Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
perjalanan waktu.


__ADS_3

Lima hari lagi, maka semua ini akan selesai. Kemungkinan yang terjadi mungkin saja Papou yang di bunuh itu artinya mereka gagal atau Daga yang berhasil mengembalikan mereka ke alamnya. Semakin hari badan Daga terasa semakin sakit-sakitan.


Setiap jam 00:00 adalah waktu yang paling Daga takuti, pasalnya pada jam itu badannya seperti mendapat guncangan dan berbagai bentuk makhluk akan berdatangan ke kamarnya dan lalu lalang sekitar sampai jam 3 subuh.


Daga masih terperangah melihat mereka, ada dia di antara mereka yang menatap Daga dari kejauhan, tidak pernah seperti ini. Biasanya Daga selalu bersikap acuh tapi tidak untuk hari ini.


Daga benar-benar tidak bisa tidur setelah lewat jam 00:00 bahkan setelah lewat jam tiga dini hari setelah mereka pergi masih tersisa ‘dia’ yang menatap Daga dari tadi, bau busuk bercampur bau darah masih membekas di hidung Daga. Mungkin tidak di hidung orang normal, tempat ini akan terlihat biasa saja, padahal baru di jadikan tempat pesta oleh ‘mereka’.


Daga masih menatapnya begitu juga dengan dia, mereka saling adu tatapan. Daga menyerah jika ia tidak mulai bicara, semua ini tidak akan pernah berakhir.


“Kau mau apa?”


Sosok dengan mata yang mengeluarkan darah itu tersenyum malu-malu, jangan bilang dia jatuh cinta pada Daga, Daga bergidik ngeri membayangkan hal itu jika sampai terjadi.


“Kau siapa?” Daga mengulang kembali pertanyaannya. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.


Tiba-tiba sosok itu menghilang dan sudah berada di dekat Daga, Daga semakin mengeratkan pegangannya pada selimut.


“Sebegitu mudahnya kamu melupakanku,” ucap sosok itu dengan nada lirih.


Ia benar-benar tidak mengenalnya. Daga memperhatikannya dengan saksama, tubuh yang di penuhi dengan luka bakar, mata yang mengeluarkan darah, rambut yang menutupi sebagian wajahnya dan kelabang yang terus berkeliaran di tubuhnya.


Sosok itu sedikit mengangkat wajahnya, Daga benar-benar tidak pernah bertemu dengan dia, “gue Nana, udah tambah buruk rupa kan?” terdengar suara tawa sumbang di akhir kalimatnya.


“Tumben lo ikut party di rumah gue,” Nana langsung tertegun mendengar kata-kata Daga, walaupun ia tidak dianggap lagi di dunia. Daga yakin pasti Nana yang mengundang mereka semua ke kamarnya.


“Gue selalu datang ke sini, bahkan sebagian dari diri gue, uda gue tanam di diri lo.”


Daga tidak peduli soal itu, yang ingin Daga tanyakan sekarang adalah kenapa Nana tidak ikut pergi bersama mereka, “ngapain lo masih di sini, pulang sana … gue mau tidur.” Ucap Daga dengan ketus, mungkin ini adalah efek berdekatan dengan Papou.


“Sudah saatnya bagi lo buat ngelakuin sesuatu.”


“Apa?”


“Perjalanan waktu ….”


Daga tidak mau melakukan perjalanan waktu lagi, mengingat dulu betapa sesak nafas Daga setelah keluar dar tempat itu.


“Gak mau.” Tolak Daga dengan terang-terangan.


Nana tersenyum miring, “Kalau lo gagal maka nyawa lo jadi taruhannya.” Sosok Nana dalam wujud yang paling mengerikan itu langsung menghilang.


“Cari gue di ruang kesenian SMA Cendikia nantinya kalau lo berubah pikiran.”


Daga terdiam, mematung di tempatnya. Mencoba mencerna dan mencari kebenaran dari semua kata-kata Nana tadi.


~SF.L~


16:30 p.m


Di sinilah Daga berakhir sekarang, di ruang kesenian SMA Cendikia, tentunya setelah kuliah, Daga tidak berani membolos lagi, bundanya akan langsung berubah menjadi singa jika tauh anaknya membolos.


“Gue ada janji sama ‘mereka’ di sini, kalau lo mau ikut diskusi sama kita boleh aja,” Raga langsung menggeleng cepat, Raga belum siap mental untuk bertemu dengan mereka.


