Dibalik Senyuman Indah

Dibalik Senyuman Indah
Ilfil berteman


__ADS_3

Saya murid baru kelas 5 sd, saya harus memperkenalkan diri. Baru ini di suruh maju depan kelas. Malu rasanya, ada yang natap sinis, ada yang natap senang, ada yang natap lucu karena ada teman laki-laki juga murid baru. Kita berdua gak saling kenal, lucunya kenalan di depan kelas jadi bahan tertawaan


" Selamat pagi aku Renna" aku sambil senyum dan menunduk


" Kenalan sama di samping mu, siapa namanya ren? " ibu guru menunjuk murid baru tersebut.


" Gak tau Bu" jawab saya


Semua sontak tertawa.


" Kamu gak kenal? kirain ibu dia temanmu, kalian barengan masuk kelas" ucap ibu guru.


" Gak kenal Bu" jawab saya


Saya duduk bangku belakang dengan Nunu, dia ini susah di ajak ngobrol, tapi ada mau nya dia baru berbicara. Belakang terakhir ada Ani dan Kiki mereka berdua suka bercanda, suka melihat mereka berbicara yang lelucon.


Ani paling enak di ajak ngobrol daripada Nunu dan Kiki, kalau kiki bisanya bentak ani.


Saya pun pulang sekolah berteman dengan Ani, ani alibi kalau ajak jalan saya agar di ijinkan ibunya karena saya anak baru, tak tau alasan apa agar ani bisa ijin keluar rumah.


Tapi itu hanya di awal di ijinkan, lama-lama saya jadi bahan kambing hitam ani terus terang ke ibunya, padahal ani yang ngajak saya jalan-jalan.


" Kamu ini jalan terus ajak ani, aku sudah kasih tau ani untuk diam di rumah, alasan nya macam-macam, aku gak percaya, anak gadis seharusnya di rumah saja bantu ibunya. Emang mana ortu mu, jadi kamu gampang keluyuran?" Bentak ibu Ani


" Ortu ku gak ada di sini, saya tinggal sama tante,  permisi kalau gitu ibu ani. Saya mau pulang saja"  segera saya pulang, malu rasanya di marahin ibu ani


Mau nangis tapi malu, dijalan sambil mengayuh sepeda kencang. ternyata saya dimanfaatkan ani untuk bisa main keluar rumah.


Tidak hanya ani, ada lagi mella, tapi mella sangat jauh rumah nya, tak apalah jadi tau perjalanan kampung halaman ibu. Sekalian refreshing.


Menjemput mella, rumahnya kayu rapuh. Tetapi mella kalau pakaian seperti dewasa. Ternyata dia mau bertemu teman lelaki nya.


Saya dimanfaatkan lagi, tapi tak apalah  jadi tambah teman walau itu teman lelakinya.


Saya juga di suruh jemput ani, ibaratnya ojek mereka, saya posisi bingung, kata mella jemput ani di sebrang rumah nya, biasanya ani belanja di sana. Jangan sampai ibunya tau.


Saya iyakan saja, daripada saya tak punya teman. Ternyata mella jalan sama teman lelakinya, saya dan ani di suruh nunggu di depan rumah temannya. Kami di sana main-main.


Saat mella pulang dari jalan-jalan sama teman lelakinya. Ani marah.


"Kamu bukan ngajak main, malah jalan sama pacar mu?, Aku mau pulang nih, nanti di cari ibu ku" ucap Ani ke Mella, ajak ani ke saya untuk pulang.


" Pulang saja, ibu mu kan galak, aku padahal  mau ngajak kalian ke rumah ku makan buah asem-asem, tapi kamu buru-buru pulang" ucap mella


"Gak usah, yuk ren antar aku kerumah ku" ucap Ani ke Mella lalu ajak ani untuk pulang ke saya 


Mella juga mau pulang, dia berkata "Selesai dari tempat Ani, antar aku pulang juga yah ren!!"


" Iya iya, ya udah aku antar Ani dulu" jawab saya


Ani mengomel sepanjang jalan, dia yang mengayuh sepeda nya, saya kurang mendengar karena gemuruh suara jalanan. Cuek saja apa dia bicara kan. Perawakan ani yang besar, saya gak sanggup bonceng dia, ani sendiri yang inisiatif bonceng.


--------------


Waktu jam istirahat, suara lonceng berbunyi. Teng teng teng.....


Saya mendekati ani untuk makan di kantin, Ani tak menghiraukan, dia dan nunu berlari sedikit menghindari saya.


Mella juga menghindari saya, bingung mau berteman sama siapa, malu juga berteman dengan yang lain.


Saya sadar tak ada bedanya saya dengan sekolah saya dulu di kota, berteman di awal lalu nanti di jauhi, kalau  berteman ada maunya saja mereka, kalau gak ada maunya saya di jauhkan atau mereka gengsi berteman.


