
Araya menampar Papou, Araya terlampau naik pitam melihat tingkah Papou yang begitu kanak-kanak kan, “kalau capek bilang, kalau kecewa kita bicarakan baik-baik, jangan main kabur-kaburan kayak gini.”
Papou hanya diam ketika Araya terus menghujamnya dengan kata-kata pedas. Pipinya terasa memanas, ketika tangan Araya menamparnya.
~SF.L~
“Gue udah memberitahu Papou, sekarang mau lo apa?” Daga berbisik, dari tadi Daga merasakan aura Nana. Sosok yang tak bisa ia lihat dengan mata. Jujur saja Daga lelah.
“Lo mau?” Raga melemparkan minuman kaleng ke arah Daga yang sedang tiduran.
Daga langsung menangkap minuman itu, “gimana acara lo, lancar?”
Raga langsung mengangguk, acaranya berjalan lancar bahkan melebihi ekpektasi. “Cuman, tadi gue ngerasa aneh gitu,” Raga mengingat kajadian tadi siang.
“Apa?”
“Tadi ada bapak-bapak, mondar-mandir terus di depan lukisan Papou.”
“Suka kali dia sama lukisan Papou.” ucap Daga acuh, sebenarnya Daga tidak terlalu peduli.
“Mungkin,” Raga juga terlihat acuh, toh acaranya berjalan lancar tadi.
“Daga ….”
Bunda berteriak dari bawah dengan suara yang menggelegar, Raga menatap Daga heran, jarang sekali bunda berteriak seperti itu apalagi kepada Daga, biasanya bunda berteriak seperti itu pada Raga.
“Buat salah apa lo?” Tanya Raga heran, sementara Daga langsung berlari ke kamar mandi, untuk pura-pura mandi.
“Nanti kalau bunda datang, bilang aja gue lagi mandi.” Teriak Daga dari kamar mandi, sementara Raga hanya mengangguk pasrah.
Bak seorang kesatria bunda datang dengan baju daster yang memiliki banyak tambalan dan sapu di tangan kanannya. “Daga mana?” Tanya bunda dengan binar kemarahan.
“Da .. Daga lagi mandi bun,” ucap Raga sambil menunjuk ke arah kamar mandi. Begitulah mereka dari kecil, jika ada yang salah dari salah satu mereka maka satu sama lain akan saling melindungi, saling menyembunyikan kesalahan. Masih sama seperti dahulu, walau sering terlibat cekcok entah itu masalah selera, makanan, atau bahkan masalah cewek sekalipun. Mereka akan akur kembali dan besoknya bertengkar kembali.
“Keluar kamu Daga, Bunda tahu kamu pasti gak benar-benar mandi.” Teriak bunda di depan pintu kamar mandi, Raga duduk manis di atas tempat duduk, melihat apa yang akan terjadi nantinya. Lumayan, tontonan gratis.
“Keluar atau gak, pintanya bunda dobrak.” Jangan ragukan kekuatan bunda, jika sedang marah begini kekuatannya bisa 10 kali lipat lebih hebat dari pada biasanya.
Daga keluar dengan muka yang di tekuk, “kenapa kamu gak masuk kuliah hari ini?” Bunda bertanya sambil berkacak pinggang.
Daga menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal, kan tidak mungkin kalau Daga memberitahu sebenarnya kalau dia pergi ke Jakarta menemui orang tua Papou.
“I … itu … itu Bun, tadi Daga main bola dulu sebelum masuk kampus, ehh … mungkin karena kecapean ketiduran sampai sore.” Alibi Daga.
Raga memicingkan matanya, ia tidak percaya jarang-jarang sekali melihat Daga di marahi bunda seperti ini, “bohong tu Bun, Daga kan gak pernah tidur siang.” Raga mengompor-ngompori.
“Uda tahu mau kuliah, masih aja di sempetin main bola.” Gerutu bunda.
“Main bola dimanah?” Bunda kembali bertanya, “main bola di lapangan kampus.” Biasanya Daga memang bermain bola di situ.
“Main sama siapa?” Jika bunda terus bertanya seperti ini, bisa ketahuan kalau Daga sedang berbohong.
“Main sama Tio, karena kecapean aku ketiduran di kos Tio.”
