Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
bucin.


__ADS_3

Papou menarik selimutnya ke atas, rasanya malas sekali untuk pergi sekolah hari ini di tambah lagi dengan nyanyian tetasan air yang terus menghujam bumi, membuat Papou semakin enggan untuk bangkit.


“Papou …." teriak Karin dengan suara cemprengnya.


Dosa gak sih kalau bunuh saudara sendiri.


“Papou,” Karin kembali berteriak.


“Pou …” kini suara lembut oma yang memanggilnya.


“Iya Oma …”


“Bangun .... mandi, pergi sekolah!” Teriak oma dari bawah.


“Iya oma ini uda mandi juga,” bohong Papou, karena tidak mau mendengar ocehan oma di pagi-pagi buta.


“Kamu mandi atau tayamum,” Papou baru ingat kalau kamar mandi yang ada dikamarnya sedang rusak, entah apa yang salah, tidak ada air di kamar mandi itu.


Dengan kesadaran yang masih setengah, Papou berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar tamu di lantai bawah. Pagi ini ia malas berdebat dengan Karin, biasanya ia akan menumpang mandi di kamar Karin.


“Pagi Pou.”


Papou langsung terlonjak kaget mendengar suara itu, suara yang tak akan mudah untuk dilupakan. “Kamu …” ucapan Papou tertahan dengan kehadiran oma.


“Cepatan mandi sana, ini teman kamu udah nungguin dari tadi.” Papou langsung menggeram kesal, Papou langsung berbalik arah untuk naik ke lantai dua dan menumpang mandi di kamar Karin.


“Cieee … ada doi di bawah,” goda Karin dengan menaik turunkan alisnya.


“Doi your hand.” Papou langsung membanting pintu kamar mandi.


~SF.L~


“Kamu ngapain sih pagi-pagi udah ngerusu.”


“Suka-suka dong, malahan tadi oma nyuruh gue buat sering-sering main ke rumah, katanya lagi lo gak pernah bawah teman ke rumah.” Untuk saat ini Papou benar-benar menyesali sifat omanya yang begitu humble dan friendly.


Papou tak menghiraukan kata-kata Raga, ia sibuk menatap jalanan dari dalam mobil Raga, mobil yang sama ketika menabraknya dulu.


Sesampainya di SMA banyak sorot mata yang menatapnya dengan aneh, yang pertama mungkin karena ia berangkat dengan Raga si ketua OSIS dan kemungkinan kedua karena kejadian waktu di labor fisika ketika semua kaca pecah.


“Santai aja, beruntung kan lo jalan sama orang ganteng.”


Kantong kresek mana, Papou sangat butuh itu sekarang, semua isi perutnya terasa ingin muntah kata-kata yang baru saja dilontarkan Raga sama busuknya dengan bau bangkai.


~SF.L~


“Pantesan pintar, ternyata mainnya dukun.”


“Ehh … kemarin baru ada yang jadi sekretaris club kesenian, menggantikan kak Maya.”


“kok bisa sih?" Tanya seseorang dari mereka berlagak tidak tauh.


“Mainnya dukun.” Jawab mereka serempak diiringin dengan gelak tawa. Sakit hati, tentu tidak, Papou sudah kebal dengan hinaan dan cacian.


“Tau gak, kenapa tadi dia sama Kak Raga bisa berangkat bareng.” Setelah sempat berhenti, cabe-cabean itu kembali bersuara.


“kenapa tu?”


“Pakai dukun lah,” ucapnya sambil mengibas-ngibaskan rambut yang untungnya gak kutuan, kalau gak seisi kelas uda kutuan gara-gara dia.


“Lo kenapa sih?” Bintang yang jengah dengan orang-orang itu langsung menegur, bukannya ia membelah Papou, tapi entah kenapa telinganya terganggu dengan suara-suara mereka.


“Cuma lagi mengobrol kenapa emang?”


“Maaf yah … gue sebagai ketua kelas yang baik dan bertanggung jawab, berhubung lo bukan siswa sini mending pergi sana,” Bima mengusir mereka sambil menunjuk ke arah pintu.


“Diva, mending gak usah ya lo bawah orang-orang kaya gini ke kalas kita, kalau cuma bikin ribut.”


Tentu saja Diva tidak terima dengan kata-kata Bintang yang menyudutkan dia dan teman-temannya seolah-olah sedang membelah Papou, “salahkan saja tu anak dukun.” Sudut matanya menatap tajam ke arah Papou yang seakan tak peduli karena dari tadi ia sibuk menggambar.


“Kalau iya dia main dukun, maka sekarang posisi lo dalam bahaya, siap-siap aja di santet.”


