Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
pasangan singa.


__ADS_3

“Papou …” mendengar teriakan Karin dari luar, membuat Hanna langsung berdecak sebal, “ah … siapa sih itu ganggu.”


Mata hijau Hanna langsung di penuhi oleh kilat kemarahan, tidak lama kemudian terdengar suara cermin yang pecah. Papou menatap Hanna tidak suka, dipikir beli cermin murah apa.


“Bye dulu kak Pou, matinya di pending dulu. Ada yang ganggu,” Hanna melambaikan tangannya dan langsung meloncat dari jendela kamar Papou.


Papou mengelus dada lega, Papou harus berterima kasih pada Karin yang telah menyelamatkan hidupnya.


“loh kok cerminnya pecah?” Karin menatap pecahan kaca itu dengan alis yang saling bertautan.


“Papou gak apa-apa kan?” Karin kembali bertanya memperhatikan tubuh Papou, “tidak ada yang luka kan?” Karin kembali bertanya, lagi-lagi tidak ada jawaban dari Papou.


“Kenapa cerminnya pecah?” Karin tetaplah Karin yang tak akan pernah bisa membaca mood seseorang.


“Gak tau, pas aku keluar dari kamar mandi uda pecah kayak gini,” alibi Papou, untung saja Karin percaya saja.


~SF.L~


Ternyata Papou tidak salah orang untuk membantunya tobat, Aluna adalah gadis baik yang pendiam dan tidak mau ikut campur masalah orang lain. Aluna tidak pernah membahas masalah di gudang waktu kamerin.


“kamu baca-baca buku ini, kalau gak paham bisa tanya aku atau gak kamu bisa cari di internet.”


Papou menerima buku yang diberikan oleh Aluna, “makasi Al.”


Yap interaksi mereka hanya sebatas itu tidak lebih.


Papou langsung menolehkan kepalanya ketika ada yang memanggil namanya, itu Nades, tumben sekali. “Kenapa Kak?”


Nades masih berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, bukan karena jatuh cinta tapi karena lari menuruni tangga. Ulah siapa lagi kalau bukan ulah Raga yang menyuruhnya.


“I … itu … itu Raga, memanggil lo ke kelas dia.”


Papou langsung mendengus sebal, “gak mau ah, malas.” Papou langsung pergi sambil menarik tangan Aluna.


“Permisi Kak, aku duluan.” Ucap Aluna sambil sedikit menunduk, Nades hanya membalasnya dengan anggukan.


“Tunggu Pou, ini penting banget, gue bisa di amuk ... mau yah?” Nades kembali berusaha membujuk Papou.


“Kalau aku bilang gak mau, yah gak mau.” Nades terus mengikuti langkah Papou.


“Bujuk teman lo dong,” kali ini Nades berusaha untuk minta tolong pada Aluna. Namun Aluna hanya diam, ia tidak bisa bicara apa-apa, Aluna tidak tau akar permasalahannya di mana.


“Coba temuin dulu aja Syel, siapa tauh penting.” Aluna mencoba untuk membujuk, setelah berbicara Aluna langsung menggigit bibir bawahnya takut-takut kalau sampai salah bicara.


Ok, baru tadi Papou memuji Aluna sebagai type teman idealnya tapi sekarang Papou harus menarik ucapannya lagi, Aluna mudah terpengaruh oleh situasi, tidak berpendirian.


“Gak usah gampang kemakan omongan orang lain,” Papou berbicara dengan nada membentak, Aluna masih setia mengikuti langkah Papou begitu juga dengan Nades yang terus membujuk.


“Ayolah Pou, lo gak mau liat Raga marah-marah ke gue kan?” Nades memasang wajah memelasnya.


“Bodoh amat Kak, aku gak peduli.” Ketus Papou seperti biasanya.


“Iya gue tau lo gak peduli, tapi gue mohon sekali ini aja,” jika bukan karena terlibat janji dengan Raga, Nades tidak akan mau melakukan ini. Harga dirinya benar-benar jatuh sebagai cowok.


Akhirnya dengan bujukan ekstra dari Nades, Papou mau menemui orang ini, sombong sekali gayanya pakai acara duduk di atas meja.


“Ada apa?” tanya Papou to the point ketika sampai di kelas Raga.


“Apa?” Raga malah celingak-celinguk kanan kiri seperti mencari sesuatu.