Bunda mengangkat sapunya dan memukul-mukulnya ke kaki Daga, Daga meloncat-loncat untuk menghindari itu.
“Bohong kamu, tadi Tio datang ke rumah buat nyariin kamu.” Bunda tak kenal ampun memukul Daga.
“Hajar terus bunda, jangan kasih kendor.” Raga tertawa terbahak-bahak melihat saudara kembarnya disiksa seperti itu oleh bunda.
“Kamu diam!” Raga langsung membungkam mulutnya, Raga tak berani tertawa lagi bahkan sekedar bicara pun ia tidak berani.
“Kamu juga, kenapa tadi kamu sembunyiin Daga?” sekarang pandangan bunda mengarah pada Raga.
Bunda menjewer telinga Daga dan menyeretnya turun, “sekarang kamu ikut bunda, kamu bunda kasih hukuman.”
“Ampun bun, sakit bunda …” rintih Daga, sambil mengikuti langkah bunda.
__ADS_1
Disinilah Daga berakhir di tumpukan kain kotor, hukuman yang di berikan Bunda adalah mencuci kain kotor tanpa mesin cuci. Nasib Daga sudah seperti nasib tokoh baik yang menderita di dalam sinetron.
“Raga kurang ajar,” Daga menggeram kesal ketika Raga melemparkan kain kotornya.
“Yang rajin,” Raga langsung berlari pergi, ia tidak mau di amuk oleh Daga.
~SF.L~
Sosok itu berdiri di antara mereka, matanya memerah kepulan asap menghitam di sekitarnya, suaranya terdengar serak. Darah segar terus-terusan keluar dari kepalanya seperti tidak pernah abis-abisnya.
“Ka … kamu harus mati.”
Mendengar suaranya yang terdengar serak dan dingin membuat Papou melangkah mundur ketakutan.
“Salahku apa?” suara Papou terdengar bergetar dengan nada ketakutan.
Papou tak bisa bergerak lagi, gerakannya teralangan oleh tembok. Rasanya Papou ingin berteriak, tapi percuma saja tidak ada yang akan mendengarkannya sekarang Papou sedang berada di gudang sekolah, di sini sepi.
Sosok dengan pakaian serba putih yang telah kusam itu terus melangkah maju, semakin ketakutan Papou di buatnya.
Rambat panjang yang berlumuran darah itu mendekat, sosok itu mengambil sesuatu dari dalam kepalanya, bau busuk langsung memenuhi ruangan itu. Rasa-rasanya Papou ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.
Tangan hitam sosok itu mencengkam rahang Papou, berusaha membuat mulut Papou untuk terbuka, sebisa mungkin menahan mulutnya agar tidak terbuka, Papou tau hal buruk akan terjadi jika apa yang di inginkan sosok ini tercapai. Hanya sekedar feeling.
Ketika Papou ingin melepaskan cengkeraman sosok itu, seperti ada tangan yang lain yang menahan tangannya, begitu juga dengan kakinya terasa kaku untuk bergerak.
“Le … le.. pa …pas,” ucap Papou terbata-bata, cengkeraman ini juga membuat nafasnya terasa sesak.
Ketika mulut Papou terbuka sosok itu masukan apa yang diambilnya tadi dari kepalanya, cengkeraman itu pun terlepas. Papou langsung muntah, ia memuntahkan kembali apa yang di masukan oleh sosok tadi, ada kelabang yang masih hidup dan entah apa itu, yang jelas ada lendir yang mengikat kelabang lain dengan yang lainnya.
Aluna, berdiri mematung di tempatnya berdiri, dari tadi Aluna mendengar ada orang yang teriak-teriak tapi suaranya tidak terlalu terdengar. Ketika Aluna mencoba mengintip lewat celah-celah dinding kamu yang telah lapuk.
Ada Papou di dalam sana, Aluna masih tabuh akan hal ini, tapi Aluna tauh pasti ini ada hubungannya dengan mereka yang tak terlihat. Seperti kejadian di labor fisika waktu itu, semua kaca pecah.
Dengan berani Aluna bersuara, melantunkan ayat-ayat Al-Quran, hanya ini yang Aluna bisa, semoga makhluk-makhluk itu berhenti mengerjai Papou. Semakin lama, suara Aluna semakin terdengar merdu dan keras.
