
Saya lulus SMP dengan nilai termasuk rata-rata jadi mau masuk sekolah favorit masuk nilai standar.
Saya mau masuk sekolah favorit SMK cantik tapi harus ikut tes tertulis. Ibu meminta kak hesti membantu saya agar lulus karena kak hesty alumni disana.
"hes, bantu adikmu masuk sekolah sana, persaingan nya sekarang banyak, kamu harus bantu dia, coba kamu dekati guru kamu dulu" Ucap ibu
"Dia kan udah besar urus sendiri lah, masa saya yang urus, saya aja dulu urus sendiri, saya lagi sibuk mah, kalau dia gak lulus yah emang salah dia. Kenapa kamu jadi orang oon" kak hesty menunjuk saya
"Gak usah aja Bu, kalau gak lulus kan bisa saya daftar sekolah lain, saya coba sekolah tempat ka Ihsan aja SMK akuntansi juga tapi tak sepopuler sekolah SMK cantik alumni ka hesty dulu" ucap saya.
" Terserah kamu saja, minta tolong sama kaka kamu, ka Ihsan" ucap ibu
" Gak usah Bu, saya urus sendiri saja, walau gak lulus gak apa-apa, kan masih ada sekolah swasta lain" ucap saya
" Apa swasta lagi, kamu ini, coba cari sekolah negri yang lain, ada-ada saja kamu ini ren, jangan lagi kamu masuk sekolah yang terbuang kaya kamu dulu sekolah Mts, mikir dong ren jangan oon mulu" ucap ibu
"Emang kenapa Bu, terus saya mau masuk sekolah mana lagi? Yang lain pakai tes" ucap saya pesimis
"Nanti ibu tanya kak Ihsan, siapa tau dia mau membantu" ucap ibu
Saya kembali lagi menangis di pojokan, ibu yang jarang marah jadi marah dengan hal serius, apa salahnya saya kalau pasrah masuk sekolah terbuang, memalukan di mata keluarga, tetapi saya ada teman sebaya yang saling menghargai.
Saya ikut teman kalau kami gak lulus di SMK cantik, saya dan dia masuk SMA swasta.
Ibu mencoba bertanya ke Ihsan untuk bantu saya daftar ke sekolah kak Ihsan, tetapi malah ka Ihsan menolak, malangnya nasib saya.
"Ihsan, kamu bantu adikmu masuk sekolah kamu tempati, biar dia lulus, ibu gak mau dia masuk sekolah terbuang lagi" ucap ibu
"Jangan Bu kalau sekolah saya, mending masuk Ma aja bu, itu sekolah favorit juga, dekat lagi Bu" ucap ka ihsan
"Gimana ren kamu mau?" Ucap ibu
"Gak mau Bu, saya gak punya teman, lagian pake tes juga, saya dulu aja gak lulus Mts dikampung, apalagi ini Ma di kota Bu" ucap saya pesimis
__ADS_1
"Kamu ini ya, coba dulu apa, kalau gak lulus bisa kamu sekolah yang terserah kamu saja, aneh-aneh saja kamu selalu saja suka masuk sekolah terbuang" ucap ibu
"Udah coba aja ren, kamu jangan masuk SMK tempatku, jauh" ucap Ihsan
" Bilang aja, kamu gak mau bantu aku daftar di sekolah mu, biar kita gak satu sekolah kan bahwa aku ini adik mu" ucap saya kesal, lalu menjauh
Ibu dan kak ihsan membicarakan untuk segera kak Ihsan ambil formulir pendaftaran di ma, saya yang malas daftar dan tak tau lagi gimana mau daftar kesana.
-------
Kak Ihsan datang dan menunjukkan formulir pendaftaran dan ada seleksi pendaftaran juga.
" Saya nanti tesnya sama siapa Bu?? Saya malu gak punya teman" tanya saya
" Nanti ibu suruh ayah kamu saja nganter" ucap ibu
Saya merasa senang dan sedih juga, daftar sekolah favorit tetapi saya harus berpisah dari teman di SMP dulu. Masuk sekolah di sini saya harus memulai cari teman baru. Senang nya juga ibu, ayah, dan kak ihsan mau membantu.
-------
Mereka sudah bersatu mencap saya kurang baik. Ibu, ayah, Kaka, Tante, sepupu, dan tante. Mungkin saya harus rubah sikap lebih kalem lagi.
Semua berawal dari saya tinggal di kampung. Apa saya masih dianggap orang asing. Anak angkat beliau malah menurut saya lebih parah dari saya, dia malas masuk sekolah, dan meminta uang lima puluh ribu perhari, tapi anaknya tak di katai apa-apa malah manjanya makin menjadi-jadi.
