Dibalik Senyuman Indah

Dibalik Senyuman Indah
Tante meninggal


__ADS_3

Saat malam hari saya sakit kepala begitu berat setelah shalat isya, sudah saya bawa rebahan dan tidur pun berat rasanya, baru bisa tidur jam 10 lewat.


Hp berbunyi sudah berapa kali tak saya hiraukan, mungkin hanya alarm pikir saya. Ternyata tidak, ini ibu menelpon tengah malam. Langsung saya angkat saja.


"Ren, tante kamu meninggal, besok pagi sekali kamu berangkat yah nanti ibu jemput" ucap ibu


"Ibu naik apa berangkat? Tanya saya"


"Ikut ibu nya ka wiwik" jawab ibu


"Ka Hesty dan ka Ihsan gimana Bu?" tanya saya


"Mereka ikut juga" balas ibu


"Iya Bu, kok mendadak yah tante bu, kemarin kata ibu udah segar aja tante" ucap saya


"Katanya tante kamu kesakitan, masuk RS kemarin malah tante di biarkan sendiri oleh susternya, paman kun gak masuk waktu itu, ka Malin gak menjenguk waktu itu, kasian tante kamu ren" ucap ibu


"Seharusnya kondisi begitu tante di jenguk, apa mereka terlalu sibuk, kesannya pekerjaan lebih penting" ucap saya


"Namanya juga bukan anak kandung ren, gak bisa diharapkan kata Tante, tante kamu ngeluh mereka jarang nengok, ada maunya aja datang" ucap ibu


"Ya emang Didi itu kebangetan manjanya, sementara ka Ihsan mau akalin tante aja saat butuh uang" ucap saya


"Yah begitulah ternyata ren mengasuh bukan anak kandung, padahal tante kamu sudah susah payah membesar kan mereka" ucap ibu


"Kenapa juga ibu ambil ka ihsan dari ibu kandungnyanya dulu?" Tanya saya


"Namanya dia masih kecil ren ibu kasian lihat nya, ibu kandung nya gak mau lagi ngasuh, siapa tau pembawa rezeki, gak taunya gak di terima keluarga ayah dan ayah kamu, ibu kasih ke Nini dan tante malah mereka kesenangan" ucap ibu


"Saat mereka besar malah manja dan ngelunjak yah bu, padahal tante sudah baik bantu ka Ihsan menikah di tambahhin biayanya" ucap saya


"Mungkin ini ulah paman Kun, makanya mereka menjauh" ucap ibu geram


"Loh ibu gak boleh gitu, kasian paman Kun berduka" ucap saya


"Bela aja terus kamu ren, liat kamu aja sering minta di pulangkan oleh tante kamu karena tante dibujuk paman kun, sedangkan ka ihsan malah pindah rumah dan pekerjaan. Didi aja mau adu pisau dengan paman" Kun ucap ibu


"Apa Bu Didi kenapa berani yah? Paman Kun juga berani lawan didi sama-sama pisau pula" ucap saya


"Katanya Didi mabuk pake obat makanya didi lagi begitu khilaf, sedangkan paman Kun gak mabuk, untung tante kamu sigap melerai mereka menyuruh didi untuk pergi dari rumah" ucap ibu


"Ngeri juga yah bu, Didi emang berani, tapi nama nya mabuk kurang sadar juga yah Bu" ucap saya


"Kamu aja pikir semuanya pada gak betah di rumah, padahal tante kamu sudah menyediakan kamar untuk ka Ihsan dan istrinya" ucap ibu

__ADS_1


"Apa tante baru sadar kalau paman kun gak baik buat didi?" Tanya saya


"Ya pasti, mau gimana lagi tante sakit tak berdaya, gimana mau pisah sama paman Kun? Usaha dan uang ada ditangan paman Kun. Untung sertifikat rumah tante udah ibu ambil, ibu takut di salah gunakan paman kun, dia pintar menipu" ucap ibu


"Ya Allah kasian tante yah Bu" ucap saya bingung mau bilang apa lagi, masih kurang percaya paman Kun berbuat begitu.


