Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
cerita-cerita.


__ADS_3

Melihat apa yang di bawah oleh wanita itu membuat Daga ingin muntah.


“Tarah ... supnya sudah jadi,” layaknya sebuah iklan makanan di televisi, wanita itu tersenyum sambil mengangkat supnya.


“Aromanya enak banget,” seru Papou dengan senyum di wajahnya.


Enak dari mana, Daga hanya mencium bau bangkai bercampur dengan bau amis darah.


Wanita itu menuangkan makanan menjijikkan ke dalam mangkuknya, sup apa ini. Lihatlah ada sesuatu berbentuk otak dan rambut di dalamnya, daga yakin kuahnya pasti terbuat dari darah bercampur nana. Daga juga melihat beberapa daging berbentuk telinga manusiam


Semua orang tersenyum melihat itu semua, seakan-akan itu adalah makanan terenak di jagat raya ini. Ketika Papou hendak menyuap sup yang berisi banyak helaian rambut itu, Daga langsung menepis tangan Papou.


Papou menatap Daga dengan sorot kemarahan, wajahnya berubah menjadi merah padam. Sementara di sisi lain meja ini, wanita itu terus menatap mereka tanpa menyentuh makanan mereka.


“Pou sadar, kita harus segera pergi.” Daga mencoba menarik pergelangan tangan Papou kuat, tapi Papou semakin memberontak.


“Gue pikir lo punya rencana, tapi ternyata enggak.” Daga berdecak sebal.


Semua mata anak-anak itu tertuju pada keributan yang di buat oleh Daga dan Papou. “ Ihh ... makanannya gak boleh di buang-buang kayak gitu.” Ujar anak dengan bulu yang menyelimuti badannya.


“gak tauh untung banget,” anak dengan kepala anjing juga ikut menimpali.


“Kalau gak mau makan sini buat aku,” anak dengan badan penuh luka bakar langsung merebut mangkuk Papou dan Daga.


Tidak terima makanannya di ambil oleh anak itu Papou langsung merebutnya kembali.


Daga langsung membanting mangkuk yang baru saja di rebut oleh Papou. Wanita yang menjadi nyonya rumah langsung berdiri, pipinya berubah menjadi merah padam.


“Pou sadar! Kita harus pergi.” Daga benar-benar di ambang batas kesabarannya sekarang, Daga menarik keras tangan Papou ke arah pintu tidak peduli dengan suara rintihan Papou untuk meminta berhenti menyeretnya.


“Pintu sialan,” Daga mengumpat ketika pintu itu tak kunjung bisa terbukak.


“Kau pasti penyihir, buka pintu ini.” Daga berteriak sambil menunjuk wanita itu.


“Daga ... dia itu manusia, kamu liat sendiri kan?”


Apa yang sedang terjadi dengan otak Papou, otaknya seperti sudah dicuci. Daga pastikan dalam keadaan normal Papou tidak akan mau memakan sup yang penuh dengan rambut, darah dan nanah.


Wanita itu tetap tenang melihat apa pun yang di lakukan oleh Daga. “Lakukan saja sampai kau lelah,” ujar wanita itu dengan sinis.

__ADS_1


“Anak-anak lanjutkan makan kalian, biarkan mereka lelah,” Wanita itu kembali berujar membuat semuanya kembali fokus dengan makanan masing-masing.


Sebuah ide gila muncul di benak Daga, ini adalah ide yang benar-benar gila, Daga harus menjilat ludahnya sendiri yang bersumpah untuk tidak menyakiti Papou.


“Maaf ... gue terpaksa lakuin ini karena lo keras kepala.”


Papou langsung menjerit kaget, Daga menggigit kuat tangan Papou sampai mengeluarkan darah.


Papou mengoleskan darah itu ke seluruh telapak tangan dan punggung tangannya.


Saat ini Papou hanya terdiam, melihat suasana yang sangat asing, rasanya Papou baru terbangun dari mimpi indah.


“Bantu gue, pokoknya darah lo harus kena mereka semua.” Papou langsung mengangguk paham. Papou tidak bisa melihat apa pun di sini.


Papou mengikuti apa yang di lakukan oleh Daga mengolesi tangannya dengan darah dan bersiap untuk meninju mereka semua. Rencananya Papou hanya akan asal tinju, karena ia tidak bisa melihat apa pun, ini hanya terlihat seperti ruangan kosong di mata Papou. Daga sudah maju terlebih dahulu.


Masih dengan wajah tenangnya, wanita itu memberi komando untuk mundur kepada seluru makhluk aneh yang ia sebut sebagai anak. Mereka langsung berhamburan, membuat beberapa mangkok sup tumpah.


Melihat sup itu tumpah langsung membaut Papou bergidik jijik.


Satu pukulan Daga mendarat pada seorang anak dengan kepala yang sudah terbelah, membuat otaknya terjatuh ke lantai dan jatuh tepat di depan kaki Papou. Papou langsung menjerit ketakutan. Papou tidak tauh dari mana datangnya otak itu, tiba-tiba sudah ada di depan kakinya. Anak itu langsung berubah menjadi asap.


