Dibalik Senyuman Indah

Dibalik Senyuman Indah
Berbicara sama patung


__ADS_3

Sesampai di kota saya, saya tak dapat bagian apa-apa dari ibu menjual perhiasan alm.tante, rasanya kecewa, saya harus berpikir positif ke ibu. Mungkin uangnya sudah habis di bagi ke mereka yang membutuhkan.


Saya tanya berapa di jual emas pun tak digubris ibu. Apa saya gak pantas menerima ini, apa saya karena mampu.


Lagi-lagi saya datang ke toko bekerja, nay tak ada di toko dia pulang kerumahnya dan meliburkan diri lagi. Saya mulai iri terhadap nya makan gaji buta saja, dipotong paling tidak seberapa.


Saya hanya diam-diaman saja dengan Nay, saat saya menegur nya selalu di acuhkan nya, jadi saya banyak diam saja. Kadang dia memulai pembicaraan ada maunya saja.


Saya gak tegaan kalau mengacuhkan dia saat dia mengajak ngobrol. Kecuali dia acuhkan saya lebih baik saya diam dan menghindari daripada bicara sama patung.


Beda lagi teman-teman yang lain saya berbicara di bully habis-habissan. Daripada saya di bully mereka saya menghindari dan diam saja.


Saya rasa tak ada teman yang tulus,


ada mau nya saja. Mungkin kalau saya punya motor ajak dia jalan, kasih dia sesuatu dia pinjam jadi miliknya, dia tak akan mengacuhkan saya.


Teman punya motor pun saya hindari, karena dia tak mau tau mau pulang jam berapa saja semaunya mengajak saya. Alhasil saya malu perempuan di cap gak bener pulang tengah malam oleh tetangga dari pengalaman sebelumnya.


Nay bisa bolak-balik kerumahnya meminjam motor ortunya, makanya dia pulang untuk gantian memakai motor dengan ortunya juga jalan ke pasar. Kadang nay di antar mbak Mahira pulang.


------


"Ren, nay itu libur terus , jalan terus sama mba Mahira, cape negur dia. Udah dibilang tolak saja ajakan mbak mahira" ucap ka hesty


"Emang begitu ka, udah aku tegur, kata aku, aku gak ngadu, biar ka hesty tau sendiri" ucap saya


"Sudah aku ancam nay nya, nanti di bilangin ke ibunya. Nay katanya di paksa, jadi ga tegaan" ucap ka hesty


"Aku negur mba Mahira langsung kak" ucap saya


"Gak enak negur Mahira, gak enak sama bule ren" ucap ka hesty


"Emang bisa ngadu yah ke bule mbak Mahira ka?" Tanya saya


"Ya iyalah ren, mbak mahira itu kekanakan umurnya Emang lebih tua dari Kaka" ucap ka hesty


-------

__ADS_1


Saya gak pernah kapok mehubungi nay, walau dia gak angkat atau tak mengirim pesan, walau saya tau tak di hiraukan nya. Saya hanya bisa berpikir positif ke nay mungkin karena dia pendiam dan pengen gaul juga, berharap dengan saya yang tak bisa di harapkan untuk ajak jalan.


Ternyata yang mengangkat adik nay yang kecil umur 5 tahun, dia pandai berbicara walau masih sekecil itu, sangat berbeda dengan kakanya dan ortunya.


"Halo, Kaka nay ada de? " Tanya saya


"Ada kak, lagi mandi, kak rena kenapa kemarin aku kesana ka Rena gak ada?" Tanya adik nay


"Kaka lagi pulang kampung sayang, kamu ngapain ke toko ka Rena? " Tanya saya


"Mau main sama ka rena, kaka tau gak ka nay mau nikah tapi gak jadi" ucap adik Rena


"Masa sih, sama siapa ka nay nya mau nikah de?" Tanya saya


"Sama pacarnya ka, sama orang lain, tapi gak jadi mulu" ucap adiknya


"Oh ya, benarkah de?" Tanya saya


"Aku gak bohong kak walau aku ini masih kecil" ucap adiknya


"Iya juga yah, salam yah buat ka nay nya Kaka Rena nelpon" ucap saya


Saya pikir adik Rena ada benarnya juga, dia ini masih polos gak mungkin Bohong, apa karena nay sering ijin karena Masalah mau kawin.


