
Sekarang Papou baru sadar kenapa Oma selalu memarahinya ketika, Papou berbohong. Sehebat itukah efek dari sebuah kebohongan.
Setelah mendengar cerita dari Hanna. Papou dapat mengambil kesimpulan kalau Hanna telah memberikan Raganya untuk menampung mereka yang ingin memiliki Raga.
~SF.L~
“Lo kenapa?” Daga merasakan ada perubahan sifat dari Papou, dari tadi dia hanya diam.
Papou mengela nafas panjang, kenapa hatinya merasa gelisah sekarang, Papou merasa tidak tenang.
“Lo kenapa sih?” Biasanya Papou memang pendiam, tapi diamnya Papou hari ini terlihat berbeda.
“Cerita sama gue, lo kangen oma?” Daga mencoba menebak dan Papou hanya menggeleng
“Terus kenapa?” Daga tak putus asa untuk mencari tahu.
Wajah Hanna yang lugu penuh dengan luka terus tergambar dalam benak Papou.
“Sekarang kita lagi ke masa lalu kan?” Bola mata Papou penuh dengan tanda tanya terpatri dengan jelas ada sirat rasa bersalah di sana.
“Iya ... kenapa memangnya?” Bagi Daga seharusnya Papou sudah tauh itu, tapi kenapa masih di pertanyakan.
“Apa yang terjadi saat ini bisa mengubah masa depan di dunia nyata.”
Daga tidak pernah mempertanyakan hal itu, Daga rasa apa yang mereka lakukan di sini tidak akan berpengaruh terhadap dunia nyata mereka. “Gue rasa enggak.”
“Tadi aku ketemu Hanna,” Papou mencoba mengingat kembali kejadian tadi.
“Kapan? Di mana?” Daga terdengar khawatir, pasalnya dari tadi Papou selalu bersamanya dan Daga tidak menemukan Hanna.
“Tadi waktu ada kerumunan mereka menyerang kita,” Papou menghela nafas pendek, ia benar-benar capek rasanya Papou ingin menyudahi ini dengan cepat.
“Gak tauh kenapa tadi tiba-tiba aku ada dalam ruangan yang sangat gelap dan penuh dengan cermin. Di situ aku dapat melihat pantulan diriku di cermin ....” Papou menjeda kalimatnya.
Papou menarik nafas, mencoba menenangkan dadanya yang bergemuruh, dadanya terasa sesak. “Dan ... di situ aku melihat Hanna sedang di siksa oleh mamanya, waktu terasa berjalan cepat.”
Daga mendengarkan cerita Papou dengan saksama, mencoba memahami mencoba menjadi pendengar yang baik.
“Dia ... megang kaki aku dan tersenyum, dan dia bilang dia mau sepertiku. Gara-gara aku yang mengarang cerita kalau aku adalah hantu, membuat Hanna mengandaikan jiwanya pada hantu rumah sakit itu.”
Daga dan Papou sama-sama terdiam, “Apa itu yang menyebabkan Hanna selalu ganggu aku?”
Daga menggeleng pelan, ia tidak tahu. “Apa bisa kita bantu Hanna untuk keluar dari lingkaran setan itu.”
“Pou ... ada hal di dunia ini yang gak bisa kita rubah, Hanna telah memilih jalan hidupnya. Jadi biarkan saja,”
Papou juga heran dengan dirinya sendiri, kenapa mendadak peduli dengan orang lain.
__ADS_1
“Ini semua gara-gara Kakak, coba aja waktu itu Kakak gak nyuruh aku buat nyamperin dia.”
Daga tidak mau mendebat Papou, mencoba untuk bersifat dewasa. Menjadi dewasa bukan tentang umur tapi juga tentang cara menanggapi sesuatu.
“Kalau seandainya lo ketemu sama dia, apa yang mau lo lakukan?”
Papou terdiam sesaat, “kita bawah dia melakukan perjalanan ini.”
“Berarti sekarang kita mencari dia?” satu alas Daga terangkat.
Papou mengangguk pelan, berharap Daga mengangguk atau berucap iya.
Daga tertawa hambar, “ stop peduli sama dia Pou ....”
Papou meneguk salivanya, Papou harus menelan kekecewaan padahal Papou sangat berharap dengan kata iya dari Daga.