“Syel … kamu gak apa-apakan?” setelah merasa semua aman Aluna langsung berlari masuk, melihat Papou yang sudah tergeletak lemah, dengan mulut yang terus memuntahkan isi perutnya.
Aluna mengeluarkan tisu dari dalam kantong roknya, tisu itu digunakan Aluna untuk mengelap sisa-sia muntahan Papou yang menempel di baju dan pipi Papou. Apa Aluna tidak merasa jijik.
“Kamu bisa jalan gak? Ayok kita ke UKS.” Aluna berusaha untuk membantu Papou bangkit, tapi Papou masih diam, kakinya terasa lemas.
“Atau mau aku panggil orang buat nandu kamu ke UKS?” Aluna kembali bertanya, lagi-lagi Papou hanya diam, ia terlalu lemas apalagi perutnya terasa mual.
“Be … bentar, aku mau di sini aja.” Ucap Papou dengan nafas yang ngos-ngosan, seperti orang baru berlari jauh.
“Tapi … kalau hantu tadi datang lagi gimana?” Aluna terlihat cemas, ia sibuk melihat ke semua sisi. Wajar saja sih tempat ini ada penghuninya, tempatnya sepi, kotor dan jarang di lalui.
Papou sedikit bergeser ke arah lain, merebahkan dirinya tidak peduli dengan seragamnya yang akan menjadi kotor.
“Tidur disini saja,” Aluna membiarkan pahanya dijadikan sebagai bantal oleh Papou, ia tidak tega melihat Papou menderita seperti ini. Begitulah Aluna terlalu mudah untuk merasa ibah dengan orang lain, yang membuatnya tak jarang di manfaatkan.
Aluna mengutak-atik ponselnya, membuka aplikasi whatsApp, mengecek satu persatu teman sekelasnya tidak ada yang online satupun, wajar saja sih karena sekarang adalah jam pelajaran.
Dikelasnya Aluna adalah mendapat bagian utnuk membuang sampah, karena tadi pagi ia telat datang ke sekolah. Jadi Aluna membuangnya pada jam istirahat, namun ia malah mendengar suara seseorang minta tolong dari gudang dan ternyata itu adalah Papou.
Diva, Diva sedang online apa Aluna bisa meminta bantuan gadis itu, karena jelas-jelas Aluna tauh Diva dan Papou tidak akur. Tidak ada salahnya kan untuk mencoba. Jari-jari Aluna mulai mengetikan sesuatu.
~SF.L~
Diva sangat bosan dikelas saat ini, tidak ada yang bisa di lakukannya. Diva mengeluarkan posnselnya agar guru tidak melihat apa yang di lakukannya Diva menghalanginya dengan buku yang sengaja yang tegakkan.
Bisa ke gudang sebentar gak Div?
Kamu bawah anak UKS, Syellifau sakit. Aku lagi digudang sama Syellifau.
Diva mendengus sebal, Diva mengabaikan pesan itu pura-pura tidak tau saja. Tapi tidak lama kemudian Diva kembali membaca ulang pesan itu.
__ADS_1
~SF.L~
“Karena gue lagi baik aja, dia kenapa?” Diva menatap Papou yang tertidur di paha Aluna dengan angkuh, tidak ada terbesit rasa ibah dari sorot matanya.
“Makasih Div,”ucap Aluna tulus, ia benar-benar bersyukur dengan bantuan Diva. Yah … walaupun terlihat tidak ikhlas.
Papou di tandu untuk ke UKS, entah sedang pinsan atau memang tertidur. Aluna dan Diva diminta untuk datang ke ruang Bk, dimintai keterangan apa yang terjadi.
~SF.L~
Ketika terbangun, Papou tetap merasakan mual di perutnya , Papou terlalu jijik dengan apa yang terjadi tadi. Lagi-lagi Papou kembali memuntahkan seluruh isi perutnya, jam sudah mununjukan pukul sembilan malam.
Wajah Papou terlihat pucat pasih, di tangannya ada selang infus. Papou melihat keselilingnya, sekarang ia sedang berada di rumah sakit. Tapi tidak ada yang menjaganya.
