Dia di antara mereka.

Dia di antara mereka.
kecewa?


__ADS_3

Daga terus melihat jam di ponselnya dengan gusar, hari ini ia ada janji dengan Papou. Tapi Daga tidak mau mengambil risiko dengan menjemput Papou ke sekolahnya. Masalah yang kemarin saja Raga masih mendiamkannya.


“Maaf Kak, aku telat,” nafas Papou saling memburu, ada kecelakaan di jalan yang membuat jalan menjadi macet. Papou harus berlari kesini.


“Iya gak apa-apa, kamu mau pesan apa?”


Jelas sekali perbedaan antara Raga dan Daga, walaupun muka mereka mirip. Raga akan langsung meledak-ledak jika Papou telat sedangkan Daga malah berkata lembut.


“kopi panas saja kak.”


“Owh lo suka kopi?”


“Suka banget,” mata Papou terlihat berbinar, ia menyukai kopi gara-gara papanya suka dengan kopi.


“Jadi gini, lo punya keluarga korban kecelakaan atau apa gitu, yang meninggalnya secara tidak wajar.”


Papou mencoba mengingat-ngingat rasanya tidak ada. Oma hanya punya dua anak papanya dan papa Karin.


Mamanya Karin. Tapi Papou lupa meninggal karena apa. “Mamanya Karin kak,” ucap Papou dengan ragu.


“Meninggal karena apa?” Daga terlihat penasaran. Sedangkan Papou menggeleng, ia tidak tahu tantenya itu meninggal karena apa.


“Aku gak tahu kak, tapi satu-satunya keluarga yang meninggal cuma kakek sama mamanya Karin.”


Papou langsung ingat, ada hal yang ingin ia tanyakan pada Daga. Tentang si mata hijau yang selalu membuat Papou merasa déjà vu.


“Kak …” Papou menggantung kalimatnya ia ragu untuk menanyakan hal ini, Daga masih munggu.


“Apa mungkin ‘mereka’ bisa menampakkan wujudnya dalam bentuk manusia?”


Daga mengangguk, “Bisa jadi, vampire menampakkan wujudnya dalam bentuk manusia. Kamu tahu …,”


Daga menunjuk seseorang yang duduk di sudut jendela, seorang remaja cantik dengan kulit yang sangat putih.


“Dia vampir,” Papou hanya melongo, sebelumnya ia tidak percaya dengan makhluk-makhluk mitologi seperti itu.


“Dan yang di sana …” Daga mengangkat telunjuknya ke udara, lalu mengarah pada seorang nenek yang menjadi kasir dulunya adalah seorang malaikat yang mencintai iblis lalu dia dilempar ke bumi.


Antara percaya dan tidak percaya, wajah Daga begitu meyakinkan dahulu Papou hanya mendengarkan kisah-kisah seperti itu dari dongeng yang dia baca.


“Tidak baik membicarakan orang lain,” Daga hanya mengangguk pelan lalu minta maaf pada sang nenek yang tiba-tiba sudah ada di samping mereka.


“Kok … ne … nek itu bisa tahu,” Papou tergagap. Daga meletakan telunjuknya di bibir Papou, mengisyaratkan untuk diam.


“Dari mana kakak tahu kalau mereka itu bukan sebangsa dengan kita.”


Daga bisa merasakan aura yang berbeda dan Daga juga bisa melihat sistem kerja tubuh mereka, Daga juga bisa menerkah penyakit apa yang sedang diderita orang lain hanya dengan satu kali pandang, tapi Daga tak bisa mengetahui kapan orang lain akan meninggal.


“Semua terjadi secara alamiah.”


Papou berdecak sebal laki-laki itu sok misterius sekali.


“Kakak bisa tolong aku?”


“Ini gue juga lagi nolongin lo.”


Kenapa kedua saudara kembar ini membuatnya pusing, sama-sama menyebalkan.


“Aku curiga dengan seorang anak, matanya hijau, indah sekali. Setiap menatap matanya aku seperti dilempar ke masa lalu. Dan aku juga mendapat kejadian aneh yang selalu diikuti oleh hadirnya kucing hitam.”


“Kucing hitam yang waktu itu ikut ditabrak oleh Raga.” Papou melanjutkan kata-katanya sambil mengingat kejadian aneh yang selalu menimpanya akhir-akhir ini.


“Gue gak bisa menganalisa dia itu manusia atau bukan jika tidak melihat wujudnya langsung.”


Tentu Papou merasa kecewa, ia ingat betapa sulitnya mencari bocah kecil itu, “Ajak gue bertemu dengan dia.”


