
Kami pagi-pagi ke rumah alm.tante ada kayi atau paman ibu, beliau kayi dikenal waria dan pernah di bicarakan teman saya dulu waktu SMP, waktu dulu saya hanya diam saja, ngomong pun percuma tak ada yang membela.
"Kayi, sudah makan? Kayi katanya sakit" tanya saya melihat kayi rebahan seperti tak terurus, seandainya saya berani tinggal di rumah ini. Saya akan menemani kayi. Tapi ibu gak mau karena takut dengan paman Kun.
Kayi hanya menangis, tak menjawab pertanyaan saya. Beliau hanya menunjuk ke kamar tante, mungkin beliau merindukan tante. Saya rasanya mau menangis tapi saya tahan. Ibu hanya menceritakan ibu mau mencari uang untuk kami sementara di sini sampai 7 hari.
"Kayi, maaf Ulun jarang di sini, saya sambil jasa pijat juga kayi, kayi kalau mau makan, bilang saja. Nanti kami belikan kemauan kayi" ucap ibu
Kayi hanya menggeleng menangis, mengingat tante sambil menunjuk ke kamar lagi.
"Kayi, ini ada kue basah kayi makan yah, saya buatkan teh buat kayi, kayi minum yah" ucap saya.
Lagi-lagi kayi menggeleng tak mau. Tatapan kayi mulai keliatan kosong. Kayi begitu terpukul kehilangan sosok tante. Seperti nya kayi lebih sayang tante dari ibu. Tante dia walau cuek dulu tetap ada di hati kayi.
"Kayi, kami tinggal dulu yah, kalau ada kun nanti kayi bicara saja apa unek-unek kayi" ucap ibu
Kami pamit ke kayi tinggal sendirian, kayi memang sakit. Tapi beliau masih bisa jalan dan duduk, kadang kami datang kerumah tante kayi sudah tidak ada, entah beliau jalan kemana.
Ibu kerumah orang, untuk jasa tukang urut sambil ibu menceritakan paman Kun. Saya kasian liat ibu ingin sekali dapat emas peninggalan Nini bisa diambil ibu dari tangan paman kun, tapi nyatanya paman Kun hanya cuek dan sering tak ada di rumah. Mau bermalam pun kami tak berani.
--------
Besok hari kami mencoba lagi pagi-pagi siapa tau ada paman Kun, ternyata ada, ibu pun mau berbicara ke paman kun, menanyakan emas peninggalan tante.
"Kun, maaf kalau saya nanya soal harta adik aku, adik saya dia punya usaha, saya tau dia pasti tak menjual perhiasan dari peninggalan mama kami, kamu tau sendiri kan ortu dulu masalah emas bisa awet sampai ke anak cucu. Apalagi adik saya, saya paham betul dia suka mengoleksi emas" ucap ibu
"Emas nya itu udah di jual buat bayar hutang usahanya dia, jadi tak ada lagi saya mempunyai emas, makanya saya jual kursi dan meja kayu jati ini seharga 1 juta murah kan, belinya aja dulu 3 juta lebih. Kan emasnya sudah di jual di pake buat berobat istri saya" ucap paman Kun
"Maaf sekali kun, pembicaraanmu berbeda dengan adik aku, adik aku kemarin cerita waktu berobat ke tabib emas dari ibu kami masih utuh. Dia juga berpesan ke saya untuk ambil ke kamu. Maaf sebenarnya gak pantas saya bicarakan ini apalagi kuburan adik masih basah, tapi saya juga butuh hidup tinggal di sini sampai 7 hari makanya saya sambil pijat orang sini" ucap ibu Pelan agar paman Kun tak salah paham
"Saya sudah bilang, hanya saja adik kamu tidak tau, kan saya yang pegang, saya bingung disini yah kenapa sertifikat rumah tak ada, apa ada yang mengambil sertifikat rumah ini" ucap paman Kun geram
"Aku gak tau Kun, buat apa aku ambil sertifikat rumah, toh rumah ini bakal jadi milik Ihsan atau Didi" ucap ibu berbohong
"Dengar ya, camkan ini rumah sudah di hibahkan istri saya ke saya, jadi kalian gak berhak, apalagi Ihsan dan Didi bukan anak kandung, mereka saat istri saya sakit, mereka cuek saja jarang sekali menjenguk" ucap paman geram mau marah
"Aku soal itu kurang tau, makanya aku bilang ke kalian berobat saja di tabib kemarin sampai selesai jadi kami bakal gantian menjaga " ucap ibu
"Kalian kalau mau nuntut rumah ini, silahkan saja, saya punya pengacara yang handal mengerti masalah hibah rumah ini" ucap paman Kun
"Kamu gak boleh gitu Kun, dimana nanti didi dan Ihsan tinggal, Ihsan hanya menyewa saja tempat tinggalnya" ucap ibu berkilah
__ADS_1
"Kamu dan lainnya gak berhak, saat ada maunya datang kesini, saat istri saya sakit kalian jarang menjenguk" ucap paman Kun geram sambil berjalan ingin keluar dari rumah ini tak pamit.
