Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
Aluna.


__ADS_3

Daga masih ragu, apa yang akan dilakukannya sudah benar atau malah memperkeruh suasana. Tak ada yang bisa Daga minati pendapat, ia tidak tau perasaan Papou kisah dan ceritanya jelas berbeda dengan gadis bernetra coklat itu.


“Bismillah ini yang terbaik,” Daga langsung menyambar kunci motornya. Sebelum berangkat Daga mengetikan pesan untuk Papou,


Gue uda berangkat.


Sudah hampir satu jam lebih Daga menunggu, tapi tak masalah, Daga tidak masalah dengan namanya yang sedang menunggu. Pesan yang Daga kirim tadi belum dapat balasan dari Papou.


“Kakak sendiri, Kak Pou mana?”


Anak itu lagi. Hanna. Daga yakin, dari mana hijaunya yang memantulkan cahaya dari bola mata hijaunya dan asap gelap yang mengepul di sekitar anak ini.


“Kenapa Kak?” Hanna mengayun-ayunkan kakinya dan duduk disebalah Papou.


Daga sedikit bingung, apa yang dilakukan anak ini di sini, di mana orang tuanya. Daga yakin, Hanna itu manusia. Tapi mungkin separuh raganya sudah dikuasai iblis.


“Kamu siapa?”


“Aku … aku Hanna,” bocah itu malah kegirangan sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Maksud saya, kamu siapanya Papou?”


Hanna menyengir memperlihat gigi taringnya yang ompong. “Kakak kefo.”Hanna malah menjulurkan lidahnya.


“Anak siapa sih ini,” Daga berdecak sebal, Daga mengeluarkan ponselnya. Mengetikan pesan singkat untuk Papou.


Gue lagi di taman, cepetan ada Hanna!


Iya, ini lagi makan malam duluh.


Cepetan Pou, ini penting banget.


Iya, gak usah bawel.


“rumah kamu di mana?” Daga kembali bertanya, Hanna masih setia duduk desebalahnya.


“Disana?” jari kecil itu mengambang di udara, menunjuk tidak jelas. “Cieee kefo ….” Hanna malah tertawah cekikan.


Daga memutar bola matanya, tanpa sengaja Daga melihat hantu rumah sakit itu sedang berdiri di dakat pohon, dia tersenyum. Daga yakin wajah hancur hantu itu tersenyum walau tertutup samar oleh rambut panjangnya.


“Owh … Kak Daga bisa liat dia?” Hanna mengikuti arah pandangan Daga.


“Ka … kamu bisa lihat juga?”


Hanna langsung mengangguk, “dia siapa?” Tanya Daga serius.


Hanna tersenyum, mata hijaunya terang menyala tiba-tiba Daga merasakan ada yang masuk telinganya. Daga dapat melihat dengan jelas ada kecoak yang dilemparkan oleh hantu tadi, “hantu sialan.”


Hantu rumah sakit tadi mendekat, dia berdiri di belakang Daga. Hantu itu menunduk membiarkan kepalanya yang telah hancur mengeluarkan darah membasahi kepala Daga. Anyir dan busuk tentu saja.


Belum hilang rasa sakit oleh kecoak yang terus berkeliaran dalam telinganya ditambah lagi dengan bau anyir dan busuk dari hantu itu. Daga memuntah seluruh isi perutnya, ia sudah tidak sanggup lagi menahan semua ini. Sedangkan Hanna di sampingnya hanya tertawa kecicikan.


Tangan-tangan dingin menyentuh leher Daga, hantu itu menahannya Daga tak pernah melakukan kontak fisik dengan hantu. Ini pertama kali.


“Ja … jangan beritahu Papou.” Suara itu terdengar dingin, berbisik ditelinga Daga. Daga hanya mengangguk, yang ia pikirkan bagaimana caranya ia segara lepas dari cengkeraman hantu ini.


“Jangan beritahu kakak Papou, aku masih mau main-main sama Kak Papou, Surati juga masih mau main sama Kak Pou.” Ucap Hanna dengan nada kegirangan sambil menatap kucing hitam yang terus berputar-putar dikaki Daga.


Daga sudah tidak merasakan lagi tangan dingin yang bertengger dibahunya dan Daga juga tidak lagi merasakan ada darah yang mencucur ke kepalanya, perlahan kecoak-kecoak tak kasat mata tadi juga tidak terasa.


