Dibalik Senyuman Indah

Dibalik Senyuman Indah
Ortu sudah pulang


__ADS_3

Membersihkan kamar, rumah, untuk kehadiran ibu, ayah dan adik.


Kaka Ihsan sudah Pulang ke kota duluan dengan diantar ka malin.


Saya waktu itu masih sekolah belum kenaikan, saya belum ngurus surat pindah karena nanggung mau kenaikan kelas juga, jadi saya tinggal sementara 3 bulan lagi di kampung.


Saya waktu itu di suruh tante belikan makanan untuk kedatangan ibu dan ayah. Ibu dan ayah sudah datang kata tetangga saya. Saya lekas lari kegirangan.


"Assalamualaikum ibu, mana adik Bu?" Tanya saya.


"Waalaikumsaalam, sssttt lagi tidur" ucap ibu


"Lucu, bangun dong adik Kaka, siapa nama nya?" Memandangi wajah adik kecil yang tertidur


" salsa ren, cepat kamu ambil piring dan minuman sana!! ayahmu mau makan" perintah ibu


"iya Bu" jawab saya


Didi dan Samil (paman anak angkat dari sepupu Nini dari keluarga ibu ) datang menghampiri melihat ibu dan ayah dia tetangga saya juga.


Samil pun senang dengan anak kecil, sedangkan didi tak suka dengan samil yang cari muka dan perhatian ke ibu dan ayah saya.


"Samil kamu ngapain kesini, jangan main kesini, ini rumahku terserah saya dong usir kamu" ucap Didi.


Samil hanya senyum dan diam, sambil memandangi adik saya.


" Didi, kamu belum berubah juga yah nakalnya, samil juga mau berteman masa tidak boleh main kesini, kamu gak boleh sombong begitu" tegur ibu 


"Cepat pergi sana samil" ucap didi


"Didi, gak boleh gitu sayang, didi anak baik dan pintar yah" ucap tante.


"Didi didi kamu itu kebangetan sama orang lain mau menjenguk ibu saja, nakal kamu" ucap saya


" Eh kamu, jangan lagi injak rumah ini" ucap didi dengan polosnya


"Hahahahahha, aku juga bakal pindah mau ikut ibu dan ayah" ucap saya


"Ren, seminggu ibu dan ayah di sini dulu, sambil istirahat, kamu nanti sudah naik kelas urus surat pindah saja yah" kata ibu


"Saya bingung, saya sendiri ngurus nya Bu??"

__ADS_1


" Nanti minta tolong sama yang lain saja yah nak"


" Siapa bu?" Tanya saya


"Ka malin atau paman kun atau paman samil aja?"


" Terserah Bu, siapa yang mau saja, bantu saya urus surat pindahan, kalau bisa saya sendiri yah sendiri saja"


Saya tak yakin ka Malin dan paman kun membantu, mereka anggap saya hanya benalu saja. Ibu tak tau apa perlakuan mereka terhadap saya. Enggan dengan kehadiran saya yang dianggap oon ini.


Saya sudah tak membenci ayah lagi, saya suka buatkan ayah teh dan belikan rokok. Saya jadi anak yang berbakti dan takut sama ayah.


Ibu dan tante tak mempermasalahkan dan mengungkit nya lagi.


Saya mulai sadar kehadiran mereka berharga. Olik pun pindah pekerjaan kerja sama orang lain, jadi paman kun yang gantikan posisi olik kerja.


Saya berangkat ke sekolah dengan muka ceria. Bercerita ke teman-teman saya punya adik yang lucu. Mereka malah tertawa.


"Kamu sudah gede gini punya adik ren, dikira ntar bukan adik kamu" ucap ferly.


"Hahahaha " ketawa teman yang lainnya.


" Gak ah, aku kan masih imut-imut. Lagian aku punya teman kalau punya adik" ucap saya


" iya punya, mereka sudah pada besar kadang jengkel saya diolok-olok" ucap saya


" Emang kamu di olok apa?" tanya ferli


Saya terdiam dan malu diucap kan. Sebaiknya jangan di kasih tau saja, di didengar oleh Sanny dan iin  nanti dia ramai juga mengatai saya keteman lainnya.


