Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
Raga!


__ADS_3

Raga benar-benar kesal setengah mati, dari tadi dia hanya terus berjalan mondar-mandir, ia cemburu tentu saja, tidak akan ada yang ikhlas jika seseorang yang disukainya pergi bersama saudara kembarnya sendiri.


Mungkin jika jadi judul sinetron akan menjadi, ‘ternyata yang menikungku adalah saudara kembarku sendiri.’


Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun Daga tak kunjung pulang. “Brengsek lo Daga.” Raga memukul tembok berulang kali melampiaskan rasa kesalnya.


“Raga stop apa-apaan kamu, ganggu orang tidur saja.” Muktar membentak anaknya itu yang terus uring-uringan dari tadi, jujur saja Muktar kesal dengan sifat Raga yang kekanak-kanakan.


“Daga uda keterlaluan, Ayah .... ”


“Keterlaluan apanya, kamu yang keterlaluan menyiksa diri sendiri.”


Sekali lagi Raga meninju tembok yang ada di hadapannya, “stop nyiksa diri sendiri, Nak.” Suara lembut itu, suara bundanya bagaimanapun situasinya tidak pernah wanita itu membentak.


“Ayah bilang stop Raga.” Muktar menampar anaknya, itu membuat bunda terkejut. Raga hanya diam, pandangannya tertunduk ke bawah. Katakan saja sekarang dirinya adalah bucinnya seorang Syellifau Lidia.


Mereka sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. “Sekarang kamu tidur!” perintah Muktar dengan tegas, Raga melangkah lesu menuju kamarnya, “tapi aku bakalan tetap bikin perhitungan sama Daga.” Raga langsung berlari menuju kamarnya, menahan segala sakit ditangannya akibat kebodohannya sendiri.


“Awas aja besok disekolah Pou, lo gue kerjain.”


Raga menatap pantulan dirinya dicermin, tidak ada yang cacat dari fisiknya secara otak dia juga tidak terlalu bodoh. Ia hanya malas untuk ikut kelas akselerasi, jika ia ikut maka dia akan seangkatan dengan Daga.


“Gue ganteng ,” Raga bergumam sendiri sambil terus memperhatikan dirinya dibalik cermin.


“Malahan gantengan gue dari pada Daga.” Untuk orang yang pertama kali bertemu mereka, dia pasti tidak akan bisa membedakan mana Daga dan Raga.


“Daga sialan …” Raga kembali berteriak keras, ia ingin sekali meninju wajah kembarannya, membuat muka jelek itu tambah jelek.


“Raga tidur!”


Raga mendengus, ketika mendengar ayahnya kembali membentak dari bawah.


“Iya ya ...,” Raga langsung masuk dalam selimut, memikirkan kemungkinan yang akan terjadi antara Daga dan Papou, itu semakin membuatnya semakin tidak bisa tidur.


~SF.L~


“Nyampe jam berapa lo?”


Daga sedang memakan sarapannya, ayah sudah berangkat dari pagi tadi jadi sekarang Raga bebas untuk mengintrogasi kembarannya ini. Tanpa takut di marahi ayahnya.


“Beberapa menit yang lalu.”


Raga hanya ber oh ria, sambil mengambil satu piring untung nasi gorengnya, ia berusaha untuk tidak peduli. “Kenapa emang?”


“Cuma penasaran doang.”


Raga merutuki dirinya sendiri yang sedang berada dalam mode gengsi. Bunda mendengus sebal, anaknya itu benar-benar keras kepala dan gengsiang jelas-jelas tadi subuh dia uring-uringan seperti orang gila.


“Owh … cuma penasarn.” Daga seperti sedang memancing kemarahan Raga, ia memakan nasi gorengnya dengan gerakan slow motion.


“Bunda …” Raga berteriak memanggil bundanya, ia sudah muak melihat tingkah Daga.


“Apa?”


“Aku pamit mau berangkat kesekolah,” Raga mencium lembut tangan wanita itu.


