Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
Darah?


__ADS_3

Setelah berhasil mengarang sebuah cerita kalau dirinya adalah hantu, untung saja Hanna percaya-caya saja.


“Bye aku pulang dulu.” Papou rasa dia harus segera mengakhiri ini semua.


“Tunggu, Kakak pulang lewat mana?”


“Lewat pintu lah,” Papou berjalan acuh ke pintu.


Hanna mengernyit, Hanna merasa ada yang aneh dengan cerita Papou, “Kok hantu lewat pintu sih.


Papou tidak berfikir sampai kesitu, benar-benar pembohong yang buruk. Sekarang Papou harus lewat mana, tidak mungkin dia harus menembus tembok Papou tidak bisa melakukan itu. Pandangan mata Papou tertuju pada jendela yang terbuka dengan lebar. Mungkin itu bisa jadi pilihan.


~SF.L~


“Tangan lo masih sakit gak?”


Papou menggeleng, sekarang Papou sedang berada dalam mode mara pada Daga. Gara-gara ide konyol Daga membuat Papou harus mengarang sebuah cerita pada Hanna.


Daga menarik paksa tangan Papou, “masih mati rasa gak?”


“Masih kayaknya, aku gak ngerasain sakit apa pun, tadi pas jatuh dari jendela juga gak sakit.”


“Siapa suruh lo loncat dari jendela,” Daga mencibir, Papou langsung mencubit lengan Daga yang makin hari semakin menyebalkan.


Papou jadi ingat selama ini Hanna selalu keluar lewat jendela, apa Papou adalah inspirasi Hanna melakukan tu semua.


Papou menepuk-nepuk roknya yang sangat kotor, “sebenarnya kita sekarang ke masa lalu atau masa depan sih.


Daga menggeleng, ia tidak tauh apa pun, Daga bukan manusia maha tauh yang tauh segala hal, Daga hanya bisa melihat mereka yang tidak bisa dilihat semua orang.


Daga mendengar suara tembok yang di garuk-garuk, alarm berbahaya dalam otak Daga mendeteksi sesuatu, ada bahaya. Daga menarik tangan Papou untuk mendekat ke sumber suara.


Sosok itu berkepala manusia tapi badannya seperti kucing, kepala itu juga terbalik. Sepertinya sosok itu menyadari kehadiran Papou dan Daga.


Ketika Daga hendak melarikan diri, ada sosok lian yang berdiri depannya. Raut wajah daga berubah menjadi panik, sosok-sosok itu semakin banyak dengan wujud yang aneh.


“Lari Pou!” Daga mendorong tubuh Papou untuk ke samping, hampir saja Papou tersungkur ke tanah. Papou tidak tauh apa yang terjadi.

__ADS_1


“Ada apa?”


“Gue bilang lari, lari sejauh yang lo bisa jangan pedulikan gue.” Apa apaan ini, Papou tidak tauh apa yang terjadi dan tiba-tiba Daga menyuruhnya untuk pergi.


Daga menendang salah satu dari mereka yang hendak mendekat ke arah Papou, taring-taring panjang mulai keluar dari mulut sosok itu menembus rahang bawahnya sendiri.


“Papou gue bilang lari.” Papou tidak mau lari, jika pun harus lari Papou tidak mau berlari sendiri. Papou langsung menarik tangan Daga, “kita ke sini sama-sama berarti keluar dari sini juga harus sama-sama.”


Semakin jauh Daga melakukan perjalanan semakin Daga mengenal jauh Papou, gadis dengan netra coklat rambut panjang dan pipi cubbynya. Dengan sifat yang super duper keras kepala, Daga semakin melihat sisi lain dari seorang Syellifau Lidia.


“Tapi yang mereka incar itu lo, lo bisa lari dan biar gue yang ngelawan dia.”


Papou menggeleng cepat, Papou tidak mau naif, Papou memang ingin selamat dari tempat ini tapi bukan dengan cara mengorbankan nyawa temannya.


“Aku gak mau hidup sendiri, Aku gak mau bahagia di atas penderitaan orang lain. Kalau pun kita harus mati, aku ikhlas.”


Daga semakin terkesima dengan Papou, gadis yang penuh kejutan.


