Dibalik Senyuman Indah

Dibalik Senyuman Indah
Saya tersadar, merindukan ayah dan ibu


__ADS_3

Selepas kepergian ortu ke luar negeri menjadi tenaga asing.


Saya meratapi kepergian ibu, sebenarnya gak mau ibu meninggalkan saya sendirian. Umur 10 tahun harus menahan rindu, masih butuh perhatian dan kasih sayang. 


Terpaksa meninggalkan kami demi kebaikan kami karena masalah ekonomi, saya yang benci ayah dan konflik ke mertua ibu


Berpisah dengan ortu dan saudara kandung. Saudara dua orang tinggal di kota kami tinggal.


Kota cantik dan luas untuk di pandang, kenangan juga pernah dekat dengan ayah. Saya pun menangis dan sadar.


Ternyata benar dikata ibu, bakal ingat kebaikan ayah. Ayah yang mengajarkan naik sepeda, belajar mengaji, jalan-jalan sama ayah keliling kota. Ingat sangat dekat sekali sama ayah dulu.


Ibu, akhir ini saya yang dekat sama ibu saat saya membenci ayah.


Ibu dulu sibuk bekerja, sehingga ibu sering menitipkan saya kan ke asisten atau ayah.


Dimana hati nurani saya waktu itu membenci ayah?


Perlahan saya sadar dan membaik.


Meratapi foto ortu sambil dipeluk hanya sampai satu minggu.


Tante mulai menyapa, sebelum nya tante acuh sibuk dengan usahanya.


"Kasian kamu ren, memeluk foto ibu terus, jangan terlalu di kenang, nanti kamu sakit tante dimarahin ibu kamu" celetuk Tante


Malah tambah pecah tangis saya.


Tante coba menenangkan


"cup cup nanti coba Tante telpon om untuk jalan-jalan, jangan murung yah ren"


Akhirnya dapat perhatian dari tante. Saya sangat senang sekali. Masih malu- malu kucing sama tante.


Om yang baik, dia begitu perhatian saat ada di rumah, om sibuk jadi jarang ada di rumah. Karena sering keluar kota mengantar pesanan dagangannya dengan beternak. Usaha terbilang maju, tetapi om tergoda dengan perempuan lain. Di sini dimulai awal masalah misteri ada hubungan nya kematian tante dan ibu.


Perempuan tersebut kita sebut Pelakor, punya ilmu hitam sehingga mudah merebut hati om, om yang sadar Pelakor punya ilmu hitam tetapi tak bisa lepas karena ikatan pernikahan sirih. Om mulai mencintai Pelakor itu.


---------


Ibu sudah tau sebelum berangkat ke LN, malah ibu dan Tante mendatangi perempuan itu, ternyata perempuan itu malah nampak belas kasian, karena pintar merangkai kata untuk di kasiani.


Ibu tetap tegas menyerang perempuan tersebut untuk tak mengganggu rumah tangga tante, tetapi tante hanya diam seribu bahasa malah kaku dihadapan perempuan itu. Begitu lah cerita ibu.


Tante ingin berpisah, tetapi keluarga dari pihak om melerai agar jangan berpisah, siapa tau om sadar suatu saat.


Sudah dua tahun tante dimadu tak ada perubahan. Akhirnya om mau menjatuhkan talak.


Sebelum dijatuhkan talak, tante menangis tak karuan.

__ADS_1


Saya mendekat tante jadi takut.


Mencoba jaga jarak, takut tante tak mau di ganggu.


Tante tak pernah cerita ke pada saya kalau beliau sedih atau mungkin saya tak berani mendekati.


Tetapi ingat pesan ibu, selalu patuh dengan beliau. Awalnya patuh tapi beliau senang dan terhibur.


Tante kalau merintah itu cerewet, kalau belanjaan tak sesuai beliau minta , suruh balik lagi, kalau tak ada harus ketemu sampai dapat, waktu itu belum berani melawan. Seharusnya sih aku tau diri yah lama-lama lupa diri.


"Ren belikan tante lipstik yah! lipstik tante habis, beli kan di toko nene bubu" perintah tante


" Ia Tante" aku hanya mengiyakan antara mengerti atau tidak.


Saat tiba mampir kesana toko tutup.


Saya balik lagi ke rumah. Mengatakan tutup tokonya. Tante masih ingin merintah Pokok nya harus dapat toko lain.


" Coba di toko sebelah nya, kan banyak jual kosmetik" ucap tante.


"Ia Tante" ucap saya


Aku coba ke toko lain, ternyata tak menemukan nya yang buka.


Aku coba tanya ke toko bukan jual kosmetik.


"Tante  toko dimana lagi ada jualan lipstik? " tanya saya ke toko yang jualan apotek.


Saya pun berlari, mengabari toko di pasar tutup.


" Masih ada yang jual kok toko lain, coba di toko depan yah dekat fotokopian!" Ucap tante 


"Besok aja Tante, ini kan mau bedug, saya mau buka puasa" ucap saya


" Bentar aja cuma di depan gak jauh, sisanya belikan gorengan, sementara kamu beli gorengan dulu kalau udah bedug"


" Iya tante" saya sambil berlari.