" Gak ada kok, ngolok biasa aja"


Saya sambil memalingkan badan dengan menyudahi saja obrolan


-------


Saat pulang sekolah saya tak menemui ibu, ayah dan adik. Ingin bertanya ke tante takut tante mengganggu tidurnya di kamar. Mungkin mereka pergi sebentar jalan-jalan keluar pikir saya.


Saya pun melihat nasi sudah habis, saya masakkan nasi dan ayam potong banyak-banyak.


Ternyata tante keluar kamar dan bilang ibu dan ayah sudah pulang ke kota. Saya kaget dan sedih, kata ibu satu Minggu kok cuma 3 hari saja.

__ADS_1


"Emang kenapa tante?" tanyaku lemes


"Kasian sama kakakmu, kata ibu mu" ucap tante


" Apa yang di kasihani tante, mereka ka hesty sudah kerja, ka Ihsan sudah di antar ka Malin" ucap saha


"Gak tau juga, ibu dan ayahmu mau janji bayar utang kamu, malah nyalahin tante dari warisan nini dan kayi, padahal kan sudah habis buat biaya Nini dan kayi serta sekolah malin, mungkin ngambek kali ibu mu" ceplos tante.


Saya hanya senyum dan menunduk, lagi-lagi tandanya saya pura-pura bahagia tapi sedih. Saya pun ingin marah ke ibu, tapi malu, kenapa saya jadi korban perselisihan warisan nini dan kayi.


Saya ngerasa harga diri sudah diinjak, tetapi nanti di kata anak tak tau diri saya ngelawan. Mulai itu saya mulai menangis lagi, sebelumnya jarang menangis.


Ingin ungkap semuanya tapi saya takut mereka sakit hati atau membenci saya. Mengungkap kalau Ka malin tak dianggap anak kandung oleh ayah dan keluarga ayah. Didi hanya angkat.


Pengalaman sebelumnya dulu waktu sd saya keceplosan terhadap teman dan sepupu jauh saya, Hana angkat ibunya dan ka Wiwi.


Hana punya teman namanya riri, dia kurang srek sama hanna, hana sama dengan saya disekolah juga di bully teman-teman nya cerita riri.


Karena satu komplek riri jadi berteman tapi beda perlakuan riri seperti kurang suka ke hanna.


Riri suka nanya-nanya ke saya, kalau hanna sering berbohong dia anak orang berada. Dari situ saya mulai keceplosan Hana anak angkat saja. Saya kasih tau kalau ini rahasia kami berdua.


Ternyata riri licik, memuaskan hatinya, dia bilang ke hana, bahwa hana anak angkat saja. Saya pun kaget pantas ka wiwi selalu pasang muka masam kalau saya lewat rumahnya.


-------


Saat ka wiwi punya anak angkat juga, masih bayi. Saya belum tau kalau hana dikhabarin sudah tau dia anak angkat. Saya samperin ka wiwi sambil gendong anaknya.


Ka Riri dengan wajah masam, langsung bicara " kamu jangan bilang ke orang lain atau dia bahwa ini angkat saya, nanti dia sudah mengerti atau besar bakal sedih.


Saya pun senyum dan nunduk


"Gak kok ka"


" Kamu ada bilang apa ke Hana, hana merasa dia anak angkat" ucap ka Wiwi


"Saya gak bilang apa-apa ka ke hana" ucap tegas ka Wiwi.


"Lah dia tau darimana? katanya kamu yang bilang" Tanya ka Wiwi


Saya diam dan sambil memandangi anak ka Wiwi. Sambil memikirkan kalau riri yang ngasih tau tambah runyam lagi saya dimarahin ka Wiwi. Ya sudahlah saya tutupi. Saya pun permisi untuk pulang. Kejadian itu waktu saya SD.

__ADS_1


Seandainya saya kasih tau kebenaran didi dan ka ikhsan bakal ambyar.


Mereka pasti menjauh ke ibu, tante dan marah terhadap saya.


__ADS_2