
Masalah saya diawali, kenangan dari balita, ingat betul kejadian itu, tapi kalau ibu mengungkit , saya pura-pura lupa.
Tak mau ibu kepikiran terus masalahnya yang berlalu.
Ingat ucapan saya yang tak pantas ditiru oleh anak- anak.
"Aku benci ayah mau bunuh ayah, ayah itu jelek "ucap saya seperti kesetanan.
"Rena kamu gak boleh gitu sayang, tanpa ayah kamu gak hadir di dunia ini, kamu itu anak perempuan, kamu butuh ayah saat mau menikah" Ucap ibu
"Aku gak mau nikah, aku gak butuh ayah ayah jahat, pergi saja dari rumah ini, ibu selalu disakitin di marahin"
Ucap saya polos masih berumur 8 tahun.
"Akibat kamu manjakan dia, jadi begini kan.
Kamu mau jadi anak durhaka" ucap ayah marah
"Sudah yah, nanti kita bawa dia ke habib, biar dapat pencerahan, siapa tau Rena kerasukan setan" ucap ibu.
" Kamu itu seharusnya didik dia dengan baik, jangan terlalu manjakan. Ke habib lagi kita lagi kesusahan butuh dana bayar habib" Ucap ayah.
" Kamu mau anak kamu begini terus, benci sama kamu, liat dia kaya seperti bukan dirinya" Ibu menangis.
" Aku gak suka ayah benci dan benci, ayah pergi dari muka bumi ini, selalu marahin ibu, selalu menyalahkan ibu" Saya di luar sambil main pasir sendirian.
Sambil saya membayangkan terjadi masa lalu ayah selingkuh, saya dimanfaatkan untuk alibi ayah agar bertemu selingkuhan nya. Saya saat itu masih polos mau saja diajak oleh ayah.
-----------------
Semenjak kecil, saat balita sering diajak ayah jalan-jalan ke tempat temannya ayah.
Anak kecil pasti senang nama nya jalan-jalan pakai motor. Teman itu selingkuhan ayah, tapi belum paham lagi kecil, meanggap itu teman ayah.
Ibu saat itu lagi jaya, saat kecil saya dianggap anak kecil penuh riang karena kelucuan. Orang disekitar merasa senang dan terhibur. Di tambah ibu banyak di kelilingi asisten dan keluarga.
Mainan boneka berjejer dengan rapi dan banyak. Diruang tamu.
Masa jaya ortu hanya dalam hitungan tahun, saat TK saya merasakan musibah itu terjadi di komplek saya, ribuan rumah hangus di lalap api sampai ke pertokoan depan. Termasuk rumah ortu saya.
Saya masih sempat mengemas barang, karena api masih jauh. Suara keributan sudah terdengar ada yang bilang.
" Semua pasti kena, cepat kemas barang-barang kalian yang berharga, karena ini ulah oknum tak bertanggung jawab ingin menghancurkan komplek ini agar bisa dibuat wisata" teriak dari warga yang tak saya kenali.
Info darimana tak tau juga, saya masih mengemas barang sendiri yaitu mainan kesayangan robot berjalan yang baru beli.
Saya di suruh ibu naik keatas atau keluar komplek terlebih dahulu, ibu kasih arahan ikuti orang yang mau menyelamatkan diri ,kalau bisa saya menyebrang jalan mengikuti mereka karena saking padatnya mereka panik keluar.
Saya pun iyakan, ortu sibuk mengemas barang. Ibu meyakini saya bisa sendirian jalan keatas.
Alhamdulillah saya mengerti, tetapi saya menangis menunggu ibu lama sekali mengemas barang.
Orang lalu lalang tak menghiraukan tangisan saya.
Tak berapa lama ibu mencari saya, mencoba teriak sekencang mungkin agar ibu mendengar, tak jauh dari ibu cari.
Ibu antarkan saya ketempat pengusian.
Sedangkan Kaka masih sekolah.
-----------
Sebelum saya lahir, ibu mengalami masa sulit, pekerjaan belum punya.
Ayah masih nganggur, hanya mengandalkan mertua.
Setelah Kaka pertama lahir, ibu memutuskan pulang kampung untuk bekerja dan minta tolong Kaka rena di urus oleh ibu dan adiknya. Merasa tak nyaman untuk terus numpang dengan mertua. Mereka keluarga bapak, memang orang berada, tetapi ayah nganggur atau kadang kerja serabutan.
Ayah masih di kota, disanalah makin ayah menjadi- jadi perselingkuhan berganti-ganti pasangan.
Setelah kelahiran saya, ibu punya tabungan dari hasil bekerja di kampung menjual ayam potong dan menyembelih ayam hidup. Zaman dulu walau tak ada ijazah, enak cari kerja asal giat apalagi tinggal dikampung.
