
Saya pun mulai ingin gaul seperti teman lainnya, tapi kurang pengawasan dan bimbingan. Tetapi itu pelajaran kedepan untuk tak mengulangi lagi. Keliatan gaul tapi membuat ilfil di pandang.
Saya berteman akrab dengan Melly, sebelum kenaikan kelas. Dia mulai menyapa saya duluan, dia dulu yang dikenal centil, sok cantik, suka berbohong dan sok berani.
Entah ada angin apa dia mendekati saya, dulu dia cuek dan angkuh dengan saya. Waktu awal kenal menyapa saya pun males dengan saya apalagi berbicara.
Saya tau kejadian ini terulang lagi ingat kata di manfaatkan, saya masa bodo dengan itu semua. Saya juga butuh teman, butuh komunikasi dan curhatan.
Dia manfaat tin saya, saya juga manfaatin dia. Tak ada yang salah, yang salah saya mempunyai teman. Seharusnya menurut mereka yang sirik hati nya sebaiknya saya tak punya teman dan jauh dari sekolah ini, karena saya dianggap tak guna.
Saya berguna, saya di bantu bapak wali kelas. Saya sudah tau mana yang baik munafik dan baik karena kasian. Hanya tuhan yang bisa membolak balikkan hati manusia.
Melly menghampiri saya, untuk makan di kantin, saya pun mengiyakan, saya tak tau permasalahan apa selama satu minggu tak masuk sekolah. Yang saya tau itu Melly dikenal angkuh dan sok cantik saja dari mereka yang berbisik-bisik, sebelum saya dekat denganya.
Saya waktu itu masa bodoh dan tak mau menghiraukan bisik-bisik mereka.
Saya anggap Melly sama saja seperti teman bernama nolly dulu saat SMP paling nanti dimusuhin yang lain.
Tetapi semenjak saya dekat dengan melly, tak pernah dengar desas desus melly di musuhin dan saya pun malas cari tau itu semua. Keliatan nya hanya jaga jarak saja sama melly. Kalau dalam pergaulan mereka masih bertegur sapa dengan melly. Walau tak sedekat dulu.
Saya pun sama mulai jaga jarak dengan pipik dan lisa, tetapi masih bertegur sapa.
Saya pun sering bercerita ke melly sebenarnya kalau saya saat tak masuk sekolah, karena hilang komunikasi dengan pacar saya, lalu tak lama hp ayah saya rusak. Selama ini saya yang pakai hp. Dan muak juga saya sering di pulangkan pengawas sekolah.
Tetapi melly berbeda menanggapi dengan santai saja. Enak diajak komunikasi. Hp nya pun bisa saya pinjam untuk saya cari tau keberadaan pacar yang tak jelas, di hubungi tak aktif-aktif, saya pun berusaha mencoba mencari pacar baru lagi dengan melacak nomor, walau masih bayang-bayang nya masih ada yang namanya ferdy hilang tanpa kasih tau kenapa tak bisa di hubungi lagi.
Walau hp ayah rusak nomor saya masih bisa dipakai, dengan bongkar pasang kartu dengan meminjam hp Melly. Dia pun tak sungkan.
--------
Saya menemukan nomor baru namanya saria, dia anak kuliahan tetapi dia lumayan secara fisik tapi perawakan kecil berisi atau sedang. Walau perawakannya kecil tetapi bentuk wajah dan postur tubuhnya kelihatan dewasa. Berbeda mantan saya uzin dulu seperti pecicilan.
Dia hanya teman saja kalau dia menembak saya, saya pikir dulu karena dia hanya anak kuliahan lebih tua dari saya pasti dia anggap saya anak kecil lagi. Tetapi dia tak pernah menembak saya. Dia juga suka memberi nomor saya ke teman-teman nya.
Tak mengapa pikir saya siapa tau, temannya ada ngelirik saya juga. Hanya tukeran nomor saja saling mengenal.
Saya pun beli hp baru, hasil dari membantu kaka di klinik, walau saya tak diupah tetapi dapat hp baru.
Saya dapat kenalan laki-laki namanya Jeje, dia perawakan gemuk dan pendek juga, tapi dia keliatan dewasa. Saya pun tak tau juga dia itu cerdas disekolah nya, hanya mengenalnya dia seorang teman biasa saja.