Hanna semakin tertawa cekikikan, “Huu … gitu aja takut, baru juga diancam sama mama udah takut.” Hanna menjulurkan lidahnya, meletakan jari telunjuk dari kedua tangannya di pipi.


‘mama?’ maksudnya hantu tadi adalah mama Hanna.


“Bye … dulu Kak, aku mau main sama Kak Pou, main sama Kak Papou lebih seru soalnya dia galak.”


Hanna langsung berlari pergi, Daga masih berusaha menetralkan nafasnya yang ngos-ngosan. Kebaikan yang berusaha ia bangun selama ini malah menjadi malapetaka untuk diri sendiri. Begitulah dunia sekarang, berbuat baik banyak tantangannya mulai dari lingkungan yang tidak mendukung sampai dunia yang terlihat seolah tidak peduli.


~SF.L~


Papou berteriak histeris ketika ia membuka gerbang langsung disambut senyum Hanna dan seekor kucing hitam.

__ADS_1


“Ihhh … Kak Pou sama kayak Kak Daga. Sama-sama penakut.” Hanna berdecak sebal.


“Pergi!” Papou berteriak, Papou memang sarkas dan kasa tapi bicara dengan berteriak bukan caranya dalam mengekspresikan diri.


“Gak mau, wlek.” Hanna malah memeletkan lidah ke arah Daga.


Sabar Pou, masih bocah, anak kecil maklum saja, terkadang Karin saja yang sudah 16 tahun masih suka bersifat kekanak-kanakan. Apalagi Hanna yang jelas-jelas bocah.


“Keluar!” Nada bicara Papou terdengar datar tapi tidak dengan tatapan matanya yang mengarah tajam.


“Kan Kak Pou galak, aku suka.” Semakin di kasari semakin bahagia, aneh. Hanna.


Papou langsung menutup paksa gerbang rumahnya, Hanna tidak melawan dia hanya diam. Papou langsung berlari masuk ke dalam rumah. Beberapa hari yang lalu hidupnya damai Hanna tidak datang mengganggu tapi sekarang bocah itu kembali hadir merusuh.


“Oma?”


Lirih Papou, ia kesepian mala mini. Berat melalui hari tanpa wanita tua itu. Papou menatap bawah meja, “lihat Rin, di bawah meja banyak debuhnya. Katanya dia kesepian.” Papou mengingat hobi Karin yang suka tidur di bawah meja di atas dinginnya keramik.


“Kak Pou.”


Lagi, lagi dan lagi anak itu.


“Kamu masuk lewat mana? Owh iya saya lupa kamu hantu.” Papou menekankan nada bicaranya pada kata ‘hantu.’


Hanna menghentakan kakinya kesal, “aku bukan hantu.” Hanna berteriak keras.


“Owh yah?” Papou melipat kedua tangan di depan dadanya dan mengengkat sebelah alisnya. Salah satu cara melawan mereka yang menyebalkan adalah dengan cara menjadi menyebalkan juga.


“Iya ….” Hanna cemberut, bocah tetaplah bocah.


“Buktinya?” Papou berbicara angku penuh keyakinan.


“Aku manusia … aku bisa terluka aku bisa sakit aku bisa mati,” Hanna berbicara cepat tanpa koma.


“Kakak lihat ini …” Hanna mengambil garpu yang ada di meja, mulai menusuk-nusukannya ketangannya. “Kakak lihat kan aku sakit? Tangan Hanna berdarah.” Nada bicara Hanna terdengar sendu.


Papou masih teguh pada pendiriannya, egonya tak terusik sedikit pun melihat kelakuan Hanna yang melukai dirinya sendiri.


“Lanjut saja sampai mati, biar hidup saya tenang.” Papou tertawa diakhir kalimatnya, ternyata menyenangkan juga menjadi orang jahat. Oh iya Papou lupa, bukankah ia selalu jahat, Papou tidak ingat kapan ia pernah berbuat baik.


Papou tertegun ketika melihat kucing hitam yang selalu mengikuti Hanna, menjilati darah yang berceceran di lantai. Kapan hidupnya terbebas dari drama.


Papou merasakan ada yang memegang kakinya dari bawah, berat sekali di bawah melangkah sedangkan dari tadi Hanna terus menerus memukul-mukul tubuhnya.