Semakin maju zaman semakin susah cari kerja. Ibu ke kota buka usaha dari tabungan untuk buka warung makan.
Dari sanalah ibu semakin rezeki melimpah kaya air mengalir.
Bisa beli rumah, motor, dan bayar asisten.
__ADS_1
-------------
Saat saya beranjak masa anak-anak , ingat betul ayah bercumbu bersama selingkuh han di kos perempuan perempuan itu.
Saya duduk termenung dimuka pintu kamar perempuan itu, ingin keluar tapi tak di ijinkan ayah.
Karena sebelum nya bicara ke ibu, saya main pasir diluar sendirian.
Ayah asyik sama temannya. Saya masih polos bicara apa adanya ke ibu.
"Anak kamu biarkan sendiri an diluar, kata Rena kamu asyik didalam rumah sama temanmu pintu tertutup kamu ngapain sama teman mu"
Gertak ibu keayah.
" Namanya anak kecil kan main pasir, ya rena aja gak bilang buka pintunya" ayah alasan dengan berbohong.
" Jangan-jangan Selingkuh hanmu?" Ucap ibu
" Itu kan teman kan Rena" ucap ayah
" Iyaaaaaaa" Rena masih polos.
" Rena kamu jangan mau kesana lagi, nanti kamu diculik orang, hati-hati rena main sendirian" kata ibu.
" Saya mau jalan2 mamah, mau main2 dan punya teman" balas saya dengan tangisan kecil
" Rena kamu main sama ibu saja, sama tante ( Asisten ibu) " ucap ibu.
" Gak mau, aku mau jalan-jalan"
Saya yang masih balita umur 5 tahun
Ibu sibuk urus warung makan, jadi mana sempat ajak jalan-jalan. Dipikirran ibu uang dan uang buat kami dan memantau gaji asisten membantu di warung.
Mengandalkan ayah hanya kerja serabutan itupun untuk kesenangan nya pribadi.
-----------
Saat pulang dari kos perempian itu, ibu mulai tambah curiga, ingin bertanya lagi ke saya.
"Nanti aku kasih tau bu" ucap saya
"Tadi Rena dan ayah ngapain aja? " Tanya ibu
" Saya di dalam rumah teman ayah, main sama ayah dan dia" jawab saya
"Main apa Rena?" tanya ibu
"Berpelukan Bu, aku mau ikut tapi malu" ucap saya
"Apa Rena???, Nanti kita kerumah dia besok" ucap ibu
Besok ibu dan aku pagi-pagi kerumah perempuan murahan itu. Dia bersama teman laki-lakinya.
Ibu marah-marah masih wajar. Tak membuat keributan, hanya menegur perempuan itu untuk tak dekat dengan ayah lagi, ibu ancam dia untuk dilaporkan ke suami nya. Ternyata ibu tau dia dah punya suami, ternyata ibu mengenalinya itu.
Saya menangis, meanggap ibu marah kepada perempuan murah karena mengancam.
Ibu dijalan menangis, air mata tak dapat dibendung. Saya mau bertanya tapi takut Ibu tambah menangis dan marah, ikut merasakan apa yang terjadi pada ibu.
Tetapi saya sama saja sama anak-anak lainnya, mudah menangis mudah saja gembira. Tapi masih ingat dimemory, kejadian itu sampai saya besar.
Ayah punya selingkuhan hilang satu ibaratnya tumbuh seribu, mencari lagi untuk memuaskan hasrat nya.
Ibu tau itu semua, sudah lelah menegur ayah.
---------
Ibu punya asisten baru, dia ternyata mantan perempuan malam. Entah lah kenapa ibu tidak was-was dengan perempuan itu.
Ibu mudah kasian sama orang lain, jadi ibu terima pekerjaan untuk bantu diwarung dan juga dekat sama saya.
Saya senang sama asisten ibu yang baru, ternyata pintar ambil hati anak-anak, saya di manjakannya.
Ibu jadi terbantu untuk bekerja.
Ibu sibuk berkerja, pikiran ibu ayah tak mungkin tergoda sama perempuan itu karena kulit wajah biasa saja tak begitu menawan.
__ADS_1
Tapi ibu tak tau trik seorang ******* walau rupa tak menawan tapi mereka penggoda. Sebelum nya selingkuh han ayah lumayan menawan.
Saat saya sekolah TK , dia mau mengantar jemput, ternyata hanya alibi untuk bertemu ayah. Aku sekolah dan dia pulang kerumah.
Ibu memergoki mereka bercinta di rumah.
Ibu kejar mereka berdua dengan sebuah parang, mereka cepat larinya. Ibu tak sanggup mengejar keluar rumah karena malu.
Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri saat aku pulang sekolah, pulang sekolah sendiri waktu itu pulang cepat jadi terasa kebetulan melihat tragedi itu.
Teriak saya ke ibu, " ibu jangan marahin dia (asisten baru), dia pergi pasti tak mau ketemu ibu lagi"
Ibu hanya diam dan melepaskan parangnya untuk di simpan. Ibu urungkan niat itu.
"Seandainya tak ada kalian, ibu mau mati saja atau mereka ibu bunuh, ibu teringat kalian, kasian kalian tanpa ibu" tangis ibu.
Saya menangis kencang.
-------------------
Saat masa beranjak kanak-kanak saya di liputi rasa ketidak sukaan dengan ayah, karena masa lalu ayah suka selingkuh, melihat sendiri ayah bercinta dengan ******* itu, jika saya mengerti saat itu mungkin seperti ibu juga marah dan membawa senjata tajam mau membunuh ******* itu dan ayah. Lamunan saya di pojok dinding.
Setiap hari ibu dan ayah bertengkar, ada saja yang dibahas ayah mudah marah.
Ibu mudah mengungkit.
Tetapi mereka masih bersatu, tak ucap perpisahan atau perceraian.
Saya sensitif mendengar ayah memarahi dan menyalahkan ibu tak becus urus pekerjaan dan anak. Ingin rasanya mengatakan ayah jelek dan jahat. Tetapi takut ayah marah.
Ibu pun melawan dan mengungkit kesalahan ayah.
Pada masanya saya jadi menumpuk emosi, mendengar ortu ribut.
"Aku mau ayah pergi dan mati" saya sambil membawa pisau.
" Rena jangan sayang, itu ayahmu, nanti kamu kualat, ibu gak mau kamu jadi anak durhaka, buang pisau itu, dipisau itu ada setan yang bersarang , nanti kamu jadi pengikut iblis" ucap ibu
" Aku mau bapak jangan sama ibu lagi" ucap saya
Ayah hanya diam dan membisu.
Saya ngomong lantang seperti itu.
Ayah pergi keluar menghisap sebilah rokok.
Ibu menghampiri ayah berbisik, " seperti nya ada yang merasuki Rena yah, sangat berbeda dengan nya"
" Kamu juga terlalu memanjakannya, apa- apa kamu kurang tegas, aku mau tegas Ke dia masih keras kepala kadang kamu bela dia. Sekarang kita tak seperti dulu lagi jualan sepi, kamu tegas sedikit untuk tak mengikuti kemauannya" ucap ayah
" Aku yakin ada yang ingin menyerang rumah tangga kita, ingat kamu waktu dulu berapa kali kita mau bercerai tapi selalu tak jadi" kenang ibu
Saya berapa kali diajak berobat ke tabib atau orang pintar, semua nihil.
Saya masih tetap membenci ayah, Meliat ayah pun aku tak mau melihat dan selalu jaga jarak, rasa jijik.
Ibu bercerita ke orang lain, saya hanya mendengar kan saja. Ada yang ingin menghancurkan rumah tangga ibu dan ayah, karena konflik keluarga ayah dan keluarga ibu menginginkan ortu berpisah.
Pihak keluarga ayah melihat ibu berani dengan bapak dan pihak keluarga ibu meliat bapak selingkuhin ibu dan bapak malas kerja memanfaatkan hasil usaha ibu untuk kesenangan ayah. Mereka ikut campur dengan hal mistik untuk memisahkan ortu.
Sedangkan ayah dari keluarga berada, mungkin menurut mereka ayah bisa dapatin wanita lain yang layak menurut mereka. Walau pekerjaan ayah tak menentu.
Hampir bercerai, tetapi entahlah kenapa ortu tak jadi bercerai. Mungkin ingat sama anak-anak masih kecil.
Saya disangka kena guna-guna agar ortu bercerai, ingin menyerang ibu.
malah serangannya mengenai saya.
Ibu meyakini orang lain, bahwa saya saat dewasa nanti tak akan benci ayah, badai ini segera berlalu.
Ortu memutuskan mau bekerja ke luar negeri jadi pekerja asing, selain faktor ekonomi, karena jualan sepi. Ada alasan lain juga.
Agar guna-guna ini jauh dari tubuh saya dan juga dari tubuh ayah.
Saya malah sedih ibu pergi, mau saya cuma ayah yang pergi jadi tenaga kerja asing. Tetapi ibu mau berdua bapak, ibu takut bapak berpaling dan tak tanggung jawab.
Seperti lagu aduh Buyung, bayangan ibu, ibu suka memutar musik tersebut.
__ADS_1