Papou menggeram kesal, apa sekarang dirinya sedang di kerjai oleh Nades. Papou melemparkan tatapan elangnya ke arah Nades yang sedang berdiri di dekat pintu.


“Kalau kangen sama gue bilang aja,” mendengar ucapan Raga langsung membuat pipi Papou berubah menjadi merah padam.


“Nah kan … benaran kangen, pipinya jadi merah gitu.” Papou mengepalkan tangannya, berisap menahan emosinya. Papou tidak mau mencoret nama baiknya hanya karena marah-marah tidak jelas walaupun namanya sudah tercoreng di SMA Cendikia ini.


“Suka-suka kamu deh,” ucap Papou dengan santai sambil memutar badannya, ia ingin segera pergi dari tempat ini. Ingatkan Papou untuk membuat perhitungan dengan Nades nantinya pulang sekolah.

__ADS_1


“Sumpah Pou, tadi Raga nyuruh gue manggil lo.” Nades merasa posisinya saat ini tidak aman.


Memang Nades bebas dari amukan singa jantan alias Raharga Sukma Muktar tapi sekarang ia akan mendapat amukan dari singa betina alias Syellifau Lidia. Mereka memang pasangan singa yang sangat cocok, lihat saja nantinya anak mereka akan menjadi raja hutan, penguasa rimba.


“Etss … tunggu dulu,” Papou tidak mempedulikan teriakan Raga, sudah capek-capek datang ke lantai tiga naik tangga pula padahal kelas Papou ada di gedung yang lain.


“Kenapa pergi?” Raga berusaha menyamakan langkahnya dengan Papou.


“Mending mati aja sana dari pada ngerusuh di hidup orang.” Ucap Papou dengan emosi yang meluap-luap.


“Emangnya lo mau jadi janda muda?”


Papou langsung memberhentikan langkahnya, jangan salahkan dia kalau nanti tangannya sampai menghajar wajah Raga yang mengaku tampan itu, “nanti orang salah paham Ga.”


“Biarin, malah gue suka kalau mereka salah paham.” Raga malah menyengir seperti tidak bersalah sama sekali.


“terserah kamu aja deh, atur sesukanya.”


“Emang gitu, gak mungkin juga kan lo yang ngatur hidup gue?” Papou memilih diam, Papou masih membutuhkan banyak tenaga untuk ke lantai dasar dan menuju ke kelasnya di gedung yang berbeda. Tidak ada lift di gedung ini, karena ini adalah bangunan pertama yang dibangun.


Papou merasakan ponselnya bergetar dan benar saja ada chat masuk dari Daga. Raga yang melihat Papou mempunyai hp merasa di bohongi. “Katanya gak punya hp, terus itu apaan?”


Papou menatap malas ke arah Raga yang terus suuzon kepadanya, “suuzon aja terus.”


“Owh gitu, mama uda berani selingku di belakang papa.” Beberapa anak-anak kelas dua belas yang lewat menatap mereka dengan tatapan aneh dan menahan tawa malahan ada yang tertawa terang-terangan.


“Sakit, Pou.” Raga mengelus-ngelus mulutnya yang dipukul oleh Papou. Tidak berperi kemanusiaan.


“Makanya jangan asal ngomong, nanti kalau orang salah paham gimana?”


Raga langsung merampas hp yang ada di tangan Papou dengan kurang ajarnya Raga membaca chat antara Daga dan Papou.


“Kembalikan Raga, gak sopan banget sih. Baca chat orang.” Papou berusaha untuk mengambil ponselnya kembali. Percuma saja, Raga terlalu tinggi. Berbanding terbalik dengan Papou yang hanya 155 cm.


“Ada urusan apa lo sama kembaran gue?” Papou mendadak jadi bisu, nada bicara Raga menjadi dingin dan datar. Papou lebih suka dengan nada bicara Raga yang mengatur-ngaturnya, menyuruh ini-itu yang kadang-kadang tidak bisa diterima oleh logika.


~SF.L~


Papou dan Daga hanya diam, mereka sama-sama tidak bisa menjelaskan.


“Kenapa diam?” Raga kembali bertanya, Raga mengutak-atik hp Papou. Hati Raga semakin panas dingin ketika melihat riwayat telepon Daga dan Papou yang sampai tiga jam.