“Gak sarapan duluh.”


“Udah kenyang liat muka anak bunda yang TUKANG NIKUNG itu.” Raga menatap sinis kearah Daga, sedangkan Daga hanya diam ia terus menikmati enaknya nasi goreng buatan bunda.


“Mau Bunda bungkusin nasi gorengnya?”


Sarapan dengan nasi goreng buatan bunda adalah suatu hal yang sulit untuk dilewatkan, tapi demi menjaga harga dirinya didepan Daga, Raga memutuskan untuk melewatkan sarapan. Ternyata benar kata orang, kalau sudah rezeki tidak akan kemana.


“Boleh bunda, 2 bungkus yah Bun. Satu buat makan siang.” Raga mengangkat tangannya, mengacungkang dua jarinya di depan wajahnya.


“Kalau buat makan siang udah gak bakalan enak.” Sebenarnya itu bukan untuk makan siang, tapi untuk Papou.


“Bilang aja buat Papou, mau modus kan lo?” Raga mengacungkan jari tengahnya kearah Daga, yang langsung ditepis oleh bunda. “Sejak kapan kamu bisa kayak gitu, Bunda gak pernah ngajarin kamu hal-hal yang kurang ajar gitu.”


Kenapa dari kemaren semesta tidak pernah berpihak kepadanya. “Dia nyebelin sih."


Bunda menyodorkan dua kotak bekal bewarna kuning dan biru.


“Satu buat kamu, satunya lagi buat calon menantu bunda. Tupperware bunda jangan ilang, bawah pulang, kalau ilang uang jajan kamu bunda potong.”


Emak-emak gituyah lebih sayang Tupperware yang notabennya pelastik dari pada anaknya sendiri. “Iya bun.”


“Ngakunya bad boy tapi bawah Tupperware.”


“Diam lo, Bacot!”


Melihat Raga yang kesal seperti itu adalah hiburan bagi Daga, terkadang ketika bosan di kampus Daga sengaja menelpon Raga hanya untuk mencari ribut, mendengar semua kata-kata kasar Raga adalah hiburan baginya, apalagi menggangu Raga yang sedang berada dalam mode bucin. Menyenangkan sekali. Daga harus banyak-banyak berterimakasih kepada tuhan, karena telah memberikan saudara semenyebalkan Raga.


~SF.L~


“Ngapain aja sih lo? Ini proprosalnya udah harus siap hari ini juga.” Papou yang diomeli Raga habis-habisan hanya bisa diam, percuma juga melawan.

__ADS_1


“Gue gak mau tau, pokoknya sampai jam istirahat udah harus selesai. Lo udah harus dapet semua tanda tangan.”


Papou sudah tidak bisa diam lagi, kupingnya terasa panas mendengar semua kata-kata Raga. “Kalau mau cepat selesai, kerjaain aja sendiri. Emang kamu pikir kerjaan saya cuma bikin proposal ini.”


Mereka Saling mempelototi tidak ada yang mau mengalah, Danis yang baru masuk kedalam ruang kesenian itu mendengus sebal, ini bukan kali pertamanya Raga bertengkar dengan Papou.


“Gue minjem gitar yah,” Denis tidak mau berlama-lama disini, ia tidak mau terlibat pertengakaran mereka.


“Denis …” Panggil Raga, Denis yang baru memegang gitar langsung meletakannya kemali.


“Tolong bilangin sama sekretaris gue ini, kalau ngomong tolong pakai sopan santun.”


“Gue bisa dengar kali,” rasa-rasanya Papou ingin menggorok leher orang yang sedang adu plototan dengannya.


“Denis, bilangin sama dia, gue males ngomong sama dia.”


Papou langsung menggeprak meja yang ada didepannya, “lo pikir itu meja bapak lo.” Geprakan meja Papou langsung disambut dengan teriakan dari Raga.


Demi menjaga kesehatan jantung dan telinganya Papou langsung berlari keluar, ia tidak jadi mengambil gitar.