Ka Ihsan selalu menghilangkan uang tante, dan buat usaha tak begitu di hiraukan nya pun tak di katai apa-apa. Malah tante memanjakan mereka seolah mereka patut tinggal dengan tante, apa saya gak patut juga tinggal di kampung tersebut.
Saya gak habis pikir dengan mereka, untung masih di anggap keluarga dengan segala tindakan mereka buat geleng-geleng, didi dan ka ihsan bukan anak kandung tetapi didi belum tau bahwa dia bukan anak kandung karena di sembunyikan.
Saya yang hanya karena menolak permintaan tante, apa maunya harus di cari, kalau belum dapat harus sampai dapat. Padahal kalau dapat saya sering membantu diperintah tante.
Tetapi saya sadar lagi-lagi saya hanya benalu saja. Sebentar lagi saya bakal di jemput ibu dan ayah pulang kekota.
Lama-lama saya mulai menerima dengan perkataan oon di benak mereka. Tetapi itu tak berlangsung lama. Karena kak hesty punya pacar yang bisa menegur ka hesty untuk tak mengatakan adiknya perkataan tak baik didengar orang lain.
__ADS_1
Perlahan ia hesty mulai mengubahnya termasuk Kaka dan ibu, ayah juga. Untuk tak mengatakan saya, tetapi Kaka sepupu lain masih mengatakan saya.
--------
Saya lulus di Ma, saya benar-benar gak menyangka. Di kampung Mts tak lulus, kok bisa di ma lulus, mungkin karena sekolah ma di kota tak banyak sekolah agamanya, saya dengar semua yang daftar walau dia lulus SMP pasti lulus nilai mau standar atau tidak tak jadi masalah.
Saya senang karena ini sekolah favorit satu-satunya tetapi sekolah agama. Saat masuk sekolah saya rasa malu-maluin yang lain pakai tudung, saya tidak, karena pakaian Seragam sekolah tudung saya di cari sudah tak ada. Minta tolong ibu dan ayah untuk belikan pakaian tudung tapi ayah tak menghiraukan, sedang kan kak hesty juga tak menghiraukan ibu juga.
"Ren uang ibu habis buat sekolah pendaftaran mu, maafin ibu gak bisa belikan pakaian tudung, untuk sementara kamu pakai pakaian SMP kamu yah, ni kan cuma OSIS kalau kamu gak ikut ntar ngulang tahun depan" ucap ibu
"Iya bu gpp, saya bingung baju saya yang pakai tudung waktu SMP kok gak ada yah, apa ada ibu kasih ke orang??"
" Ibu lupa nak, mungkin ada" ucap ibu
Ibu saya suka memberi pakaian bekas yang tak dipakai lagi kekeluarga tak mampu. Ibu saya sangat baik, tak begitu menyayangi pakaian. Menurut ibu nanti ada saja rezekinya buat beli lagi yang baru. Ibu juga bagi dua dengan ka hesty buat biaya masuk sekolah saya.
------
Saat masuk osis hanya saya sendiri jadi pusat perhatian tak pakai tudung, yang lain pakaian hitam putih, saya pakaian SMP. Saya siap malu dan di tegur besok harus pakai pakaian tudung. Paling setelah ini saya ka hesti mau belikan saya baju untuk osis.
Kak hesty mau gak mau harus membeli pakaian buat saya agar seragam. Tetapi malah ka hesty mencari pakaian bekas nanya ketemannya untuk saya, menurut nya sayang beli, hanya dipakai 3 hari.
Saya bahagia ada teman yang memahami dan bertanya.
"Kamu seperti saya dulu, saya waktu OSIS Mts saya pakai pakaian SD hhhee, maklum saya dari kampung kekota jadi bingung juga kaya kamu, emang kamu gak baca pengumuman nya pakai pakaian apa saat OSIS? Tanya teman saya satu grup saat pelatihan OSIS yang bermam Yayu.
" Gak tau" ucap saya berbohong, padahal saya tau tapi ibu tak ada uang, kak Hesty dan ayah gak menghiraukan.
" Ya sudahlah gak apa-apa, jadi kenangan indah saat osis hahahaha" ucap yayu
"Benar juga yah ,hhahaaha" ucap saya.
Saya hanya akrab dengan Yayu, dia enak diajak ngobrol dari yang lainnya, yang lainnya anggap saya orang asing, mereka ternyata masuk sekolah itu alumni Mts yang sama daerah kota, makanya ada orang baru di anggap asing, karena mereka sudah ada teman soulmate nya.
__ADS_1