Papou tak menghiraukan kata-kata Daga, ia sibuk menyesap kopinya. Memperhatikan kendaraan yang hilir mudik, mengeluarkan suara bising khas mesin dan sesekali ada bunyi klakson yang saling menyahut.


“Aku pertama kali bertemu dengannya di sebuah taman, tapi kemarin ketika di labor fisika dia duduk di jendela tapi … tidak ada yang melihatnya, hanya aku yang bisa melihatnya.”


Entah kenapa cerita Papou membuat Daga yakin bahwa anak yang dimaksud bukan manusia, “Selain itu apa lagi?”


Daga harus mengumpulkan semua bukti terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan terlalu jauh. “Besok coba kita cari dia ke taman.”


Papou hanya mengangguk pelan, pikirannya masih melayang-layang mengingat semua kejadian tidak masuk akal.


Daga mengeluarkan pulpen dari dalam tasnya, “coba liat tangan lo bentar.”


“Buat apa?”


“Selain bisa melihat hantu, gue juga bisa membaca telapak tangan.”

__ADS_1


Dengan ragu-ragu Papou menyodorkan tangan kanannya, “gue perlu bantuan pulpen.”


“itu nomor gue,” Daga menyengir tanpa merasa bersalah telah membodohi Papou. “Maaf kak, aku gak punya hp.” Papou memang tidak berbohong, ia memang tidak mempunyai ponsel, bukan karena tidak mampu membeli. Tapi … ponsel hanya akan mengganggunya.


~SF.L~


“Lo ngajak cewek gue jalan ke mana?”


Terkadang Daga suka kesal sendiri dengan kembarannya ini, terlalu egois dan merasa semua yang dilakukannya adalah hal yang paling benar di dunia.


“Siapa?”


“Alah … gak usah sok gak tau, gue liat kali.”


“Bagus kalau lo liat.”


Niat pertamanya hanya bermain-bermain dengan Raga, membuatnya cemburu tapi makin kesini Daga makin sulit untuk berhenti, menyenangkan juga membuat kembarannya yang gengsian ini cemburu.


“Kok lo makin nyebelin sih Da.” Rasanya Raga ingin menjahit mulut Daga yang suka nyolot itu.


“Gak kok, lo aja yang merasa,” ucap Daga dengan santai sambil merebahkan tubuhnya di samping Raga yang tengah menonton pertandingan tinju.


“Lo boleh lebih pintar dari gue, lo boleh jadi anak kebanggaan bunda. Tapi … gue mohon jangan rebut Papou dari gue.” ada nada mengiba dalam kalimat itu.


“Gue gak janji ,bisa jaga hati gue buat gak suka sama Papou.” Daga membatin, lalu sedikit menepuk bahu Raga. “Tunggu bentar gue mau minum.”


Daga datang dengan membawah dua buah minuman kaleng lalu melemparkannya satu ke arah Raga, “Buat lu.”


“Makasih bro.”


Daga dan Raga sama-sama diam, sekesal-kesal apa pun dirinya pada Daga, Raga tidak bisa membencinya. Mungkin sudah waktunya bagi Daga untuk berhenti main-main, sekarang niatnya murni hanya ingin membantu Papou, setelah semua ini selesai ia akan pergi.


~SF.L~


Minggu bukanlah hari untuk bermalas-malasan bagi Papou, ia sudah bangun dari jam tiga dini hari tadi. Alasannya ia begitu gelisah, entahlah rasanya tidak nyaman. Badannya berkeringat dan pikirannya melayang ke mana-mana, hal yang sudah tidak ia ingat lagi semuanya muncul perlahan-lahan malam ini.


“Pagi amat, Pou,” tegur Araya yang melihat Papou sedang duduk sambil menyesap kopi di teras rumah. Papau hanya membalasnya dengan sedikit senyuman yang sangat kaku.


“Hobi kok sama kayak bapak-bapak Pou,” gumam Araya dengan pelan sambil mencuci mobil tua kesayangannya.


“Aku belum tuli yah, Kak.” Araya hanya tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


“Hari ini mau jalan-jalan gak, Pou. Mumpung Abang lagi free.”


“Gak usah Bang, makasih.” Tolak Papou dengan halus, ia memang lebih suka menghabiskan waktu di rumah.


“Adit apa kabar, jadi nikah dia?” mendengar pertanyaan Araya yang seakan-akan mengejeknya membuat Karin langsung cemberut kesal.


“Gak tau, undangannya belum sampai kesini.” Karin mengambil ahli selang air untuk ikut mencuci mobil burik abangnya itu.