Saya liat kejadian itu hanya terdiam saja, ternyata memang benar paman Kun hanya ingin hartanya tapi masih bingung apa paman Kun punya ilmu hitam bisa menyantet orang. Tapi ibu masih kuat selama ini, saya pun takut di apain juga.
"Ren, kita pergi aja dari rumah ini, ibu mau cari bantuan teman ibu buat menyadarkan paman Kun" ucap ibu
"Terserah Bu, aku gak berani tinggal di sini sendirian" ucap saya
"Kamu ikut saja dengan ibu, kamu gak usah risau Masalah biaya ongkos makan dan jalan insha Allah ada rejeki nya" ucap ibu
------
Kami mencoba pergi ke kantor pengadilan, ingin tau apa saja syarat tuntutan rumah dari warisan. Ibu yakin bakal jatuh ke tangan ibu secara menurut agama harus jatuh ke tangan keponakan, karena Tante tak punya anak kandung hanya punya anak angkat.
Saat tiba di kantor pengadilan agama. Kami hanya bertanya saja apa bisa jatuh ke tangan ibu rumah tante kalau paman kun menuntut.
"Silahkan Bu duduk, ada yang bisa saya bantu" ucap pegawai kantor pengadilan tersebut
"Begini pak, saya punya adik sudah alrhumah sudah 5 hari yang lalu baru saja meninggal, jadi saya di sini mau mencoba menuntut rumah adik saya ini, dia kan punya rumah dari usaha dia sendiri bersama mantan suaminya mereka menikah 15 tahun. Karena sudah bercerai rumah itu jadi milik adik saya. Nah adik saya punya suami lagi baru menikah 7 tahun. Nah suaminya mau menuntut juga dia sendiri yang bilang rumah tersebut mau di hibahkan adik saya ke suaminya terakhir ini. Saya tak percaya karena tak ada bukti dari ucapan adik saya atau saksi, kalau seandainya ada surat tertulis saya yakin itu palsu. Sedangkan adik saya punya anak angkat satu, mempunyai Keponakan 5 orang" ucap ibu
"Ibu begini yah, saya tulis. Mantan suaminya ada bantu terdahulu kan masalah pembangunan rumah tidak usah dibahas, karena sudah di diami istrinya sudah lama kan setelah bercerai dan dia juga sudah mengikhlaskan itu rumah milik istrinya walau mereka cari uang bersamakan untuk membangun rumah" ucap pegawai pengadilan tersebut.
"Iya benar pak" ucap ibu
"Lah kalau misalkan rumah gak di jual jadi milik bersama? " Tanya ibu
"Iya Bu, lebih baik begitu. Apa mau saya bagi hasilnya berapa-berapa setiap hak waris seandainya rumah itu di jual" ucap pegawai pengadilan tersebut
"Enak saja dia dapat, bekerja pun adik aku yang punya usaha, kerjaannya pun suami nya gak jelas. Waktu adik aku sakit saja dia menggantikan usaha adik aku. Seharusnya kan menurut agama yang dapat keponakan kannya saja itu dari saudara kandung, nah anak angkat hanya hibah saja dari kami hak waris" ucap ibu geram
" Begini Bu, kami di sini bukan hanya terkait masalah ruang lingkup agama saja, tapi liberal, siapa saja yang ada dalam kehidupan adik anda itu ada juga pembagian hak warisnya, mereka juga berperan masuk dalam kehidupan adik anda walau tak sedarah atau sekandung" ucap pegawai pengadilan tersebut
"Ya sudah kalau tak berpihak ke kami, kami gak jadi nuntut, kami tuntut secara kekeluargaan saja" ucap ibu
"Terserah saja bu, saya menjelaskan gambaran nya saja dulu" ucap pegawai pengadilan
"Lagian adik saya ada mengambil emas warisan ibu saya, saya tak dapat bagian dari adik saya. Dia berkilah emas nya di pake buat biayain keponakan 1 orang dan anak angkat, tapi buktinya anak tiri saya bekerja dengan adik saya dari situ dia dapat duit buat biaya sekolah dan jajannya. Sedangkan anak angkat nya mantan suaminya yang banyak kasih jajan, anak angkat nya pun berhenti sekolah" ucap ibu