"Makanya dia kemarin cari sertifikat rumah, nah ibu bersihkan rumah tante kamu sangat kotor sekali, ada binatang muncul masuk kekuku ibu, rasanya ada yang berjalan di badan ibu, tapi gak keliatan" ucap ibu


"Ibu bawa ke dokter aja siapa tau ada salapny" ucap saya


"Aneh kamu, gini di bawa ke orang yang bisa obati bukan nya dokter, dokter aja gak percaya itu malah di kata tahayul oleh nya" ucap ibu


"Ibu sebenarnya malas ketemu paman Kun, mau gimana lagi tante kamu meninggal kita semua harus datang. Kasian juga tak di antar ke peristirahatan terakhir nya" ucap ibu


"Iya Bu, takutnya ada perselisihan, dia orangnya suka menghindari kita juga bu, ada tante baru berani ceramah seolah perkataannya kaya ustad, masih mending suami ka Hesty gak bisa ngehindar kalau gak ada kak Hesty. Tetap aja sama kita care" ucap saya


"Nah kamu paham kan, masa gak percaya sama ibu, sudah kamu tidur saja, besok ibu jemput, ibu berangkat malam ini juga dengan ibunya Hana" ucap ibu


Saya tutup pembicaraan, saya rasanya susah tidur mau gak mau di paksakan. Walau hanya tidur sebentar. Saya masih gak nyangka perkiraan dokter tepat kata ka hesty, ka hesty pun katanya paman Kun.


Kok bisa setepat itu tante meninggalnya. Awal bulan pula, kemarin berobat ke kota ibu tinggal tante malah sehat-sehat saja. Masih kurang bukti paman Kun bisa menyerang istrinya sendiri lewat cara halus. Jadi saya masih tak percaya.


-------


Ibu menjemput pagi jam lima. Karena hari hujan perjalanan lambat sepanjang jalan tak ada teduhnya.


"Iya, baik orang nya mbak, gak bisa ngumpul-ngumpul kaya orang menceritakan orang lain maka nya tuhan sayang. Dia juga meninggalnya insha Allah enak karena itu tadi aku yakin di guna-guna suaminya atau mantan istri nya paman kun" ucap ibu


Lagi-lagi ibu mengulang cerita tentang paman Kun, sebegitu greget nya ibu sama paman Kun.


Saya, ka hesty, dan ka Ihsan hanya tertawa saja. Entah percaya atau tidak ka hesty dan ka Ihsan.


Sesampai di rumah tante, beliau belum di makamkan, sudah mandi dan berbalut kain putih. Saya melihat masih tak menyangka dunia serasa cepat berputar ketiadaan beliau.


Rasa menyesal ada juga kenapa saya tak percaya perkataan beliau selalu ingat kematian. Menyuruh saya berulang kali untuk cepat menikah.


Saya kurang peka waktu beliau terpuruk di selingkuhin atau di madu, saya waktu itu masih kecil jadi tau nya hanya main dan sekolah saja.


Ternyata beliau menyimpan begitu dalam kesedihan. Tanpa memperlihatkan ke saya kalau beliau itu sedih. Ternyata beliau selama di madu bercerita ke orang lain tiap malam menangis, saya tak mendengar dan tak melihat itu.


Saya kadang membantah apa beliau suruh. Seharusnya saya tak mendengar kan perkataan Datu tua itu, tapi mau gimana lagi penyesalan lagi-lagi selalu belakangan tersadar.


Teringat dulu lagi kecil teman sekolah di ajak main dan berteman mereka pilih-pilih, sehingga saya sibuk mencari teman yang mau care sama saya walau itu ganti-ganti. Tak ada yang cocok. Saya mau gak mau harus sedikit mengalah dan diam.


Saya takut ini terjadi ke saya di depan, tak ada yang peduli sanak saudara saat terpuruk. Saya merasa wajar kurang peka dulu karena masih anak-anak. Saya harus punya ambisi kuat mental saat terpuruk. Apalagi ada anak yang harus di Sandang.

__ADS_1


-----


Setelah di shalat kan, saya di suruh untuk menetap di depan mesjid, menunggu ibu Hanna, beliau sempat pulang kerumah anaknya sebentar.