Diva tak bisa berkata apa-apa lagi, dari pada ia malu disini lebih baik ia segera pergi. “Yuk guys, kita cabut di sini kaya ada aura-aura dukun.”


Berbicara dengan Diva benar-benar membuat nafasnya sesak, sesaat Bintang menatap Papou dengan tatapan heran, seakan-akan ia tidak terganggu sama sekali dengan suara-suara yang menyakitkan hati.


“Syel …” Bintang menarik kursi untuk duduk disebalah Papou. Papou masih diam menganggap Bintang hanya angin lalu.


“Lo gak merasa terganggu sama mereka?”


“Buat apa terganggu”

__ADS_1


Bintang menghela nafas pendek, lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, pantas saja Papou di bully sifatnya begini. Hampir satu bulan Bintang satu kelas dengan Papou ia belum-belum mengenal Syellifau Lidia secara utuh.


“Saran aja sih dari gue, kalau lo mau punya teman rubah sikap lo yang cuek, menyebalkan dan kadang-kadang agak sarkas itu.”


“Kamu tak gak, kamu itu kaya sepupu aku, sama-sama sok tau dan nyebelin.”


Satu hal yang Bintang suka dari Papou, sekasar-kasarnya Papou ia tidak pernah berbicara lo gue, selalu aku kamu atau ketika benar-benar emosi berubah menjadi saya Anda. itu yang Bintang lihat selama ini.


~SF.L~


“Apa lagi ini?"


Papou melangkahkan kakinya dengan emosi menuju ruang kesenian, baru saja namanya di panggil menggunakan pengeras suara, jika bukan karena dorongan dari gurunya yang mengejar di kelas ia tak akan mau datang ke sini.


‘berita panggilan untuk Syellifau Lidia kelas X MIPA 1 harap menemui saya Raharga Sukma Muktar ketua Club seni di ruang kesenian, sekarang.’


Bu Beti yang sedang mengajar langsung menatap Papou, “silahkan Syellifau,” ucap wanita itu dengan senyum yang membuatnya masih terlihat mudah di usia kepala lima.


“Nanti saja Bu, saya sedang ingin belajar,” tolak Papou dengan halus.


“Saya dengar club seni ingin mengadakan pameran, saya suka sekali pameran.”


Mau tidak mau akhirnya Papou keluar dari kelas.


“Lama amat sih.” Raga tersenyum penuh kemenangan ketika melihat wajah kusut Papou.


“Proposal buat pameran uda kamu buat?” Papou mengerjap bingung, proposal apa, Raga tak menyuruhnya apa-apa pun kemarin.


“Proposal apa?”


“Proposal pameran lah, kelihatan banget gak pernah ikut organisasi.”


“Saya memang tidak berniat untuk ikut organisasi.” Papou memutar bola matanya jengah. Tiba-tiba sudut matanya menangkap ada gitar akustik berwarna coklat sudah, sudah lama sekali rasanya tidak menyentuh yang namanya gitar.


Memetik gitar sambil menyeduh secangkir kopi adalah hobi papanya, dulu waktu masih tinggal di Jakarta Papou sering menggoreskan warnanya pada kanvas sambil mendengar petikan gitar dan menyesap secangkir kopi dengan sang papa.


Dengan secepatnya Papou mengusir pikirannya tentang masa lalu, itu bisa membuat jiwa melankolisnya terpanggil jika-jika dipikir-pikir nasibnya hampir sama tragisnya dengan nasib peran utama dalam sinetron kejar tayang.


“Pokoknya proposal itu harus siap hari ini juga, itu pakai laptop gue aja,” tunjuk Raga pada laptop dengan logo buah apel habis di gigit tikus.


“Jangan bercanda, gak lucu tau.” Papou memanyunkan bibirnya. Kenapa itu membuat Raga merasa aneh, seperti ada berjuta kepu-kupu yang melayang dalam perutnya. Lucu sekali pikir Raga, mungkin sekarang Raga akan mempunyai hobi baru yaitu membuat Papou cemberut sungguh itu lucu.


Papou membuka Lapotop Raga, hatinya sedikit tergores ketika melihat wallpaper laptop Raga, rasa iri menusuk relung hatinya. Apakar dengan keluargnya.


“Gue udah ganteng dari kecil kali gak usah diliatin kaya gitu.” Itu adalah foto ketika Raga dan Daga kecil, mereka sekeluarga sedang berkunjung ke kebun binatang. Ada kejadian lucu ketika itu, Daga kehilangan sendalnya dan wajah Daga terlihat kucel. Karena dalam foto itu Raga lebih terlihat ganteng, makanya Raga menyukai foto itu.