Hanna berhenti memukul-mukul Papou, lalu mengangkat kepalanya ke atas menatap netra coklat Papou. “Kakak lihat akan, mama marah.” Hanna berkacak pinggang. Lalu berjalan mundur.


Mama? Siapa yang dimaksud anak ini, hanya ada mereka berdua di sini.


“Ciee bingung …” Hanna malah kembali tertawa, Papou semakin yakin anak ini bukan manusia dia iblis, dia adalah setan bukan manusia normal.


“Aku mau pulang, main sama Kak Pou uda gak asyik lagi. Jangan kangen kak Pou.” Hanna berjalanan santai menuju pintu dengan baju kaus kebesarannya. “Ayok Surati.” Kucing hitam berhenti menjilati darah yang bertebaran di lantai.


Papou mencium bau busuk dan tiba-tiba ada suara dentingan seperti sendok yang beradu dengan garpu. Ketika Papou ingin melangkah pergi untuk melihat ke sumber suara ada lipan yang merayap naik dari kakinya.


Memang … Papou tidak bisa melihatnya tapi ia bisa merasakannya, ada aura yang berbeda di sini. Terasa mencekam. Takut, tentu saja Papou merasa takut apalagi saat ini ia sedang sendiri di rumah.


“Oma ….” Karin berteriak dan berlari menuju kamarnya, tapi baru akan berbalik pergi Papou langsung dihadang dengan kilauan cahaya hijau, menyilaukan. Cahaya dari mana malam-malam begini.


Papou menutup rapat wajahnya dengan ke dua tangannya. Papou pasrah, jika sekarang adalah ajalnya. Dengan cara apa pun, yang pasti manusia akan menghadiri undangan dari malaikat maut.


Seperti ada tangan yang berusaha untut membuka tangan itu, “belum waktunya menyerah.” Seperti ada yang berbisik suaranya terdengar dekat tapi berbisik. Apa mungkin hati nuraninya yang berbisik.


~SF.L~


Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 a.m tapi mata Papou masih belum terpejam, kenapa hidupnya tidak pernah damai. Ahh … mungkin saja karena hubungannya dengan sang pencipta kurang dekat, sudah dari SMP Papou tidak lagi pernah menghadap-Nya. Terlalu jauh, tapi tidak masih bisa untuk berubah.


Karena lelah akhirnya mata Papou terpejam, Papou tidak ingat itu jam berapa. Hari-hari terasa berat dan melelahkan. Papou terpaku melihat jam dinding ketika tangannya sibuk mencampur-campurkan makanannya. Hari ini oma pulang.


Papou mendengus sebal ketika melihat ada Diva dan teman-temannya di kelas, pasti Diva akan menyindirnya lagi dengan kata-kata super pedas. Yah … memang Papou sudah tebal muka dengan semua kata-kata Diva, tapi untuk saat ini hatinya sedang sensitif.


“Pagi anak dukun ....,” sapa Diva dengan senyum indahnya, tapi sayang kata-katanya tidak seindah rupanya.

__ADS_1


Papou hanya diam meletakan tasnya dan duduk tenang di kursinya seperti tidak ada yang terjadi.


“Sombong amat disapa, malah di cuekin.” Gerutu Diva dengan kesal.


“Maklum Div, telinganya belum dibersihkan jadinya agak budek gitu,” celetuk teman Diva.


Aluna yang dari tadi diam di kursinya hanya menjadi penonton setia, gadis berhijab itu kasihan melihat Papou yang terus-terusan menjadi buah bibir teman-temannya, tidak mau munafik Aluna juga tidak menyukai sifat Papou yang terkesan sombong.


Aluna sudah muak ia tidak tahan lagi mendengar nyinyiran Diva dan teman-temannya, “Maaf Div, bukannya aku mau ikut campur cuma …cara kamu nyapa Syellifau itu kurang baik, makanya kamu dikacangin.”


Papou mendengus sebal, kenapa Aluna ikut campur masalahnya, biarkan saja mereka begitu nanti kalau capek berhenti sendiri juga,


“Masalahnya sama lo apa?” Aluna terlonjak kaget, dia bukan tipe cewek yang suka dengan kata-kata kasar dan bicara dengan nada tinggi.


“Ma … maaf.” Aluna menunduk, suaranya terdengar pelan.