“Denis mau kemana lo?”


Beberapa kali Denis menelan salivanya, apakah ia akan menjadi pelampiasan kemaran Raga. Jujur saja, Denis takut jika Raga sudah berada dalam mode berang seperti ini. “A … apa, Ga?”


“Jangan pergi, lo jadi saksi kalau cewek ini udah ngerusak inventaris sekolah.”


“Maaf Ga, gue ada kelas.” Tolak Denis berusaha sehalus mungkin, kakinya sudah gemeteran berdiri ditempat, ia tak pandai berkelahi fisiknya lemah ia tidak akan sanggup adu jotos dengan ketua osisnya ini.


“yah udah sana,” Raga mengibas-ngibaskan tangannya kearah pintu.


“Gak mau tau pokoknya harus siap hari ini,” Raga mengulang kata-katanya tadi.


Papou melipat kedua tangannya di depan dadanya, menarik sedikit kepalanya keatas tersenyum secara angkuh. “Gak mau.”


“Gue bilang harus, ngerti gak sih.” Raga memukul meja yang tadinya dipukul oleh Papou.


“Jangan sembarangan mukul meja bisa gak sih? …


Emang kamu yang pakuin ini meja, emang kamu yang gergajiin ini meja. Enggak kan?”


Raga langsung tersenyum mengejek, “lah emag tadi situ ngapain.”


Seperti menjilat ludahnya sendiri, Papou kacap ia tidak bisa bicara apa-apalagi. ‘Perempuan selalu benar,’ kata-kata itu tidak berlaku bagi seorang Raga Sukma Mukta, baginya perempuan itu bukannya selalu benar, tapi selalu membenarkan apa yang dilakukannya.


Raga langsung menarik pergelangan tangan Papou, “ikut gue.”


“Gue aduin sama Bu Diana,” Bu Diana adalah Pembina club kesenian yang sangat killer, ‘ongok-ongek sepeng’ adalah kata-kata andalannya, Papou tidak mengerti apa artinya yang jelas ketika marah kata ongok-ongek sepeng kau akan kelaur dari mulut tajam keriputnya. Guru itu dijuluki puyang maut oleh anak-anak SMA Candikia.


“Iya … iya, aku selesain proposalnya sekarang juga.”


Raga langsung tersenyum dan melepaskan pergelangan tangan Papou yang sudah memerah, “gitu dong makin sayang kan gue, kalau lo nurut.” Raga menepuk-nepuk kepala Papou.


Papou langsung pergi, meninggalkan Raga yang senyum-senyum tidak jelas. Yang peling ia benci menjadi sekretaris bukan masalah membuat proposalnya, masalah proposal ia bisa meminta bantuan Karin, tapi meminta tanda tangan sana-sini itu yang membutuhkan esktra kesabaran.


“Itu baru sebagian kecil dari hukuman buat lo Pou, karena udah bikin gue uring-uringan semalaman.”


~SF.L~


Setelah selesai memungut semua tanda tangan, Papou langsung melangkah kekelas Raga, 11 IPA 3. Tanpa membaca salam dan permisi, Papou langsung masuk kedalam kelas, tidak peduli akan tata karma dan sopan santun.


Pria jangkung itu sedang duduk diatas meja membelakangi pintu.


“Prak …”


Papou langsung melempar proposal itu kekepala Raga.


“Itu proposal yang kamu minta,” sebelum sempat Raga berkata, Papou langsung melangkah pergi.


“Gila galek banget cewek tadi, tapi cantik sih.”


“Cantik banget.”


Kenapa semua orang dikelasnya malah memuji Papou, Raga tidak suka.


“Dia cewek gue, jangan berani kalian buat deketik dia.”