------


Saya ceritakan ke ka hesty, ka hesty tak percaya omongan adiknya nay dianggap halu. Lagi-lagi saya ini di anggap di bodohin adiknya nay, anak kecil ini polos gak mungkin berbohong.


Saat nay datang pun saya tanyakan, nay nya tak mau mengaku, saya yakin nay berbohong karena malu dengan saya mau nikah muda.


"Nay kenapa kamu ini telpon dan sms aku gak pernah dibalas atau di angkat terus, aku gini juga di suruh ka hesty. Mau gak mau ka hesty juga mencoba hubungi kamu, kamunya balas terus SMS ka hesty" ucap saya


Nay hanya terdiam senyum sedikit acuh saja, dia malah suka mengalihkan pembicaraan.


"Ren, carikan nomor teman mu dong siapa aja kamu kenal" ucap nay


"Aku tau nya teman SMA banyak, aku beri nomor nya yah, tapi kamu cuma temenan kan? Kamu sama sepupu mbak Risty gimana hubungan nya? " Tanya saya pura-pura tidak tau

__ADS_1


"Udah putus ren" ucap nay


"siapa yang mutusin nay? emang masalah nya apa? " Tanya saya


"Dia gak bisa di hubungi lagi, jadi aku anggap putus saja" ucap nay


"Ouh gitu, kamu cari aja yang lain nay, adik kamu bilang kamu mau nikah nay? aku gak nanya Lo, adik kamu yang bicara" Tanya saya


"Gak lah ren, bohong aja adik aku" ucap nay


"Masa sih nay, anak kecil itu setau aku polos" ucap saya


Nay buang muka lagi, sambil dia main hp dengan siapa saya tak tau.


Saya tau nay berbohong, tapi saya pura-pura tidak tau. Biarkan saja lah saya cuma ada bukti dari omongan adiknya yang dikira orang lain halu kalau saya terangkan ke lain.


--------


Saya pun coba beri nomor samil ke nay juga, samil pun tak tau dia aku punya nomor hp. Cuma nomor samil aku kasih ke nay siapa tau jodoh, samil orang nya masih muda dari saya dan lumayan mapan.


Niat baik saya ini tak pernah di hargai, selalu dianggap mereka salah dalam mencari pembenaran mereka untuk kepentingan ego nya.


Nay dekat dengan teman saya waktu SMA namanya mamang. Dia mungkin cocok dengan mamang berhubungan. Terserah nay saja mau sama siapa, yang saya tau selama di sekolah mamang baik orang nya care sama siapa saja.


Mereka ketemuan di toko saya. Saya menyambut mamang dengan baik. Saya bilang ke mamang nay ini jomblo. Makanya dia minta nomor teman-teman saya.


Saya minta mamang jangan malam-malam di toko kami bertamu, gak enak sama tetangga. Bukannya saya sok ngatur, tapi nay ini masih saja ngobrol di luar dengan tak menyuruh mamang pulang.


"Nay sini, aku mau ngomong" ucap saya


Nay menoleh lalu masih saja ngobrol sama mamang, masa saya harus menegur mamang lagi gak enak rasanya sama mamang.


Mau gak mau saya menegur mamang langsung mendatangi keluar lagi.


"mang kata ku tadi ini udah jam 9, gak enak kan. Kamu gak enak juga aku tegur lagi. maaf bukan aku mau ngusir kamu mang" ucap saya


"santai aja ren, aku juga mau pulang kok" ucap mamang

__ADS_1


"Ya udah aku masuk yah, aku duluan tidur, udah ngantuk, Kalau kalian masih lanjut ngobrol lagi, aku gak tau lagi yah" ucap saya


Nay pun menutup pintu, tanpa bicara atau cerita apa-apa ke saya, mau ngobrol pun takut di acuhkan nya lagi.


__ADS_2