“Logika aja nih ya, jika hantu yang di maksud Papou sama dengan hantu yang kita maksud maka jika kita mengalahkannya itu juga menyelamatkan dia.”
Papou terdiam mendengar kata-kata Daga, mencoba mencerna setiap maksud dari kata-kata itu.
“Itu kan Cuma logika Kakak?”
“Apa tujuannya lo ngajak dia dalam perjalanan ini?”
“Aku pikir jika kita mengajaknya, mungkin dia akan tertolong,” ujar Papou pelan, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.
“Mending sekarang kita fokus sama apa tujuan kita, kalau seandainya Hanna juga selamat dengan cara ini berarti itu bonus untuk kita.”
Papou hanya mengangguk pasrah, jauh dalam lubuk hatinya yang paling dalam Papou ingin menyelamatkan Hanna tapi Papou jika tidak mau mengambil risiko yang lebih jauh.
0
~SF.L~
Hari ini Karin benar-benar tidak selera untuk makan, Karin duduk di kantin sambil mengaduk-aduk mie ayamnya. Semenjak Papou dinyatakan meninggal karena kecelakaan itu membuat Karin sangat merasa sedih, bahkan sifat periang Karin sudah hampir hilang.
“Anak ayam waktu itu masih hidup?” Karin mengangkat kepalanya menatap orang yang barusan bicara padanya.
“Kak Nades ...,” ucap Karin ketika melihat ada Nades di depannya.
“Sejak kapan Kakak di situ?” Karin memaksakan segaris senyum palsu di wajah ovalnya.
“Gak usah sok tegar gitu, tadi aku lihat lo kamu cemberut abis dan sekarang tiba-tiba senyum kek gitu.”
Karin mendengus sebal, “iya ... terserah kakak aja.”
“Aku kangen Papou, aku mau dengar Papou marah-marah lagi, kangen kata-kata kasar Papou.”
__ADS_1
Nades hanya melongo kenapa kenangan Karin dan Papou hanya kenangan buruknya saja.
“Kamu gak kesal tapi sakit hati gara-gara Papou?”
“Gak,” Papou menggeleng dengan semangatnya.
“Kenapa?”
“Karena kita keluarga, aku sayang sama Papou.” Hanya sebuah jawaban klasik, tapi wajarkan jika saudara memiliki rasa kesal untuk saudaranya dan kemudian akur lagi.
“Aku tauh Papou tak benar-benar marah, kata-katanya aja yang pedas.” Nades hanya mengangguk.
Kenapa temannya ini tidak bisa di ajak kerja sama, gak tauh apa kalau Nades sedang PDKT. Anggak aja kayak gitu.
“Apa?”
“Lo di mana?”
“Di kantin.”
“Tunggu gue di situ.”
“Iya-iya ...,” Nades segera mematikan ponselnya.
“Siapa Kak?” Tanya Karin yang melihat perubahan wajah pada Nades.
“Biasa si bos singa, kan nyonya singa uda gak ada, jadi bawaannya pengen marah-marah terus.” Gerutu Nades meluapkan seluruh kekesalannya.
“Nyonya singa? Siapa?” Alis Karin saling bertaut.
“sepupu kamu, Papou.”
Papou hanya mengangguk, entah kenapa mendengar nama Papou membuat Karin merasa sedih.
“Maaf ... maaf, aku gak maksud buat ngehina sepupu kamu, maaf ya.” Nades menyadari perubahan raut wajah Karin.
“Gak masalah kok kak,” Nades tidak suka sifat Karin yang sok tegar seperti ini.
“Nanti kita beli anak ayam lagi deh,” Nades ingat betapa senangnya Karin ketika di belikan anak ayam waktu itu, padahal Nades sangat geli dengan anak ayam itu.
“Beneran yah Kak?” wajah Karin tampak berbinar, mengingat betapa lucunya anak ayam itu.
“Iya.”
Tapi Karin ingat betapa marahnya Araya dengan anak ayam Karin, “Ehh ... gak usah Kak, Bang Araya gak suka.” Suara Karin terdengar sedih.
Nades hanya mengangguk, jika Nafa adiknya membawah anak ayam ke rumah Nades juga tidak akan suka.
__ADS_1