“Cieee yang ditinggal kawin.” Araya langsung tertawa melihat muka adiknya yang langsung cemberut.


“Kalau Abang masih ngomong, nih mobil burik aku jual.”


Araya kembali tertawa, memegang perutnya yang mulai terasa sakit karena tertawa, menertawakan nasib percintaan adiknya. “Sebelum janur kuning melengkung, pepet terus Dek.”


“Aku udah move on kali dari Kak Adit, emang aku sama kayak Abang yang gagal move on.” Karin memeletkan lidahnya ke arah Araya.


“Mon map nih yah, gue gak pernah pacaran jadi gak ada ceritanya bisa gagal move on.”


“Ya iya lah gak punya pacar, orang Abang digantungin mulu. Digantung tanpa tali itu sakit Bang.”


“Bocah sok tau.” Araya melemparkan spon yang penuh busa ke arah Karin.


“ABANGG …” Teriak Karin tidak terima, pasalnya ia baru selesai mandi. Bajunya jadi kotor.


Papou hanya menjadi penonton setia pertengkaran kakak beradik itu. Sempat Papou berpikir kenapa hubungannya dengan sang kakak tak pernah seharmonis hubungan Araya dan Karin. Sedangkan dia dan sang kakak hanya dipenuhi jiwa kompetitif untuk menjadi yang terbaik.


Pertengkaran Araya dan Karin langsung terhenti ketika ada mobil yang masuk ke dalam perkerangan rumah mereka, “siapa tu Dek?”


Rasa penasaran Araya langsung terjawab ketika si empunya turun dari mobilnya, menggunakan baju kaus berwarna biru langit dan celana berwarna crem di padukan dengan sandal jepit, yang biasanya digunakan Papou untuk pergi kekamar mandi.


“Hai bro …” sapa Araya seperti orang yang sudah mengenal lama, sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Untuk saat ini Papou tidak mengenali entah itu Raga atau Daga, mereka sangat mirip.


“Papou adik lo?”


Araya mengangguk pelan, sementara orang itu sedikit tersenyum. Daga. Sudah Papou pastikan kalau itu adalah Daga, Raga tidak seramah ini.


“Kak Raga ngapain kesini?”


“Mau ngajak Papou jalan-jalan boleh?”

__ADS_1


Araya sedikit melirik ke arah Papou yang terlihat tidak peduli, ia sibuk dengan kopi hitamnya. “Maaf banget nih Ga, kayaknya adik gue lagi gak mood buat jalan.”


Walaupun bisa dikatakan hubungan antara Araya dan Papou tidak terlalu dekat, tapi ia tetap menyayangi sepupunya, sama halnya dengan dia menyayangi Karin.


“Boleh banget Kak, Papounya juga lagi gak ada acara.”


Araya sedikit menyentil kening adiknya ini yang tidak bisa membaca situasi. “sakit Bang,” Karin mengusap-usap kepalanya.


“Dalam rangka apa lo ngajak adik gue jalan-jalan.”


Walaupun Araya adalah teman kuliahnya, tapi entah kenapa tetap merasa gugup untuk berhadapan dengannya. Jadi begini rasanya bicara sama calon abang ipar.


“Gue punya sedikit urusan sama adik lo, boleh yah,” ucap Daga dengan nada memohon.


“Tanya aja langsung sama orangnya.”


Setelah susah payah membujuk Papou untuk pergi bersamanya, akhirnya Daga berhasil juga tapi ada syaratnya. Tidak ada yang bisa didapatkan dengan cuma-cuma.


~SF.L~


Menyebalkan sekali bocah itu ketika dibutuhkan seperti ini ia tidak muncul-muncul, Daga mengajak Papou ke taman tempat pertama kali Papou bertemu dengannya.


“Namanya siapa?”


“Hanna.”


Mereka kembali diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sudah hampir tiga jam mereka di sini tapi tidak ada keberadaan Hanna, apa anak kecil itu tahu kalau mereka sedang mengintai mereka.


“Kenapa hantu rumah sakit ini semakin berani untuk dekat-dekat dengan mereka,” hantu itu juga sedang duduk di kursi yang sama dengan dirinya dan Papou, biasanya menurut yang Daga lihat hantu itu hanya suka mengamati dari jauh.


“pou … kita pindah duduk.” Papou hanya mengerjap bingung, ada apa dengan tempat duduk Daga saat ini. “kenapa?”


“Udah pindah aja, kalau mau selamat.”


Papou hanya menurut saja, tidak ada masalah dengan tempat duduk Daga. “emang kenapa sih?” Papou kembali bertanya.


