
Saya ke sekolah pasti dengan kebiasaan terlambat, ada yang guru menyuruh masuk ada yang tidak, jadi saya nunggu di luar , sambil nunggu jam pelajaran berikutnya.
Saat guru sudah keluar, saya senyum ke ibu guru, macem-macam karakter guru ada yang sinis ada yang balas senyum.
Sebelum guru datang pelajaran berikutnya, reysa menghampiri saya, dia mau mengajak saya ngobrol lagi.
Malah bercerita tentang teman laki-lakinya.
Saya hanya pendengar saja. Karena saya juga malas pacaran atau dekat lelaki, saya masih anak-anak. Bisa di bilang kami sudah akur tak ada mempermasalahkan yang kemarin.
---------
Saat semester akhir, bapak olahraga mengajak liburan ke kebun binatang tiap minggu atau hari minggu sebelum ujian, bayar nya 10 ribu. Saya pikir kesempatan saya bergaul dengan yang lain, sekalian refreshing.
Mencoba meminta uang sama tante, iuran tiap minggu liburan, yah tante mengizinkan, tetapi saya makai pakaian hanya itu-itu saja.
Kadang robek tak saya sadari. Jadi bahan ledekan anak laki-laki tiap minggu.
Mobil pak guru hanya satu jadi kira- kira muat 10 orang lebih, dan kadang campur dengan adik kelas. Siapa cepat daftar, dia duluan yang ikut, kadang tiap minggu harus cepetan daftar.
Saya ke kebun binatang meliat ular, buaya, burung kakatua dll. Pasti rame-rame. Saat istirahat lah pada berpencar.
Saya coba mendekati risa, cuma dia mencoba bisa dekat dan terdaftar ikut liburan, akan tetapi dia jaga jarak sama saya walau saya buntuti, saya mencoba ajak ngobrol. Tapi tak di hiraukan, dia bersama Mira adik kelas yang terkenal ortunya kaya di sekolah.
Saya mau berbaur lain sama saja tak di anggap. Saya sendiri duduk makan es krim potong, apa saya harus lanjut lagi liburan nya nanti pada kenyataannya begini, tapi saya tak menyerah saya mendekati yang mau bergaul dengan adik kelas lainnya. Mereka mau di ajak ngobrol.
Saya lanjut lagi liburan keminggu ke 4, yah saya di suruh duduk di depan oleh teman-teman. Duduk dengan anak lelaki yah teman satu kelas namanya reza. Karena penuh duluan mereka nempati berbaur dengan teman satu geng mereka, saya duduk di depan dengan Reza penuh sesak.
Mereka mengolok saya dengan Reza, saya hanya diam
"Za lo jadian aja sama Renna, udah cocok tuh??" Kata teman nya biasa bermain bersama nya
"Dungu kamu itu, aku di liat Mira, malu aku tu, ngapain juga aku suka sama ini anak, jangan ke gr an kamu!!" Ucap Reza sambil sinis ke saya dan teman nya.
"Mira, kamu dengar apa kata Reza tadi? "
Ucap teman Reza.
"Aku gak dengar kak, emang ucap apa kak Reza? " Balas Mira.
" Gak jadi deh mir, kamu masih kecil jangan dengerin Reza, hahahhahaha"
"Sontoloyo kamu ya" ucap Reza
Bapak hanya pendengar dengar ocehan anak-anak, tak begitu menegur mereka. Fokus menyetir
Ternyata saya gerak sedikit krak celana saya sobek, betapa malunya saya sama Reza dan bapak. Saya lepas jaket lalu saya tutupi.
Dari situlah saya jera tak ikut lagi liburan nya, mungkin mereka bahagia tanpa saya.
Tapi tak apa saya lega udah tau watak mereka benar-benar tak mau bergaul sama saya.
-------
Saya, bergaul dengan reysa dan marimar disekolah.
Marimar sering kerumah karena dia suka sama asisten tante yang laki-laki, dia masih muda namanya olik.
Olik ini jahil suka ganggu saya saat saya tidur dan saya jalan sedikit, suka becanda in saya, saya marah karena saya takut dia ngapa-ngapain saya. Apalagi saya naik bujang.
Saya sering ribut dengan olik, tante otomatis marahin saya daripada olik. Tante juga suka becandain kami.
"Kalau kalian ribut terus, tante nikahin mau? Ucap tante.
" Aku gak mauuuuuu, gimana tante saya bingung di ganggu nya terus " Ucap saya
" Kamu diam aja, apa susahnya" ucap tante
" jijik aku di ganggu nya terus Tan" ucap saya
Tante tertawa terbahak.
Saya tak bisa diam, karena ulah olik, suka kasih kiss, jijik saya liatnya. Saya harus lawan dan marah kalau tak dia makin jahil.
Takut nya kejadian tak diinginkan pikir saya.
Marimar datang, pasti marimar liat saya berbeda dengan di sekolah pendiem dan kalem, di rumah saya ribut sama olik.