Apakah mereka masih marah pada Papou.
“Ahh .. kakak lemah, masak baru di gituin udah pingsan.” Papou mendengar suara Hanna, anak itu sedang duduk di atas lantai sambil mengelus-elus buluh kucingnya.
“Kak Pou payah, masak kalah sama Surati.” Hanna kambali melanjutkan kata-katanya, Papou berusaha untuk tidak peduli, Papou melihat kearah jendela, terlihat kenderaan yang hilir mudik di jalanan.
“Kenapa Kak Pou gak mati aja sekalian tadi? Padahal dunia gak butuh kakak lho.” Hanna kembali mengelus-ngelus kucing kesayangannya.
Papou hanya diam, lagian apa yang dikatakan oleh Hanna itu memang benar, dunia tidak membutuhkannya. “Kalau Kakak mau mati, aku punya pisau kok.” Hanna mengucapkan itu dnegan enteng.
“Atau Kakak punya ide lain gak, biar bisa mati?” Hanna bertanya dengan muka polosnya, sumpah itu membuat perut Papou terasa semakin maul. Muka lugu yang menyimpan seribu satu misteri.
“iya … dunia memang tidak membutuhkanku, tapi aku masih mau bertahan.”
“Ya sudah kalau begitu, keras kepala sih jadi orang. Tapi … kalau Kakak berubah fikiran panggil nama aku aja tiga kali, pasti aku akan langsung muncul.”
Bukannya keluar lewat pintu, Hanna malah keluar lewat jendela padahal jelas-jelas pintu terbuka lebar-lebar.
~SF.L~
Papou telah salah paham, ternyata oma tadi pergi ke kantin rumah sakit dari tadi pagi oam belum makan apa-apa.
“Aku gak suka bunga, kamu kira aku mau meninggal,” protes Papou tidak terima ketika Raga membawahkannya buket bunga.
“Kali aja lo bosan hidup,” jawab Raga dengan santi sambil meletakan bunga itu di samping tempat tidur Papou.
“Malam oma, gara-gara lo marah-marah nih, gue jadi lupa salam sama Oma.” Raga mencium tangan wanita itu.
“Malam-malam kok kesini sih, gak takut masuk angin.”
“Kalau masuk angin gampang oma tinggal dikeluarin lagi aja,” oma terkekeh geli, ia suka dengan Raga.
“uda sana pulang,” usir Papou dengan kesal, soalnya Papou tidak suka melihat Raga dekat-dekat dengan oma. Papou ingin oma memperhatikannya bukannya malah sibuk mengobrol dengan Raga.
“Oma aja gak masalah aku disini.” Raga memeletkan lidahnya, mendapatkan pembelaan dari oma.
Papou mendengus sebal, “oma …” ucap Papou lirih.
“Bang Araya masih marah yah oma sama aku?”
Raga hanya diam, ia tidak tau permasalahannya.
“Bang Araya lagi sibuk ngerjaian tugas,” Papou tau omanya itu sedang berusaha menghibur dirinya. Baru pertama kali Papou melihat abangnya itu marah sehebat yang kemaren.
“Cepat sembuh yah sekretaris, gue punya tugas banyak buat lo.”
~SF.L~
Ini adalah hari kedua Papou di rumah sakit, Papou masih belum di perbolehkan pulang karena ia masih belum bisa makan apa-apa. Ketika ingin memakan sesuatu, tiba-tiba marasa jijik membayangkan ulat penuh lender yang di masukan oleh sosok itu.
Ditambah lagi dengan bayangan sosok itu yang selalu mengahantuinya, membuat Papou suka berteriak-teriak sendiri, Papou tidak pernah di tinggal sendiri disini.
Sosok dengan bola mata merah menyala, rambut panjang yang begitu berantakan di tambah lagi dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya. Selalu berhasil membuat Papou bergidik ngeri.
__ADS_1
Selama Papou menginap di rumah sakit, selalu oma yang menjaganya Papou tidak pernah melihat Araya atau Karin. Biasanya karin adalah orang yang akan berdiri di barisan terdepan untuk menjaganya, bahkan relah untuk tidak masuk sekolah. Apa Karin juga marah?