"Ren, hayo kita ke pemakaman, cari Beca aja biar cepat" ucap ibu hanna.


"Terserah aja tante" ucap saya


"Kepemakaman berapa mang? Ucap ibu Hanna ke tukang Beca


"10 ribu saja bu" sambil ngomong ngos-ngosan pak tua tukang Beca nya.


"Yuk ren masuk Beca" ucap ibu Hana


"Ren, kamu dengar kan tukang becak nya mengayuh sambil narik nafas ngos-ngosan, jangan-jangan sesak nafas" ucap ibu hana


"Iya tante, emang beliau asma " ucap saya


"Sudahan saja yah, mana lambat ngayuh nya, tante stopin aja deh, gak tega kalau kenapa-napa mana sudah tua" ucap ibu Hana


Saya hanya terdiam bingung. Terus kepemakaman naik apa pikir saya , Beca lewat gak ada, sudah melewati gang rumah orang lain biar tembus cepat kepemakaman.


"Pak stop aja pak, sampai sini aja yah" ucap ibu Hana


" Kami jalan kaki aja, biar bapak istirahat aja dulu, ini ada uang lebih buat bapak berobat" ucap ibu Hana


Saya kaget terdiam apa masih bisa jalan kaki, apa masih jauh, malah sudah keburu di makamkan Tante pikir ku, malah ibu hana melaju berjalan. Saya mengikuti sambil lari-lari.


Ternyata ibu Hanna lupa-lupa ingat jalan tembusannya. Saya sendiri belum pernah lewat sini selama tinggal di sini dulu gang bisa tembus kepemakaman, ternyata di lalui tidak hanya rumah-rumah tetapi hutan. Ibu hanna melaju cepat tanpa bicara.


Saya benar-benar takut tersesat, awalnya beliau bilang agak lupa menuju jalannya. Akhirnya sampai juga beliau ingat saja, pantas jalan cepat.


Sampai kepemakaman tante sudah di kuburkan dan sudah di bacakan ayat suci. Orang-orang sudah pada bubar, hanya kami tertinggal sanak keluarga.


Saya waktu itu melihat paman kun, malah kasian. Tak ada lagi yang menemani nya sudah pergi selamanya.


Saya yang hanya diam membisu, tak bisa menangis. Hanya menangis di dalam hati, seandainya saya melihat proses pemakaman mungkin saya akan menangis.


------


Kami pulang mencari Beca yang benar-benar sehat, ibu Hana takut saja dijalan kenapa-napa lagi dengan tukang becaknya yang ngos-ngosan.


Sesampai di rumah tante, ibu bingung kemana kursi dan meja tante. Ibu ingin juga menanyakan masalah emas atau warisan alm. Ibu ke paman Kun, tapi suasana masih berduka. Ibu minta tolong menunggu 3 hari lagi untuk membicarakan masalah ini ke paman Kun minta bantuan keluarga lain.


Saya di suruh ibu jangan pulang dulu, saya menemani ibu selama di sini, saya sebenarnya malas, karena uang tinggal menipis. Tapi ibu berjanji cari uang buat makan sehari-hari dengan membuka jasa pijat.

__ADS_1


Ka Hesty dan ka Ihsan sudah pulang duluan, karena ka hesty punya anak balita, ka ihsan masih kuliah. Saya yang tidak kuliah dan hanya ikut ka hesty kerja, jadi saya di pilih ibu menemani, mau gak mau saya ikut.


Malu rasanya harus merepotkan ibu buat biaya kami sehari-hari ibu harus menerima jasa pijat, kami tidur tempat Nini samil atau ibu angkat nya samil. Mau tidur tempat alm tante, ibu takut dengan paman Kun. Takut terjadi apa-apa, jadi kami datang kesana seperlunya saja. Saat acara 3 hari kepergian almarhumah, ibu mau bicara ke paman Kun dengan dibantu teman ibu seorang ahli dalam bidang agama biasa di panggil ustadz. Agar tidak ada kesalahpahaman ada tokoh yang di ajak, ibu meminta bantuan soal warisan dan dibantu dua orang keluarga ibu paman daud dan nini samil.


__ADS_2