
Di usia ibu tak muda lagi, dapat Khabar bahwa ibu sedang hamil. Saya bingung dan kaget, saya yang anak bungsu atau terakhir ibu berkata ke orang lain. Cukup sudah punya anak. Kalau Tuhan berkehendak ibu hamil lagi.
Saya dapat Khabar tersebut rasa senang, impian saya dulu mau punya adik nanti bisa jadi teman saya, Kaka-kaka saya sibuk dengan teman-teman nya, jadi saya kalau di ajak main pun tak di hiraukan malah di ajak adu berantem.
Saya gak sabar menunggu kepulangan ibu, setelah adik lahir ibu dan ayah bakal pulang. Di tambah adik kecil. Tetapi saya jarang sekali di telpon ibu, hanya Kaka saya yang sering ditelpon. Kalau nelpon tante saya, saya gak dikasih oleh tante hp nya, cuma dikasih tau doang ibu menelpon.
" Ren, ibumu sudah melahirkan, rena punya adik nih." Ucap tante
"Apa adik saya tan, laki-laki atau perempuan?" Tanya saya
"Perempuan lagi, kamu cepetan cuci piring nya, piring sudah habis di rak!!" perintah tante.
"Saya punya adik perempuan pasti cantik, nanti kaka bakal sayang-sayang" gumam saya sendiri an, saking bahagia nya.
Semua Kaka saya sudah tau kelahiran adik saya.
---------
Saat ke sekolah sudah kelas 8 smp, saya mulai bisa bercanda sama teman-teman duduk dibelakan dan samping yang suka jahil. Jadi saya tidak kesepian.
Saya berbaur dengan teman yang mau menghargai. Saya pun bisa jalan-jalan sore mampir ke rumah mereka. Jadi tau daerah perkampungan ibu saya tinggal dulu, hanya menggunakan sepeda baru. Kadang mor sepeda saya hampir lepas bagian duduknya, jadi sering beli mornya. Mungkin keluar ran baru kurang kuat, beda sepeda yang dulu hilang itu kuat kalau di bawa jalan-jalan jarang lepas mornya.
Saya terpaksa cari uang tambahan buat betullin sepeda, dari jual botol bekas jual anting, tante saya sering kasih saya anting, sering hilang saat saya pakai nyangkut di tudung. Keseringan hilang cuma satu biji saya jual saja. Dan tak mau lagi lanjut pakai anting.
--------
Melewati pedesaan yang masih asri, naik turun jalanan, seperti perbukitan melewati sawah, ladang, sungai air mengalir, meliat orang kerja puya ( cari serpihan emas di sungai).
Sangat indah di pandang, kalau di kota belum pernah melihat pemandangan ini.
Kami jalan-jalan hanya singgah di sungai mengalir jernih ada bebatuan kerikil, kami hanya sekedar cuci muka dan kaki saja. Tak berani mandi karena sepi tak ada orang lain.
__ADS_1
Kami walau disekolah kurang gaul, kurang dekat berteman laki-laki. Beda sama teman lainnya nongkrong dan bergaul dengan anak lelaki.
Kami tetap ada jiwa petualang juga. Saya senang bisa ada teman mengajak jalan-jalan, kadang bertamu ke rumah mereka dengan senang di suguhkan minuman manis dengan ketulusan nya.
Tetapi itu hanya sebentar saja, karena saya mau pindah tahun depan. Mereka baik mereka mau berteman dengan saya tanpa harus ingin menyisihkan saya.
Dulu belum ada kenangan foto, karena dulu adanya Kodak dimiliki orang yang berada, punya tante ada tetapi sudah rusak.
Kadang saya suka membawa balsam kesekolah dan minyak kayu putih untuk meredakan batuk pilek saya, anak kecil perawakan kecil di belakang saya dia sering bercandain saya, dengan gurauannya.
