Dibalik Senyuman Indah

Dibalik Senyuman Indah
Pulang ke kota


__ADS_3

Liburan sudah usai, saya belum mengurus surat pindah karena saya berapa kali ke kantor sekolah, menunggu Kepala sekolah dulu yang jarang ada di kantor. Saya hanya mengurus sendiri saat itu. Tapi belum bertemu juga sampai waktu liburan.


Saya pun belum dapat surat pindah nya, saya masuk sekolah saat siswa mencari kursi tempat duduk. Tak ada istimewa saya saat di sekolah diperlukan biasa saja oleh teman-teman. Saat saya datang saya masih bengong meminta surat pindah, akhirnya saya meminta tolong paman samil.


Ternyata dengan cepat mereka  mengurus surat  pindah. Saya pamit dengan guru yang hadir saat pagi hari saja, yang lainnya belum datang.


Saya berterima kasih kepada paman samil, tapi saya tak punya uang untuk  bayar jasanya. Paman samil seorang mantan kepala sekolah juga di Sd jadi begitu mudah di hormati jadi urusan cepat kelar satu hari. Kepala sekolah SMP bertemu dengan mantan kepala sekolah SD. Mereka membicarakan masalah yang ada di sekolah, Kepala sekolah saya asyik ngobrol dengan pamannya samil.


------


Ibu, adik, dan kakak datang menjemput saya, mereka sampai saat malam hari.


Ternyata ibu dan Kaka belum makan, saya masak kan hanya mie dan telor.


Saya senang dengan kehadiran mereka, tetapi semua berubah suasana toxic.


Paman Kun mengomentari penampilan ka Hesty yang rambut berwarna dan pakaian sexi.


" Penampilan kok sekarang berubah, rambut di cat pakaian terbuka, seharusnya kalau kesini tertutup pakaian nya" ucap paman kun


"Saya kan kerja di klinik kecantikan, yah harus berpenampilan lah" ucap ka Hesty


" Bukannya mantan istri mu juga penampilan begitu dulu" ucap ibu


" Itukan dulu, beda sama anak mu masih muda segera lah di tutup" ucap paman Kun


" Namanya juga pekerjaan nya begtu, samakan mantan istrimu juga bekerja di klinik kecantikan, kenapa sewot sama Hesty" ucap ibu


" Ya sudahlah, terserah kalian, dsini kan beda komplek nya lebih agamis, ga enak dipandang tetangga". Ucap paman kun sambil jalan pergi ke kamarnya.


Tante dari tadi hanya diam saja, lalu berucap "udah dengerin aja, saya aja kadang di ceramahinnya, maklum orang baru hijrah"


"Emang baru hijrah itu blagu" ucap ka Hesty


"Ushhh Hesty, jangan gitu Tante dengar"


Tegur ibu.


Saya pun hanya diam menyaksikan itu, sambil saya masakkan mie dan telur.

__ADS_1


" Cepat dong masak ren, kami lapar nih, jangan lelet" teriak Kaka 


"Hesty ini malam, kedengaran tetangga kamu teriak, gak seperti di kota rumah jarak berjauhan, sesuka mu teriak, disini rumah berdekatan" ucap ibu


Saya malah sedih diperlakukan kak Hesty berbeda, dulu penyayang sekarang baru bertemu jadi garang, apa ka Hesty terpengaruh sama ka malin.


Malah menetes air mata saya. Sambil saya menyapu biar tak ketauan mereka saya menangis saat membawakan makanan. Saya masih ingin mencoba bermain dengan adik kecil.


Tetapi Kaka saya merintah saya mengambil sesuatu apa maunya dengan suara nyaring.


Saya terkesan lambat, karena Ingin menolak tapi takut dia memarahi saya. Saya rasa seperti diperbudak lagi.


" Ren Kaka Hesty ibu modallin buka klinik, kamu harus nurut apa diperintah ka hesti yah, biar ka Hesti menanggung biaya kalian sekolah" ucap ibu


"Ibu gak buka usaha yah?" Tanya saya


"Ibu rencana mau buka usaha, tetapi libur dulu satu bulan. Ibu mau buka warung makan modal seadanya saja" ucap ibu.


"Iya Bu" ucap saya sambil senyum


--------


Saat pindah sekolah saya tak berbeda dengan sekolah dulu, adaptasi dan pengenalan. Teman yang asyik dan gaul malah menjauh, teman yang kalem saya dekati.


Saya tak lama lagi dalam memilih teman atau penuh harap dengan teman yang gaul ujung nya kena bully mereka, menurut pengalaman saya dulu.


Jangan kan teman, saudara saya saja sudah mulai toxic dan bully saya.


Saya berteman yang mau menerima kehadiran saya, bukan di nilai kurang aktif lalu dieliminasi. Saya pun harus tersenyum sama mereka walau kurang dianggap.