"Ya emas itu bagian adik anda juga, karena dia juga membantu biayain anak tiri ibu juga" ucap pegawai pengadilan negeri
"Saya yakin emas ibu saya masih ada, karena adik saya suka koleksi emas, dia sayang kalau menjual emasnya, emas banyak dia koleksi saya liat sendiri, sedang kan suaminya ini tak mengaku emas adik masih ada, dia bilang di pake buat berobat, wong adik saya berobat baru beberapa bulan saja saat sudah parah. Sebelum nya adik saya tak berobat" ucap ibu geram
__ADS_1
"Kalau masalah emas kan barang nya gak keliatan, jadi apa bisa di tuntut, kan bisa tau sudah suaminya jual, sedang kan rumah kan pasti keliatan masih ada yang nempati" ucap pegawai tersebut
"Ya sudah terimakasih penjelasan nya, kita pulang yuk ren" ucap ibu
"Iya Bu" ucap saya
"Jangan-jangan komplotan paman Kun dengan dia ren, bukannya berpihak yang baru datang mau minta tolong, malah berpihak ke paman Kun" ucap ibu
" Mungkin sudah keduluan paman Kun kesini yah Bu" ucap saya
"Ibu juga gak duit mau nuntut buat bayar pengacara, ibu mau ketempat teman ibu saja, dia seorang tokoh ustad terkenal dia sekolah di Arab sana. Paman kun juga berani nentang kan kemarin mau nuntut di pengadilan" ucap ibu
"Terserah Bu" saya ikut saja
Kami kepengadilan agama naik angkutan, kalau naik becak lumayan mahal. Ibu dan saya pulang nya pun menunggu angkutan lewat. Sampai sore jarang ada angkutan. Kami sambil jalan sambil menunggu siapa tau ada angkutan lewat.
-------
Ibu minta tolong ke temannya untuk meminta kesadaran paman Kun, bahwa secara agama rumah itu milik kami keluarga kandung nya ya pasti hak waris keponakan tante.
"Begini tadz, anda ahli ilmu agama, anda pasti tau kan siapa hak waris menurut Alquran dan hadist, apalagi adik saya tak punya anak kandung yang berhak pasti keponakan yang saya tahu" ucap ibu
"Begini, saya tau suaminya ada juga pembagian nya, tetapi tak banyak, ahli waris sebenarnya Keponakan nya sendiri" ucap ustad teman ibu
" Tuh saya tau masalah ini, cuma atau hanya di bangku Ma saja ilmunya, tapi orang sekarang mengikuti keputusan pengadilan yang tak sesuai syariat agama" ucap ibu
" Sebaiknya coba bicara kan kekeluargaan dulu, baru kalau dia tak terima dan dia ada bukti kuat silahkan dia ajukan ke pengadilan, memang rumit kalau masalah warisan ini, bagaimana pun itu hak ahli waris keponakan nya" ucap ustad
"Iya sebenarnya saya malas berebutan harta warisan begini yah tad walau ini hak anaknya dan keponakan nya, takut gak berkah, tapi apa saya lanjut atau coba dulu di perbincangkan tad, kalau sertifikat rumah sudah di simpan anak tiri saya. Insha Allah tidak saya kasih, tapi kalau emas bagaimana yah ustad? disana ada peninggalan alm.ibu saya juga" ucap ibu
"Tetap kamu diskusikan secara kekeluargaan, nanti saya bantu, biar dia lebih paham masalah hak waris" ucap ustad
"Terimakasih banyak yah ustad, semoga ustad di lindungi Allah" ucap ibu
"Aamiin, ia gak apa-apa tugas kami bukan nya mau ikut campur. Tapi mencoba meluruskan saja, di coba saja sebagai peingat, saya sendiri pun juga butuh pengingat dari orang lain. Jadi sama-sama belajar" ucap ustad
"Kalau begitu besok pagi yah ustad, pagi-pagi habis sholat subuh bisa? Dia pasti ada setelah dari sholat berjamaah agak pagi jam 6 man tad" ucap ibu
"Insha Allah, baik-baik" ucap ustad
"Kalau begitu kami permisi, ucap ibu"
__ADS_1
"Assalamualaikum wr.wb" ucap kami
Kami beranjak pergi dari kediaman rumah tersebut tak jauh dari rumah tante, kalau berjalan kaki lumayan jaraknya 2 km.