Saya cari disini bukan latar belakang, hanya ingin ber teman atau pacar. Tetapi dia saya kenalkan ke kaka dan ibu, lagi-lagi mereka kurang suka. Karena saya kurang diijinkan pacaran.
Walau kurang di ijinkan, Ibu dan ayah masih sibuk dengan usahanya saat berangkat bekerja. Sedangkan Kaka sama saja sibuk dengan usahanya dan pergaulannya.
Kaka dan ortu saya mengejek Jeje si gendut dan hitam. Saya pun hanya terdiam dan senyum, hanya merasa sudah nyaman dekat dengan nya. Semenjak saya belum punya hp baru, dia mau meminjamkan saya hp, dan mau mendengarkan keluh kesahnya saya tentang saya kurang akur dengan ka hesty.
Jeje seperti kurang suka dengan keberadaan nya di tempat saya. Dia pun mau ketempat saya, saat mereka tak ada.
Saya pun mengiyakan.
Saking cerdas nya dia, dia ini licik. Merayu saya untuk meminta keperawanan. Merayu untuk Ingin tanggungjawab, serta rajin kemesjid, dia bilang kerja bangunan dan rajin olahraga untuk dia diet.
__ADS_1
Berbagai rayuan dia lontarkan, saya tetap tidak mau kasih kesucian. Tetapi saya bingung kerja bangunan uangnya dikemanakan.
Entah lah saya merasa sudah nyaman dengan nya walau suatu saat dia mutusin saya karena tak kasih kesucian saya.
-------
Saat lebaran dia membawa perempuan, dia bilang sepupunya dengan mesra nya dia berpangkuan tangan.
Saya kaget tingkah nya seperti itu.
Saya sendiri pun tak pernah berpangkuan seperti itu. Rasanya malu di pandang orang lain seperti itu.
Tok tok tok tok
Dia mengetuk pintu. Saya pun senyum dan diam saja kaget sebentar. Anehnya saya tak cemburu, karena dia bilang hanya sepupu.
Buat apa cemburu sama sepupu nya.
"Hayo masuk je, silahkan makan dan minum yang saya saji. Jangan sungkan" Ucap saya
" Mba nya Jeje hayo makan dan minum" tawar saya lagi
" Mohon maaf lahir dan batin yah" ucap sepupu Jeje
"Iya mohon maaf lahir batin juga" sahut saya
" Panas yah, gerah yah je" ketus dia.
Jeje dari tadi mandang saya hanya terdiam, saya pun mandang dia juga hanya terdiam.
Sepupunya itu benar-benar mencoba membuat saya panas. Dia tuang gelas di kasih air minum untuk jeje, lalu di kasih kannya ke Jeje minuman itu dengan di suapinnya, Jeje pun ikut menyuapinya.
Melihat itu seperti orang pacaran, saya mencoba pikiran positif mereka hanya sepupu. Saya di sini cuekkin tak di ajak bicara merek asyik bercanda, mereka hanya numpang bertamu dan memanasi saya.
Anehnya saya, saya tak cemburu. Jadi tandanya oleh Jeje kenapa saya tak cemburu.
Mereka pamit pulang dan berterimakasih. Saya pasti ilfil dengan kejadian saya liat, sepupuan kok mesra.
Kalau seandainya Jeje suka dengan sepupunya silahkan saja kalau dia mau putus menurut saya.
Jeje pun menelpon saya malam harinya, dia yang malah marah sama saya.
"Halo ren, saya mau ngomong serius ke kamu" ucap jeje
" Kok ren, kenapa gak say sih? Apa kamu udah ada cewe lain yang tadi??" Tanya saya
" Kamu cemburu yah???" Tanya jeje balik
"Gak kok, dia kan sepupumu kan, ngapain cemburu, kecuali dia orang lain" ucap saya
" Kamu serius gak cemburu??" Tanya jeje
__ADS_1
"Kalau itu bukan sepupu mu, saya cemburu, sepupuan kok mesra gitu" ucap saya
"Seharusnya kamu cemburu, tapi kamu biasa saja" ucap jeje
" Kok kamu aneh gini, udah gak suka lagi sama aku, panggil nama aku, bukannya say" ucap saya
" Aku meragukan kamu, kamu gak cemburu berarti gak sayang dan gak cinta sama aku, iyakan???" Ucap jeje
"Aneh kamu ini, pake nanya lagi. Aku tu paling males bahas aku ini cinta apa gak?