“Sekalian panggilkan Papou,” Raga mendengus sebal, dengan seenaknya Daga menyuruhnya.


“Panggil aja sendiri,” Daga langsung melangka pergi, dengan wajah yang di tekuk.


“Enak-enak aja nyuru-nyuruh gue,” Raga terus mendumel tidak jelas sepanjang perjalanan, semua kata-kata Raga terhenti ketika melihat laki-lak yang sama waktu pameran, dia adalah orang yang mondar-mandir di depan lukisan Papou.


Raga berusaha bersikap untuk tidak peduli, mungkin saja dia ada urusan di sini.


~SF.L~


“Berubah pikiran?”


Daga mengangguk. “Lakukan perjalanan waktu tanpa gue.”


Daga tercengang, Daga tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya perjalanan ini ia lukakan tanpa Nana.


“Kalau gue tersesat gimana?”


Nana menggeleng, “lo aman kalau ikut aturan mainnya.”

__ADS_1


“Gue uda gak bisa pergi lagi, badan gue bisa hancur.”


~SF.L~


“Kakak ngapain ke sini?” tanya Papou heran ketika melihat Daga ada di ruang kesenian.


Sesuai kesepakatannya dengan Nana perjalanan waktu dilakukan tanpa sepengetahuan Papou. “Lagi nunggu Raga sih,” alibi Daga, Papou percaya saja.


“Kamu ngapain ke sini?” Daga berdoa dalam hatinya, mudah-mudahan saja Raga tidak menceritakan apa pun.


“Mau ambil buku kak, ada yang ketinggalan kemarin.”


Daga dapat bernafas lega ternyata Raga tidak cerita apa pun.


Daga tidak tauh harus bagaimana sekarang, Nana tidak memberitahu apa pun, Nana hanya meminta Daga untuk menahan Papou agar tetap berada di sini.


“Aku duluan ke kelas dulu Kak.” Setelah menemukan apa yang dicarinya Papou langsung melangkah pergi.


“Ehh tunggu,” Papou menatap Daga heran, Papou mengangkat sebelah alisnya seolah-olah bertanya apa.


“tunggu sebentar, ada yang mau gue omong in penting.”


Papou sedikit melirik jam dinding yang hampir tertutup oleh lemari, tapi masih bisa di lihat oleh Papou. Memang ini bukan jam pelajaran, tapi jam tambahan fisika, boleh masuk boleh enggak sih sebenarnya, gak ngaru ke absen.


“Apa kak?”


Daga menghela nafas panjang, ia tidak tauh apa yang di lakukannya sekarang benar atau malah membuatnya semakin berada dalam masalah. Nana mengingkari janjinya pada Nana.


“Gue mau nanya, tapi gue mohon lo jawab jujur hilangkan semua ego dan gengsi.” Melihat raut wajah Daga yang serius sedikit membuat Papou merasa takut.


“Masih ada rasa sayang gak sih di hati lo buat Nana?”


Papou tidak tauh jawaban apa yang harus diberikannya, hatinya benar-benar sudah mati tidak lagi mengenal yang namanya kasih sayang untuk Nana. Papou menggeleng cepat.


“Lo mau tau seberapa jauh pengorbanan Nana buat lo, bahkan sampai setelah dia meninggal.”


Papou tertegun, kerongkongannya terasa kering. Kenapa pasukan oksigen di sekitarnya terasa berkurang, “ma … maksud … maksud kakak apa?”


“Lo mau lihat?”


“Nana please datang ….”


Tidak ada yang terjadi, tidak ada yang muncul, hanya ada bunyi cicak yang berdecak-decak. “Udalah Kak, gak bakalan ada yang berubah, lagian dia uda meninggal.” Papou bangkit dari tempat duduknya, entah kenapa jantungnya berdegup kencang ia merasa gelisah.


“Tunggu … beri gue waktu lima menit, kalau gak ada apa pun yang terjadi lo boleh pergi.” Papou diam di tempatnya berdiri, melihat apa yang akan di lakukannya. Walaupun hatinya terus berkata tidak sedangkan logika Papou sangat penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Daga.