Nades hanya menggeleng-geleng melihat tingkah sahabatnya itu, lucu juga Raga dalam mode bucin. Kalau dilihat-lihat Papou memang manis, netra coklatnya begitu memikiat ditambah lagi dengan lesung pipit dikedua pipinya, lesung pipit yang jarang sekali terlihat. Yah … karena Papou memang jarang tersenyum ataupun tertawa.


~SF.L~


Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, lelah tentu saja. Semua anggota club kesenian sedang mempersiapkan pegelaran itu, mempersiapkan sebanyak-banyaknya lukisan. Sekarang adalah H -7 hari.


Papou masih duduk didepan kanvas kosong, jika tidak menyelesaikan lukisannya. Raga tidak akan mengizinkna Papou untuk pulang. Ia tidak bisa melukis dalam keadaan seperti ini, ia butuh ketenangan.Papou butuh secangkir kopi dan petikan gitar, tapi dimana ia akan mendapatkan.


“Gue mau keluar ada yang mau nitip sesuatu gak?” Pertanyaan itu bagai angin segar bagi Papou, tapi lidahnya terlalu berat untuk berkata, ‘aku pesan kopi kak.’


“Gue pesan batagor.”

__ADS_1


“Gue minuman aja deh, terserah apa aja yang penting dingin.”


“Catat aja biar gak lupa,” seseorang mengusulkan sambil menyodorkan pena dan kertas,


“Uda deh, Ka gak usah kayak hidup di zaman purba, catat di hp aja.” Cewek itu melemparkan kertas dan pena yang ditolak orang itu.


“lo mau apa?” Papou tidak menghiraukan pertanyaan itu, Papou hanya diam. Papou tidak mengira pertanyaan itu untuk dirinya.


“Gue nanya lo mau pesan apa Syellifau Lidia.” Raga berteriak di depan telinga Papou.


“Aku …?” Papou tak benar-benar yakin Raga bertanya pada Papou,.


“Iya lo, yang namanya Syellifau Lidia cuma lo doang.” Raga memutar bola matanya jengah.


“Kopi hitam aja deh.” Raga terperangah, kenapa selerah anak ini aneh. Mungkin aneh bagi Raga yang tidak menyukai minuman pahit itu.


“Gio … gue pesan kopi hitam sama jus alpukat.” Ternyata namanya Gio.


Setelah mendapatkan kopinya sekarang Papou bisa lebih tenang untuk melukis, sebuah lukisan abstrak.


“Lukisan lo jelek banget, kayak lukisan anak Sd.” Papou telah menebalkan telinganya untuk semua kata-kata Raga yang pedas itu. Entah berapa kilo pria jangkung rambut ikal itu menghabiskan coba dalam sehari, sehingga kata-katanya sangat pedas, jika tidak kuat mental bisa membuat seseorang menangis.


Raga tau sedikit banyak tentang lukisan, apa yang ia katakana tadi tidak benar, kenapa susah sekali berkata apa yang ada dihatinya, lukisan Papou sangatlah bagus, jika diperhatikan ada bayangan seorang gadis kecil dibalik warna gelap yang bertabrakan.


Raga tidak melukis sama sekali, ia hanya memerhatikan teman-temannya, Raga tidak terlalu pandai dalam hal melukis ia lebih berbakat dibidang seni suara, seperti bermain alat musik dan bernyanyi.


Dari tadi tangan Raga terasa gatal ingin memain gitar, langsung diambilnya gitar berwarna coklat tua itu. Tangannya mulai bermain, memetik gitar.


Papou langsung tertegun, tangannya berhenti bergerak pikirannya langsung terlempar kemasa lalu, itu lagu yang sama dengan lagu yang sering dibawakah ayahnya, ketika mereka bersama Luther Vandross ~Dance with my father. Ini pasti efek dari bertemu mama dan papanya kemaren jiwa melankolisnya langsung muncul.


“Uda gak usah terpanah sama suara dan kemampuan gitar gue,”


Papou langsung memutar bola matanya jengah, ia muak dengan semua sifat Raga, tidak ada satu pun nilai positif didirinya.