Saya jadi bahan perbincangan karena saya susah untuk disiplin waktu, itu berimbas sampai saya kuliah. Sering terlambat.


Jadi bullyan teman dan guru.

__ADS_1


Saya kalau bangun tidur pagi mudah cape, ortu atau tante kurang merhatikan karena sibuk bekerja. Apa-apa saya serba lamban.


Sering di bully jelek, ratu lambat atau ratu balsam, saya mudah terserang flu batuk dan asma, bahkan muntah dahak. Bahkan guru sendiri membully juga.


" Renna, kamu sampai magrib main berenang mulu di sungai, di suruh pulang malah bolak balik lewat depan rumah ibu, kamu seharusnya jangan banyak bermain, jadi telat kan masuk sekolah" Ucap ibu guru di depan teman-teman dikelas.


Begitu lah reaksi saya di tegur atau di bully hanya senyum-senyum tak bersuara.


Ada yang gemes , ada yang ketawa terbahak, ada yang ketawa sinis, ada yang teriak.


"Hahahahhahahaha" semua murid.


Ibu juga ketawa, tapi ibu menyudahi saja. "Sudah sudah kalian jangan seperti renna yah" sindir ibu guru.


Saya hanya senyum-senyum merasakan juga tersinggung, apa mau dikata marah pun keliatan tambah konyol.


Saya inget pesan ibu,  bersyukurlah saya bisa sekolah, jangan patah semangat sekolah. walau kurang pintar, atau tak punya teman, harus sekolah. Karena dulu pernah curhat ke ibu saat sekolah di kota. 


Ibu sendiri ingin merasakan sekolah sampai lulus, tetapi ibu tak punya biaya lanjut sekolah karena ortu ibu bukan orang berada.


------------


Saya mencoba menghampiri ani lagi saat jam istirahat, karena ani saat di kelas mudah enak di ajak ngobrol atau diskusi, tetapi ani malah menjauh dengan nunu saat jam istirahat.


Ani pun bersuara " Jangan dekati aku lagi, kamu itu kaya anak kecil, ibu ku menegur aku untuk tak berteman denganmu lagi"


"Salahku apa? Aku gak mengerti? " Tanya saya.


Malah Nunu berkomentar " udah an, kita kesana yu, dia kan anak kecil mana paham dijelaskan"


Saya terdiam, rasanya mau menangis tapi malu, tapi saya tak patah semangat, mencoba berbaur ke lain, tapi sama saja tak di tampik.


Bergaul saat di kelas atau olahraga, tapi saat jam istirahat saya dijauhi. Saya pasrah karena udah terbiasa dari dulu.


Saya masih punya teman berbincang dengan paman kantin dan adek kelas untuk gabung bermain.


--------


Sepeda hilang, karena kaka tiri menaruh sepeda lupa di kunci, saya sekolah berangkat kadang jalan kaki, kadang naik becak kalau naik becak tak makan, hanya jajan cemilan yang murah.


Sering naik becak karena takut terlambat. Masih saja terlambat karena tawar menawar dulu dengan tukang becak , becak langganan saya jarang ada, padahal dia sudah berlangganan murah.


Pulang sekolah saya berjalan kaki, jadi banyak teman yang berjalan kaki, cuma saya jauh rumahnya. Karena saya lalui pinggiran sungai banyak pepohonan yang rindang dipinggir nya, kira-kira kurang lebih 3 km. Saya lalui perumahan, pinggir ran sungai, jembatan , dan melewati pasar besar lalu perumahan. 


Uang jajan di kasih hanya dua ribu, satu ribu untuk becak , satu ribu untuk jajan. Kadang becak seribu lima ratus kalau tak ada Langganan becak. Lima ratus sisa buat jajan minuman saja.


-------


Teman saya namanya sisi dan siva,  kurang suka sama saya. Mereka duduk paling depan, mereka bisa di kata sok pintar, beda dengan yang pintar. Yang pintar atau peringkat di kelas lebih rendah hati. Mereka sok pintar blagu atau sombong.


Saya mencoba berbincang saja tak di hiraukan, padahal saya jarang bergaul sama mereka, apa salah saya?


berbicara pun jarang hanya ada keperluan saja tapi di acuhkan. Pastinya terpengaruh teman yang lain atau ilfil sikapku yang sering terlambat masuk sekolah.


Mereka Membenci saya, seperti saya membenci ayah saya dulu, tak mau melihat saya. Saya berlapang dada karena saya tau itu karma. Tapi saya membenci ayah ada sebab menyakiti ibu.


Saat jam istirahat saya beli makanan.


Mella berkata " Renna kamu jangan di sini yah, bukannya aku mau ngusir, tapi siva gak suka liat kamu, aku juga bingung, gak jelas membenci kamu, daripada dia ngambek gak ngantar aku pulang sekolah nanti naik sepeda, dia malas dekat kamu dan berbicara dengan mu"


Saya pun senyum agak sedikit sedih, dan menjauh berlari. Siva mandang saya sinis dan jijik ke saya.