“Ngomongin apa aja sampai tiga jam?” kenapa sekarang posisinya Papou seperti seorang pacar yang ketahuan selingkuh.


“Urusannya sama kamu apaan?” Papou tidak mau dirinya terus-terusan disalahkan.


Daga tidak mau menjadi pusat perhatian karena Raga dan Papou.


“Oke gue cerita, apa pun yang gue ceritain lo harus percaya.” Daga tidak mungkin bisa menyembunyikan ini selamanya dari Raga.


“Gue anak indigo, gue bisa melihat mereka yang sangat lo takuti,” Raga benar-benar takut dengan yang namanya hantu, jin, setan, pocong, kuntil anak pokoknya apa pun yang berhubungan dan sebangsa dengan mereka.


“Seriusan lo, dari kapan?” Raga mulai ngeri sendiri, melupakan emosinya. Raga sedikit merapatkan kursinya ke arah Daga.


“Buktinya apa?” Raga tidak mudah begitu saja percaya.


Daga tidak bisa membuktikannya sekarang, nyonya hantu yang ia gunakan untuk membuktikan kemampuannya waktu itu pada Papou sedang tidak ada di sini.


“Kan tadi gue bilang, apa pun yang gue ceritain lo harus percaya,” Raga menghela nafas pasrah, sekarang Raga harus sabar agar Daga mau menceritakan ada hubungan apa ia dengan Papou.


“Waktu kita ke rumah sakit, gue bertemu seorang hantu. Lo ingat gak waktu kita pulang, ada bau busuk kayak bau bangkai campur sama bau amis darah gitu di dalam mobil?”


Raga langsung mengangguk, Raga belum pikun. “Iya. Gue ingat.”


“Itu bukan karena teman gue yang habis muntah, tapi karena ada dia waktu itu.”


Raga langsung bergidik takut, jadi selama ini Raga selalu berdekatan dengan mereka-mereka itu. “Seberapa dekat gue sama dia?”

__ADS_1


Daga menatap untuk sejenak posisi duduknya dengan Raga yang sangat dekat, bahkan dempettan. “Sedekat kita inilah.” Daga tidak mengada-ngada itu memang benar adanya.


Raga mulai takut sendiri, kenapa dirinya penakut.


“Terus apa hubungannya sama Papou?” Raga mencoba untuk bersikap biasa saja, demi menjaga nama baiknya di depan Papou. Jika ini di rumah dan tidak ada Papou maka Daga sudah loncat-loncat tidak jelas dari tadi.


Daga menceritakan semuanya, mulai dari kehidupan masa kecil Papou yang hancur sampai Nana yang selalu mendatangi Daga dan Nana yang telah menggadaikan nyawa Papou hanya untuk sebuah peringkat kelas.


“Ternyata lo pintarnya main dukun.” Sindir Raga sambil melirik Papou yang duduk di antara mereka, dari tadi Papou hanya diam. Ini bagian Daga untuk menceritakan semuanya.


~SF.L~


“Kenapa lo enggak bilang sama gue dari dulu-dulu kalau lo itu indigo.” Dari perjalanan pulang tadi Raga terus mengomel tidak jelas pada Daga.


“Lo penakut Raga, kalau gue cerita sama lo kalau mereka itu benar-bena ada mungkin lo udah lama mati.” Daga berdecak sebal.


“jangan sok tau dong jadi orang, jangan mendahului takdir tuhan,” Raga tetap kekeh pada keyakinannya. Raga tidak akan pernah mau menjadi pihak yang di salahkan.


“Iya … gue minta maaf, gue salah.” Lebih baik Daga mengaku salah saja dari pada telinganya capek mendengar semua pertanyaan Raga.


“Emang lo salah.” Daga hanya diam ia tidak membalas ucapan Raga.


“Buat malam ini dan seterusnya gue balik lagi yah, ke kamar ini.” Raga yakin jika dia tidak mengganggu mereka, mereka juga tidak akan mengganggu Raga. Tapi tetap saja keyakinan itu tidak membuatnya cukup berani.


Daga menghela nafas panjang, Daga tahu kenapa Raga sebegitu takutnya dengan yang namanya hantu, trauma masa kecil yang membuat Raga menjadi takut dengan hantu.


Daga sama dengan Nana yang mudah akrab dengan siapa pun entah itu ‘mereka’ atau manusia. Salah satu dari mereka pernah menampakkan wujudnya di depan mata Raga, itu yang membuat Raga selalu merasa takut.