__ADS_1
Tapi tak jadi masalah buat marimar yang penting dia bisa liat olik. Malah dia kadang ngobrol sama olik, saya biarkan saja yang penting marimar mau bergaul sama saya.
Saya pun kadang bilang ke olik, dia itu jelek, biar dia gak ganggu saya lagi. Olik marah dan mengejar saya.
Saya teriak " Tante tolong"
Olik baru menjauh. Sambil berucap
"Awas kamu nanti" mukanya benar marah.
Saya senang buat dia marah. Tante pun teriak dalam kamar,
" Nanti kamu saya jodohin sama olik, tunggu aja"
" Gak mau tante, aku mau sekolah dan masih muda" teriak saya.
-----------
Saya besok ketemu Reza di sekolah, dia menatap saya tajam. Lalu berucap .
" Apa ini, ya ampun jelek begini, dasar kamu jelek" Reza memandang saya.
Saya hanya diam dan tersenyum, omongan reza mungkin karena karma saya, saya suka bilang ke olik dan ayah dulu juga jelek.
Saya lega, karma sudah tunai, jangan sampai ke anak cucu membenci saya.
Saya pernah di takuti ibu, kalau saya berani sama ayah, anak saya nanti bakal berani, saya tak mau , inget itu mau nangis rasanya perlakuan saya ke ayah.
Setiap ketemu Reza, dia jijik dan bilang saya "jelek"
Lama-lama saya geram, tapi saya tahan emosi agar gak buat ulah. Saya senyummin dia, dia malah dia lari.
-------
Saat di rumah saya juga perlakuan bully tante, anak angkat nya, dan kaka tiri saya. Saya sering di suruh tante beli sesuatu saya kadang menolak, saya mau istirahat dulu.
Di suruh tante beli sesuatu tidak sesuai keinginan nya, saya di bully oon dan di tertawakan.
Semenjak tante berpisah sama om, tante jadi banyak merintah saya dan sering ngatain saya.
Sampai semua satu rumah ngatain saya oon. Mungkin karena saya kadang menolak , di suruh lamban tanggap dan dibeli tak sesuai. Tapi saya sudah bolak balik kurang di hargai juga, mau marah masih takut.
"Kalau kamu cape jangan dipaksa kan, nanti kamu kelelahan, harus berani menolak apa tante mu kamu suruh tak wajar" ucap datu.
" Tapi datu ibu suruh saya patuh sama Tante" balas saya
" Boleh kamu patuh, tapi di lawan kalau Tante merintah tak mau tau kalau kamu cape"
Saya terdiam dan bingung sambil senyum ke datu.
Dari sanalah saya berpikir kadang menolak permintaan tante, tante tak mau tau dan mengolok saya. Tapi kadang saya bertanya , apa saya tak tau diri?? Pikir saya.
" Oon belikan aku gorengan yang sambal pedas paham?? Kalau gak paham nanti Lombok aja kamu beli!!" Tante merintah sambil olok.
Saya dapat perlakuan begitu hanya diam. Mau mengatakan sejujurnya saya tak suka dikata oon tapi takut.
Anak angkat tante tak terlalu di urus lagi namanya didi. Sekolah nya pun berhenti kelas satu karena sering tak naik karena malas sekolah dan susah membaca.
Dia bolak balik ketempat keluarga om dan tante. Dia di tempat keluarga om di urus dengan manja, tempat mama angkat nya atau Tante saya tak begitu di hiraukannya.
Didi mandi pun malas dan suka main game sehari habis 50 ribu.
Tante begitu lemah untuk menegurnya, seharusnya tante tegas tapi tante malah tak tegaan. Dengan membiarkan dia main game, dan tak sekolah. Padahal tante orang berada.
Saya sering di suruh nya untuk rebus mie instan, tapi saya tak di kasih sedikit pun. Kalau saya lamban buat apa maunya, dia teriak nyaring.
" Mama.... Oon gak mau buatkan mie" teriak Didi
" Sssttt didi, saya bilang sebentar saja, kamu malah gak sabaran, nanti mama mu bangun" ucap saya
" Kamu pergi aja sana, pulang sana, ini rumah ku, kamu suka ngelawan apa kata ku, ku usir kamu" ucap Didi
"Hahahhahaha, kamu modallin saya pulang ke rumah saya." Balas saya
" Oon kamu itu, bisanya nyusahin aja di rumah ibu ku" ucap didi
" Kamu ngomong aku oon, gak aku bikinin Lo mie nya, kamu buat sendiri" saya marah kepada Didi
"Mamaaaaa" Didi teriak tak dihiraukan mamanya.
__ADS_1
Saya diamkan aja sambil ngejek lidah keluar, agar dia tidak manggil saya oon lagi.