Saya mendengar suara Mella berteriak "Aneh kamu Siva, mau kekantin aja renna gak dibolehi, siapa tau dia mau belanja, emang kantin ini milikmu"


Saya  mencoba menoleh penasaran, ternyata Siva juga melihat saya, seperti pandangan saya ini jijik.

__ADS_1


"Ish.. ish anak kaya gitu gak pantes di temenin, begonya kelewatan" ucap Siva dengan gaya jijik sambil menjauh.


---------


Saat kenaikan kelas 6, ada murid baru, namanya reysa. Enak di ajak ngobrol tetapi mereka terpengaruh atau hanyut dalam cerita nya dia mengarang, bahwa dia anak orang kaya. Mungkin mau di akui kalau dia bisa di ajak berteman, gak di asing kan seperti saya.


Saya sadar bukan anak orang kaya, tak pandai bicara/bergaul, dan standar saja dalam nilai sekolah.


Jelas dia berteman dengan anak yang pintar di kelas, Saya pun mencoba mendekati reysa, dia mau berteman dengan saya , enak diajak ngobrol bahkan nyambung . Tapi kalau dia bergaul dengan yang lain, saya lebih memilih sendirian karena mereka sudah tak hiraukan saya lagi.


--------


Semakin lama, omongan nya semakin ngawur teman-teman rada kurang percaya, reysa mulai di jauhkan teman-teman, dia di asing kan seperti saya juga.


Reysa mulai mendekati saya, saya tak gengsi berteman siapapun, saya juga butuh teman.


Saat jam istirahat saya memiliki teman ngobrol, kami asyik bercerita. Saya hanya pendengar, diceritakan nya masalah cowo, saya pun tak kenal cowo itu.


-------


Teman-teman pun mendekati saya, mau cari tau kebohongan reysa, siapa tau dapat info dari saya. Biar jadi perbincangan di kelas. Risa dan lainnya duduk mendekati saya dihalaman sekolah.


"Ren kamu tau gak reysa, punya ortu di kampung kita??"


kata risa, juara kelas pernah dekat berteman dengan reysa.


" Aku kerumah nya sih ,kayanya ortu nya, dia manggil mama, tapi aku hanya di luar tak di ajak masuk kedalam rumah" jawab saya.


" Yakin itu mamanya, ciri fisiknya gimana? "


" kaya reysa kurus tinggi, saat mamanya keluar memanggil reysa, reysa malah melambai ke mamanya tergesa naik sepeda dengan ku"


"Kamu gak nanya itu mamanya"


" Gak ah, ngapain nanya, aku dengar dia manggil mama, emang kenapa sih? "


" Kamu tau gak ren, dia itu sering berbohong, dia merasa anak orang kaya, halu lah ren, mamanya aja di bilang pembantu, reysa bilang ortunya kerja di luar kota, kerja kaya pejabat gitu, masa anak pejabat sekolah di sini, mana rumahnya jauh lagi"  Ucap Risa geram sama reysa.


Mereka menggertak reysa langsung.


Hanya Risa berani berucap, yang lain diam.


" Reysa, kamu bilang ibu yang di rumah mu itu pembantu, ternyata mamamu ya, banyak sekali kebohongan kamu ucapkan tentang kamu"


Reysa pun menangis, tak gerak dari tempat duduknya.


Saya ingin mendekati reysa, jadi merasa bersalah, jadi uruungkan niat untuk mendekat, takut dia marah bahwa saya yang kasih tau mereka.


Ternyata reysa belum tau, pulang sekolah dia enak di ajak ngobrol, tadi dia murung di kelas.


Keesokan harinya, reysa menangis lagi dia marahin saya.


" Kamu kasih tau ke mereka aku ini suka berbohong, kamu tau apa hah? "


sambil menangis reysa menunjuk tangan kemuka saya.


"Aku ngomong apa adanya yang di tanyakan risa rey" ucap saya


" Kenapa jadi yang lain pada tau, aku di serang mereka" ucap reysa


" Aku yang ngasih tau kelain ren, kamu jangan macam-macam dengan renna yah rey, berhadapan dengan ku. Biar semua pada tau kebusukan mu suka berbohong" jawab Mella.


Saya pun senyum sedikit ke reysa, dia sambil menggertak saya.


Mella lagi, Mella lagi si besar mulut, mentang-mentang dia Kaka tingkat, tapi tak naik kelas, di hormati teman yang lain tak ada yang berani melawannya, tampak mella itu seperti preman tetapi dia supel mau bergaul dengan siapapun.

__ADS_1


Reysa pergi ke mejanya murung seharian di kelas tak mau mendekati saya, saya tak berani mendekati dia, mau mencoba membujuk malu dengan teman lainnya.


__ADS_2