Dibalik Senyuman Indah

Dibalik Senyuman Indah
Di selesaikan kekeluargaan


__ADS_3

Saya dan ibu tidur tempat nininya samil, ibu minta tolong Nini samil dan paman daud untuk berhadapan dengan paman Kun serta ka Ihsan juga dan istrinya.


Pagi hari kami jam 6 pagi sudah tiba di sana, saat paman Kun pulang sholat berjamaah agar bisa dibicarakan baik-baik.


Paman Kun terkejut karena banyak yang menyaksikan nya.


Nini samil minta paman Kun, untuk duduk bersama biar bicara baik-baik secara kekeluargaan.


"Begini Kun, kami minta maaf secara bersama datang untuk menyambut kamu, saya dari kemarin ingin bicara ke kamu, tapi kamu kelihatan sibuk jadi saya sungkan. Rame-rame gini kan kita bisa bicarakan bersama dengan kepala dingin" ucap ibu


"Ya saya ada yang di urus, utang istri saya terus pesanan orang, jadi saya ini gak dagang jadi hanya meantar pesanan saja dulu, kalau menunggu dagangan rasanya masih terbayang istri " ucap paman Kun


"Kamu bersabar aja Kun, saya turut berdukacita, saya juga baru tau dari ipar kamu, tapi istri kamu harus di segera kan bayar utang nya" ucap ustad


"Iya ini masih ada sebagian belum kebayar, tapi itu sudah lama dia ngutangnya, saya mau kesana menunggu ada waktu, rumahnya pun saya tak tau, tapi alamat ada lumayan jauh" ucap paman Kun


"Iya, iya kalau ada nomor nya hubungi saja Kun" ucap ustad


"Nah itu masalah nya belum ada pak ustad" ucap paman Kun


"Iya iya kalau masih ada hartanya masih ada sumbang ke anak yatim atau kaum dhuafa lanjut usia, biar jadi amal jariyah" ucap ustad


"Iya sebenarnya saya mau niatkan begitu ustad tapi saya lagi masih membagi uangnya untuk bayar utang" ucap paman Kun


"Maaf Kun, aku tau kata adik aku masih ada dia menyimpan emas dari ibu kami. Maaf bertanya lagi, karena itu barang belum pernah sampai ke aku waktu ibu meninggal. Aku juga termasuk ahli waris nya, kasian nanti adik aku misalnya itu ada tak di kasih ke aku, kalau tadi gak ada gak apa-apa aku ikhlas kan saja" ucap ibu melemah


"Kok, Kamu ngomong nya gitu" bisik Nini samil


"Kun, tolong dia ini dia kesini untuk acara adik kamu sampai 7 hari, dia pun cari uang makan buka jasa pijat, kamu bantu lah dari hasil harta istri kamu" ucap Nini samil


"Maaf yah ni, saya juga jarang di rumah kepikiran almarhumah. Jadi saya juga sempat ada urusan di lain. Jadi saya sibukkan diri hingga saya lupa sama ka ipar" ucap paman Kun


"Iya bukan kamu saja berduka, kami pun ikut berduka" ucap Nini samil


"Begini Kun, maaf bukannya aku ikut campur masalah kalian yah, hanya saya tau menurut ahli agama atau ulama, kamu pasti tau kan, kamu kan rajin ke mesjid yah sholat berjamaah. Bagaimana pun harta adik kamu baik itu rumah atau emas atau uang wajib kamu bagi ke ahli waris nya, kamu juga dapat bagian, tapi yang berhak itu keluarga nya" ucap ustad


"Kalau rumah ini kemarin istri saya mau hibahkan ke saya, katanya rumah ini jangan di jual buat tempat tinggal ka Malin atau Didi. Maksudnya itu saya yang ngatur. Jatuhnya kalau jatuh ke anak-anak takutnya maaf yah Malin kalian jual gitu" ucap paman Kun agar di percaya


"Iya iya bagusnya seperti itu, tapi rumah ini hak waris masih anak atau keponakannya, bukan suaminya, kecuali kamu ada bantu dalam pembangunan rumah ini" ucap ustad


