
Satu bulan sudah meningal tante, sekarang menyusul kayi waria yang meninggal. Semenjak beliau sakit beliau tak bisa bekerja lagi, beliau seperti depresi kematian tante, kadang ada di rumah tante kadang tidak ada.
Beliau minta makan di warung makan ka fey, memang dari dulu beliau tidur di sana karena beliau berteman akrab dengan ibu dan nini nya ka fey.
Ibu mengabarkan lewat telpon saja karena ibu langsung berangkat ke kampung.
"Halo Renna, kamu mau ikut pulang kampung, kayi meninggal ren" ucap ibu
"Innalilahi wainnailillahi Raji'un, saya mau ikut Bu, tapi saya bagaimana mau rencana daftar kuliah dan tes nya bu" ucap saya dengan alasan begitu agar tak di kira keluarga ibu saya sombong
Belum mengurus berkas ke sekolah Ma dulu belum di legalisir dan saya juga uang cukup untuk pendaftaran dan uang lainnya untuk jajan dan fotokopian, gak cukup kalau kalau saya sangu jajan dan makan dijalan pulang kampung walau numpang kendaraan ibunya ka wiwik , malu rasanya minta sama ibu.
"Kalau gitu ibu saja yah, saya sedih Bu, kok bisa gak lama menjelang kematian tante malah kayi Bu" ucap saya
"Namanya hidup ren, kita semua bergilir, siapa tau habis ini giliran ibu karena kami ada ikatan kekeluargaan" ucap ibu
"Hush ibu gak boleh begitu" ucap saya
" Ya sudah ibu matikan yah, Assalamualaikum" ucap ibu
"Waalaikumsaalam wr.wb" ucap saya
Kemarin meninggal tante saya jadi ingat kayi sangat terpukul sampai kayi menangis histeris. Kayi tak sanggup melihat keponakan nya terbujur kaku, kayi keluar dari rumah. Berjalan sampai menangis tak ada yang menenangi kayi, mungkin kayi pulang ke rumah ka fey.
Saya daftar kuliah hanya diam-diam saja, ka hesty tak tau. Saya takut daftar kuliah ka hesty tau, dia jadi marah ke ibu dan saya.
Apalagi nay ibunya menginginkan nay cepat nikah dengan mencari jodoh nya jadi dia jarang ada di toko, sedangkan mamang hanya pelampiasan nay saja, jadi ka hesty mengharapkan saya jaga toko dengan imbalan balas jasa saya di pernah di sekolah kannya waktu SMA, saya tak mau jadi benalu nya terus dia makin kaya saya makin di injak, belum lagi celotehan ka hesty sering merendahkan saya ditambah anak buah ikut juga merendahkan saya juga waktu dulu.
Semenjak saya jarang di toko, akhirnya ka hesty tau saya daftar kuliah. Ka hesty gak yakin ibu membiayai, ka hesty menduga pasti ujung-ujungnya minta bantuan ke ka Hesty masalah dana.
Ibu meyakinkan ka hesty uangnya dari ibu ingin menjual rumah tante, ka hesty belum yakin karena rumah tersebut bisa di jual, kesepakatan keluarga buat tempat tinggal Didi dan ka Malin.
Ibu minta tolong suami ka hesty untuk membicarakan baik-baik ke ka Malin dan istrinya nanti saat setelah lebaran. Ka hesty dia gak mau ikut campur. Karena suami ka hesty ustad jadi agar percaya ka Malin soal pembagian warisan padahal hak waris rumah ada di tangan ibu atau kami keponakan kandung nya. Walau tante memberi hibah kepada ka Malin dan Didi rumah tersebut.
-------
Setelah 3 hari di kampung, Ibu datang ke rumah ka hesty setelah pulang dari kampung, ibu menyaksikan mayat kayi waria wajahnya yang berbinar seperti awet muda kembali, aku waktu itu bingung apa beliau mati dalam keadaan
baik, secara beliau ini waktu hidupnya merubah kodrat tabiat seperti perempuan kalau dari kelamin beliau masih asli laki-laki tak di ubah.