Walau bunda sudah berusaha untuk membawah Raga kepada orang pintar, untuk melupakan itu tapi rasa takutnya tetap ada, hanya ingatannya saja yang hilang.


“maaf … gue bakalan sering komunikasi sama Nana dan itu bisa buat lo semakin takut, dan mungkin juga sama yang lainnya,” jika Nana muncul dalam wujudnya yang seperti kemarin, menakutkan, mungkin saja bisa membuat Raga pingsan atau malahan bisa serangan jantung.


“Tapi gue takut tidur sendirian,” Raga merasa seperti ada yang mengikutinya.


Daga memukul pelan pundak Raga, “dengerin gue, lo gak perlu takut, selagi lo gak ganggu mereka, mereka juga gak bakalan ganggu lo. Baca doa sebelum tidur.”


Raga hanya mengangguk pelan, ia pasrah. Ada satu bagian cerita yang di skip oleh Daga, tentang hantu rumah sakit yang sering mengikuti Raga ataupun Papou. Jika tidak di dekat Papou, maka hantu di dekat Raga.


~SF.L~


Papou merasakan ada yang aneh di bawah kakinya, seperti menginjak sesuatu, rasanya agak lembek dan basa-basa gitu. Dan benar saja itu kotoran ayam. Sejak kapan ada ayam di rumah ini.


Ada dua ekor anak ayam dengan warna pink dan hijau yang berlari-lari di depan Papou, sekarang Papou tauh ini pasti ulah siapa, siapa lagi kalau bukan Karin. Tidak mungkin bang Araya dan oma yang memelihara anak ayam ini.


“Pa … Papou tolong tangkapin anak ayam aku, tadi mau aku kasih makan malah kabur.” Karin berteriak dengan nafas yang saling memburu, Karin telah mengejar anak ayam itu dari tadi.


“Anak ayam kamu?” Papou bertanya berlagak tidak tauh, Karin mengangguk dengan senyum yang menghiasi wajah ovalnya. “Iya … tadi pulang sekolah aku beli bareng kak Nades.”


Papou tidak peduli mau ayam itu di belinya dengan siapa, entah itu Nades, pak Sabai penjual bakso di sekolah, Diva yang memiliki mulut pedas atau bahkan presiden sekalipun Papou tidak peduli.


“Aku gak suka yah Rin kamu pelihara ayam di dalam rumah, nih aku menginjak kotorannya,” ucap Papou sambil mengangkat kakinya yang menginjak kotoran ayam itu.


“Nanti aku pasangin pempers yang jelas sekarang kamu bantu aku buat nangkap anak ayam itu.”


Dia pikir anak ayam sama kayak anak manusia, bisa dipakaikan pempers, terkadang Papou suka heran sendiri dengan jalan pikiran Karin, yang pintarnya mengalahkan Albert Einstein.


“Karin ….!! Ayam lo gue sembelih,” teriak Araya dari atas sambil memegang anak ayam berwarna kuning.


“Itu namanya Pidi Bang, kalau yang pink Pini kalau yang hijau itu Pici.”


“Bodoh amat, gak boleh ada anak di dalam rumah pokoknya!” Ucap Araya muak, ia tidak suka dengan binatang, memelihara kucing saja di dalam rumah ditentang habis-habisan oleh Araya.


“Oma boleh in kok, tadi aku uda bilang.” Sebelum membeli anak ayam ini, Karin sudah meminta izin kepada oma.


“Yang tinggal di rumah ini bukan cuma kamu sama oma, tapi ada Papou dan Abang.”


“Terus hubungannya apa?” Araya langsung menjitak kepala Karin yang katanya ini anak bahasa, kenapa memahami ucapan orang lain saja tidak bisa.

__ADS_1


Papou memilih undur diri, telinganya terasa sakit mendengar Karin dan Araya yang sedang berdebat, “mending tangkap dulu anak ayamnya, terus baru ulang lagi debatnya. Uda pada kabur tu anak ayamnya.” Ucap Papou santai sambil menunjuk anak ayam yang sudah lari ke sana ke mari dengan bibirnya yang di manyunkan lalu berlalu pergi ke kamarnya dengan jalan yang berjinjit karena kaki kanannya menginjak kotoran ayam.


__ADS_2