“Apa gue gak dengar?” Diva mendekatkan telinganya ke arah Aluna yang berjalan mundur.


“Kalau mau ceramah bukan disini tempatnya, bu ustazah.” Diva menekankan katanya pada kata ustazah.


Papou muak mendengarkan semua kata-kata Diva, “kalau gak berani, jangan sok-sokan belain saya.” Aluna makin keget, ketika tiba-tiba Papou juga ikut bersuara.


“Itu tu tipe-tipe manusia gak tau terima kasih, uda di belain malah nyolot.” Diva melipat kedua tangannya di dada.


Papou langsung menarik tangan Aluna untuk pergi, ia benar-benar muak dengan drama pagi-pagi yang dibuat oleh seorang Alidiva Nuren.


“Maaf … yah, tadi niatnya mau bantu kamu, malah kamu yang bantu aku jadinya.” Diva tertawa diakhir kalimatnya, jelas sekali tawa itu dipaksakan.


“Makanya besok-besok liat lawan dulu.” Papou memperhatikan penampilan Aluna dari atas sampai bawah, terlihat alim dari cara berpakaiannya. Apa Papou bisa meminta bantuan gadis ini, Papou ingin mendekatkan dirinya dengan sang pencipta, Papou ingin bersujud mencium tanah seperti dulu lagi, menceritakan semua masalahnya dalam shalat.


Aluna yang diperhatikan merasa aneh, seperti ada yang salah dari dirinya, “ada yang salah yah dari aku?” Aluna memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah tidak ada yang salah, semua baik-baik saja.


“Gak ada,” Papou menggeleng cepat, Aluna menarik nafas lega.


“Aku boleh minta tolong?” Papou yakin ini adalah keputusan terbaiknya, tidak ada masalahnya untuk berubah. Sebenarnya Papou bisa minta bantuan oma atau Karin, cuma masalahnya itu selama ini Papou berpura-pura kalau shalat, oma selalu mengingatkan untuk shalat, tapi Papou tidak pernah melakukannya.


Karin? Jangan ditanya, pasti semua orang akan tau masalah Papou.


“Apa?” Aluna tersenyum.


“Udah lama gak shalat, jadi lupa caranya. Bisa tolong kamu ajarin?”


Untuk sesaat Aluna terlihat senyum dan ia langsung mengaguk senang, “boleh … kapan?”


Untuk saat ini Papou terlalu sibuk dengan acara pegelarannya, “satu minggu lagi …”


Belum selesai Papou berbicara sudah di potong oleh Aluna, “kenapa?”


“Aku lagi sibuk, gak ada waktu kalau sekarang.”


Aluna sedikit merasa kecewa, tapi Aluna memilih diam tak ada gunanya dia bicara, Papou keras kepala yang ada nanti Papou malah menghindar dan tidak jadi menjalankan niat baiknya.


~SF.L~


“Punya teman juga dia,” Raga dari jauh melihat interaksi antara Papou dan Aluna, Raga kira Papou tidak memiliki teman.


“Jangankan punya teman, punya pacar aja dia pasti bisa.” Nades tertawa melihat muka masam Raga.


“kenapa?” Nades balik bertanya.


“lo mau?” Raga menawarkan kerupuk yang dari tadi di makannya, dengan senang hati Nades mengambil kerupuk itu.


“Lo suka kan sama Papou?” Nades sudah tauh jawabannya, namun ia hanya ingin mendengar jawaban langsung dari Raga.


“Lo mau?” kali ini Raga menyodorkan pisang, mereka sedang duduk di kantin. Lagi-lagi Nades menerima dengan senang hati, itu dilakukan oleh Raga untuk menyuruh Nades diam.


“Lo …”


Belum selesai Nades bicara Raga langsung memotongnya, “kata ustad nih yah, bukan kata gue. Kalau lagi makan gak boleh ngomong.”


Setelah pisang tadi habis Raga kembali menyodorkan kue putu ayu yang ada disamping, “makasih banyak nih bro.” Nades tersenyum mendapat banyak makanan dari Raga.

__ADS_1


“Sama-sama, gue mau ke kelas dulu. Yang lo makan jangan lupa bayar.” Raga langsung berlari perga.


Nades hanya melongoh, ia pikir dirinya ditraktir ternyata tidak.


__ADS_2