"Saya sudah ada bukti nya di hibahkan ustad, terus apa saya harus kasih ke mereka begitu" ucap paman Kun geram


"Masalah di hibahkan atau tidak, tetap ahli waris mereka keponakanany dan anaknya" ucap ustad


"Ya iyalah kan sudah di kasih tau dari dari awal sampai ini hak waris nya oleh ustadz, kamu sudah tak kasih perhiasan di tambah tak kasih rumah sungguh terlalu kamu mau makan hak waris mereka" ucap paman daud geram


"Kan aku sudah bilang, buat bayar utang istri saya dan berobat nya" ucap paman Kun

__ADS_1


"Kamu yah awas aja kalau ambil rumah ini, mereka ponakan saya jadi saya ikut campur juga" ucap paman daud marah


"Sertifikat nya saja tak ada dengan aku, aku tanya kemereka pun tak tau, gimana aku megang amanah almarhumah" ucap paman Kun


"Sudah-sudah, rumah ini di diamin saja kamu Kun. Tapi kalau kamu beristri lagi, jangan kamu ajak dia kesini, kasian anak nya dan ponakannya melihat orang baru lagi" ucap ibu


"Aku gak mau beristri lagi, aku masih mengenang almarhumah, istri yang baik selama ini menemani selama 7 tahun, aku gak mau beristri lagi" ucap paman Kun memelas kelihatan kasihan yang awal nya kelihatan garang


" Kamu berhak menikah kasian istri kamu disana kalau kamu menahan nafsu batin, kamu berhak bahagia mencari pendamping lagi" ucap ibu


"Aku belum bisa mencari pengganti dia" ucap paman Kun


"Ibu kamu ini lemahan sama kaya Tante kamu, makany sering di bodohi orang lain, aku mau bicara aja dicegat ibu kamu" ucap Nini samil bicara bisik bisik ke saya


Saya hanya menggeleng saja melihat perdebatan mereka.


"Ren, kalau aku mending ngalah saja. Buat apa berebut tan warisan gini nyawa jadi melayang ren, kalau di santet kan kita bisa apa, kalau nilai agama kita mumpuni, kalau gak gimana dong" ucap istri ka malin berbisik


"Iya ka, aku juga gak mau ibu kenapa-napa" ucap saya berbisik


"Ada Kasian aku lihat paman Kun baru kehilangan Isti dia merasa asing, tapi dia malah menyebalkan mau harta semua nya milik Tante" ucap istri ka Malin berbisik.


"Iya ka" ucap saya singkat


Saya berbisik ke istri ka malin, kurang menyimak perdebatan mereka.


"Kalung dan gelang ini kesayangan almarhumah, jadi katanya jangan di jual, makanya aku simpan, ya sebenarnya ingin jadi kenangan, tetapi kalau saya kepepet takut nya khilaf di jual. Saya lelaki tak memakai emas" ucap paman kun berkilah


"Ya sudah GPP, ini emas aku ambil yah kun, ya sudah kalau emas ibu saya tak ada, anggap saja ini pengganti nya, jadi kita saling ridho kan ya" ucap ibu


"Sudah tak ada mengganjal lagi diantara kalian?" Ucap ustad


"Gak ada lagi ustad, sudah saja, tidak mau perpanjang lagi masalah nya kasian adik saya" ucap ibu


"Kalau begitu, saya maaf yah ustad saya lagi ada urusan juga, saya tinggal dulu kalian" ucap paman Kun memelas kasian kelihatan sedih


"Iya-iya saya juga minta maaf turut serta" ucap ustad


Paman Kun beranjak pergi tanpa ganti pakaian nya.