“Mereka masih mengejar kita?” Daga menolehkan kepalanya ke belakang. “Masih Pou.”


Namun langkah Papou langsung terhenti ketika berhenti berlari, “ada apa?”


“Kau mau apa?” Daga menunjuk geram ke arah bocah itu.


Anak itu tersenyum memperlihatkan giginya yang runcing-runcing, anak itu menjilati bibirnya dengan lidah yang sangat panjang. “Darah kak Pou enak banget.”


Daga menatap sekilas ke arah Papou yang hanya diam seperti orang bodoh, Daga semakin geram melihat kelakuan anak itu.


“Rasanya manis,” anak itu melanjutkan kata-katanya. Apa jangan-jangan luka goresan d lengan Papou adalah ulah anak itu.


“Aku mau lagi,” kuku anak itu semakin panjang, semakin panjang dan akhirnya akan bisa menggores tubuh Papou. Daga semakin panik ketika rombongan makhluk aneh yang mengejarnya tadi semakin dekat.


Sebelum kuku-kuku itu dapat menyentuh tubuh Papou, Daga segera berusaha untuk mematahkannya. Percuma saja kuku itu sangat kuat.


“Pou lo harus pergi tanpa gue,” Papou menggeleng dengan yakin, “aku bilang enggak yah enggak.”


Papou membulatkan matanya tidak percaya ketika melihat Daga terpelanting jauh ke belakang.

__ADS_1


Papou langsung terpekik kaget ketika pipinya mengeluarkan darah, anehnya darah itu seakan di hisap keluar tidak ada yang mengalir turun.


Daga dapat dengan jelas melihat anak itu duduk di bahu Papou sambil menjilati luka itu.


“Pou gue bilang lo harus pergi!” Daga berteriak dengan nada membentak.


“Aku gak bakalan mau pergi.”


Papou pikir Daga marah kepadanya ketika laki-laki itu mengarahkan pukulan ke pipinya. Papou langsung menutup matanya erat.


Mendapat pukulan dari Daga membuat anak itu terpelanting ke belakang, Papou tidak merasakan apa pun.


Daga seperti orang kesetanan seperti menendang-nendang sesuatu dan memakinya.


“Enak banget, kakak harus coba,” mendengar kata-kata anak itu semakin membuat Daga menjadi-jadi.


Papou mendekat ke arah Daga, pipinya masih terasa perih darah segar menetes dari luka itu. Tepat ketika darah itu menetes mengenai anak itu, membuatnya langsung berubah menjadi asap.


Daga tidak yakin dengan apa yang di lihatnya barusan, apakah darah Papou adalah senjata untuk melawan mereka tapi kenapa anak tadi malah menjilat darah Papou dan dia tidak apa-apa.


“Ayok,” Daga kembali menarik tangan Papou untuk segera pergi, walau makhluk aneh yang sempat mengejar mereka tadi telah pergi.


Setelah dirasa cukup aman Daga berhenti, matanya tertuju pada netra coklat Papou. Papou masih berusaha mengatur nafasnya. Daga menyentuh pelan luka di pipi Papou.


“Sakit Pou?”


“Katanya mahasiswa kedokteran, kenapa hal kayak gitu masih nanya,” baru beberapa menit yang lalu Daga merasa kagum dengan Papou, Papou sudah kembali lagi ke sifat awalnya. Menyebalkan.


“Lah mana gue tauh, kan bukan badan gue, jadi gue gak bisa ngerasain.”


“Katanya mahasiswa kedokteran, kalau luka yah pasti sakit lah.”


“iya .. maaf aku salah,” iya in aja biar ini cepat selesai, Daga tidak mau berdebat. Itu hanya akan membuang tenaganya.


Berbicara mengenai tenaga, kenapa Daga tidak merasa lapar padahal ini sudah tengah hari, matahari sudah berada di atas kepala.


“lo laper gak Pou?”

__ADS_1


Papou baru sadar kalau dia belum makan dari pagi tapi belum merasakan Papou.


“Apakah kita masih manusia atau sudah berubah sama menjadi mereka?” Daga benar-benar tidak tau apa yang terjadi.


__ADS_2