
Tante kasih Khabar besok Nene dan Kaka ihsan mau kesini, saya kaget ada apa dengan mereka kok tumbenan.
" Ren, besok nene dan kakakmu mau kesini, kamu tidur dengan kak ihsan yah, Tante sementara dengan nenekmu tidur" ucap tante
"Kenapa tante, kok tumben?? " Tanyaku penasaran
"Kakamu itu depresi, jadi ibu mu nyuruh sementara kakamu disini, disana kakakmu melihat yang aneh-aneh" ucap tante
"Apa kesurupan Tan?" Tanya saya
" Bisa jadi dengan depresi nya itu, kurang tau juga, ibu mu cerita kakakmu kadang melihat atau mendengar suara yang aneh dirumahmu disana" jawab tante
" Bagus lah tante dibawa kesini daripada disana, dimarahin nenek mulu" ucap saya
"Kasian kakamu, kurang diperhatikan, dulu nenemu juga marahin kami" ucap tante
"Maksudnya siapa aja Tante??" Tanya saya
" Waktu kami dibawa ibu mu kekotamu, nini, kayi, dan tante kesana disambut nenekmu dengan judes dan sinis". Cerita Tante, Nini (Nene) dan kayi(kake) bahasa kampung.
"Apa tante, ibu gak pernah cerita, terus Nini dan kayi gimana?" Tanya saya kaget
" Ya sakit hati lah, kami gak mau lagi datangin ibumu lagi" ucap tante.
"Tapi emang watak nenek gitu, bicara besar dan nyaring, yang gak biasa dengar malah takut dan sakit hati hheee" ucap saya
"Terserah mu lah, itu kan nenekmu" ucap tante
Saya pun kangen dengan nenek walau watak beliau keras dan bicara suka kasar, entahlah saya kurang dekat juga, jadi hanya sebatas saya punya satu nenek, Nini dan kayi saya sudah pada meninggal duluan.
Kaka Ihsan Kaka kedua saya, dia dulu suka jahil sama saya, tapi saya tak mengapa lah, saya niat mau bantu dia sembuh. Walau masih pemulihan Kaka saya tetap saya jaga.
Kaka kandung bersebelahan rumah dengan nene dan Tante. Kaka kandung saya bisa dipantau oleh nenek. Tapi kalau masalah keuangan saya kurang tau. Kenapa Kaka saya jadi depresi dan putus sekolah.
--------
Saya pulang sekolah, dengan cepat saya berlari. Ternyata nenek dan Ihsan sudah sampai. Saya liat hanya ada nenek di kamar dengan tante. Nenek senang dengan kehadiran saya. Saya juga senang dengan nenek karena saya baru diperhatikan, sebelum nya hanya sekedar malu-malu.
"Assalamualaikum nenek" ucap saya langsung bersalaman.
"Waalaikumsaalam" jawab nenek dan tante.
__ADS_1
"Nene mana Ihsan?" Tanya saya
"Dikamar mu" jawab tante
"Jangan berantem lagi yah sama kakamu, kasian dia" tegur tante
"Tidak tante, sayakan sudah besar, malu berantem" ucap saya
"Ya sudah, kamu ajak kakamu makan" ucap tante
" Ihsan, , , san san" panggil saya.
Hanya menatap saya pandangan kosong, tak menjawab. Saya jadi bingung, saya buatkan makanan, saya taruh dekat dia.
Saya tunggu di luar, lalu di makan nya.
Jujur saya melihat Kaka begitu jadi sedih antara mau nangis atau tidak, hanya saya tahan.
Saat nenek saya pulang esok hari nya, nenek mengasih uang saya 10 ribu, saya merasa senang cukup jajan satu hari, sebelum nya belum pernah di kasih nenek uang. Saya baru kali ini dapat perhatian beliau, seandainya dari dulu tapi tidak mungkin lah nenek saya banyak cucunya, ibu jarang interaksi jadi saya dengan nenek atau jarang berkunjung. Nenek pun baru pindah sebelahan rumah di kota dengan kami.
"Terimakasih nek " senyum saya
" Nenek pamit yah, kalau kakamu stress lagi, kamu ajak bicara, jangan diam-diaman" nasehat tante ke saya dan tante.
Kaka saya pertama sendirian di rumah nya, namanya resti, dengar Khabar Kaka jarang di rumah, sering nginap di rumah temannya.
Sering konflik dengan nenek karena Kaka jarang ada di rumah, Kaka beralasan karena sibuk sekolah, rumah jauh dari tempat sekolah nya.
Saat nenek pulang, malam harinya Ihsan menangis histeris, saya tepuk punggung Ihsan tambah kencang nangis nya, saya panggil tante saya. Saya waktu itu bingung.