Daga hanya diam, menyandarkan tubuhnya disandarkan di bangku taman. “Gue mau tidur, kalau dia datang bangunin aja.”


Mata Papou kembali menjelajah, sibuk mencari anak yang ia cari. Tidak susah untuk membedakan Hanna diantara anak-anak yang banyak sekali disini. Hanna seperti memiliki darah campuran, kulitnya putih dan matanya hijau tapi rambutnya hitam legam berkilat. Rambut Asia sekali.


Papou beranjak dari tempat duduknya berkeliling taman, ia bosan terus-terusan duduk dari tadi.


Langkah Papou terhenti, tubuhnya menegang. Itu Hanna. Kejutan apalagi yang dilakukan oleh Hanna.


“Hanna,” kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Papou, begitu sadar Papou langsung membekab mulutnya.


“Kak Pou,” nada bicara Hanna terdengar merajuk, kenapa anak itu.


“Ihhh kok ganggu aku sih,” gerutu Hanna dengan kesal, sambil berdiri dari tempat duduknya. “berhubung kak Pou ada disini, Kak Puo mau, Kakak kan suka kucing?” Hanna menyodorkan kucing yang sudah tidak bernyawa lagi ditangannya.


Bola mata kucing itu dicongkelnya, kucing itu sudah tidak memiliki kulit lagi ditangan Hanna, habis dikulitinya. Papou langsung berlari pergi, kembali ke tempat Daga.


Dengan cepat Hanna melemparkan mayat kucing yang penuh darah itu ke arah Papou. Papou benci darah, ini menjijikkan baginya rasanya ia ingin muntah. Anak itu tidak normal dia psikopat. Orang tuanya sudah gila, orang tua mana yang membiarkan anaknya bermain pisau yang sangat tajam.


Papou bukanlah manusia yang peduli dengan hidup orang lain, hidup Karin pun Papou tidak peduli, apalagi hidup orang asing yang muncul dalam ceritanya. Tapi … Papou bertekat untuk memberi tahu orang tua anak ini, anaknya sudah gila, anaknya tidak normal dia psikopat.


~SF.L~


Kecewa sebelum dia menjadi milikmu, aneh sekali, itulah yang Papou rasakan sekarang. Ketika Papou kembali Daga sedang asyik berbincang dan sesekali tertawa, akrab sekali rasanya.


“Kenapa Pou?” Daga terlihat Panik dengan wajah pucat Papou, peluh membasah tubuhnya ditambah lagi dengan bercak darah di baju bagian belakangnya. “dia siapa?” tanya wanita itu.


“Adik gue.”


Adik your hand, sejak kapan kita saudara. Wanita itu hanya mengangguk, “Aku pamit duluh, Bye ….”


“Lo kenapa?” Daga kembali bertanya.


Papou tidak menjawab, Papou masih sibuk menetralkan detak jantungnya dan nafas yang terus memburuh. “Bentar,” Papou menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan pelan-pelan.


“Duduk dulu deh,” ucap Daga sambil menepuk-nepuk tempat duduk kosong di samping-nya.


Belum sempat Papou menjelaskan, Hanna datang berlari ke arahnya dengan senyum yang semringah, darah yang sudah mulai berwarna kecokelatan terlihat jelas di bajunya yang bewarna kuning cerah.


“Ihhh … hadiah dari aku kok ditinggal sih,” ucap Hanna dengan kesal sambil menghentakan kakinya.


Seketika pikiran Daga langsung terputar otomatis, itu Hanna. Anak yang diceritakan Papou. Tidak ada yang salah dari anak ini, dia manusia. Tapi … ada yang berbeda darinya, tatapan matanya, seolah mampu membuatnya berhenti untuk menatap mata itu dan melemparkan orang yang melihat terlempar pada masa lalu terburuknya.


Yah … dia manusia, tapi sebagian tubuhnya sudah dikuasai iblis. Dia anak iblis. Yah … Daga benar, dia tidak sepenuhnya manusia.


“Hai … adik manis, namanya siapa?” Daga mengeluarkan senyum termanisnya. Namun langsung dibalas oleh Hanna dengan tatapan permusuhan. Hanna mengeluarkan lidi dari kantong celananya bermotif kucing yang sangat lucu, dengan senga Hanna menusukan lidi itu telapak tangan Daga. Sakit tentu saja.

__ADS_1


Hanna langsung berlari pergi begitu saja, ia tidak merasa takut, malahan dia berjalan dengan santainya, “anak siapa sih.”


“Anak iblis.” Ucap Daga santai sambil mencopot lidi yag tertancap di tangannya.


__ADS_2