"Dasar ratu balsam, bau balsam, emang kamu gak minum obat" ledeknya
" Kamu ku oles balsam yah kalau kata begitu lagi, aku minum obat lah, tapi yah tetap begini aja, kamu diam sssttt malu aku" ucap saya
" Gak bisa diam aku, kamu bawa balsam terus" ucap nya
Dari situ saya jarang memakai balsam, malu juga diketahui orang lain kalau saya bau balsam terus.
--------
Teman saya bermama Sanny bahagia tertawa lepas saya di bully satu kelas. Sanny dikenal kalem ini ternyata dia gokil juga, jutek dan mudah ngambek kan.
Ternyata awal kenal salah menilai kalau baru kenal biasa aja keliatan kalem, kalau udah kenal keluar jahil dan juteknya.
"Ren saya kenal dekat dengan keluarga harya, kamu mau saya comblangin" teriak Ika (teman satu kelas 8) .
Hahahahha, teriak teman satu kelas.
" Gak kok ka, saya gak suka sama dia, cuma kagum aja ketampanan nya" ucap saya
" Apa bedanya nih teman-teman kagum atau suka? " tanya Ika ke teman satu gengnya.
__ADS_1
Saya hanya senyum-senyum saja. Mau marah ke Sanny, saya mikir tambah konyol ditertawai mereka.
Sampai terdengar ke telinga harya, saya menyukai nya, tetapi harya malah menghindar geli sama saya.
Jujur saya malu tapi hanya di pendam, lagi-lagi Sanny mengejek saya.
" Ren itu harya lewat, cieee" ucap sannyq
hahahahahha lain tertawa
Saya hanya senyum diam, menunduk malu, ingin kasih tau juga ke lain bahwa Sanny juga menyukai Kaka kelas yang lain. Takut Sanny tambah ngambek, sebelum nya dia tak mau bicara sama saya.
Biarlah dia yang bahagia, saya yang salah kenapa saya beberkan ketemannya namanya iin. saya kira Iin juga kalem hanya saya dan Iin yang tau.
Ternyata salah juga penilaian saya terhadap Iin, Iin ini jarang masuk kelas karena sering sakit, sama gokil nya juga. jadi saya kira aman rahasia kami bertiga yang mengagumi Kaka kelas.
Sudah lah saya pasrah sama keadaan, saya akui saya memang kekanakan bodoh, oon, dan lamban. Tapi saya jujur, tak seperti lainnya pintar sandiwara dan bertopeng keliatan dewasa. Tetapi aslinya munafik.
--------
Diumur 14 tahun, saya memang seperti kekanakan, mudah sedih mudah juga gembira apabila ada teman-teman yang mengajak bermain dan jalan-jalan tanpa ejekan menyudutkan. Ada masalah rasanya tak begitu larut di pikirkan.
Saya bilang mau pindah kelas 9 nanti kekota saya asal tinggal. Mereka bilang jangan lupakan kami, mereka dari Ferli, lili, ana, dan megi.
Hanya ferli dan ana keliatan gaul bisa kenal tongkrongan lelaki di luar sekolah, kalau di sekolah mereka berteman kami saja.
Saya memang orang kota, tetapi sering di ejek pakaian saya hanya itu-itu saja seperti orang kampung. Walau disini dikata kampung tapi fashion mereka tak ketinggalan bagi yang muda mudinya.
Saya malu minta belikan baju ke ibu dan tante, ibu pun tak kirim uang. Tante sering ngeluh ibu janji ngirim uang ke saya tapi berucap utang.
Padahal Tante ambil warisan nini dan kayi tanpa ibu dapat seperserpun. Tak ibu ungkapkan takut terjadi perselisihan.
__ADS_1
Saya terlihat apa adanya, tak begitu menarik. tambah lah hinaan , ejekan lengkap sudah, tetapi saya punya paras yang lumayan.
Di goda teman-teman Kaka saya, saya tak begitu suka. Mereka hanya ingin menertawakan saja agar ada hiburan pertemanan mereka.