"Ibu apakah kayi meninggal sudah bertobat yah? Jadi meninggalnya enak dipandang kondisi nya?" Tanya saya
"Iya ren, insha Allah, beliau sudah lama menderita sakit juga, semoga itu penghapus dosa kayi, ibu yakin kayi dan tante sudah di berikan tempat terindah, tugas mereka di dunia sudah selesai, mereka orang yang sabar dalam melawan sakitnya dan menghadapi cobaan" ucap ibu
"Gak nyangka yah bu, mereka meninggal nya dalam keadaan baik" ucap saya
"Insha Allah Renna" ucap ibu
"Ibu gimana nanti mau kesana lagi yah 40 hari Tante? " Tanya saya
"Iya ren, kamu ikut yah?" Ajak ibu
__ADS_1
"Iya Bu, insha Allah, saya urus tes masih sempat bu" ucap saya
"Kamu ada uang gak? " Tanya ibu
"Ada Bu sedikit hhee, emang nya naik apa kesana bu?" tanya saya
"Naik travel ren, ibu bayarinnya ntar, kamu tenang aja, semenjak ibu ke sana kemarin paman kun udah gak ada ren, dia katanya sudah beli rumah baru" ucap ibu
"Berarti paman Kun banyak duit dong Bu" ucap saya
"Ya iya ren, emas Tante itu banyak bagai harta Karun terpendam makanya di incar mereka itu" ucap ibu
"Kok aku gak tau bu? mereka siapa?" Tanya saya
"Tante kamu itu pelit, sudah di bilangin mending manfaat kan bantu keponakan dan sekolahkan anaknya, ni anaknya didi di biar kan berhenti sekolah, mereka itu paling paman Kun dan mantan istrinya dulu" ucap ibu
"Sudah Bu ikhlaskan saja, apalagi rumah Tante dapat paman , auto kaya mendadak tanpa kerja keras" ucap saya
"Iya, padahal baru merasakan hidup enak tante kamu diambil orang lain" ucap ibu
"Kasian tante yah Bu" ucap saya
"Kami dulu hidup sakit ren, makan jarang makan nasi, makan sisa bekas kemarin dan singkong " ucap ibu
"Mungkin Tante Nini dan kayi banyak sabar Bu, sudah menikmati hidup serba ada walau beberapa tahun saja, ada yang iri degki, malah habis di ambil bukan ahli waris" ucap saya sebel
"Ibu jadi takut di serang paman Kun, ibu sudah mulai ada rasa gatal-gatal dan benjolan" ucap ibu
"Ah kamu kaya ibu punya duit banyak aja, ini kan kiriman orang, yah berobat nya ke tabib yang bisa bukan nya dokter mereka mana percaya" ucap ibu
Saya hanya terdiam saja, ibu pasti tersugesti menurut saya, karena ibu berhasil mendapatkan rumah merasa tersugesti di serang paman kun.
----------
Saya merencanakan membuat Yasin yang ada nama kami sekeluarga dan foto tante saat umroh. Hanya bermodal 100 ribu sudah dapat 15 buku tipis.
Kalau kayi waria, ibu cuma acara kasih anak yatim saja di kota ibu asal tinggal saat 40 hari.
Masih ada sisa hasil uang dari emas tante, ibu gunakan untuk orang yang membutuhkan dan acara haul juga.
Memang benar kalau ortu yang megang harta di gunakan nya yang bermanfaat. seandainya semuanya dapat paman Kun hanya untuk kesenangan nya saja.
Saya yang membuat buku surah Yasin hasil dari uang sendiri, meminta ke ibu saya kira habis, tapi tak mengapa saya sudah anggap dari awal ingin membantu saja.
-------
Saya masih sibuk mencari info bagaimana nanti tes tertulis saat daftar kuliah atau tes lainnya, agar saya bisa lolos. Saya cari tau dengan Kaka tingkat sekolah fakultas sana, dia yang awalnya nyebar brosur lewat internet, lalu saya banyak bertanya ke dia selalu menjawab dan tak sombong.
Saya juga ingin dapat info dari teman saya pernah satu sekolah saat MA. Saya minta info juga lewat pesan SMS, dia juga pasti membalas SMS saya, ternyata dia tak sombong.
Saya waktu itu gelisah di toko, karena melihat kedekatan ka hesty dan nay, nay yang makin menjadi cuek dan pelit kata-kata ke saya saat ditanya. Nay ini seperti teman saya nunu waktu sd susah di ajak ngobrol untuk saya, dengan yang lain dia lancar-lancar tak sombong, seperti normal saja ngasih info.
__ADS_1
Saya harus menerima itu, karena sudah terbiasa di cuekin mereka yang suka iri atau risih sama saya. Mungkin mereka tak suka saya tegor atau saya salahkan, mereka mungkin meanggap saya masih anak kecil mungkin. Padahal saya sudah membantu permasalahan nay saat dia bersama mantannya dulu agar tak berlarut. Sudahlah saya malas lagi mikirin itu buat sakit Kepala.