Padahal kan belum saya kasih bumbu masak merah ayamnya, sudah saya rebus. Ingin menyuruh tante tapi takut. Tante makan dia beli sendiri dengan menyuruh Kaka tiri, kaka tiri dapat komisi dari tante, saya gak dibagi atau dapat komisi. Tapi gak apa lah daripada saya minta takut di ungkit.


" Coba dari tadi tante bilang ada di depan, kan gak jauh-jauh kepasar" gumam saya sambil di jalan.


----------


Asisten tante selalu melihat bayang-bayang hitam masuk dalam kamar tante. Asisten bekerja cuma sebentar saja karena perceraian tante dan om, dia diberhentikan bekerja.


Saya juga ada kakak laki- laki dari anak ayah bisa disebut kaka tiri, Ibu saya hanya ibu sambung.


Tante juga ada anak angkat om dan tante, mereka tinggal sama tante. Awalnya saja akur sama mereka. Lama-lama saya kaya orang asing yang di musuhin.

__ADS_1


Saya dilempar remote dan di tendang pelan saat rebahan.


" Jangan liat tv mulu sambil ketawa ngakak , aku keganggu tidur" Bentak Kaka tiri


Saya hanya diam, baru kali saya di marahin Kaka tiri, berpuluh-puluh tahun jarang ketemu karena saya dulu tinggal dengan ortu di kota. Saya pun merasa sedih, sudah di musuhin Kaka kandung ditambah Kaka tiri.


Saya pun kadang berani jawab, lelah di omeli gak jelas.


" Udah gede masih mainan Berbie, itu boneka buang aja" Bentak Kaka tiri.


" Aku liat tv gak boleh, main gak boleh, terus mau Kaka apa?" Ucap saya menunduk


" Pergi dari sini, main keluar sana, kamu tau gak ibu bapak mu gak pernah perhatian sama aku, kamu enak di perhatikan dari kecil, datang kesini kamu ngerepotin aja, ayah dan ibu kamu gak ngirimin kamu uang" ucap Kaka.


Saya pun diam, mau melawan takut dia melihat saya menangis.


Saya pun bertanya-tanya dalam hati, apa bapak ibu gak sayang lagi. Hanya Kaka kandy saya disana dikirim uang.


Tak lama ibu menelepon ke hp tante.


Tante menyuruh ku untuk ibu kirim uang.


" Bilang ke ibu mu, kirim uang buat jajanmu dan sekolah mu" perintah Tante.


"Ibu aku kenapa gak dikirim uang buat jajan?" Tanya saya


" Minjam sementara dengan tante yah nak, ibu cukup buat kakakmu, kasian Kaka mu disana gak ada yang bantu kalau kekurangan, ibu baru keluar dari pekerjaan ibu di sini tak di gajih, ibu sama bapak masih serabutan, tante mu sudah ibu kasih tau" ucap ibu


Oh ternyata ini buat mereka tak menyukai saya lagi. Daripada aku larut dalam kesedihan mending main di luar.


Saya ingat ibu pernah cerita ke orang lain, tante ambil semua warisan nene dan kake, ibu tak dapat bagian sedikit pun, tante berkilah harta nene habis buat kebutuhan nene dan kake. Rumah peninggalan nene dan datu juga dijual tante, ibu pun tak dapat bagian.


Ibu sudah diskusikan, kata tante habis buat sekolah biaya kaka tiri.


Kaka tiri saya, tak diasuh ibu kandung nya karena ibu kandungnya banyak anak dari suami nya terdahulu. Ayah tak mau mengakui itu anaknya karena ibu kandungnya selingkuh. 


Ibu saya lah yang mengasuh sebagai ibu sambung, karena tak diterima keluarga ayah tak mengakui keponakan atau cucu nya dari keluarga pihak ayah.


Ibu saya minta nene dan kake rawat Kaka tiri saya, malah nene dan kake dengan senang hati. Padahal Nene dan kake bukan orang berada.


-----------


Saya juga mengingat kurang akur dengan kaka kandung laki-laki. Mengingat dulu betapa jahilnya dia dan sepupu, saya hampir tenggelam di selokan, untung om dari keluarga sepupu saya meliat saya, saya menangis, tetap aja kaka saya nakal.


Ketika itu jalan-jalan ke hutan melihat tanah untuk di beli keluarga saya dan keluarga sepupu.


Tangan saya juga di plintir kaka saya, saya tak mau ingat itu lagi, karena kaka saya banyak kejahilan terhadap saya. Karena iri sama saya waktu itu saya di perhatikan karena anak bungsu lagi kecil.


Kaka perempuan saya rindukan, saya ingin pulang ke rumah di kota tapi tak ada duit, saya urungkan siapa tahun tahun depan ibu kirim uang.

__ADS_1


Kaka tiri saya malah bisa ke kota menemui Kaka kandung saya, saya tak di ajaknya.


Biarlah rindu ini saya pendam. Menangis pun atau merengek saya malu di hadapan mereka.


__ADS_2