Ternyata tak disangka, anak sekecil dia umur 9 tahun, didi mengambil pisau dapur ingin membunuh saya. Saya dikejar Didi, saya masuk kamar dan berteriak
"Tante didi bawa pisau, didi nakal"
" Kamu lebih baik mati saja, jangan ada lagi di rumah ku" ancam Didi
Saya tertawa karena lucu, badan saya gede dia kecil, jadi saya mampu menahan pintu agar didi tak masuk, pisaunya dan tangan nya udah masuk duluan sedikit lubang pintu.
" Didi kamu nanti di tangkap polisi, mau di penjara?? Malu in aja di penjara" ucap saya
" Biarkan yang penting kamu mati di tangan ku"
" Kamu masuk neraka, hahhaaha" saya sambil tertawa.
" Kamu duluan ke neraka, aku masih ada kesempatan tobat"
" Didi kamu kalau mau saya pulang ke rumah saya, saya bikin kan mie, taruh pisau mu atau aku ambil nih? "
Saya rebut pisau itu dari tanga Didi diantara jepitan pintu, didi menangis teriak nyaring. Gak saya hiraukan lalu saya bikinkan mie.
Dia lempar saya mainan, tak saya hiraukan lagi, baru mamanya keluar saat itu
" Didi kamu marah-marah sama renna, mama kawinkan sama Renna mau? " Tante coba cair kan suasana dengan becanda.
Didi tersenyum dan memeluk mamanya.
" Tante gak tau apa, didi bawa pisau ngejar aku, untung bisa aku rebut" ucap saya
" Makanya kalau Didi lapar, segera buatkan makanannya" ucap tante
" Saya dikata oon terus , saya tersinggung"ucap tante
" Kamu emang oon, apa-apa gak segera di lakukan, malah salah kamu lakukan" ucap tante
Saya hanya diam dan masuk kamar, saya mojok dan menangis tanpa ada yang tau.
Kadang bertanya, kenapa seolah semua banyak tak suka dengan saya. Tapi saya buang pikiran itu biar tak stress. Saya keluar rumah bermain sama anak-anak tetangga.
----------
Semilir angin di sungai sejuk dan indah. meliat pemandangan anak- anak bermain dengan suka ria becandaan mereka. Saya sering ikut bermain.
Kami sering main di sungai untuk berenang saat sore hari. Teman saya banyak anak laki-laki seumuran didi, anak perempuan kadang dua orang atau tiga orang. Satu orang tomboi.
Mereka berteman dengan saya tak gengsi, karena mereka tak satu sekolah jadi tak tau kekurangan saya.
Saya di gemari anak laki-laki karena saya suka senyum daripada banyak bicara.
Mereka sebut saya renna cantik. Tapi lama-lama kulit saya menghitam karena suka panas-panassan.
Sampai di katai tante saya ini lutung. Saya tak tersinggung malah saya suka. Biar olik ga ganggu saya kalau saya hitam mungkin dia risih sama saya. Tante terus ucapkan mau kawinin saya sama olik atau didi walau itu bercanda, saya gak mau itu terjadi beneran.
--------
Sebelum tante bercerai. Saya senang ada sepupu jauh, nginap tempat saya. Dia mau tinggal satu atap sama saya selama 1 bulan, karena adiknya meninggal.
Namanya ifat, ifat sebelum nya tinggal di kota nya bersama tante dan om keluarga bapaknya, dia tinggal memang di rumah nya sendiri, dia bercerita ke tante dapat perlakuan kasar. Ifat berdua adiknya aim jarang main keluar rumah, di suruh di rumah untuk belajar. Ortu ifat juga kerja di luar negeri tetapi sudah menjadi warga negara sana.
Waktu ifat nginap di rumah tante, ifat suka saya ajak main-main dan jalan-jalan kadang dibawa tante dan om tamasya keluar.
Ifat pandai bercerita dan bicara, sering saya ajak berenang juga, apa dia mau saya turutin, saya tak berani bantah, ifat juga mau belajar berenang.
Dia ikut juga kulit hitam seperti saya karena terik matahari.
Sebulan sudah dia di rumah tante, ifat pulang ke rumah nya. Ifat lalu pergi keluar negri mengikuti ortunya.
Tidak selang lama tante dan om berangkat umroh, saya diceritakan tante saya sering ajak main ifat jadi kulit ifat hitam. Saya di situ jadi merasa bersalah atau disalahkan.
Saya tinggal di sebrang bersama keluarga om, saya disana punya teman keponakan om anak piatu.
Asisten om di rumah ortunya sebrang. Tidak suka dengan saya, dia marahin saya. Mungkin dia iri saya di sayang adiknya om.
" Udah besar main terus, seharusnya kamu bantu-bantu di dapur" ucap asisten om
Saya pun cuek lanjut main sama keponakan om dan Didi.
Saya di rumah keluarga om, di sinisin asisten om. Kata Tante saya dia bekas stress. Jadi diamin aja. Beliau sudah tua juga, gak mungkin juga saya melawan.
__ADS_1