“Nana please muncul, kalau lo gak muncul gue gak bakalan mau melakukan perjalanan waktu lagi, gue ikhlas kalau gue harus mati.” Teriak Daga yang sontak membuat Papou kaget, jika dilihat dari sudut pandang orang normal, Daga akan terlihat seperti orang gila.


Dentuman pintu membuat Papou terlonjak kaget begitu juga dengan Daga. Tidak ada yang menutup pintu, pintu itu tertutup sendiri. Papou melangka mundur menjauhi pintu dan menatap sekilas ke arah Daga yang tersenyum.


Daga dapat dengan jelas merasakan aura Nana tap tidak dengan wujudnya, Daga tidak dapat menangkap wujud sosok itu.


“Gue mau gak ada lagi salah paham antara lo dan Papou,” Daga kembal berucap, tiba-tiba saja gitar tua yang berada di atas lemari terjatuh. Kejadian demi kejadian benar-benar menguji jantung Papou untuk terus bertahan hidup.


“keluar aja Na,” kali ini Daga tidak lagi berteriak, suaranya terdengar lebih lembut.


Papou penasaran sedekat apa hubungan antara Daga dan Nana, ahh … Papou lupa kalau kakaknya itu memang mudah akrab dengan siapa pun beda sekali dengan Papou.


“Apa pun wujudnya, lo tetap cantik Na,” Daga mencoba peruntungan dengan sedikit memberi gombalan, mudah-mudahan saja masih ada sifat manusia yang sedikit tertinggal dalam diri Nana.


“Liana Hannatasya ….”


Papou tertegun sedekat itukah kakaknya dengan Daga, sampai-sampai Daga tauh nama lengkap kakaknya, Papou berani bertaruh Daga pasti tidak tauh nama lengkapnya.


“kakak sedekat apa sama kak Nana?” entah keberanian dari mana Papou bertanya.’


Daga tidak memedulikan pertanyaan Papou, sekarang yang menjadi tujuannya adalah bagaimana cara membuat Nana mau keluar dari tempat persembunyian.


Daga tersenyum ketika melihat Nana berdiri di depannya, Papou semakin aneh kita melihat Daga tersenyum seperti orang gila. “Kakak kenapa?”


Daga lupa kalau Papou tidak bisa melihat Nana, mereka hidup dialam lain.


“Lo bisa buat diri lo dilihat oleh Papou?”

__ADS_1


Ini adalah tes paling berbahaya bagi kesehatan jantung Papou, ketika melihat sosok mengerikan dengan matanya yang mengeluarkan darah, kulit yang penuh dengan luka bakar, rambut panjang yang menutupi sebagian wajahnya.


“D … dia … dia siapa?” Papou merasakan tulangnya menjadi lemah, Papou ingin berteriak tapi suaranya tak mampu untuk keluar. Papou terduduk.


Daga sudah menduga ini pasti akan terjadi, wajar saja karena sebelumnya Papou tidak pernah melihat mereka.


“Aku Nana,” semua persendian Papou semakin terasa lemas, semua ini tidak pernah terpikirkan oleh Papou.


“Kamu ngapain masih ada dunia?” dalam kondisi apa pun, Papou tetaplah Papou dengan mulut pedasnya.


Daga menghela nafas panjang kenapa dalam kondisi yang sudah lemah kenapa Papou masih tetap seperti itu.


“Pou …” Papou yang mengerti maksud dari Daga hanya membuang bola matanya malas, harusnya tadi Papou mendengarkan kata hatinya bukan malah otaknya.


“Masih ada urusan yang belum selesai,” suara Nana terdengar lembut, melihat interaksi antara Papou dan Nana yang sekarang memberikan gambaran pada Daga bagaimana hubungan kakak adik ini.


“Cepetan selesaikan urusan kamu kak, biar bisa tenang di alam sana.” Seharusnya kalimat itu terdengar menyenangkan, tap dengan nada bicara Papou itu malah terlihat seperti sebuah ledekan.


“Pou … bisa diam dulu sebentar, jangan buat suasana jadi panas,” Papou langsung terdiam, Daga sedikit membentak Papou.


“Lo liat sendirikan gimana Nana sekarang,” tatapan Papou mengara pada kulit Nana dengan luka bakarnya.


“Lo mau tau kenapa Nana masih mau bertahan di dunia dengan kondisi yang seperti ini?”


Papou langsung memutar mata malas, ia sungguh tidak peduli alasan kenapa Nana menjadi seperti ini.