"Kamu ini gimana sih, seharusnya lanjut saja, siapa tau bisa di gali lagi info emas ibu kamu? " Ucap Nini samil ke ibu


"Sudah ni, gak tega lama-lama liat dia mukanya memelas mau menangis mana dia baru kehilangan istrinya" ucap ibu


"Kamu ini sama saja kaya adik kamu gak tegaan, kamu sudah tau dia seperti itu, liat kan dia tadi gimana" ucap Nini samil


"Sudah sudah saja, anggap saja itu buat dia menjaga adik saya selama sakit" ucap ibu

__ADS_1


"Menjaga apanya, yang ada dia jalan aja jarang di rumah, kata adik kamu, dia liat jarang di rumah kan sok sibuk padahal dia menghindari kita ini, takut di tanyakan, seharusnya biar kan saja aku berbicara untuk menggali info nya, siapa tau dia mau ngaku" ucap Nini samil


"Sudah aja yah tante dan paman daud, saya memang sudah tak tega" ucap ibu ingin mengalih kan badannya untuk berdiri


"Jadi kesel aku sama ibu kamu lembek gitu" ucap Nini samil ke saya


Saya hanya tersenyum dan diam saja ke beliau.


Ibu menyegerakan menjual emas tersebut dengan Nini samil, saya sendiri di suruh jaga rumah dengan Kaka ipar, ka malin, dan didi.


"Didi hp kamu sudah canggih aja, aku masih make hp biasa saja" ucap saya


"Aku dibelikan bapak aku, kamu sendiri belikan ibu kamu sana dia kan mau jual emas" ucap Didi


"Malu aku ni samil kalau minta ke ibu, aku sudah kerja, kamu ini sekolah gak juga kenapa gak bekerja" ucap saya


"Kerja, bapak aku gak masalahin juga" ucap Didi


"Kamu tau FB samil dan ponakannya gak? " tanya saya


"Tau lah, nih aku cek dulu" ucap Didi


"Aku mau liat dong hp kamu, paket hp aku habis jadi gak punya duit buat ngisi" ucap saya


"Minta sana sama ibu kamu" ucap Didi


"Eh ada nomor samil dan ponakan nya aku minta dan save ah, makasih yah di" ucap saya.


Aku mau berteman dan kepo saja, lama tak bertemu dan Khabar mereka.


Ibu membagi uang tersebut ke mereka membantu ibu berhadapan dengan paman kun, saya tak ada dapat bagian, ibu minta saya untuk mengerti. Karena banyak yang membantu ibu, jadi saya tak dapat apa-apa.


Ibu bagikan juga ke keluarga yang lain yang sudah lanjut usia. Saya tak masalah yang penting saya mau pulang.


Malamnya kami masih bermalam di rumah nini samil, samil sudah tak ada lagi di sini. Dia bekerja keluar negeri menetap di sana. Nini samil pun menunjukkan foto samil saat di luar negri.


Sifat saya pun mulai kekanakan ke ibu merengek beli pemutih kulit saja tak meminta yang lain, ibu tetap tak mau. karena saya merasa tak pernah di bagi, dan ingat dulu juga tak pernah dibagi duit tiap bulan saat ibu bekerja di luar negri. Sifat saya merengek manja. Saya pun hanya terdiam mengambek sepanjang jalan pulang.


Ibu mengajak ziarah karena itu suatu nazar ibu jika berhasil mendapatkan emas dan rumah warisan.


Saya di ajak juga ke rumah mertua ka hesty dan iparnya juga. Di sana saya hanya terdiam sendu. Kenapa harus saya terus yang mengalah. Apa karena tak ada yang membela saya. Saya coba ikhlas kan karena ibu bercerita berulang-ulang ke mereka keluarga ipar saya, perjuangan ibu selama ini.


Sesampai di rumah ka hesty, ibu masih membayangkan rumah bagaimana nanti, sertifikat nya sudah Ibu bawa dari tangan ka malin.


Keluarga di kampung ingin rumah itu di diami ka malin, sedang kan ibu ingin di jual. Karena yang berhak mendapatkan nya saudara kandung atau keponakan kandung. Sedangkan ka malin dan Didi bukan anak atau keponakan kandung. Ibu takut rumah tersebut di jual malin atau Didi. Didi dia masih muda suka mabuk, main-main, dan pakai obat terlarang. Sedangkan ka salim takut nya dipakai gak berguna.


Ibu memilih lebih baik di jual, daripada jatuh ke tangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2