“Ada file lamanya gak? Biar aku tinggal ngedit aja.”


“Gak ada,” ucap Raga sambil memakan kacang dan melemparkan kulitnya ke sembarang arah.


Tarik napas, buang, tarik napas, buang. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh Papou, melihat tingkah menyebalkan Raga. Jangan sampai ia meledak saat ini juga.


Raga langsung melotot ketika melihat instagram milik kembarannya, “Apa-apaan nih.”


Raga tak terima ketika melihat, Daga memposting foto Papou. Ditambah lagi like untuk foto itu cukup banyak. Raga semakin merasa panas dingin ketika membaca komentar para netizen.


“Owhh jadi ceritanya mau main tikung-tikungan,” ucap Raga hampir berbisik tapi masih bisa didengar oleh Papou, tapi ia tak sekepo itu itu untuk bertanya apa.


“Ke mana aja lo waktu itu sama kembaran gue.” Papou hanya menatap malas sebentar ke arah Raga lalu kembali memfokuskan pikirannya pada proposal yang ia ketik. Mentang-mentang senior. Kata-kata itu terus di ucapkan Papou dalam hatinya.


“Kalau ditanya itu jawab.”


“Kalau ngomong itu gak usah ngegas dan ngurusin hidup orang lain.”


Keras kepala, itulah sosok Papou. Raga menyerah percuma saja ia bertanya pada Papou tidak akan mendapat jawab yang inginkan, yang ada emosinya semakin di uji. “Tunggu di sini, sampai gue kembali.”


Raga langsung melangkah pergi sambil menyandang tasnya, Raga tidak bisa menahan diri untuk menghajar kembarannya itu. Kampus Daga itulah tujuan Raga saat ini.


“Lo boleh lebih pintar dari gue, lo boleh lebih baik dari gue di semua bidang, lo boleh jadi anak kebanggaan Bunda. Tapi … lo gak boleh ngerebut cewek yang gue suka.” Raga mengemudikan mobil seperti orang kesetanan. Raga memang temperamen, gampang sekali untuk marah.


~SF.L~


“Maksud lo apa post-post foto cewek gue,” diakhir kalimatnya Raga melayangkan kepalan tangannya, mendarat dengan mulus diwajah tampan Daga.


Semua mahasasiwa berkumpul menyaksikan kebrutalan seseorang dengan seragam SMA yang membuat onar. “Anak cendekia tu, katanya sekolah elite tapi kelakuannya kok kaya gitu.” Untuk saat ini Raga tak peduli dengan semua pandangan orang-orang yang berpikiran kalau dia sudah tidak waras. Iya … sekarang ia sudah tak waras hanya karena cemburu.


“Dengarin gue dulu, gue bakalan jelasin semuanya.” Raga tidak peduli, ia semakin brutal memukuli Daga.


Daga merasakan ada cairan asin yang keluar dari ujung bibirnya. “Ini hukuman untuk saudara yang nikung kembarannya sendiri. Sebelum pergi Raga meludahi Daga, salivanya tepat mengenai dahi Daga. Dengan gerakan pelan, Daga mengusap air ludah itu.


Daga tidak berniat untuk membalas pukulan kembarannya itu, sedikit bersenang-senang dengan kembarannya itu tidak ada masalah.

__ADS_1


“Kalau dia lebih memilih gue dibanding lo, gue bisa apa?”


Langkah Raga langsung terhenti, tangannya kembali mengepal. “Lo bilang apa barusan?”


“Gue bilang, kalau dia lebih suka gue dibanding lo, gue bisa apa?”


“Bego, percuma bunda sekolahin lo mahal-mahal. Lo boleh lebih pintar dari gue, tapi soal menakhlukan wanita gue jauh lebih baik.” Raga tersenyum mengejek.


Harus Daga akui memang benar, urusan manaklukan yang namanya wanita Raga memang jauh lebih baik.


“Kita lihat nanti aja.” Raga benci tantangan, Daga tau itu. Tapi … entah kenapa untuk sekarang ia merasa ingin menantang Raga.


Daga memicingkan matanya, hantu rumah sakit itu. Hantu itu tersenyum, menjijikkan sekali. Benar dugaan Daga, hantu itu mengikuti Raga. Ia harus segera menemui Papou, untuk mencari tau ada urusan apa dia dengan hantu itu. “sialan.”


~SF.L~


“Kamu kenapa?”


Entah kenapa Raga merasa sedikit menyesal , tapi rasa sesalnya hanya sebanyak satu sendok teh, itu pun ada yang tumpah diujung hatinya, ketika melihat Papou masih ada di ruang kesenian, menuruti kata-katanya. Gadis baik.