"Ren, kamu kami tinggal yah, kakak mau jalan sama nay ngurus pengantin" ucap ka Hesty
Saya hanya terdiam saja melihat mereka seperti tanda tak suka, kenapa harus nay terus keluar jalan-jalan padahal gajih nya sama saja.
Saya saja waktu coba pendaftaran kuliah, saya gajih di potong. Sungguh terlalu punya Kaka suka mempersulit adiknya untuk maju. Memang benar kata Bu Diah pebimbing saya waktu magang dulu, saya gak akan berkembang kalau hanya magang tempat ka hesty masa harus di bawah keteknya terus.
--------
Besok hari nya pagi-pagi sekali saya mencoba mau ke rumah teman saya yang kuliah di fakultas tersebut. Saya ingin bertanya-tanya mengenai tes dan bagaimana sistem kuliah di sana agar dia mau beri pencerahan nya, saya siap kuliah kalau ada yang beri pencerahan sebelumnya. Kalau agak siang nanti ka hesty datang ngajak jalan nay, nanti seenaknya aja saya di suruh jaga toko.
Saya SMS teman saya Neny, pagi ini mau ke rumah nya. Dia balas ada di rumah, tapi saya tak balas kalau saya mau ke rumahnya, cuma kasih kejutan saja.
Tetapi saat sampai di sana, saya jauh-jauh dari toko. Neny nya tak ada tapi saya masih ragu karena gelagat adiknya nengok-nengok ke dalam.
Saya hanya cerita keluh kesah saya kenapa saya mau kuliah ke neny, karena sudah bosan sikap ka Hesty dan nay.
"Neny, Neny, Assalamualaikum" panggil saya dari teras rumah nya
Adiknya keluar dari pintu lalu maju turun lagi dan turun lagi, seperti nya mau mencegat saya masuk.
"De, Neny nya ada? Tanya saya
Adenya hanya terdiam kebingungan menoleh kebelakang, seperti nya dia gak mau berbohong, tapi dia balik lagi masuk ke dalam. Saat dia keluar. Saya samperin mau kedepan pintu nya mau liat-liat juga, ternyata di cegat adeknya
"Ade de kakanya?" tanya saya
"gak ada ka lagi keluar ka nenynya" ucap adeknya seperti bingung menoleh ke pintu
Saya jelas mendengar di balik pintu ada yang berbisik, adenya berapa kali menoleh ke pintu.
"ouh, ya sudah" ucap saya langsung pulang tanpa salam karena saya kesal pasti adenya di suruh neny agar saya tak bisa masuk ke dalam.
Ternyata Neny seperti nya malas berbicara dengan saya, apa karena saya bicara nya membosankan yah. Yah sudah saya pun pergi ke rumah sasa, saya hubungi dia juga berharap bisa berteman baik dengan nya. Dia bilang ada di rumah, ternyata sesampai di rumahnya sama saja.
"Sasa Sasa Assalamualaikum" panggil saya panggil di balik pagar rumahnya tertutup.
Saya telpon dan SMS sudah tapi tak diangkat dan di balas nya. Ternyata ada ibunya Sasa yang keluar dia berbicara di balik pagar dengan saya. Bukan nya saya di suruh masuk kedalam.
"Sasa ada tante?" Tanya saya
"Dia sudah keluar sejak tadi, katanya balik jam segini, tapi belum juga dia datang-datang" ucap ibu sasa
"Sasa bilang ada dirumah tante, makanya saya samperin, ternyata dia mau kesini siang ini?" tanya saya
"Iya, coba tante hubungi yah" ucap ibu sasa
"gak diangkat, kemana ini Sasa, kamu tunggu aja yah sebentar di sini, saya masuk ke dalam dulu mau masak" ucap ibu nya
Bodoh nya saya, saya coba tunggu di depan gerbang rumahnya, bukanny di suruh masuk. Karena saya sudah bete di toko sikap mereka yang menyebalkan kadang merendahkan saya, di luar mau kerumah teman malah menyebalkan juga. Ibu dan anak sama saja gak menghargai tamu bukannya di suruh masuk. Saya tetap sabar menunggu sampai setengah jam belum datang juga Sasa. Ibunya keluar menyuruh tunggu aja sebentar dari tadi malah sampai dua jam di depan gerbang , bodoh nya saya karena gak enak sama ibunya menyuruh menunggu.
__ADS_1
Akhirnya saya tinggalkan dengan perasaan kecewa, walau wajah saya datar saja di hadapan ibunya. Dari situ saya hapus nomor Sasa. Dia pun tak ada SMS saya sama sekali ucap minta maaf atau bertanya saya ada ke rumah nya tak ada sama sekali.