Tentunya wanita itu tidak tinggal diam, ketika melihat anaknya lenyap jadi asap.


“Kau ....” Geram wanita itu sambil melemparkan apa saja yang ada di sekitarnya.


Sudut mata Papou mengarah pada senapan yang berjejer di sepanjang dinding dan sebungkus peluru yang ada di sampingnya.


Daga yang sibuk meninju mereka semua terhenti ketika mendengar teriakan Papou, “mundur Kak.”


Daga menarik garis senyum ketika melihat apa yang di lakukan oleh Papou. Daga hanya menurut, Daga yakin Papou akan melakukan sesuatu dengan senapan panjang di tangannya.


Bunyi peluru yang saling memburu saling berpacu, Daga langsung terperangah. Kreatif juga dia. Daga yakin Papou telah terlebih dahulu membasahi semua peluru itu dengan darahnya sendiri.


Tapi sekilas pandangan Daga tertuju pada tangan Papou yang penuh dengan luka gigitan, bahkan masih ada luka yang mengeluarkan darah. Belum lagi dengan pipi Papou yang memiliki luka goresan di tambah dengan lengan yang menghijau.


“Uda pada mati semua?” suara Papou terdengar gemetaran begitu juga dengan tangan Papou. Papou pernah melihat kakeknya berburu menggunakan senapan.


Daga menggeleng, wanita itu masih hidup. Masih dengan wajah tenangnya. Dia tersenyum.

__ADS_1


Papou kembali membabi buta menembak apa pun yang ada di depannya. Tapi wanita itu masih tetap bertahan ia belum berubah menjadi asap. Padahal dengan jelas Papou dapat melihat peluruh Papou tepat menancap di kepalanya, kejadian itu tak sekali dua kali tapi berkali-kali.


Papou kehabisan peluru, “dia masih hidup?” Papou kembali bertanya, tapi belum sempat Daga menjawab dia telah menampakkan wujudnya.


Melihat mata hijau wanita itu membuat Papou merasa deja vu.


Tidak seperti apa yang di perkirakan oleh Papou, sosok itu tersenyum.


Daga dan Papou saling tatapan, “duduk dulu kita bicara baik-baik.” Suaranya terdengar lembut. Tapi suara lembut itu tidak bisa melunakkan hati Daga dan Papou.


“Kita cerita-cerita dulu,” mendengar kata-kata kita ‘cerita-cerita dulu’ membuat Daga teringat akan bunda, ketika ingin marah atau menanyakan sesuatu bunda selalu menggunakan kata, ‘ayok kita duduk dulu, kita cerita-cerita.’


Tapi kata-kata itu juga tidak akan bisa melunakkan hati Daga, Papou bersiap untuk menggigit tangannya. Tapi sosok itu segera berteriak jangan.


“Kau takut mati?” Papou bertanya dengan suara yang terdengar meremehkan.


“Tidak, aku sudah mati untuk apa takut?” Ucapnya dengan santai.


“Lalu apa tujuanmu mengurung kami di sini,” kini giliran Daga yang bertanya.


“Makanya ayo kita duduk dulu, kita cerita-cerita dulu. Bukankah begitu Daga?” Daga langsung mengenyit bingung, kenapa harus namanya di ujung kalimat wanita penyihir ini.


“Baiklah jika kalian ingin di paksa,” sebuah tali berwarna hijau mengkilap langsung mengikat kaki mereka dan menariknya menuju tempat duduk di meja makan yang sangat berantakan, Papou membuang muka, Papou tidak mau melihat makanan menjijikkan itu.


Wanita itu menghela nafas panjang, matanya melihat ke seluruh ruangan yang sudah sangat berantakan, “lihatlah kerusakan yang telah kalian buat, rumahku hancur. Nantinya kalian harus bertanggung jawab.”


Papou benar-benar tidak peduli dengan ucapan wanita itu. “Cepat katakan apa maumu penyihir.” Daga benar-benar sudah tidak tahan lagi, susah payah dia berusaha untuk melepaskan ikatan ini.


Wanita itu masih diam, melangka menuju Papou, mengusap pelan pipi Papou yang terluka dan ajaibnya luka itu langsung menghilang.


“kau benar-benar penyihir, singkirkan tangan hinamu dari temanku.” Daga kembali berteriak. “Diam duluh,”ujar wanita itu dengan suara lembut.


Hebatnya seluruh luka di tubuh Papou menghilang. Wanita itu mengusap-usap pelan kepala Papou, seperti seseorang yang sedang menenangkan.


“Papou sadar, Gue bilang lo harus sadar,” Daga terus meneriaki Papou yang hanya diam, Papou terlihat tenang.


Sekarang tangan wanita itu bergerak ke arah mata Papou, tangan-tangannya mulai mencongkel bola mata Papou, anehnya Papou tidak merasa kesakitan sama sekali.


Sementara Daga terus meminta Papou untuk sadar, percuma saja Papou sudah hilang kesadaran.

__ADS_1


Kedua bola mata Papou menggelinding dilantai.


__ADS_2