Aku udah dekat kamu aja udah nyaman kok, berarti kan cinta" ucap saya
" Kalau kamu cinta, kamu harus mengorban kan segalanya" ucap jeje
" Maksudnya apa??" Tanya saya
" Kamu pikir aja sendiri" Jeje mematikan telepon nya tit tii tit
Lagi-lagi Jeje membuat saya penasaran, dia selalu memberikan saya pertanyaan, suruh saya mikir sendiri.
Dia selalu membuat berbelit-belit pertanyaan, seolah saya ini tak bisa berpikir jernih.
Tetapi belum ada kata putus darinya selalu begitu ada saja dia suruh saya berpikir bagaimana mengorbankan cinta saya kepadanya. Dia sering mempermasalahkan itu untuk ajak saya bertengkar.
Entah lah saya rasa dengan dia saja mempunyai teman atau pacar dapat perhatian lewat sms walau jarang bertemu. Ingin mencari lagi pun tak mudah cari yang cocok.
Sampai berjalan 8 bulan, baru dia berani ungkap perpisahan, tetapi dengan putus sementara lewat pesan singkat, dia ingin fokus kuliah, nanti saat dia lulus bekerja baru dia balikan.
Saya pun merasa aneh, saya akhiri saja sekaligus. Saya ganti nomor agar dia tak menghubungi saya lagi.
Saya berkeyakinan dia cari pacar lagi, apalagi dia sudah bekerja pasti nyari yang terbaik dari saya. Apalagi selama ini saya selalu direndahkan nya dengan pertanyaan berbelit-belit selalu disuruh berpikir menuruti apa maunya.
Selama pacaran dengan nya, saya jarang bantu ibu dan ayah di warung, saya banyak jalan dengan nya. Di awal ibu dan ayah marah dan menegur, tetapi lama-lama ibu dan ayah sudah tak menampik lagi karena kebandelan saya.
Kalau tak di turuti maunya Jeje tak jalan ketempat nya dia bakal marah dan matiin hpnya seperti ngambek. Bodoh nya saya, saya masih ada harapan dengan nya bisa berteman baik, tapi ternyata tidak, saya hanya menunggu keputusan dari dia saja.
-------
Saya pun pasti sedih tetapi saya lebih santai dan rileks saat putus dengan jeje, tetapi masih terbayang Ferdy. Masih mencari nomor ferdy sampai sekarang. Untuk minta kejelasan saja kenapa dia hilang Khabar.
Saat itu saya sibuk sekolah mengerjakan tugas makalah, otomatis saya sering ke warnet malam-malam. Kadang sendirian kadang dengan teman, karena melly tak bisa pulang malam jadi saya hanya sering sendiri.
Di warnet ada yang jaga, seorang laki-laki dia perawakan tinggi besar. Namanya Nono. Dia pun suka becandain saya. Saya merasa senang ada yang becanda in, ngomong berasa nyambung. Dia bantu saya mengerjakan makalah juga, serta memprint dengan menata dengan baik.
Dia anak kuliahan dan anak band, tetapi berani mendekati saya. Kami pun tukeran nomor hp. Saya pun jadi semangat sekolah mengerjakan tugas makalah tentang geografi.
Dia berani nembak saya, tanpa pikir panjang saya terima. Dia gak neko-neko hanya saja dia sibuk dengan pertemanan nya di luar atau bandnya, kalau dia kuliah saya kurang tau, dia jarang membicarakan nya masuk kuliah nya apa tidak.
Dia baik memang, tetapi lama-lama kurang perhatian, siang hari susah di hubungi. Hanya tengah malam atau semaunya saja mengubungi saya.
Saya pun membiarkannya sampai dia benar-benar kasih kepastian.
__ADS_1
Saya pun tak pikir panjang cari teman lelaki lain. Karena saya butuh curhatan dan keluh kesah atau sekedar perhatian karena sering dimarahin ka hesty.