" Tante, Ihsan nangis histeris, saya takut dia kesurupan" ucap saya polos.
" Hahahaha kamu ini, dia itu depresi bukan kesurupan" jawab tante.
"Kamu belikan gorengan yah! ini uang nya"
Perintah tente.
Tante menghampiri Ihsan, sambil saya melihat tante menenangi nya.
" San, kamu jangan nangis lagi yah, nanti ibu mu kepikiran, tante disalahkan ibumu, berteman dengan olik, kak malin, besok ka malin mau ajak kamu jalan-jalan yah" ucap tante.
__ADS_1
Kak Ihsan tersenyum, saya pun membelikan gorengan, sambil senyum-senyum juga. Saya bisa berteman dengan Ihsan, dulu hanya bisa berantem saja saat ada ibu dan ayah.
"Makan gorengan yah di depan tv Ihsan, pengap di kamar aja" tuntun tante badan Ihsan yang besar.
Saya tatap Kaka saya masih tatapan kosong,
Saya bingung bicara apa, saya stel tv yang lucu. Agar saya ketawa, ternyata kak Ihsan betah rebahan di depan tv dan tidur di sana juga, ternyata kak Ihsan berbicara dengan olik musuh bebuyutan saya.
----------
Kak Ihsan mulai berbicara dan riang sekali berteman dengan olik dan juga ka malin.
Saya pun bisa tidur bebas dikamar tanpa ka Malin dan ka Ihsan. Mereka asyik bercengkrama, dikamar belakang. Biasanya saya sering konflik dengan ka malin rebutan tempat tidur atau kamar tengah.
Dari sana, saya banyak teman perempuan juga mereka rame kumpul dirumah kami, saya pun jadi ada teman di rumah. Tetapi saya kalau tak ada teman perempuan, saya malas gabung dengan kakak tiri saya.
Kak fie dia sering mengajak saya ke majlis malam minggu, ka fie senang mengajak saya, karena ada temannya. Tapi ka fie sama saja dengan lainnya memanggil saya oon. Saya pun tak masalah yang terpenting saya punya teman saat baru beranjak remaja.
Kak Ihsan juga rajin mengaji dan sholat, gak tau siapa yang menegurnya. Perubahan nya tak sampai sebulan begitu cepat, saya sibuk sekolah, pulang sore.
Di liat kak ihsan cepat bangkit. Dia tunda dulu sekolah, satu tahun berhenti sekolah, lanjut tahun ajaran baru berikut nya dengan memulai kelas satu SMA.
Semenjak dia masuk sekolah, banyak sekali temannya yang berdatangan ke rumah. Banyak teman yang memperhatikan nya, sedangkan saya hanya sedikit, ya sudahlah saya sudah biasa, yang penting saya tidak depresi.
Banyak teman kak Ihsan menggoda saya, saya malu- malu dan jutek juga. Tapi saya coba untuk tenang tandanya mereka masih memperhatikan saya.
Ada teman Kaka saya kagumi, dia anak tokoh kiyai dikampung kami. Tapi gayanya biasa saja tak keliatan seperti anak kiyai. Kagum dia keliatan kalem dan bersih saja dari yang lainnya.
Saya tak begitu menggagumi karena saya harus tau diri, saya hanya anak orang biasa. Jadi mengagumi sebatas suka saja. Dia juga gak menggoda saya. Tetapi teman wanita atau pacar nya banyak kata Kak ihsan. Berkurang kekaguman saya.
---------
Saya minta ijin ke tante mau bekerja di di depot makan, pemilik depot masih ada sangkut paut keluarga ibu dan tante. Tante gak mengizinkan, tetapi saya masih keras kepala, saya mungkin sudah bosan di rumah.
" Kamu kalau mau kerja di sana, mikir lagi, di sana cape, belum kamu mikir sekolah, kamu paling gak lama tinggal di sana" ucap tante
" Saya mau coba-coba aja tante, siapa tau bisa bantu bayar sekolah, kan kerudung dari ibu sudah habis saya jual" ucap saya
" Terserah kamu deh, kalau kamu di sana jangan aneh-aneh, kalau mau berhenti bilang baik-baik punya depot, kerja kok coba-coba" ucap tante
"Iya tante, nanti malam saya mau ke depot" ucap saya
__ADS_1
" Sudah sana, pusing tante ngasih tau kamu, dasar oon" ucap tante
Sudah biasa saya dipanggil itu, awalnya tak terima, ya harus diterima, mau marah pun merasa tak guna. Saya sampai sekarang belum pernah di kirim uang jajan, di kirim uang hanya biaya daftar sekolah. Sedangkan Kaka kandung saya di kirim uang tiap bulan.