“Ga … please ganti lagunya,” baru kali ini Papou bicara dengan nada yang lembut dengan Raga.


“Gak mau.” Raga kembali menyanyikan lagu tadi dengan berteriak, walaupun berteriak suaranya tetap terdengar merdu.


“owh ya, jidat lo kenapa memar gitu.” Papou sedikit menyentuh luka memar di dahinya yang terasa sedikit sakit.


“Kata Daga kemarin aku kemasukan, treus bentur-benturin dahi kemeja makan.”


Entah kenapa mendengar nama Daga membuat telinganya panas dingin, apakah cemburu semenyiksa ini.


“Ngapain aja lo kemarin sama Daga,” cara yang bagus untuk membuat Raga berhenti bernyanyi adalah dengan berdebat dengan pria jangkung ini, Papou tidak mau ia menangis di sini karena lagu itu.


“Kepo banget sih, terserah kita dong mau ngapin.”


Danis menarik nafas panjang, ia langsung mengambil tasnya, “gue cabut duluan yah, lukisan gue udah selesai ini.”


“Siapa yang bolehin lo pulang, kita pulangnya sama-sama.” Denis langsung meletakan tasnya kembali, merebahkan tubuhnya di sofa ia ingin tidur.


“Kemana aja kemarin sama kembaran brengsek gue?”


“Owh iya … aku ada cerita keren, kemarin aku ke kuburan dan langsung ingat sama kamu.”


Mendengar kalau Papou kemaren mengingatkanya memberi kehangatan dihati Raga, senang tentu saja.


“Kenapa lo ingat sama gue, kangen?”


“Bukan.” Papou bergeleng cepat.


“Trus?”


“Aku ngeliat anjing lagi ngegenggong gak jelas, sama kayak kamu.”


Seisi ruangan langsung tertawa terbahak-bahak, sedangkan wajah Raga langsung berubah merah padam. Ia tidak terima disamakan dengan hewan kaki empat itu.


“Tapi makasih deh lo udah ngingat gue, istri yang baik banget sih, berbakti sama suami.”


Papou langsung melemparkan kotak pensilnya ke kepala Raga. “istri your hand.”


“Mama jangan galak-galak bisa gak sih,” sebenarnya Raga juga merasa jijik dengan panggilannya itu. Papou langsung mencubit habis lengan Raga, Papou benar-benar dibuat malu oleh orang ini.


Kini Raga dan Papou kembali diam, Raga sudah tidak lagi memainkan gitarnya dan Papou juga sudah siap dengan lukisannya, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tadi pagi sebelum berangkat sekolah Papou sudah memberitahu oma kalau ia akan pulang terlambat.


“krik … krik ….” Lapar tentu saja, cacing diperut Papou sudah miminta jatah.


“Lo lapar?” pertanyaan konyol itu keluar dari mulut Raga. Papou hanya diam, ia sibuk dengan pikirannya sendiri.


Raga mengeluarkan sekotak nasi goreng tadi pagi, “gue punya nasi goreng nih buatan bunda, tapi gak tau masih enak atau enggak. Kalau lo suka makan aja, kalau gak suka gak usah dimakan.” Raga menyodorkan sekotak nasi goreng tadi. Yang satu kotak lainnya sudah ia maka tadi pagi.


Dengan ragu-ragu Papou menerima nasi goreng itu, “makasih.”


“Gimana masih enak gak?” tanya Raga ketika memasukkan nasi goreng itu kedalam mulutnya, yah … walaupun teksturnya sudah cukup keras, tapi itu tidak masalah. “Masih.” Papou melanjutkan memakan nasi goreng itu.


“Papa disuapin dong mama.” Baru beberapa menit yang lalu Raga bersifat baik menurut Papou, tapi sekarang ia sudah kembali dalam mode menyebalkan.

__ADS_1


“Belum juga gue nikahin lo udah KDRT.” Papou semakin menjadi-jadi mencubit Raga.


__ADS_2