang.

__ADS_1


“Tahu dari mana?” Tanya Papou penuh curiga.


“Gak perlu tau, tapi plis jangan yah.” Sulit sekali untuk menolak Raga dengan kata-kata lirih seperti ini. “Iya-iya ….” Iyain aja biar cepat. Papou melanjutkan kata-katanya dalam hati.


__ADS_2