“Mukah uda jelek, jangan ditambah jadi jelek.”


Raga membaringkan tubuhnya di sofa, “uda sampai mana kerjaan lo?”


“Udah selesai,” Papou mengemasi buku-buku yang ia keluarkan tadi ke dalam tasnya untuk bersiap pulang.


“Bye … aku pulang dulu.” Papou bersiap untuk melangkah pergi.


Raga langsung bangkit dari sofa, mencegah Papou pergi dengan memegang tangannya. “Tunggu.”


Ada apa dengan Raga, Papou bertanya-tanya dalam hatinya kenapa laki-laki ini terlihat sedang rapuh. Papou menegang, butuh kesadaran beberapa menit baginya untuk mencerna apa yang terjadi. Raga memeluknya.


Ketika Papou sadar, ini tidak baik-baik saja. Papou langsung mendorong Raga, tapi tenaganya tak cukup kuat untuk bisa melepaskan pelukan Raga.


“lima menit saja Pou, gue butuh lo.”


Bagaimana jika ada yang melihatnya, lalu apakah ia bisa dikeluarkan dari sekolah, oma bisa marah, Bang Araya tidak akan suka jika ada yang memeluk adiknya seperti. Ok. Papou bukanlah wanita alim yang paham dan ahli dalam agama, setidaknya ia tau hal ini dilarang.


“lepaskan Ga.” Tidak ada balasan, Raga hanya diam sambil terus memeluk Papou. Rasanya Raga benar-benar takut untuk kehilangan Papou. Bahkan jika dibuatkan grafiknya untuk sekarang kedudukan Papou sama tingkatnya dengan kedudukan bunda bagi Raga.


“Gue sayang sama lo, please jangan tinggalkan gue.” Raga menyesal telah mengeluarkan kalimat itu. Lihat saja jawaban dari Papou.


“Aku gak peduli, bodoh amat mau kamu sayang sama aku, mau kamu cinta mati sampai salto-salto aku gak bakalan peduli.”


“Gue gak bakalan bisa buat berhenti suka sama kamu.” Raga sudah tebal muka untuk saat ini.


“Lepaskan Ga, aku gerah. Apaan sih main peluk-peluk.” Hari ini Papou benar-benar muak dengan sifat Raga.


~SF.L~


Sesampainya di rumah Raga langsung disambut oleh tatapan penuh tanda tanya oleh bunda dan Daga di sampingnya untung saja saat ini ayah sedang tidak di rumah, “cih … dasar pengadu.”


“Duduk.” Suara bunda terdengar penuh ketegasan.


“Pasti Daga suda mengadu sama bunda.” Raga terus melangkah ke lantai atas menuju kamarnya.


“Bunda bilang duduk, Raharga Sukma Muktar.” Ucap bunda setengah berteriak.


“Percuma Bun, Daga pasti uda cerita semuanya. Bunda pasti gak percaya sama cerita aku.” Bunda menarik garis senyum di wajahnya, Raga tetaplah Raga yang keras kepala.


“Duduk dulu, bunda bukannya mau marah. Tapi … bunda cuma mau cerita-cerita sama Raga dan Daga.”


Cerita-cerita versi bunda jelas berbeda cerita-cerita dalam definisi yang sebenarnya. “Kenapa kamu sampai mengamuk di kampus Daga.”


“Emang Daga gak cerita kenapa aku bikin muka sok kecakepannya hancur.” Raga menatap sinis ke wajah Daga yang sudah dibuat hancur oleh Raga.


“Daga gak cerita apa-apa sama Bunda, pihak kampus yang memberi tauh Bunda kalau kamu datang bikin onar.”


“Dia nikung aku bunda, masa iya dia post foto Papou di Ig, trus captionnya ‘menata masa depan’ alai banget jadi orang, udah alai bucin lagi.”


Bunda hanya senyum-senyum sendiri, masalah perempuan ternyata. Walaupun bunda tidak bisa membenarkan perbuatan Raga, tapi ia juga tidak bisa marah.


“Bucinan lu kali, bego” Daga hanya membatin, ia sudah tidak mau cari masalah lagi dengan kembarannya itu.


“Bi ….” Teriak Raga, seorang wanita yang hampir setengah abad berlari dengan tergopoh-gopoh.


“Siapkan kamar tamu trus pindahin semua barang-barang aku kesitu, aku gak sudi satu kamar sama pengkhianat kaya dia.”


“Emang situ berani tidur sendiri.”


Raga sudah memikirkan hal ini matang-matang, ia sudah memikirkan pro dan kontranya. Demi egonya Raga rela mengesampingkan rasa takutnya.

__ADS_1


__ADS_2