“Aku gak peduli.” Papou langsung berdiri, otaknya suda mampu mencerna apa yang sedang terjadi.


Ketikan akan melangka Daga langsung menahan tangan Papou, “buka mata lo Pou, kenapa lo sekeras kepala ini. Sayang yah, wajah sama hati gak sinkron.”


Bahkan kata-kata Daga lebih menyakitkan di bandingkan dengan tamparan Araya waktu itu.


Apa-apaan ini Nana memintanya untuk melakukan perjalanan waktu dengan berbekalan sebuah buku catatan kecil dengan sampul biru tua.


Sebelum benar-benar pergi, Papou menuliskan sebuah pesan singkat di kertas entah untuk siapa yang jelas pesan itu Papou tuliskan untuk siapa pun yang nantinya yang membacanya.


Anggap saja apa yang di lakukan oleh Papou adalah bentuk penghormatan terakhir untuk Nana.


~SF.L~


Tangan Papou masih memegang erat buku itu, sesuai perintah Nana jangan membuka sebelum sampai, saat ini Papou masih menelusuri sebuah lorong yang gelap dengan air yang menetes dari atas.


“Kakak uda berapa kali ke sini?” Suara Papou terdengar menggema dalam lorong ini.


“Baru sekali dan itu adalah ketika melihat masa kecil lo,” Daga mencoba untuk menembus gelap melihat netra coklat Papou.


Sesuai perintah Nana mereka hanya perlu mengikuti lorong ini dan temukan hantu rumah sakit dan Hanna serta kucing yang selalu mengekori Hanna.


Langkah Papou terhenti begitu juga dengan Daga, Papou merasakan ada yang memegang kakinya dengan refleks Papou memegang tangan Daga, “Kenapa?”


“Kayak ada yang pegang kaki aku,” Papou langsung menjadi panik, kakinya benar-benar kaku tidak bisa di gerakan.


Daga langsung mengeluarkan ponselnya, berharap benda itu dapat digunakannya, sial baterainya hanya tinggal 9% tidak mau membuang waktu Daga langsung menyalakannya menjadikannya sumber pencahayaan tidak ada yang memegang kaki Papou.


“Gak ada apa-apa Pou,” Daga juga terlihat heran, benar-benar tidak ada apa-apa. “lo gak lagi mengerjai gue kan?” Daga sedikit curiga dengan Papou.


“Sumpah benaran Kak, Kaki aku benar-benar gak bisa digerakkan, kayak ada yang megang dari bawah.” Papou terus berusaha menggerakkan kakinya tapi benar-benar tidak bisa sama sekali.


Tiba-tiba saja Daga merasakan ada aura lain, mengerikan. Daga menatap ke semua arah, sialnya pandangannya terbatas untuk saat ini, baterai ponsel Daga hanya tinggal 4%, Daga merutuki dirinya yang tidak mau mengganti ponselnya walaupun bunda sudah sering menawarkannya.


“Lo bawah hp gak?” Papou langsung mengangguk, Papou memang selalu membawah ponsel ke mana-mana walaupun jarang digunakannya terhitung tidak pernah digunakan oleh Papou.


“Bagus, hp gue bentar lagi bakalan mati.”


Daga merasakan seperti ada yang memegang lehernya, “Ya … ketahuan,” dia berujar dengan wajah kecewa. Alis Daga saling bersatu ketika melihat sosok dengan wajah anak kecil tapi kepalanya sudah terbagi dua, Daga dapat dengan jelas melihat bagian otak anak itu.


Sebagai calon dokter muda, Daga tidak merasa takut sama sekali melihat itu, bahkan jika dirinya ditantang untuk memegang otak itu, Daga akan sangat-sangat berani.


“Kak …” Papou semakin memegang erat lengan Daga ketika tiba-tiba saja cahaya yang berasal dari hp Daga mati.


Sebelum cahaya itu benar-benar hilang, Daga melihat ada kilatan tajam yang tersembunyi di balik baju yang di pakai oleh anak itu.


Daga berusaha menarik tangan Papou untuk segera pergi, “sial kenapa gak bisa.”

__ADS_1


Daga semakin merasa takut ketika anak itu mulai melangkah maju, Papou tidak tauh apa yang terjadi, yang hanya bisa dilihat Papou adalah wajah panik Daga.


“Ada apa Kak?”


__ADS_2