Saya pun merasa kan kenyamanan dengan beberapa teman lebih dari sebelumnya. Mereka lebih dewasa. Jarak sekolah dan rumah lumayan jauh 5 km. Naik angkot dan jalan kaki masuk kedalam kurang lebih 2 km.


Saya masih terbiasa datang lamban, yah sebagian teman tak menyukai saya, sebagian masih antara suka atau tidak tetap berteman dengan saya.


Pakaian anak SMP disini lebih umum atau terbuka keliatan kaki dan lengan atau rambut. Beda di kampung semua serentak memakai tudung yang perempuan nya, laki-lakinya celana panjang.


Saya awal masuk pakai tudung, dianggap anak alim, padahal biasa saja sama seperti mereka. Tak lama guru saya menegur saya untuk ganti pakaian seperti lainnya agar seragam. Saya pun mau gak mau ikut aturan itu, sangat kelihatan lengan kurus saya dan kaki saya. Tambah lah bullyan mereka terhadap saya.


Krempeng, tiang bendera, lamban, dan gak nyambung. Saya berusaha untuk tersenyum. Bahwa saya siap menerima masukan mereka, walau saya susah untuk berubah.

__ADS_1


Ada lelaki yang menyukai saya, saya tolak, saya bilang saya tak butuh pacar. Saya hanya butuh teman saja. Malu rasanya pacaran satu kelas. Dia tak henti mengganggu saya. Saya pun kadang malu, mau marah pun tak berani.


Saya bingung disini saya dipuji cantik, tapi saya banyak kekurangan-kekurangan menonjol. Teman-teman menyukai saya hidung saya yang mancung.


Tetapi teman yang lain membuang muka, tak begitu menyukai dari kekurangan yang menonjol dari saya.


-------


Ka Hesty berbeda 180 derajat, apa karena iri sama saya, atau mengajarri saya agar hormat/takut ke dia, galak, membully, atau suka merintah dengan suara lantang apabila  tak dituruti kepala saya dipukul pakai tangannya nya sungguh seperti kekanak kalau seperti itu.


Saya ingat betul kejadian tak mengenakkan dihidup saya, saya bukan dendam tapi saya ingat dan saya memaafkan. 


Kenapa saya memaafkan karena mereka berjasa dalam membiayai sekolah dan mendidik saya walau itu keliru. Sangat berbeda ibu saya mendidik lebih lembut dan sabar. Karena faktor ekonomi ibu meminta tolong tante dan kakak.


Saya kalau mau bercanda saja dengan Kaka walau itu sindiran halus, kepala saya di tabok lagi, saya nangis pun tak di tampiknya. Sama seperti ka Malin memperlakukan saya dulu. 


Diperintah nya sesuai keinginan dia sendiri tak memberi contoh. Kalau tak sesuai atau lamban saya dibully oon. Ibu bukan membela saya, ibu seperti rasa tak berdaya juga, karena ibu sebagian masih mengandalkan keuangan dengan Kak Hesty. Tetapi kak Hesty jadi kasar dan berani melawan ibu dan ayah.


"Ren, pakaian kamu kenapa berserakan begini dikamar, cepat ambil oon!!" Ucap ka Hesty.


"Aku lupa ka, karena ketiduran kecapaian"


Ucapku


Kepala saya di pentok lagi muka melotot nya. Saya pun terdiam. Mau nangis pasti tambah di pentoknya. 


Dia sendiri sering berhamburan pakaian dilantai dan di kamar mandi. Bangun pun dia lebih siang.


Saya sering kesiangan bangun, sering terlambat sekolah. Minta tolong di antar oleh ibu, saya malah di marahin ka Hesty kepala saya di pukulnya. Entah lah berapa kali kepala saya dipukulnya.


Makan pun dia sering beli di luar juga, makan yang enak, traktir teman nya makan, sebuah keberuntungan hidupnya dikelilingi banyak teman.


Mulai dari dulu ka hesty pandai bergaul, ka hesty membantu ibu di warung dulu, dia dapat uang dari hasilnya dengan mengambil sesuai keinginan nya, dia bisa beli pakaian yang bagus untuk dirinya dan jalan-jalan sama temannya.


Sedangkan saya belum bisa, tak berani minta. Baju yang itu-itu saja. Saya tak iri tetapi penilaian orang terhadap saya selalu negatif, saya dari keluarga lumayan cukup kenapa tak bisa pakai baju bagus. Saya katakan saya tak berani minta lebih atau mengambil lebih, karena ibu menanggung kami bee empat.


Saya ingat betul, karyawan kak Hesty ikut mengolok saya juga, tapi ka hesty menegur mereka untuk tak mengolok saya oon, karena cuma ka Hesty yang boleh memanggil oon.


Mungkin dengan tindakan saya ini dikata bodoh dan oon. Saya terlalu jujur dan tak berani melawan.

__ADS_1


__ADS_2